Imam Al – Syafi’i

Al-Syafi’i hidup pada 767 – 820M. Bertubuh tinggi, ramping, dan selalu berpakaian sempurna. Ia merupakan salah seorang ahli teori dan sintesis hukum terbesar dalam sejarah intelektual Islam sehingga dijuluki “Bapak Ilmu Hukum Islami”, Syafi’i menyelaraskan metodologi-metodologi hukum Imam Malik dan Imam Hanafi untuk menciptakan sintesis hukum Islam yang kemudian dikenal sebagai Mazhab syafi’i.

Jika syariat Islam (hukum Islam) adalah subjek yang luas dan kompleks maka “ilmu Islam” (ushul fiqh) jauh lebih kompleks dan canggih. Walaupun Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW merupakan dua sumber hukum fiqih terpenting, namun bagaimana analisa, tafsir, dan implementasi keduanya dalam masyarakat Islam yang terus berubah dan berkembang cepat telah menyita pikiran para ulama dan ahli fiqih (fuqaha) Islam awal.

Setelah Rasulullah wafat, Negara Islam terus berkembang dengan pesat. Masyarakat Muslim awal mulai menghadapi tantangan-tantangan baru. Hal ini mendorong sejumlah ulama Islam terkemuka melakukan studi sistematis terhadap Al-Quran dan sunnah Rasulullah. Alhasil, mereka mengembangkan ushul fiqih (ilmu hukum Islam) dalam rangka memenuhi tantangan zaman mereka.

Meskipun benar bahwa Abu Hanifah, yang dibantu para murid berbakatnya, seperti Zu’far, Abu Yusuf, dan Muhammad bin Al-Hasan merintis metodologi hukum Islam, akan tetapi setelah dia wafat, para muridnya lebih memfokuskan perhatian pada aspek-aspek substantif hukum Islam ketimbang terus menyempurnakan dan secara sistematis mengodifikasi keseluruhan prinsip dan metodologi ushul al-fiqih. Tugas penting dan menantang ini dilakukan oleh al-Syafi’i yang sekarang ini dianggap secara luas sebagai “Bapak ilmu hukum Islam”.

Abu Abdullah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i dilahirkan di kota Gaza di sebelah selatan Palestina. Keluarganya mengaku sebagai keturunan langsung dari Rasulullah. Dia dibesarkan di sana dan menerima pendidikan dasar dalam bahasa dan tata bahasa Arab, serta berkomitmen menghafal seluruh isi Al-Quran sebelum usianya genap tujuh tahun.

Kala Syafi’i masih muda, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terdorong untuk bermigrasi ke tanah leluhur mereka di Makkah, tempat tinggal para anggota keluarga dan kerabat dekatnya (yang berasal dari Yaman). Syafi’i kemudian menerima pelatihan lebih lanjut dalam tata bahasa, sastra, dan sejarah Arab, dan juga menjadi ahli dalam memanah.

Di sana, Syafi’i dan ibunya terpaksa menanggung penderitaan dan kesulitan keuangan yang lumayan besar. Namun meski situasi ekonomi mereka terpuruk, ibunya ingin sekali memberikan awal kehidupan yang baik kepada putranya dengan cara melanjutkan pendidikannya.

Sejak awal, daya ingatnya yang luar biasa dan intelektualnya yang tajam membuat guru-gurunya menyayangi Syafi’i. Menurut penulis biografinya, Syafi’i bisa menghafal banyak hadist dengan mudah. Waktu itu al-Muwatta karya Malik bin Anas merupakan teks religius yang populer, semua siswa terpintar yang mengkaji ilmu pengetahuan Islam diharapkan sungguh-sungguh mempelajarinya.

Karenanya, Syafi’i menghafal keseluruhan antologi hadist Rasulullah ini sebelum dia berusia lima belas tahun. Saking menguasai kitab ini sampai-sampai Syafi’i dianggap memiliki otoritas besar pemikiran keagamaan Malik seperti yang termaktub dalam al-Muwatta.

Syafi’i kemudian mempelajari hukum fiqih di bawah bimbingan dua ahli fiqih yang dihormati saat itu, Sufyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid Al-Zanji. Terkesan dengan kemampuan intelektual Syafi’i, Gubernur Makkah kemudian menuliskan surat pribadi kepada rekannya di Madinah. Dalam surat itu, dia meminta agar sang penyusun al-Muwatta, Malik, menjadi guru Syafi’i yang waktu itu berusia dua puluh tahun.

