Jalan Tak Terduga

Segala luka dan kecewa tampaknya kan malu dan meniada…

Ketika kita insyafi bahwa, Allah Yang Maha Mengatur

Tak pernah keliru, tak pernah aniaya…

Guru saya pernah berpesan, “tak perlu engkau bercita-cita jadi pegawai negeri!”

Saya, dalam usia seputar baligh ketika itu, mengernyitkan tanya, “Mengapakah demikian, Kyai?”

“Sebab pegawai negeri itu rizqinya bisa dikira-kira di setiap gajiannya. Sedangkan orang bertaqwa, justru adalah mereka yang rizqinya datang dari arah yang tak disangka-sangka.”

Waktu berlalu dan setelah sekian lama saya teringat kembali wasiat itu. Renungan panjang saya kemudian menyimpulkan, yang keliru bukanlah pilihan menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta yang beroleh bayaran gaji. Yang sungguh-sungguh keliru adalah ketika kita mentawakkali pekerjaan sebagai satu-satunya jalan rizqi. Atau menta’rif bahwa rizqi kita hanya apa yang tertulis di lembar laporan gaji.

Sungguh, Allah Maha Kaya lagi Maha Perkasa. Dia punya berjuta jalan untuk mengantarkan rizqi yang telah Dia tetapkan bagi kita. Betapa rugi yang beranggapan bahwa melelahkan tangan dan kaki, membanting tulang dan memelintir sendi, bermandi keringat serta berbilas darah dalam kerja yang menguras tenaga adalah satu-satunya jalan agar diri tercukupi. Juga betapa merana, insan yang merasa bahwa rizqinya hanyalah rupa-rupa angka, hingga tak peka bahwa Allah mendatangkan karunia dari manapun. Dia suka, dalam bentuk apa pun yang dikehendakiNya.

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Q.S Ath-Thalaaq : 2-3).

“Maknanya,” catat Imam Ibn Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, “barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dari kebuntuan serta mengaruniakan rizqi dari arah yang tidak terduga-duga, yakni dari arah yang tidak terlintas dalam benaknya.”

“Wahai anak Adam,” demikian tertera dalam hadits qudsi yang dibawakan Imam At-Tirmidzi dan Ibn Majah ketika Rasulullah menyebutkan firman Rabbnya, “beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya akan Kupenuhi hati kalian dengan kekayaan dan Kupenuhi kedua tangan kalian dengan rizqi. Wahai anak Adam, jangan menjauh dariKu sehingga akan kupenuhi hati kalian dengan kefaqiran dan Kupenuhi kedua tangan kalian dengan kesibukan.”

“Siapa yang hatinya dikayakan oleh Allah, Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Memberi kekayaan,” tulis Dr, Fadhl Ilahi dalam Mafatihur Rizq, “niscaya tidak akan disentuh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang tangannya dipenuhi oleh Dzat Yang Maha Memiliki lagi Maha Memberi rizqi, niscaya tidak akan pernah pailit selama-lamanya.”

“Sebaliknya,” demikian beliau melanjutkan, “siapa yang hatinya dipenuhi oleh Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Menentukan dengan kefaqiran, niscaya tak seorangpun yang mampu membuatnya merasa cukup. Dan siapa yang tangannya disibukkan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Memaksa, niscaya tidak akan ada yang mampu membuatnya luang.”

Di lapis-lapis keberkahan, kekayaan menetap tentram di dalam jiwa. Ialah rasa cukup lagi rela atas apa yang tergenggam oleh tangan meski seadanya. Sebab terilmui, bahwa sekecil apapun tampaknya, ia berasal dari Dzat Yang Maha Mulia. Bagi hati yang mencinta lagi menjunjung tinggi, siapa Yang Memberi tentu lebih penting dari pemberianNya. Inilah karunia bagi insan bertaqwa. Sering ia tak terduga jalannya dan tak disangka datangnya, maka nurani jadi kian peka untuk mensyukurinya.

Sebalik keadaan, bagi hati yang jauh dariNya. Meski bertumpuk yang telah ditimbun dan dikumpulkan, tetap saja ia hanya tampak seperti yang diduga atau bahkan terasa kurang dari perkiraan. Sebab hati telah terbutakan dari kedermawanan Rabbnya, maka sebesar apapun pemberian terasa sebagai kekurangan. Dan tangannya kian sibuk, kian terbelenggu untuk mengerjakan ini dan itu, dengan hasil yang senantiasa terasa kurang dari persangkaan. Betapa menyiksa.

Andai kita menjadi Hajar, mungkin ungkapan yang pertama kali keluar dari lisan saat air zamzam memancar adalah, “Ya Allah, mengapa tidak dari tadi?”

Telah terpanggang keduanya di atas pasir membara dan mentari Lembah Bakkah yang seakan dekatnya hanya sehasta. Telah habis airnya dan telah keing air susunya. Telah jerih hatinya dengan tangis lapar dan haus bayinya, hingga sakit dan lelah yang ada di tubuhnya sendiri tak lagi dirasa.

Telah dengan sisa-sisa tenaga dia berlarian antara Shafa dan Marwah, menyipitkan mata memandang jauh. Kadang melihat ke seberang ufuk adakah yang dapat dimintai bantu. Kadang menatap ke bawah adakah jejak air untuk dikais-kais rembesannya. Telah dengan amat gigih dia berbolak balik tujuh kali di intasan sama, dengan keyakinan yang tak cuil bahwa Allah tak menyia-nyiakan iman dan amalnya.

Tapi mata air itu sama sekali tak diterbitkan Allah di jejak-jejak yang telah ditempuhnya.

Setelah menyempurnakan laluan ketujuhnya, antara percaya dan tidak sebab pandangannya telah kabur oleh debu pasir yang dilengketkan air mata, dia lihat sebentuk kilau di dekat Isma’il. “Diam!” ujarnya pada diri sendiri dan degub di dadanya yang berdentam. Telinganya yang ditajamkan mendengar gericik. Dan disanalah Sang Ruhul Amin, Jibril Alaihis Salam menyigi pasir dengan sayapnya.

Dengan langkah yang tak lagi tegak, bergegas dia menuju bayinya. Kaki kiri dan kanannya seakan berlomba, membuat dia terlonjak dan tersaruk, lalu terjerembab berulang kali dengan lutut tertekuk. Namun hatinya melayang dan nuraninya terbang. Namun jiwanya menghambur dan dadanya berdebur.

Karunia Allah itu datang, dari jalan yang tak disangka-sangka, di tempat yang tak diduga-duga. Mata air bergericik di kaki Ismail, dan Hajar mengorek serta membendungnya agar air itu tak hilang meresap kembali. Demikian antara lain keterangan Imam Badruddin Al-Aini dalam Umdatul Qari.

Tak seperti kita, Hajar tak pernah merasa lari tujuh kalinya di lintasan Shafa Marwah sebagai sesuatu yang sia-sia. Meski habis tenaganya. Meski tiada hasil langsung darinya. Meski bukan disana tempat Allah meletakkan karunia. Tetapi memang demikianlah rizqi orang bertaqwa di lapis-lapis keberkahan. Setelah mengihsankan amal dan menyempurnakan ikhtiar, serahkan hal selanjutnya pada Allah dengan sepenuh iman. Dia lebih tau dimana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik.

Sumber : Lapis-Lapis Keberkahan Oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s