Dua Tunggangan Umar

Andaikan sabar dan syukur

Adalah dua tunggangan

Aku jadi tak peduli

Mana yang harus kukendarai

-Umar ibn Al-Khattab-

Ketika Allah mencintai hambaNya, maka Ia berkenan membuat hati sang hamba begitu peka. Saat ditenggelamkan dalam lautan nikmat, sang hamba peka untuk segera mengenakan alat selamnya. Ia peka. Hatinya berbunga melihat indahnya berbagai rerupa, namun tak pernah melalaikan satu kata. Syukur. Lain sisi, Allah juga mengasah agar sang hamba peka, di saat gelombang mushibah bertubi-tubi menghantam dan badai melantakkan apa yang dia punya, dia tak melupakan satu kata. Sabar. Ia menapaki jalan-jalan Sulaiman, sekaligus juga menyusuri pematang-pematang Ayyub as.

Bersabar untuk tak menanti

Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti

Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran

Karena terkadang penantian

Membuka pintu-pintu syaithan

“Apakah kesabaran itu ada batasnya?”, begitu tanya seorang Ukhti dalam sebuah forum diskusi. “Bagi sahabat saya itu”, ia meneruskan, “Kesabaran berarti menunggu, dan terus menunggu. Padahal taaruf ini telah berjalan begitu lama. Sangat lama. Ikhwan itu selalu mengulur dan mengulur. Meminta waktu dan meminta waktu. Terus begitu.”

Nah, apakah kesabaran ada batasnya?

Ada tiga kategori sabar yang dituntunkan Al-Quran. Ketiganya adalah sabar dalam menghadapi musibah dan ujian, sabar dalam ketaatan, serta sabar untuk menjauhi kemaksiatan. Sabar dalam menghadapi musibah dan ujian, adalah sebagaimana yang Allah firmankan :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (Q.S. Al-Baqarah : 155-156).

Yang kedua, sabar dalam menaati Allah. Contohnya adalah apa yang Allah firmankan :

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (Q.S. Thaahaa : 132).

Yang ketiga, kesabaran untuk menjauhi kedurhakaan. Ini kita lihat, kita dengar, dan kita hayati dari sang pemuda tampan :

Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tidpu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Yuusuf : 33).

Maka seringkali, kesabaran sejati tak selalu berarti menanti. Suatu saat, seorang lelaki melamar wanita yang hendak dinikahinya. “Lamaran ini kami terima”, begitu jawaban sang wali. “Tapi kami harap pernikahannya masih dua atau tiga tahun lagi.”

Alangkah lama penantian baginya. Dan akan terasa lebih lama ketika sang pemuda menyadari bahwa hukum pernikahan baginya bukan lagi sunnah. Tapi wajib. Dia sudah begitu takut terjerumus dalam apa-apa yang dibenci Allah. Di tangannya kini telah ada pernghasilan meski belum bisa disebut memadai. Maka ia wajib menikah.

Ia takut. Ia merasa tak sanggup untuk menanti. Dan ia memilih untuk memutuskan. Meski berat. Baginya, disitulah kesabaran. Bukan pada penantian yang membuka pintu-pintu syaithan. Dengan menyebut asma Allah, sang pemuda menguatkan hati. Dan suaranya, meski agak serak, menggambarkan sebuah keteguhan hati.

Urusan saya sekarang adalah segera menikah. Tidak masalah dengan siapa. Kalau saya ditakdirkan Allah tak mendapatkan seorang calon mertua di sini, pada saat ini, insyaAllah saya akan mencarinya di tempat lain. Dimulai sejak perjalanan pulang nanti, insyaAllah.”

Semua mata terbelalak. Semua telinga sedikit merona. Mulut-mulut yang sedang minum dan mengudap hidangan harus dijaga agar tidak tersedak. Untunglah kemudian dia bisa menjelaskan prinsipnya. Alhamdulillah semua memahaminya. Dia memilih sebuah kesabaran. Menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Di tengahnya sebuah resiko menghujam dalam. Resiko tak jadi menikah dengan wanita yang telah dipilihnya. Dan ini diambil demi kemenangan yang lebih besar. Sabar.

