Perang Uhud

Faktor-faktor penyebab perang Uhud

1.Faktor agama

Dalam Q.S Al-Anfal : 36 Allah telah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik rela menginfakkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah, merintangi dakwah Islam, mencegah manusia yang mau masuk Islam, menghancurkan Islam, kaum muslimin, dan negara Islam yang baru saja berdiri. Dari sini dapat dilihat bahwa kaum kafir Quraisy memiliki ambisi untuk menghadang manusia dari jalan Allah, menghalangi mereka mngikuti jalan kebenaran, mencegah agar tidak masuk Islam, memerangi Rasulullah, dan menumpas dakwah Islam.

2.Faktor sosial

Kekalahan besar pada perang Badar dan terbunuhnya para pembesar Quraisy merupakan peristiwa besar yang merendahkan martabat dan membuat terhina kaum kafir Quraisy serta membuat mereka merasa kehilangan harga diri dan tak berdaya. Oleh sebab itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk memerangi Rasulullah. Setelah perang Badar Abu Sufyan kembali dengan membawa sebagian dari sisa harta mereka, kemudian ia meletakkannya di Dar An-Nadwah. Harta tersebut tidak dibagi atau dipakai tapi dikumpulkan untuk keperluan perang melawan kaum muslimin. Maka Abdullah bin Rabi’ah, Ikrimah bin Abi Jahal, Al-Harits bin Hisyam, Huwaithib bin Abdul Uzza dan Safwan bin Umayyah berkeliling menemui keluarga korban perang Badar untuk meminta bantuan mengumpulkan harta demi membalaskan dendam kepada Muhammad SAW atas kematian keluarga mereka.

3.Faktor ekonomi

Gerakan tentara yang dibentuk negara Islam berdampak pada perekonomian Quraisy, menyebabkan ruang lingkup wilayah perekonomian mereka terbatas. Mobilitas perekonomian masyarakat Makkah sangat bergantung pada dua perjalanan dagang; musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam. Terputusnya salah satu dari dua jalur perdagangan ini menyebabkan jalur lain ikut terputus.

4.Faktor politik

Kekuatan politik Quraisy mengalami keruntuhan sejak perang Badar. Pusat kekuatan terombang-ambing di antara beberapa kabilah, padahal sebelumnya Quraisy adalah pemimpin kabilah-kabilah tersebut.

Pasukan Quraisy bertolak dari Mekkah menuju Madinah

Kekuatan pasukan Quraisy telah dinyatakan sempurna pada Sabtu 7 Syawal tahun ke-2 hijriah. Terdiri dari 3000 orang perang, diikuti oleh para perempuan dan hamba sahaya. Juga diikuti oleh kabilah Arab yang mendukung mereka yaitu dari kalangan Kinanah dan Tihamah. Mereka membawa para wanita agar pasukan tidak lari dari perang. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan, ia membawa Hindun binti Utbah. Persiapan pasukan Quraisy telah didahului dengan propaganda pers besar-besaran yang dipimpin oleh para penyair handal. Biaya perang Quraisy berhasil terkumpul hingga 50.000 Dinar.

Intelijen Rasulullah mengikuti pergerakan musuh

Rasulullah mengikuti berita tentang Quraisy lewat Al-Abbas paman beliau. Al-Abbas yang sedang berada di Mekkah selalu memberikan informasi terbaru mengenai pasukan Quraisy secara detail. Surat yang dikirim Al-Abbas berisikan beberapa perkara penting, diantaranya :

  • Informasi yang tepat tentang pergerakan kekuatan orang-orang musyrik menuju Madinah
  • Kekuatan pasukan Quraisy dan kemampuan perang mereka. Ini guna mempersiapkan langkah untuk menghadapi kekuatan besar tersebut.

