Tariq Bin Ziyad

Jenderal legendaris dari Afrika Utara yang diabadikan pada sebuah wilayah di Semenanjung Iberia bernama “Gibraltar”. Tariq hidup pada 650 – 728M dan menjadi muslim pertama yang menginjakkan kaki di dataran Eropa serta turut merintis dimulainya masa pemerintahan Islam di Spanyol selama lebih dari tujuh abad.

Beberapa dekade setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam keluar dari Arab dan membanjiri Kekaisaran Persia dan Byzantium, dua negara adidaya waktu itu. Ini membentangkan banyak jalan bagi Islam di Timur dan Barat. Setelah mengontrol penuh daerah yang saat ini dikenal dengan Timur Tengah, pasukan Muslim bergerak menuju Afrika. Meskipun pasukan Muslim pertama kali menaklukkan Afrika Utara pada masa pemerintahan Khalifah Umar, Tetapi penguasa pertama Dinasti Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan, yang melakukan kampanye besar-besaran ke bagian dunia tersebut. Ini mengarah pada penaklukan Tunis dan pendirian kota bersejarah di Afrika Utara, Qayrawan, pada tahun 670 di bawah kepemimpinan Uqba bin Nafi.

Mengikuti jejak Muawiyah, penguasa Dinasti Umayyah, abdul Malik bin Marwan, memprakarsai serangkaian kampanye di seluruh pelosok ifriqiyah (Afrika Utara), yang berujung pada kemenangan Islam di wilayah tersebut. Berkat usaha-usaha Khalifah Abdul Malik, pemerintahan Islam berdiri dengan kuat di Afrika Utara. Setelah kematian Khalifah Abdul Malik, dia digantikan satu demi satu oleh keempat putranya. Merekapun mengikuti jejak-jejak ayah mereka dan menggerakkan kampanye-kampanye militer lebih berani di Barat, yang pada akhirnya membawa umat Islam berhubungan langsung dengan daratan Eropa.

Pada tahun 708, penguasa Umayyah, Al-Walid, menunjuk jenderal muslim yang hebat, Musa bin Nusayr, sebagai gubernur Afrika Utara. Setelah menempati posnya, dia berhasil menegaskan otoritas politik Umayyah di seluruh wilayah tersebut. Dia kemudian mempromosikan kegiatan-kegiatan misionaris Islam yang mengarah pada pengonversian masyarakat Barbar ke dalam bingkai Islam, sehingga semakin jaun mengonsolidasikan posisinya. Dalam waktu yang sangat singkat, Musa menjadi penguasa sejati di seluruh Afrika Utara. Prestasi luar biasanya menempatkannya dalam buku sejarah Muslim Afrika Utara. Pada masa pemerintahan Musa sebagai Gubernur Afrika Utara itulah pasukan Muslim pertama kali berlayar dan memasuki Spanyol di bawah komando jenderal Muslim legendaris, Tariq bin Ziyad.

Tariq berasal dari suku Barbar Afrika Utara, Nafzawah dan terlahir dalam sebuah keluarga Muslim yang miskin. Ayahnya, Ziyad, memeluk Islam ketika Uqba bin Nafi menaklukkan Afrika Utara dan mendirikan markas pusatnya di Qayrawan. Pada periode perang dan ketidakpastian politik ini, Ziyad menjadi seorang pendukung setia pasukan Muslim dan Uqba memberikan hadiah sangat besar kepadanya atas kesetiaan dan dukungannya.

Setelah Ziyad wafat, putranya yang masih muda, Tariq mengikuti jejaknya dan bergabung dengan pasukan Muslim. Kala itu pasukan Muslim sibuk memerangi aksi-aksi pemberontakan musuh-musuh mereka yang bertekad mengusir mereka dari Afrika Utara. Berlatih strategi militer dan perang di bawah bimbingan Musa bin Nusayr yang mahsyur, Tariq segera terlihat menonjol dan melebhi kepintaran kawan-kawan sebayanya.

Terkesan dengan keterampilan militer Tariq yang sangat terpoles dan efektif, Musa memilihnya untuk dipromosikan sebagai letnan Jenderal. Tariq melayani Musa dengan penuh loyalitas dan dedikasi, sehingga Musa pun memberinya dukungan dan kepercayaan penuh. Sebagai imbalannya, Musa mengangkatnya sebagai Gubernur Tangler (Maroko sekarang ini).

