Terlalu Besar

Ketika pasukan telah erat disatukan

Yang pemberani tak berkesempatan maju seorang diri

Yang pengecut takkan bisa mundur berlari-lari

-Sun Tzu-

Dalam dekapan ukhuwah, orang besar dengan tindakan yang terlalu besar terkadang merepotkan. Atau setidaknya, menggelisahkan.

Inilah yang dirasakan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar ibn Khattab ketika perang melawan para pembangkang yang menolak membayar zakat dan para nabi palsu yang menggiring ummat agar murtad sedang seru-serunya. Ketika itu, Thulaihah ibn Khuwailid sudah menyerah, Al-Aswad Al-Ansi di Yamamah harap-harap cemas menunggu serbuan Tsumamah ibn Utsal Al-Hanafi dan Ikrimah ibn Abi Jahal.

Adapun kegelisahan itu bernama Khalid ibn Al-Walid.

Kisahnya bermula dari kegamangan pemimpin Bani Tamim, Malik ibn Nuwairah ketika seorang perempuan dari Bani Taghlib, Sajaah binti Al-Harits ibn Suwaid mendatanginya. Sajaah datang bersama ribuan pasukan bersenjata yang siap tempur. Selama ini, Malik ibn Nuwairah memang sudah tak sepenuh hati taat kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menggantikan Rasulullah. Dia mengumpulkan zakat kaumnya, namun tak kunjung dibayarkannya sesuai ketentuan.

Kedatangan Sajaah, wanita yang semula beragama Nasrani namun kini mengaku nabi itu, membuat Malik ibn Nuwairah berpandangan, bahwa dunia Arab memang sedang bersatu padu untuk memerangi Abu Bakar. Jika dia tak ambil bagian, dia khawatir ikut terlibas. Namun di hatinya, masih ada kekhawatiran lain. jangan-jangan, Abu Bakar-lah yang akan mengalahkan semua Nabi palsu ini, sebagaimana digulungnya Thulaihah ibn Khuwailid, Bani Asad, dan Ghathafan.

Malik bimbang.

Tetapi sekarang yang berada di hadapannya adalah Sajaah binti Al-Harits. Maka dia pun bergabung dengan perempuan yang mengaku nabi itu. Beberapa pemuka Bani Tamim yang lain menentangnya. Tapi kepada mereka Malik menjelaskan bahwa persekutuan ini hanya sekedar agar tak terjadi perang di antara mereka, demi kebaikan Bani Tamim sendiri. Bahkan Malik dengan bangga menyatakan bahwa dia berhasil membujuk Sajaah untuk menyerang Musailamah, nabi palsu dari Bani Hanifah.

Malik tidak sadar, tindakannya ini akan menjadi kenestapaan besar bagi hidupnya di kemudian hari.

Waktu bergulir cepat. Sajaah binti Al-Harits yang semula akan menyerbu Yamamah justru menerima tawaran Musailamah untuk bergabung dan bahkan mereka menikah. Musailamah sedang terancam oleh serbuan Tsumamah ibn Utsal, pemimpin Yamamah lain yang setia pada Islam dan dibantu oleh Ikrimah ibn Abi Jahal. Maka, pikirnya, perang dengan Sajaah akan membuatnya makin lemah.

Sebagai tanda damai, Musailamah menyerahkan separuh hasil bumi Yamamah untuk Sajaah. Adapun mahar pernikahan mereka adalah pembebasan pengikutnya dari shalat Subuh dan Shalat Isya. Uniknya, setelah menerima bagian dari hasil bumi Yamamah, Sajaah pulang ke negerinya di Taghlib, wilayah Syam. Malik ibn Nuwairah pun gigit jari. Bani Tamim kini terancam dihabisi oleh Musailamah, sekaligus telah dianggap pengkhianat oleh pemerintahan Madinah. Diam-diam, dia beserta para pengikutnya menyingkir ke Al-Buthah.

Disini, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid ibn Walid untuk membantu Ikrimah ibn Abi Jahal menyerbu Yamamah.

Tetapi Khalid berpikir, sebelum Yamamah, ada pengkhianat lain yang harus dihabisi terlebih dahulu agar menjadi pelajaran bagi seluruh bangsa Arab. Itulah dia, Malik ibn Nuwairah beserta Bani Tamim yang mengikutinya. Maka di persimpangan jalan menuju Yamamah, Khalid justru membelok ke Al-Buthah.