Rasulullah juga menekankan agar informasi yang didapat tidak disebarluaskan karena khawatir berdampak pada semangat kaum muslimin sebelum mempersiapkan kekuatan. Saat Rasulullah memberitaukan isi surat Al-Abbas kepada Sa’ad bin Ar-Rabi’ pemimpin Anshar, istrinya mendengarkan hal tersebut. Khawatir istrinya menyebarluaskannya, Sa’ad menghadap Rasulullah dan memberitau beliau. Rasulullah berkata, “biarkan ia”. Pelajaran dari kisa ini yaitu peringatan bagi mereka agar jangan memberitahukan rahasia kepada istri mengenai strategi dan instruksi, mesti bersikap waspada terhadap penyebaran berita rahasia, karena bisa jadi mengancam masa depan umat. Rasulullah sendiri berpendapat agar tetap berada di kota Madinah

Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabatnya

Setelah berhasil mengumpulkan informasi yang sempurna tentang keadaan kaum kafir Quraisy, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya dan bermusyawarah tentang langkah yang harus diambil apakah tetap bertahan dan menjaga Madinah atau keluar dari Madinah untuk menghadapi musuh.

Mereka yang berpendapat agar kaum muslimin keluar dari Madinah untuk menghadapi musuh, berdasarkan beberapa hal;

  • Orang-orang Anshar telah berjanji dalam Bai’at Al-Aqabah kedua agar menolong Rasulullah. Menurut mayoritas mereka, menetap di Madinah berarti tidak melaksanakan bai’at tersebut.
  • Sebagian kecil dari kalangan Muhajirin berpendapat bahwa mereka lebih wajib mempertahankan Madinah daripada Anshar, demikian juga dengan menyerang Quraisy dan menghadang Quraisy yang merusak kebun orang-orang Anshar.
  • Mereka yang tidak ikut serta pada perang Badar ingin berhadapan langsung dengan pasukan Quraisy karena ingin mendapatkan syahid di jalan Allah.
  • Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa pengepungan Quraisy terhadap Madinah merupakan tindakan yang tidak boleh dilanjutkan. Mereka juga memprediksi bahwa waktu pengepungan akan berlangsung lama sehingga hal ini dikhawatirkan akan mengancam kaum muslimin tidak mendapatkan persediaan kebutuhan hidup mereka.

Sedangkan mereka yang berpendapat tetap menetap di Madinah berdasarkan strategi perang :

  • Pasukan Makkah tidak terdiri dari satu unsur. Oleh sebab itu tidak mungkin pasukan ini bertahan dalam waktu yang lama, karena lambat laun pasti akan terjadi konflik intern diantara mereka.
  • Penyerangan terhadap kota dengan benteng yang menjaga telaga tempat persediaan air, tumbuh-tumbuhan dan telur-telur burung sungguh sesuatu yang tidak mungkin, terlebih kekuatan pasukan Quraisy dan muslimin seimbang.
  • Jika pejuang itu berada di tengah-tengah keluarga mereka, maka mereka akan mengerahkan segenap kekuatan untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan keluarga.
  • Peran serta para wanita dan anak-anak dalam perang, dengan demikian jumlah pasukan perang berlipat ganda.
  • Para pasukan bisa leluasa menggunakan senjata yang memberikan dampaknya terhadap para musuh, seperti bebatuan dan lainnya.dengan demikian lebih memungkinkan mengenai musuh.

Akhirnya Rasulullah memutuskan untuk keluar dari Madinah.

Pasukan kaum muslimin bergerak menuju Uhud

Rasulullah bergerak setelah tengah malam ketika para musuh dalam keadaan tidur pulas karena kelelahan dalam perjalanan mereka. Rasulullah memilih berjalan diantara pepohonan dan kebun-kebun demi menjaga keamanan dalam perjalanan. Ketika berjalan melewati kebun, tanaman menjad rusak. Akan tetapi Rasulullah etap berjalan. Disini Rasulullah mengajarkan bahwa kepentingan agama lebih dikedepankan daripada kepentingan lainnya.

Ketika pasukan muslimin tiba di Asy-Syawath, Ibnu Salul menarik diri bersama 300 orang munafik dengan alasan tidak mungkin perang melawan orang-orang musyrik dan menolak keputusan Rasulullah. Tujuan inti dari sikap Ibnu Salul ini adalah agar terjadi goncangan dalam pasukan kaum muslimin. Perbuatan Ibnu Salul ini merupakan bentuk pengkhianatan yang besar, wujud kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin. Dari peristiwa ini terdapat hikmah dimana Allah ingin membersihkan kaum muslimin agar terlihat mana yang kotor dan mana baik diantara mereka.agar yang beriman terpisah dari yang munafik.

