Dakwah Terbuka dan Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Nabi

Usul Walid untuk memberikan julukan tukang sihir kepada Muhammad disepakati para pembesar Quraisy. Aksi mereka segera dilakukan. Saat musim haji tiba, mereka duduk di jalan-jalan yang dilewati para jamaah haji dan delegasi dari penjuru negeri Arab. Kepada setiap orang yang melintas, mereka memfitnah Rasulullah SAW. (Ibnu Hisyam)

“Muhammad tukang sihir!”

“Muhammad pengarang mantra!”

“Muhammad pendusta!”

“Muhammad gila!”

Mereka terus menghina dan memfitnah Nabi SAW. Kata-kata mereka kasar dan menyakitkan. Rasulullah SAW tidak mundur, meski selangkah, walau ia disebut gila. Nabi SAW justru semakin giat berdakwah. Rasulullah SAW membuntuti setiap orang yang datang dan lewat di hadapannya sampai ke rumah mereka. Beliau melakukan itu di pasar Ukazh, Majinnah, dan Dzul Majaz, mengajak mereka ke jalan Allah.

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW tidak lepas dari pantauan Abu Lahab. Ke mana Muhammad melangkah, maka akan selalu ada Abu Lahab di dekatnya. Setiap kali Nabi SAW mengajak orang untuk mengikuti ajaran Islam, Abu Lahab langsung memotongnya.

“Jangan kalian taati dia, karena dia adalah seorang yang mengikuti syariat nabi-nabi terdahulu, atau penyembah bintang atau dewa-dewa, dia adalah seorang pendusta.”

Abu Lahab tidak saja mendustakan Rasulullah SAW, tapi dia juga melempari beliau dengan batu hingga kedua tumit Nabi SAW berdarah. (Kanzul ‘Ummal). Begitulah perlakuan Abu Lahab terhadap Rasulullah, padahal ia adalah paman beliau, rumahnya berdampingan dengan rumah Rasulullah SAW.

Dua anak perempuan Nabi SAW dicerai

Setelah semua yang dilakukan Quraisy tidak berpengaruh sedikitpun, Abu Lahab lalu memerintahkan kedua anak laki-lakinya yang merupakan para suami dari dua anak perempuan Nabi : Ruqayyah dan Ummu Kultsum untuk menjatuhkan talak. Setelah peristiwa itu, Ruqayyah diperistri Ustman bin Affan, sedangkan Ummu Kultsum yang telah berumur tidak menikah lagi.

Meski demikian, Nabi SAW sama sekali tidak pernah putus asa. Bahkan, beliau mengajak Abu Lahab untuk masuk Islam. Abu Lahab menolak ajakan Nabi SAW dengan mengatakan, “Wahai Muhammad, apakah engkau ingin agar aku bersaksi di hadapan Tuhanmu bahwa engkau telah menyampaikan risalah?” Akhirnya Nabi SAW menyingkir pergi meninggalkan Abu Lahab.

Sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Lahab berkata kepada para sahabatnya,

“Aku tahu bahwa sesungguhnya dia berada di jalan yang benar.” Akan tetapi, dia tetap memusuhi Rasulullah SAW meski hati kecilnya mengakui kebenaran Rasulullah dan Islam.

Kampanye kebohongan

Kaum Quraisy tidak menyerah. Mereka berjuang keras untuk menghambat laju dakwah Nabi, seribu satu cara mereka rancang. Ketika kaum Quraisy menyelesaikan ritual haji, mereka segera memikirkan cara-cara yang akan digunakan untuk menghalangi dakwah Islam. Salah satunya dengan menggencarkan kampanye kebohongan.

Mereka telah banyak melakukan kebohongan dengan beragam jenis dan seninya. Mereka selalu berkata tentang Al-Quran seperti yang Allah abadikan dalam firmanNya,

Bahkan mereka berkata (pula), (al-Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasa Muhammad, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul terdahulu. (Q.S. al-Anbiya’ : 5).

Mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah mimpi Muhammad di malam hari yang dibacakan pada siang hari. mereka juga mengatakan bahwa Al-Quran itu diciptakan oleh Rasulullah SAW. Selain itu mereka juga mengatakan bahwa Al-Quran adalah ajaran manusia yang diajarkan kepada Muhammad. Mereka juga sering mengatakan bahwa Muhammad bekerja sama dengan teman-temannya untuk menciptakan Al-Quran. Terkadang mereka mengatakan, “Sesungguhnya, dia memiliki jin atau setan dan turun kepadanya sebagaimana turunnya jin dan setan atas para dukun.” Kadangkala mereka mengatakan bahwa Nabi telah gila. Dia mengkhayalkan makna-makna, lalu dia bentuk dalam kalimat yang sangat indah sebagaimana dilakukan para penyair. Rasulullah tidak mengembara ke lembah-lembah sebagaimana para penyair. Sebaliknya, Rasulullah berdakwah mengajak manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, mengajak pada satu agama. Dia tidak mengatakan kecuali yang dia lakukan, tidak mengerjakan sesuatu kecuali yang dia katakan. Maka bagaimana mungkin dia dikatakan sebagai seorang penyair?

Orang-orang musyrik juga menghalangi manusia untuk tidak dapat mendengarkan dan mengkaji al-Quran. Mereka mengusir orang-orang yang mau mendengarkan al-Quran. Mreka bernyanyi-nyanyi jika melihat Rasulullah SAW shalat atau membaca al-Quran di depan Ka’bah.

Intimidasi ini terus dilakukan hingga Rasulullah tidak dapat membaca al-Quran di tengah-tengah mereka, kecuali pada akhir tahun kelima masa kenabian. Itu pun beliau lakukan secara spontan, tanpa mereka sadari.

Sumber : The Great Story of Muhammad oleh Ahmad Hatta, dkk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s