Khutbah di Bukit Shafa

Suatu siang, Rasulullah berdiri di Bukit Shafa. Bukit ini biasa digunakan penduduk Makkah jika hendak mengumumkan hal-hal yang penting. Angin gurun pasir berhembus menerbangkan debu. Sebuah teriakan keras dilontarkan Rasulullah SAW di bukit tersebut.

“Ya…Shabah!” Suara Rasulullah SAW memecah keheningan. Nabi akhir zaman itu lalu menyebut nama-nama suku Quraisy satu persatu.

“Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adi, wahai Bani Abdu Manaf, wahai Bani Abdul Muthalib!”

Panggilan tersebut terdengar hingga pelosok Makkah. Shabah adalah kalimat peringatan yang mengabarkan adanya serangan musuh atau peristiwa besar. Mendengar panggilan itu, penduduk Makkah bertanya-tanya.

“Siapa yang memanggil-manggil itu?”

Sebagian mereka menjawab bahwa yang memanggil adalah Muhammad. Merekapun berbondong-bondong datang ke Bukit Shafa, termasuk Abu Lahab. Karena menduga akan ada pengumuman penting, seluruh penduduk Makkah pergi ke Bukit Shafa. Bahkan mereka yang berhalangan hadir mengirimkan utusan untuk melihat apa yang terjadi.

Dalam waktu singkat, orang-orang berkumpul. Rasulullah SAW kemudian membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimanakah menurut pendapat kalian, kalau aku memberitahu kalian bahwa ada segerombolan pasukan berkuda di lembah sana, yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” tanya Nabi SAW dengan lantang.

“Ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran,” mereka menjawab serentak.

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian tentang adanya azab yang amat pedih. Aku laksana seorang pemantau musuh yang melihat musuh dari tempat yang tinggi, lalu memberitahukan kepada semua orang agar mereka tidak diserang secara tiba-tiba,” lanjut Nabi SAW. Rasulullah mengajak mereka pada kebenaran, dan memberikan peringatan tentang azab Allah.

“Wahai kaum Quraisy…! belilah diri kalian dari Allah! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat apapun di sisi Allah, dan aku tak mampu memberikan pembelaan untuk kalian.”

“Wahai orang-orang Bani Abdu Manaf, selamatkanlah diri kalian dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat. Aku tidak dapat memberikan perlindungan apapun di sisi Allah.”

“Wahai Bani Abdu Syams, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka!”

“Wahai Syafiyyah binti Abdul Muthalib, bibiku, aku tidak dapat memberikan perlindungan apapun disisi Allah.”

“Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat. Aku tidak dapat memberikan perlindungan apapun di sisi Allah. Hanya, aku memiliki hubungan silaturrahim dengan kalian yang akan aku gunakan sesuai haknya.”

Setelah peringatan itu, orang-orang pergi berpencar. Mereka tidak memberikan reaksi apapun, kecuali Abu Lahab yang menghadang Rasulullah dengan kata-kata kasar.

“Celakalah kau sepanjang hari ini! apakah hanya untuk ini kau mengumpulkan kami?” kata Abu Lahab. Rasulullah tidak menjawab perkataan kasar Abu Lahab karena Allah yang langsung menjawabnya melalui firmanNya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. (Q.S. Al-Lahab : 1).

Peristiwa Bukit Shafa segera menyebar ke seluruh penjuru Makkah. Kalimat sangat tegas dari Rasulullah menjadi pembicaraan hangat. Makkah heboh. Allah lalu menurunkan ayatNya :

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan, segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (Q.S. Al-Hijr : 94).

Mulailah Rasulullah SAW berdakwah secara terbuka. Nabi membacakan firman Allah kepada penduduk Makkah.

Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Kalian tidak memiliki Tuhan selain (daripada) Nya. (Q.S. Al-A’raf : 59).

Nabi juga mulai memperlihatkan cara beribadahnya di hadapan semua orang. Rasulullah mendirikan shalat di halaman Ka’bah siang hari secara terang-terangan. Dakwah yang beliau lakukan semakin mendapatkan sambutan. Sehingga orang-orang mulai masuk agama Allah.

Mereka yang telah masuk agama Islam itu sering mendapat ujian yang tidak mudah. Salah satunya adalah pertengkaran antara mereka dan anggota keluarga yang belum memeluk islam. Di antara mereka saling membenci dan menjauhi satu sama lain. Mereka saling bermusuhan.

Di sisi lain, berkembangnya islam membuat Quraisy Makkah sakit hati.mereka marah kepada Muhammad SAW dan agama Islam. Pemeluk Islam yang kian banyak membuat mereka khawatir akan tersisihkan.

Fase-fase dakwah islam mulai memasuki tahapan berat. Berbagai rintangan dan hadangan datang bagai gelombang. Hinaan, cacian, hingga teror fisik menjadi ‘teman akrab’ Rasulullah dan para sahabat. Namun, mereka tak mundur sedikit pun demi tegaknya islam di bumi Allah.

Sumber : The Great Story of Muhammad SAW oleh Ahmad Hatta, dkk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s