Abdullah bin Amar bin Haram berusaha meyakinkan orang-orang munafik gar kembali dalam barisan, akan tetapi mereka tetap tidak mau kembali. Beberapa golongan yang mampu melawan rasa lemah mereka adalah Bani Salamah dan Bani Haritsah.

Ada beberapa sahabat yang belum cukup umur yang ingin ikut berperang. Diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Zaid bin Arqam. Rasulullah tidak mengizinkan mereka ikut karena khawatir mereka belum mampu mengayunkan pedang, menggunakan panah dan tombak hingga mereka lari dari peperangan ketika perang berkecamuk dan dikhawatirkan mereka melarikan diri yang bisa menimbulkan kekacauan dalam barisan muslimin. Disini dapat dilihat betapa besar pengaruh manhaj Rasulullah dalam mendidik sendi-sendi umat yang beraneka ragam untuk mencintai akhirat dan mencukupkan diri dari berbagai perkara duniawi.

Strategi Rasulullah menghadapi orang-orang kafir Mekkah

Rasullulah membagi pasukan menjadi 3 bagian :

  • Pasukan Muhajirin, bendera dipegang oleh Mush’ab bin Umair
  • Pasukan Aus dari golongan Anshar, bendera dpegang oleh Usaid bin Hundhair
  • Pasukan khazraj dari golongan Anshar, bendera dipegang oleh Al-Hubab bin Al-Mundzir

Rasulullah juga memberikan khutbah untuk memberikan motivasi kepada kaum muslimin agar bekerja keras dan bersabar di medan perang. Beliau juga menjelaskan dampak pertikaian dan pertengkaran.

Ketika pasukan sampai di bukit Uhud, Rasulullah memerintahkan agar punggung mereka mengarah ke bukit Uhud dan wajah mereka mengarah ke Madinah. Rasulullah memilih 50 orang pemanah handal dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Rasulullah menempatkan mereka di atas bukit Ainain yang berhadapan dengan bukit Uhud untuk mencegah pasukan musyrik mendekat dan menyusup di sekitar pasukan kaum muslimin. Rasulullah mengeluarkan perintah kepada mereka, “jika kalian melihat kami kalah, maka janganlah kalian meninggalkan tempat kalian, hingga aku mengutus utusan kepada kalian. Jika kalian melihat kami menang, jangan pula kalian meninggalkan tempat kalian, hingga aku mengutus utusan kepada kalian. Lindungilah kami dengan anak panah, dan tetap berada di tempatmu. Kita akan menang jika kalian tetap berada di tempat kalian. Misi pasukan pemanah adalah menguasai lokasi perang, melindungi kaum muslimin dari belakang dan menjauhkan pasukan berkuda dari kaum muslimin.

Rasulullah meluruskan dan menertibkan barisan pasukan muslimin hingga barisan tersebut seperti barisan shalat. Rasulullah menempatkan orang-orang yang kuat pada barisan depan agar mampu memberikan jalan pada pasukan yang ada di belakang mereka. Punggung Rasulullah dan pasukannya menghadap ke arah bukit Uhud. Beliau berkata, “janganlah salah seorang dari kalian menyerang lawan hingga kami memerintahnya untuk menyerang. Pelajaran penting dari arahan ini yaitu adanya satu komando perang, karena Rasulullah lebih mengetahui apa yang lebih baik bagi mereka.

 

Di medan perang

Rasulullah menyerahkan tugas menahan pasukan berkuda Quraisy kepada Zubair bin Awwam (satu-satunya penunggang kuda dalam pasukan muslim) dan Miqdad bin Amr. Pasukan berkuda Quraisy dipimpin oleh Khalid dan Ikrimah. Pertempuran dimulai dengan serangan pasukan sayap kanan tentara Quraisy Makkah yang dipimpin oleh Abi Amir Al-Fasik. Pasukan ini dibantu oleh pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Mereka menyerang pasukan berkuda sayap kiri kaum muslimin. Akan tetapi pasukan pemanah muslimin berhasil membuat mereka kocar-kacir dan mundur dengan cara menyerang kuda-kuda mereka dengan anak panah. Tentara muslim kemudian melakukan serangan balik terhadap para pembawa panji pasukan Quraisy. Semua para pembawa panji dari Bani Abdi Dar terbunuh. Jumlah mereka 10 orang. Panji yang mereka bawa jatuh ke tanah dan terinjak-injak. Pasukan muslim melakukan perlawanan seperti seorang laki-laki sedang bertempur (dengan sangat kompak dan rapi). Hamzah dan Abu Dujanah sangat gesit memburu pasukan musyrikin yang lari dari medan pertempuran. Sampai disitu pertempuran tampak sudah selesai.

