Hamzah bin Abdul Muthalib (Part 3)

<< Previously on Part 2

Hamzahlah orang yang ditugaskan sebagai pemimpin pasukan, saat pertama kali kaum muslimin berperang melawan musuh. Ia yang pertama kali ditugaskan untuk menghadapi musuh.

Sariyah, atau angkatan bersenjata tanpa disertai Nabi, yang mula pertama dikirim untuk menghadapi musuh, dipimpin oleh Hamzah. Dan panji-panji pertama yang dipercayakan Rasulullah SAW kepada salah seorang mukmin diserahkan kepada Hamzah. Hamzah adalah orang pertama yang ditugaskan membawa panji perang. Dan ketika pasukan muslim bertempur dengan pasukan musuh di Perang Badar, Singa Allah dan Singa Rasulullah ini menunjukkan keberanian dan kemahiran yang luar biasa.

Sisa-sisa tentara Quraisy kembali dari lembah Badar menuju kota Mekah dengan terhuyung-huyung membawa kegagalan dan kekalahan. Abu Sufyan tak ubah bagai pohon besar yang tumbang. Ia berjalan dengan menundukkan kepala, meninggalkan mayat pemuka-pemuka Quraisy di lembar Badar, salah satunya yakni Abu Jahal.

Orang-orang Quraisy tidak mau menelan kekalahan pahit ini begitu saja. Mereka mulai mempersiapkan diri, menghimpun semua kekuatan untuk menebus kekalahan mereka. Quraisy benar-benar bertekad untuk perang.

Perang Uhud pun tiba.

Kedua pasukan sudah berhadapan. Hamzah berada di tengah-tengah medan perang dan kematian, mengenakan pakaian perang. Di dadanya terdapat bulu burung unta yang biasa ia kenakan saat berperang. Hamzah berkelebat ke sana kemari. Tebasan pedangnya selalu mengenai sasaran. Seakan-akan dialah yang menentukan kematian. Siapa yang diinginkan mati, maka orang itu akan mati. Kaum musyrikin pun berjatuhan.

Pasukan Islam terus merengsek ke depan. Kemenangan sudah di depan mata. Sisa-sisa pasukan kafir lari tunggang langgang. Akan tetapi, regu pemanah pasukan Islam meninggalkan posisi mereka. Mereka turun dari atas bukit, ikut mengumpulkan rampasan perang. Seandainya mereka tidak meninggalkan posisi mereka, sehingga pasukan berkuda musuh tidak punya kesempatan menyerang pasukan Islam, tentu Perang Uhud menjadi kuburan massal bagi orang-orang kafir Quraisy, bahkan kuda dan unta mereka.

Saat itulah pasukan berkuda musuh menyerang pasukan Islam dari belakang hingga mereka jadi bulan-bulanan pedang yang berkelebatan. Kaum muslimin kembali mengatur barisan, bahkan sebagian pasukan sudah meletakkan senjata mereka ketika melihat pasukan musuh lari tunggang langgang. Akan tetapi, serangan pasukan berkuda musuh sangat cepat.

Hamzah melihat bahaya yang sedang terjadi. Ia menerjang ke kiri dan ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Sementara itu, Wahsyi terus mengintainya. Menunggu kesempatan yang tepat untuk melemparkan tombaknya ke tubuh Hamzah.

Mari kita dengarkan Wahsyi bercerita.

“Aku seorang Habsyi. Aku mahir melempar tombak dengan teknik Habsyi, hingga jarang sekali lemparanku meleset. Ketika orang-orang mulai berperang, aku mencari-cari Hamzah. Aku melihatnya ditengah medan perang menerjang kesana kemari. Tidak seorangpun mampu berhadapan dengannya. Demi Allah, aku bersiap-siap membidiknya. Aku bersembunyi di balik pohon, menunggu saat yang tepat, atau ia mendekat ke arahku. Tiba-tiba seorang tentara kafir, Siba’ bin Abdul Uzza; menerjang ke arah Hamzah. Hamzah melihatnya, “Kesinilah, hai anak tukang sunat.” Lalu Hamzah menebas pedangnya, dan tepat mengenai leher Siba’.

“Ini kesempatan yang tepat,” pikirku. Aku arahkan tombakku, lalu aku lemparkan ke arahnya, dan tepat mengenai punggung bagian bawah hingga tembus ke bagian depan. Ia berusaha mengejarku, tapi ia roboh dan meninggal.”

Aku mendekati mayatnya. Aku ambil tombakku. Aku kembali ke perkemahan dan beristirahat. Tugasku sudah selesai, membunuh Hamzah untuk kebebasanku. Sesampainya di Mekah akupun dibebaskan dari perbudakan. Aku tetap bermukim disana sampai Rasulullah memasuki Mekah pada peristiwa Fathu Mekah. Aku lari ke Thaif. Ketika perwakilan warga Thaif menghadap Rasulullah untuk masuk Islam, aku kebingungan, mau lari kemana; Syam, Yaman, atau tempat lain?

Demi Allah, dalam kebingungan itu seseorang berkata kepadaku, “Bodoh kamu. Demi Allah, Rasulullah tidak akan membunuh orang yang masuk Islam.”

Aku pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah SAW, di Madinah aku langsung berdiri didepannya dan mengucapkan syahadat.

Beliau bertanya, “Apakah kamu ini Wahsyi?’

“Benar ya Rasulullah,” jawabku.

Beliau bersabda, “ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu membunuh Hamzah”

Aku pun bercerita sampai selesai. Setelah itu beliau bersabda, “Keterlaluan kamu ini. mulai sekarang, jangan perlihatkan wajahmu dihadapanku.”

Sejak saat itu aku selalu menghindar dari Rasulullah, agar beliau tidak melihatku, hingga Allah memanggilnya.

Ketika kaum muslimin pergi untuk menghentikan pemberontakan Musailamah penguasa Yamamah, aku ikut serta dengan membawa tombak yang dulu kugunakan untuk membunuh Hamzah. Ketika di tengah berkecamuknya perang antara pasukan Islam dengan pasukan Musailamah, aku melihat Musailamah berdiri menghunuskan pedang. Aku siapkan tombakku. Aku terus membidiknya. Ketika kuperkirakan sudah tepat, maka kulemparkan tombakku sekencang-kencangnya, dan tepat mengenai sasaran.

Jika dulu tombak ini kugunakan untuk membunuh orang terbaik (Hamzah), maka sekarang kugunakan untuk membunuh orang terburuk (Musailamah). Aku berharap, Allah akan mengampuni dosaku.”

>> Continue to Part 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s