Di Madinah, Syafi’i mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk mengejar hadist dan fiqih, serta mempelajari al-Muwatta di bawah pengawasan pribadi Malik. Sejumlah siswa unggulan Malik pada waktu itu termasuk ulama Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani yang datang jauh-jauh dari Irak untuk mengikuti kuliah-kuliah Malik.

Meski sangat senang berada di tengah-tengah kelompok pemikir hukum Islam ternama, tetapi di saat bersamaan, Syafi’i mulai mengalami kesulitan keuangan yang cukup pelik. Berbeda dengan siswa lainnya, tak ada yang memberinya dukungan finansial. Namun, berkat kecerdasan intelektualnya, Malik memberinya upah rutin yang memungkinkannya untuk menyelesaikan pendidikan lanjutan.

Periode menetapnya di Madinah terbukti sangat produktif sampai-sampai Malik memintanya untuk menjadi asistennya dalam mengajar. Saat Malik meninggal dunia pada tahun 795M, Stafi’i sudah diakui di seluruh Madinah sebagai seorang cendekiawan Islam dan Syafi’i meninggalkan Madinah dan kembali ke kampung halamannya, Makkah. Di kota itu reputasinya menyebar ke seluruh Hijaz karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu-ilmu keislaman.

Pada suatu kesempatan, ketika berada di Makkah, Gubernur Yaman diberitahu tentang kemampuan intelektual dan keahlian hukum Syafi’i. Ini mendorongnya untuk mengundang Syafi’i ke Yaman dengan janji diangkat sebagai Ketua Peradilan di Kota Najran. Syafi’i menerima tawaran itu dan pindah ke Yaman pada usia tiga puluh satu tahun.

Namun, transisinya dari dunia akademis ke dunia politik serta diplomasi yang keruh dan tak menentu tidak berjalan sesuai rencana. Sebagai seorang ahli hukum dan ulama Islam berbakat, Syafi’i tidak hanya bersikap sangat hati-hati, bersih, jujur, dan dapat dipercaya, tetapi juga bertekad menjunjung tinggi kebenaran, serta menegakkan keadilan secara adil dan merata sebisa mungkin. Akan tetapi, penerapan hukum Islamnya yang ketat dan tanpa kompromi tidak berjalan dengan baik terhadap faksi-faksi tertentu dalam kekuasaan di Najran.

Tidak sadar dengan kegelisahan dan ketidakpuasan yang diciptakannya di dalam lingkungan Pemerintah lokal, Syafi’i terus-menerus menerapkan hukum Islam tanpa rasa takut atau pilih kasih. Ini akhirnya yang membawanya pada konflik langsung dengan para elite politik dan agama. Karena ingin mendepaknya, secara licik mereka menuduh Syafi’i bersimpati pada faksi pemberontak Syiah yang waktu itu getol menentang Bani Abbasiyah.

Meski dakwaan pengkhianatan yang dituduhkan kepada Syafi’i palsu dan tidak berdasar, dia dinyatakan bersalah karena melindungi para pemberontak Syiah. Dengan dirantai dari kepala sampai kaki oleh pihak berwenang di Najran, Syafi’i dideportasikan ke pengadilan tertinggi Abbasiyah di Baghdad pada tahun 803M. Syafi’i yang berusia tiga puluh enam tahun menghadap Harun Al-Rasyid, sang Khalifah Abbasiyah yang terkenal, bersama para konspirator lainnya untuk menjawab tuduhantuduhan yang disangkakan. Esok harinya, Syafi’i menghadiri pengadilan khalifah dan menyangkal seluruh tuduhan.