Dalam kondisi seperti itu, banyak para pemanah yang turun dari gunung untuk mengumpulkan harta rampasan perang. Walaupun sebelumnya Rasulullah telah menginstruksikan kepada mereka agar tetap berada di tempat mereka apapun yang terjadi, dan Abdullah bin Jubair juga telah mengingatkan mereka agar menaati perintah Rasulullah, tetapi tetap saja mereka tidak mempedulikannya.

Ketika Khalid bin Walid melihat pasukan pemanah turun dari gunung, ia dan 200 pasukan musyrik segera naik ke atas gunung dari belakang dan berhasil membunuh 10 orang pasukan pemanah serta pemimpinnya. Pasukan muslim diserang hingga hilang kendali. Mereka bertempur secara serampangan hingga banyak korban berjatuhan. Mush’ab bin Umair, Hamzah bin Abdul Muthalib, Anas bin Nadhar, Sa’ad bin Rabi, dan sahabat lainnya menjadi syuhada. Rasulullah sendiri mengalami luka-luka, gigi beliau pecah, kepala beliau terluka dan mengalirkan darah.

Ketika Ibnu Qami’ah membunuh Mush’ab bin Umair, ia menyangka telah membunuh Rasulullah karena kemiripan wajahnya. Lantas Ibnu Qami’ah berteriak, “Aku telah membunuh Muhammad!” keadaan ini membuat kaum muslimin terpecah belah. Sebagian kaum muslimin lari dari medan perang, sebagiannya lagi duduk di tepi medan pertempuran tanpa ikut berperang. Sebagian yang lain berjuang mendapatkan syahid karena menyangka Rasulullah telah wafat. Orang pertama yang mengetahui bahwa Rasulullah masih hidup adalah Ka’ab bin Malik. Rasulullah memerintahkannya untuk diam agar tidak terdengar oleh kaum musyrikin.

Rasulullah menarik pasukan muslimin secara teratur melalui sela-sela gunung Uhud. Pasukan musyrikin merasa putus asa mengejar pasukan muslimin hingga mereka memutuskan untuk pergi dan menghentikan pertempuran karena telah lama berperang dan tenaga merekapun habis. Rasulullah mengalami luka-luka hingga beberapa sahabat melindungi beliau seperti Thalhah bin Ubaidillah. 70 pasukan muslim syahid di perang Uhud.

 

Beberapa pelajaran dari peristiwa perang Uhud

Gerakan Rasulullah dalam mendidik umat, menegakkan Daulah Islamiyah dan mengokohkan agama Allah merupakan aplikasi pemahaman Al-Quran yang menguasai jiwa, akal dan perasaan Rasulullah. Oleh sebab itu kita temukan bahwa Rasulullah mengatasi masalah akibat yang ditimbulkan oleh perang Uhud dengan menggunakan manhaj Al-Quran. Beberapa poin dari manhaj tersebut adalah :

  1. Mengingatkan orang-orang mukmin akan Sunatullah dan menyeru mereka kepada keagungan iman.

Allah tidak membiarkan orang-orang mukmin diganggu oleh bisikan syetan dalam ujian perang Uhud. Akan tetapi dengan ayat-ayat ini Allah menyeru mereka, membangkitkan harapan di hati mereka, menunjukkan mereka kepada sesuatu yang membuat mereka kuat dan teguh. Nasihat Al-Quran menghapus air mata dan kesedihan yang mereka rasakan dalam perang Uhud. Salah satunya terdapat dalam Q.S Ali-Imran : 139.