Di jalan cinta para pejuang, sabar adalah lautan yang tak bertepi. Tapi menunggu itu ada batasnya. Batas itu adalah garis yang memisahkan ketaatan kepada Allah dengan pintu-pintu peluang untuk mendurhakainya. Dan disitulah kita temui sebuah kesabaran sejati. Di jalan cinta para pejuang sabarlah untuk taat, untuk tak durhaka, untuk menghadapi ujian-ujian yang jatuh menimpa di antara keduanya.

Bersyukur, menggapai lebih tinggi.

Hatiku penuh dengan kata-kata

Karena itu tak kuucapkan sepatah pun suara.

-Jalaluddin Ar Rumi-

Apakah kabahagiaan itu dan betulkah ia ada? Pertanyaan ini, kata Mihaly Csikszentmihalyi dalam buku Good Business, telah berabad-abad diperdebatkan. Tapi ia belum juga terjawab. Barangkali ia hanya nama yang kita sematkan pada kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati. Tetapi ketika tiada lagi hal yang dihasrati, adakah yang membahagiakan?

Begitu menurutnya.

Mari kita koreksi Mihaly Csikszentmihalyi. Apa yang disampaikannya bukanlah konsep tentang kebahagiaan. Melainkan tentang kepuasan. Kondisi tak tergapai, ketika tiada lagi hal yang kita hasrati adalah kepuasan. Bukan kebahagiaan. Kebahagiaan seorang mukmin memang tidak terletak pada kepuasan, tapi pada rasa syukur kepada Allah SWT.

Dan wahai sahabat, tahukah engkau apa bedanya bersyukur dengan berpuas? Berpuas, bukan kepuasan itu sendiri, adalah kondisi dimana seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Lalu tak ada lagi gairah untuk menggapai yang lebih tinggi. Seringkali orang mengidentifikasi berpuas sebagai bersyukur. Kalimat mereka berbunyi, “Wah Mas, saya sudah bersyukur kok seperti ini.” tetapi betulkah yang demikian itu disebut sebagai kesyukuran?

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat untuk kalian. Dan jika kalian kufur, maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih.” (Q.S. Ibrahiim : 7).

Kita yakin dan mengimani bahwa ketika kita bersykur pada Allah SWT, Ia yang Maha Kaya akan menambahkan lagi nikmat-nikmatNya untuk kita. Tapi pernahkah kita renungkan sebuah pemahaman terbalik dari ayat ini? ajukanlah sebuah pertanyaan. “Apa yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan tambahan nikmat dari Allah?” Jawabnya, “Bersyukur.”

Nah, kalau begitu, siapakah orang yang paling bersemangat dalam mensyukuri nikmat Allah? Mereka adalah orang-orang yang ingin menggapai lebih tinggi, meloncat lebih jauh, dan menghambur ke pangkuan Allah. Mereka ini, bkanlah orang-orang yang puas hati. Orang yang paling menghayati syukurnya, adalah orang yang paling merasa membutuhkanNya, menghajatkan nikmat-nikmatNya, lebih tinggi dan makin tinggi lagi.

Bersyukur mengajarkan kita untuk tak berpuas hati dalam meminta pada ilahi. Terus dan terus. Lagi dan lagi. Lebih banyak dan lebih tinggi. Sang Nabi mengajarkan agar tak tanggung. “Jika kalian berharap surga”, kata beliau, “Pintalah Firdaus yang paling tinggi!”

Maka kita pun lalu bersyukur.

Di jalan cinta para pejuang, terjebak pada kepuasan hingga tak ada gairah untuk meloncat lebih tinggi adalah perangkap gawat. Maka bersyukur bukanlah berpuas. Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah berpuas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas, janganlah puas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.

Di jalan cinta para pejuang, bersabarlah, bersyukurlah…

Sumber : Jalan Cinta Para Pejuang oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s