Harun Al-Rasyid begitu terkesan dengan keluasan pengetahuan dan kelogisan argumennya sampai-sampai dia cukup lama berdebat dan berdiskusi dengan Syafi’i. Mereka mendiskusikan poin-poin penting dari teologi, hukum, logika Islam, dan bahkan aspek-aspek pemikiran Yunani. Sebagai pelindung bidang keilmuan dan pengetahuan, Khalifah Harun sangat mengagumi kecemerlangan intelektual Syafi’i

Kebetulan Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani (teman sekelas Syafi’i di Madinah) menjabat sebagai kepala peradilan di Baghdad menjamin Syafi’i kepada Khalifah. Dia meminta agar Syafi’i dibebaskan, yang disebutnya sebagai salah satu ulama paling terkenal di zamannya. Tak hanya mengampuni Syafi’i, sang Khalifah juga memintanya untuk tinggal di Baghdad, serta membantu pengembangan ilmu dan pengetahuan di seluruh negeri.

Merasa lega karena dibebaskan, Syafi’i menetap di Baghdad dan berjanji tidak akan pernah menjadi pejabat pemerintah lagi. Dia malah melanjutkan kariernya sebagai seorang akademis dan peneliti dalam ilmu-ilmu keislaman, karena itulah yang paling dihasratinya. Di Baghdad, dia mengadakan penelitian lebih lanjut dalam bidang fiqih dan hadist di bawah bimbingan ulama-ulama terkemuka, serta rutin menghadiri kuliah-kuliah Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani. Sebagai salah satu murid terkemuka Abu Hanifah, Al-Syaibani dianggap sebagai salah seorang ulama besar Islam dan otoritas hukum Islam ternama pada saat itu.

Syafi’i mempelajari fiqih Mazhab Hanafi di bawah bimbingan al-Syaibani dan menjadi sangat ahli dalam bidang pemikiran humum mazhab tersebut. Dalam diskusi dan debat-debat panas dengan para ulama terkemuka Mazhab Hanafi, Syafi’i sengaja menekankan pentingnya hadist dalam perumusan prinsip-prinsip dan praktik-praktik hukum Islam. Dia merasa qiyas (deduksi analogis) memainkan peranan yang jauh lebih besar daripada yang seharusnya dalam metodologi hukum Mahzab Hanafi. Oleh karena itu, Syafi’i menyoroti pentingnya mengandalkan hadist Rasulullah jika dimungkinkan untuk dilakukan.

Tidak heran, dari diskusi-diskudinya dengan para ulama Mahzab Hanafi, Syafi’i muncul sebagai seorang pembela besar hadist-hadist Rasulullah. Namun, bukan berarti para ulama Mahzab Hanafi tidak mendukung hadist. Sebaliknya Mahzab Hanafi sangat berpegang pada penggunaan hadist otentik. Tidak seperti Mazhab Maliki dan Syafi’i sendiri, Mazhab Hanafi lebih menekankan pada keindividuan dan kebebasan manusia.

Meski demikian, sangat benar bahwa pemikiran hukum Mazhab Hanafi ditandai dengan ketergantungan yang sangat besar terhadap konstruksi dan deduksi prinsip-prinsip yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah otentik Rasulullah. Syafi’i sangat menyadari hal ini. Dia sengaja mengajak ulama Mazhab Hanafi untuk memperdebatkan dan mendiskusikan poin-poin penting dari pemikiran hukum mereka. Dengan begitu, dia berhasil menguasai pemikiran hukum Abu Hanifah dan Imam Malik.

Ini prestasi luar biasa bagi Syafi’i. Kini dia mampu menganalisis, memperbaiki, dan bahkan mengkritik pemikiran hukum dua ahli fiqih paling berpengaruh dalam dunia Islam. Dan walau menganggap Abu Hanifah sebagai bapak pemikiran hukum Islam dan Malik sebagai otoritas besar dalam bidang hadist, Syafi’i tahu bahwa ilmu hukum Islam harus dikembangkan dan dikodifikasi secara sistematis demi kepentingan generasi mendatang. Tentu saja dia sadar ini bukan tugas yang mudah, tetapi dia sangat memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas yang menantang sekaligus penting ini. Kesuksesannya ini memberikannya tempat yang unik dalam sejarah intelektual Islam, yakni sebagai perumus sistematika pertama dalam bidang ilmu hukum Islam.