Para sahabat Anshar yang dipimpin Abu Qatadah ibn Rib’iy Al-Anshari, demikian Ibnu Katsir menuturkan dalam Al-Bidayah wan Nihayah, mengajukan keberatan. “Sudah seharusnya,” ujar Abu Qatadah, “Kita mendahulukan apa yang telah diperintahkan Khalifah kepada kita.”

“Hal ini harus kita lakukan,” jawab Khalid, “Sebab ini adalah kesempatan yang tak boleh terlewatkan. Walaupun aku tak mendapat perintah untuk menyerang Malik ibn Nuwairah, namun aku adalah pemimpin kalian dan akulah yang akan bertanggung jawab penuh. Aku memang tidak bisa memaksa kalian untuk ikut ke Al-Buthah, tetapi demi Allah aku telah berketetapan hati untuk melakukannya.”

Maka Khalid pun menuju Al-Buthah. Para sahabat Anshar yang semula enggan, akhirnya menyusul setelah tertinggal dua hari. Sebagaimana wasiat Khalifah Abu Bakar tiap kali hendak menyerang para pemberontak, Khalid terlebih dahulu menyebarkan para da’i, mengajak mereka bertaubat dan kembali pada Allah. Muadzin diperintahkan mengumandangkan panggilan sholat. Ketika mereka berkumpul seusai sholat, zakat merekapun dihitung dan dibayarkan.

Para pemimpin Bani Tamim dan para warganya tunduk patuh pada Khalid ibn Al-Walid. Mereka menyambut panggilan adzan, bergabung dalam sholat, dan membayarkan zakatnya. Tetapi di mana Malik ibn Nuwairah? Dia tak tampak. Ah, dia masih tetap dalam kebimbangannya yang berbahaya, bingung hendak berbuat apa.

Maka Khalid memerintahkan agar Malik dijemput paksa dan dihadapkan.

Khalid habis-habisan mencela Malik atas persekutuannya dengan Sajaah binti Al-Harits. “Dan apakah engkau tak tahu,” cecar Khalid, “Bahwa sholat dan zakat selalu disandingkan?”

“Begitulah kata sahabat-sahabat kalian,” ujar Malik pasrah.

“Oh,” tukas Khalid, “Kalau begitu mereka memang sahabat kami dan bukan sahabatmu!” Khalid kemudian berpaling kepada Dhirar ibn Al-Azur. “Pancunglah orang yang keluar dari agama dan ketaatan kepada Allah ini!”

Abu Qatadah Al-Anshari sangat menyesali tindakan Khalid ini. Tak selayaknya Malik ibn Nuwairah dibunuh hanya sebab kata-kata yang ditafsirkan sendiri maknanya oleh Khalid. Tak jelas benar, seperti apa posisi Malik. Dia memang sulit untuk dikatakan sebagai setia pada Islam. Tetapi untuk disebut memberontak, kapankah Malik pernah mengayunkan pedang atau memerintahkan pengikutnya untuk melawan? Tak pernah. Sama sekali tak pernah.

Abu Qatadah menghardik keras dan menentang Khalid.

Apalagi, setelah kematian Malik, Khalid bertindak lebih jauh dengan menikahi jandanya yang jelita, Laila Ummu Tamim. Tindakan ini, sungguh menjadi bara fitnah yang menggoncang kaum Muslimin. Berbagai desas-desus dan kabar tak sedap menyebar. Ada yang mengatakan, begitu ditulis Abdurrahman Asy-Syarqawi dalam karyanya Al-Khalifatul Ula, Khalid memang menyukai Laila sejak zaman jahiliah dulu.

Dalam berita simpangsiur itu, seorang tak dikenal bercerita, bahwa di hari terbunuhnya, Malik ibn Nuwairah menghadap Khalid beserta istrinya itu. Ketika melihat Khalid murka, Laila Ummu Tamim bersimpuh di kaki Khalid memohonkan ampun bagi suaminya. Air matanya sampai membasahi kaki Khalid. Saat itu, cadarnya terbuka, dan betisnya tersingkap.

“Aku telah terbunuh!” pekik Malik. “Kau telah membunuhku! Kau telah membunuhku!” ujarnya pada sang istri karena merasa dipermalukan.

“Tidak!” tukas Khalid, “Aku akan benar-benar membunuhmu sebab kekafiranmu!” Maka Malik ibn Nuwairah pun dipenggal.