  1. Hiburan bagi orang-orang yang beriman, menjelaskan hikmah dibalik berbagai peristiwa yang terjadi pada perang Uhud.

Q.S Ali-Imram : 140-143 Allah menjelaskan bahwa luka dan korban yang terbunuh mesti membangkitkan semangat jihad memerangi musuh di dalam tubuh. Karena apa yang menimpa mereka saat ini juga pernah menimpa musuh mereka sebelumnya. Jika orang-orang musyrik yang batil itu tidak berputus asa atas kekalahan yang pernah mereka alami, maka kaum muslimin juga tidak boleh berputus asa, karena muslimin berpegang teguh pada kebenaran.

  1. Perumpamaan pasukan jihad pada masa silam

Allah membuat perumpamaan dengan saudara-saudara mereka yang berjuang pada masa sebelumnya, jumlah mereka banyak, mereka berjalan di belakang nabi mereka dalam pasukan jihad fisabilillah. Mereka tidak merasa lemah ketika ditimpa bencana dan mereka tidak merasa lesu untuk berjihad. Mereka juga tidak menyerah kepada musuh, bahkan mereka tetap teguh dalam jihad. Ini memberikan motivasi kepada kaum muslimin yang ditimpa rasa lesu dan lemah ketika diterpa isu yang mengatakan bahwa Rasulullah telah terbunuh dan sikap lemah mereka mengahadapi orang-orang musyrik.

  1. Sikap menentang pemimpin menyebabkan kegagalan pasukan
  2. Bahaya sikap lebih mementingkan dunia daripada akhirat.

Hal ini dapat dilihat pada saat pasukan pemanah turun dari gunung ketika mereka mengira kaum musyrikin telah kalah. Semua itu didorong oleh nafsu dan cinta dunia. Mereka tidak menuruti perintah syariat, melupakan perintah-perintah sang pemilik hukum.

  1. Keterikatan dengan agama

Ketika isu Rasulullah telah terbunuh menyebar, banyak diantara kaum muslimin yang menjadi lesu, lemah dan tidak mau terjun ke medan perang. Dalam Q.S Ali Imran : 144 disebutkan bahwa Rasulullah itu menjadi suri teladan bagi mereka dalam hal kerasulan, akan tetapi beliau juga manusia biasa yang mungkin terbunuh. Allah tetap memberikan balasan kepada mereka yang tetap teguh dalam agama mereka mengikuti RasulNya baik ketika ia hidup atau wafat.

Ibnu Qayyim berkata : sesungguhnya perang Uhud merupakan persiapan bagi umat muslim menjelang kematian Rasulullah. Allah menegur mereka yang kembali ke belakang jika Rasulullah meninggal dunia atau terbunuh. Mereka mesti teguh dalam agama Islam mentauhidkan Allah dan meninggal dunia dalam keyakinan itu meskipu mereka terbunuh. Sesungguhnya yang mereka sembah adalah Tuhan Muhammad, Dia yang tidak mati meskipun Muhammad mati dan terbunuh.

  1. Kaedah kemenangan dan kekalahan dari surat Al-Anfal dan Ali-Imran
  • Kemenangan dan kekalahan berawal dan berakhir dalam kuasa Allah, bukan milik makhluk. Ketika Allah menetapkan kemenangan, maka tak satupun makhluk dimuka bumi ini yang dapat mengubahnya, begitu juga sebaliknya. Akan tetapi kemenangan itu memeiliki ketentuan yang tetap disisi Allah, kita perlu memahaminya. Pertolongan Allah pasti datang bagi pasukan yang tulus ikhlas karenaNya
  • Kesatuan barisan dan kesatuan kata merupakan dasar kemenangan. Patuh dan taat pada perintah Rasulullah dan sikap tidak melawan perintahnya adalah dasar kemenangan
  • Cinta pada dunia dan dikalahkan oleh perkara duniawi menyebabkan umat tidak mendapatkan pertolongan dari Allah
  • Kekurangan jumah pasukan bukanlah faktor penyebab kekalahan Mesti ada persiapan materi dan spiritual dalam menghadapi musuh.

 

Sumber

  • Sejarah lengkap Rasulullah (Fikih dan studi analisa komprehensif) oleh Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shalabi. Penerbit Pustaka Al-Kautsar
  • Ensiklopedia sejarah Islam jilid 1 oleh Tim riset dan studi Islam Mesir. Penerbit Pustaka Al-Kautsar
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s