Pada tahun 804, Syafi’i meninggalkan Baghdad dan pindah ke Suriah. Dari sana, dia menuju Makkah untuk memulai rutinitas menyampaikan kuliah fiqih dan hadist di Masjidil Haram. Ratusan murid – termasuk Ahmad bin Hanbal yang terkenal (lebih dikenal dengan nama Imam Hnbali) – berdatangan dari seluruh pelosok dunia Islam untuk menghadiri kuliah-kuliahnya yang membangkitkan semangat dalam semua aspek Islam. Mungkin karena diperngaruhi oleh para ulama Mazhab Hanafi di Baghdad, selama periode ini Syafi’i mengubah sejumlah pandangannya terhadap aspek-aspek tertentu dari pemikiran hukum Imam Maliki, walau dia tetap menghormati gurunya itu (khususnya karya beliau, al-Muwatta).

Setelah enam tahun mengajar dan melakukan perjalanan ke penjuru Suriah dan Saudi, Syafi’i kembali ke Baghdad pada tahun 810M. Diapun mendapati putra dan penerus Khalifah Harun Al-Rasyid, Al-Ma’mun, telah menduduki takhta Abbasiyah. Al-Ma’mun segera memintanya menjadi Ketua Peradilan di Baghdad. Namun mengingat pengalaman buruk di Najran, Syafi’i menolaknya dengan sopan. Lebih dari itu, karena Al-Ma’mun mendukung doktrin sesat Mu’tazilah maka Syafi’i mengganggapnya sebagai pengacau – sebagaimana sikap para ulama tradisionalis lainnya waktu itu. Namun, Al-Ma’mun tersinggung oleh penolakan Syafi’i. Menyadari kegawatan situasi ini, Syafi’i pun diam-diam meninggalkan Baghdad dan menuju Mesir pada tahun 814M.

Pada saat itu Mesir merupakan tempat yang secara intelektual sangat kondusif dan damai. Di sini Syafi’i bertem dengan sejumlah ulama dan para ahli fiqih terkenal seperti Rabi bin Sulaiman Al-Marali dan Abu Ibrahim bin Yahya Al-Muzani. Dia sering berdiskusi dan berdebat dengan ulama-ulama ini dalam beragam aspek fiqih dan hadist. Imbasnya, ide-ide dan pemikiran-pemikirannya mengenal subjek-subjek ini semakin terpoles dan sempurna.

Karena yakin telah sepenuhnya memahami keruwetan dan kerumitan hukum fiqih, Syafi’i merumuskan sebuah teori yang sistematis dan koheren tentang pemikiran hukum Islam. Dia mempertimbangkan pandangan-pandangan Hanafi dan Maliki, sehingga menyajikan sebuah uraian prinsip-prinsip hukum Islam yang komprehensif sekaligus menyegarkan dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan baru pada masanya.

Syafi’i mencatat ide-ide dan pemikiran-pemikirannya dalam dua bukunya yang terkenal, Kitab al-umm (Kitab Intisari) dan ar-Risalah (Risalah). Dalam kedua buku ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, Syafi’i secara sistematis merumuskan prinsip-prinsip dasar dari ilmu fiqih. Dia memang belajar di bawah bimbingan para ulama aliran Hanafi dan Maliki, tetapi dia tidak mengikuti mereka bulat-bulat. Dia justru mengembangkan metodologi dan pendekatannya sendiri dalam penggunaan sumber-sumber kitab suci Islam. Dalam prosesnya dia menjadi pelopor ushul al-fiqih.

Dengan menyelaraskan metodologi hukum Abu Hanifah dan Malik, Syafi’i menciptakan sebuah sintesis hukum baru yang komprehensif dan original. Saking suksesnya Syafi’i dalam melaksanakan tugasnya ini, Mazhab Syafi’i kemudian muncul dan tersebar ke seluruh pelosok dunia Islam. Sekarang ini, mazhab ini diikuti secara luas di Mesir, Yaman, Indonesia, Malaysia, serta bagian Amerika Selatan dan Afrika Timur.

Diberkati memori yang luar biasa dan intelektual yang sangat tajam, Syafi’i meninggalkan jejak sebagai salah seorang ahli teori dan sintesis hukum terbesar dalam sejarah intelektual Islam. Dia meninggal dunia dan dikuburkan di al-Fustat, Mesir, pada usia lima puluh tiga tahun. Pada tahun 1211, penguasa Ayyubiyah, Afdhal, membangun sebuah makam megah yang masih berdiri sampai hari ini sebagai bentuk penghargaan untuk mengenangnya.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s