Di Madinah, agak tergesa, Umar datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq disertai Abu Qatadah Al-Anshari yang melaporkan tindakan Khalid. Bersama mereka ada juga Mutammim ibn Nuwairah At-Tamimi, saudara Malik.

“Wahai Khalifah Rasulullah,” ujar Umar ketika mencium ubun-ubun Abu Bakar, “Diriku menjadi tebusanmu. Andai bukan karenamu, tentulah kaum Muslimin telah binasa. Satu demi satu, orang-orang yang murtad, para nabi palsu, dan mereka yang menolak membayar zakat telah diperangi dan dikalahkan.”

Ya, dulunya Umar menentang kebijakan perang ini. Kini dengan penuh ta’zhim dia memuji pilihan yang diambil Abu Bakar Ash-Shiddiq.

“Akan tetapi,” Umar melanjutkan dan kini wajahnya berubah mereha, “Pedang Khalid sungguh terlampau tajam. Tangannya terlalu mudah terayun untuk mencabut nyawa manusia. kuminta kepadamu, pecatlah Khalid!” Bulu kumis Umar yang tipis berdiri dan matanya mendelik lebar, penanda yang selalu tampak jika dia sedang marah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq menunduk sedih. Dia tahu, Umar benar.

Apa yang dilakukan Khalid terkadang melampaui batas, melebihi wewenangnya, dan bahkan bisa merusak citra Islam. Dulu di masa Rasulullah dia juga pernah membantai habis suatu kaum yang telah menyerah hingga Rasulullah harus berulangkali bersabda, “Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang dilakukan Khalid.” Apa yang dilakukan Khalid saat itu sungguh mencoreng nama agung pasukan Islam yang selama ini terkenal dengan akhlak mulia dan sifat amanahnya. Ketika itu Rasulullah dengan masygul dan duka simpati yang dalam bagi para korban membayarkan seluruh diyat-nya.

Dan kini, dia memenggal Malik ibn Nuwairah, lalu menikahi istrinya. Dalam dekapan ukhuwah, Orang besar dengan tindakan terlampau besar, terkadang memang merepotkan. Atau setidaknya menggelisahkan. Tetapi Abu Bakar, sang pemimpin ummat yang sekokoh janji itu memberikan pelajaran tentang kemaafan, ikutan kepada Sunnah Rasulullah, sekaligus ukuran mana yang harus didahulukan dalam situasi-situasi yang tak mengenakkan.

Adapun Umar ibn Al-Khattab, begitu diangkat menggantikan pendahulunya itu, langsung menulis surat perintah pertamanya. Isinya tegas dan jelas. Khalid ibn Al-Walid dipecat.

Sesungguhnya setelah merenung, Umar mendapatkan satu bahaya lagi bagi ummat yang bisa muncul dari dalam diri Khalid. Kebesarannya, kemenangan-kemenangannya yang gemilang, kepemimpinannya yang tak tergantikan bisa menjatuhkan orang pada pemujaan. Jika manusia telah berkata, “Kemenangan ini sebab adanya Khalid,” dan mulai lupa pada Allah yang telah memberikan karunia, maka kehancuran ummat sudah di depan mata.

Maka Umar pun memecat Khalid.

Dan Khalid tahu. Dia tidak dendam. Dia tidak sakit hati. Orang besar itu tahu, dalam dekapan ukhuwah, tindakannya memang kadang merisaukan dan merepotkan. Maka dikatakannya dengan penuh kemuliaan tapi tetap rendah hati. “Aku berperang,” ujarnya mengomentari pemecatan, “Bukan karena Umar. Aku berperang karena Allah.”

Hubungan keduanya tetap mesra dalam dekapan ukhuwah. Maka dengan penuh kesadaran tentang sifat amanah dan keadilan Umar, Khalid menuliskan surat wasiat menjelang wafatnya yang mengamanahkan perwalian seluruh keluarga dan hartanya kepada Umar.

Dan di hari kematian Khalid, Umarlah yang tangisnya paling keras. “Demi Allah aku memecatnya,” kata Umar, “Sebab aku sangat mencintainya dan tak ingin ada kemudharatan disebabkan olehnya. Dan kini, takkan ada lagi wanita Quraisy yang bisa melahirkan lelaki yang semisal Abu Sulaiman. Takkan ada lagi!”

Sumber : Dalam Dekapan Ukhuwah Oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s