Hamzah bin Abdul Muthalib (Part 4)

<< Previously on part 3

Demikianlah “Singa Allah dan Singa Rasulullah” itu gugur sebagai syahid yang pasti mendapat tempat yang sangat mulia. Sewaktu masih hidup, sepak terjangnya menggemparkan dunia. Begitu juga ketika meninggal dunia.

Hamzah sudah terbunuh. Namun para musuh belum merasa puas. Dan itu pasntas, karena semua harta dan kekuatan mereka kerahkan dalam peperangan ini untuk membalas dendam kepada Rasulullah dan Hamzah. Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan telah menyuruh Wahsyi mengambil hati Hamzah untuk dirinya. Dengan iming-iming hadiah, Wahsyi menyanggupinya. Ketika ia kembali kepada Hindun dan memberikan hati Hamzah dengan tangan kanannya, ia menerima kalung dan anting-anting dari wanita itu dengan tangan kirinya sebagai upah.

Hindun yang ayahnya telah tewas di tangan kaum muslimin dalam Perang Badar menggigit dan mengunyah hati Hamzah dengan harapan bisa mengobati sakit hatinya.

Akan tetapi, sepertinya hati itu menjadi keras dan tak dapat dikunyah, lalu dimuntahkan. Ia berseru dengan suara lantang,

“Kekalahan di Perang Badar terbalas sudah

Pedih rasanya kehilangan ayah, sudara, paman, dan anak pertama

Sekarang sudah lega rasanya, dendam telah terbalas

Terimakasih untuk Wahsyi dan tombaknya”

Peperangan pun usai. Kaum musyrikin menaiki unta dan kuda mereka pulang ke Mekah.

Di pihak lain, Rasulullah dan para sahabat meninjau medan pertempuran untuk melihat para syuhada.

Disana, di perut lembah, ketika beliau memeriksa para sahabatnya yang telah menjual diri mereka kepada Allah, merelakan nyawanya untuk bertemu dengan Allah yang Maha Agung, tiba-tiba beliau berhenti. Beliau memandang tajam, membisu, dan menggeretakkan gigi. Tidak terlintas dalam benak beliau sedikit pun bahwa perilaku orang-orang Arab akan merosot sedemikian rupa hingga melakukan tindakan biadab seperti ini, merusak tubuh orang yang sudah mati. Itulah yang dilakukan orang-orang musyrik kepada tubuh Hamzah bin Abdul Muthalib, singa Allah yang gugur di perang ini sebagai syahid. Bahkan, menjadi pemimpin para syuhada.

Rasulullah membuka kedua matanya yang berkaca-kaca. Dan dengan kedua mata yang tetap tertuju pada tubuh pamannya, beliau bersabda, “Aku tidak pernah mendapat musibah seperti saat ini. aku tidak pernah semarah saat ini.”

Lalu beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Jika bukan karena khawatir Shafiah (saudara perempuan Hamzah) semakin sedih, dan khawatir akan menjadi sunah sepeninggalku nanti, niscaya akan kubiarkan jasad Hamzah dimakan binatang buas dan burung pemangsa. Jika nanti Allah memberi kesempatan kepadaku berhadapan dengan orang-orang Quraisy di suatu pertempuran, aku pasti akan cincang tubuh 30 orang dari mereka.”

Para sahabat pun berseru, “Demi Allah, jika nanti kita diberi kemenangan oleh Allah terhadap mereka, akan kita cincang mayat-mayat mereka sejadi-jadinya, lebih kejam dari yang dilakukan bangsa Arab selama ini.”

Tetapi Allah yang telah memberi kemuliaan kepada Hamzah dengan mematikannya sebagai seorang syahid, memuliakannya sekali lagi dengan menjadikan kesyahidannya itu sebagai satu kesempatan untuk memperoleh pelajaran penting yang akan melindungi keadilan sepanjang masa dan menjadikan kasih sayang sebagai elemen wajib meskipun ketika melakukan hukuman atau qishash.

Demikianlah…belum lagi Rasulullah Saw beranjak dari tempatnya, bahkan belum selesai mengucapkan ancamannya turunlah wahyu berupa ayat-ayat mulia berikut ini,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik. Bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(An-Nahl : 125-128)

Turunnya ayat-ayat tersebut di tempat ini merupakan penghormatan terbaik kepada Hamzah. Rasulullah sangat sayang kepadanya. Sebagaimana telah kita sebutkan diatas, ia bukan hanya paman tercinta, tetapi juga saudara sesusu, teman sepermainan, dan sahabat sepanjang masa.

Jasad Hamzah dibawa ke tempat shalat di medan laga yang telah menjadi saksi kepahlawanannya, dan yang telah menampung darahnya. Lalu Rasulullah bersama para sahabat menhalatkannya. Setelah itu jasad seorang syahid lain di bawa masuk untuk dishalati. Kemudian jasad itu dibawa keluar, dan jasad Hamzah tetap dibiarkan di dalam. Setelah itu, jasad syahid selanjutnya dibawa masuk diletakkan disebelah jasad Hamzah lalu dishalati.

Begitu seterusnya. Satu persatu jasad para syuhada dibawa masuk untuk dishalati bersama jasad Hamzah. Hingga pada kesempatan itu, jasad Hamzah dishalati sebanyak 70 kali.

Kepergian Hamzah meninggalkan duka yang cukup dalam di hati Rasulullah. Seakan sulit untuk menghiburnya. Namun Allah memiliki keputusan yang sudah ditetapkan.

Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW oleh Khalid Muhammad Khalid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s