Ketika Tariq membuktikan bakat dan kompetensinya–baik dalam peperangan maupun administrasi politik sipil–Musa bin Nusayr, penasihat dan pemandunya itu menjadi salah satu pendukung dan sahabat baiknya. Mereka bekerja sama dalam melindungi kepentingan-kepentingan Islam di Afrika Utara. Mereka memperlakukan rakyat mereka dengan penuh keadilan, kejujuran, dan kesetaraan, serta mendorong pembebasan budak. Dengan begitu, perdamaian dan kemakmuran pun mulai menyebar ke seluruh pelosok.

Sebaliknya, situasi perairan di Semenanjung laut Iberia sangat memilukan. Raja Roderick (atau Rodrigo), pemimpin Visigoth yang berkuasa di Spanyol, memimpin masyarakat yang masih hidup dalam Abad Kegelapan. Para elite penguasa Iberia mengelilingi diri mereka dengan begitu banyak kekayaan dan bergaya hidup mewah. Padahal mayoritas rakyat mereka sampai terpaksa harus mengemis. Lebih parahnya lagi, sang Raja tanpa ampun mengejar dan menghukum populasi Yahudi di Iberia dengan dukungan dan persetujuan Gereja Katolik. Faktanya, pihak Gereja sangat gembira melihat dekadensi sistem feodal yang berjaya di Semenanjung Iberia kala itu, karena sesuai dengan kepentingan para uskup dan Imam Katolik.

Karena sangat tidak puas dan tidak bahagia dengan status quo, rakyatpun mulai menuntut distribusi tanah dan kekayaan yang adil dan merata di seluruh negeri. Kala rakyat mengintensifkan kampanye untuk merdeka dan bebas dari pemerintahan Raja Roderick, Musa bin Nusayr merasa sudah saatnya untuk melakukan intervensi eksternal. Namun setelah beberapa pertimbangan, dia memutuskan untuk tidak terburu-buru melakukan invasi, yang beresiko kehilangan harta benda dan jiwa yang sangat besar.

Manakala Musa masih bimbang antara melakukan kampanye militer terhadap Raja Roderick atau tidak, Gubernur Ceuta, Ilyan (atau Jilian), menemui Musa di Qayrawan. Dia mendesak Musa untuk menyerang Iberia karena menganggap Roderick sebagai penguasa yang korup setelah Roderick melecehkan putrinya yang sempat menetap di Toledo, ibukota Kerajaan Visigoth. Karena ingin membalas dendam, Ilyan menemui Musa untuk meminta bantuannya menggulingkan penguasa zalim itu.

Meskipun bersimpati dengan keadaan Ilyan, Musa tidak siap mengorbankan nyawa pasukannya demi membalas dendam pribadi. Selain itu, mereka tidak akrab dengan daerah Iberia, karena wilayah Islam dipisahkan oleh lautan yang bisa sangat berbahaya bagi tentara Muslim. Oleh karena itu, Musa mengatakan kepada Ilyan bahwa dia tidak bisa membenarkan kampanye militer terhadap Roderick berdasarkan informasi Ilyan. Karena Musa tak yakin apakah Ilyan tulus seperti pengakuannya – atau seorang oportunis yang bermaksud mengkhianati Islam – Musa pun menyuruhnya pulang dan menyiapkan pasukannya sendiri untuk melawan Roderick.

Jika Ilyan bersedia melakukan itu, menurut Musa, dia akan mempertimbangkan pengiriman militer ke Semenanjung Iberia. Ilyan pulang dan melakukan persis seperti yang dikatakan Musa. Dia melancarkan serangan militer terhadap pasukan Roderick, mengambil beberapa tawanan dan barang rampasan, dan pulang tanpa luka. Ketulusan Ilyan ini meyakinkan Musa yang kemudian memutuskan menyerbu Iberia.

Namun untuk melakukan itu, Musa perlu persetujuan Khalifah. Oleh karena itu, dia mengirim pesan mendesak kepada Khalifah Al-Walid di Damaskus untuk meminta izin menyerang Iberia. Al-Walid mengirimkan respon positif dengan syarat bahwa Musa harus lebih dulu melaksanakan pengintaian menyeluruh guna memastikan kekuatan dan kemampuan militer Roderick. Ekspedisi pengintaian yang dipimpin Tarif bin Malik kembali dengan hasil positif.

Ilyan kemudian mengunjungi Musa untuk kedua kalinya dan memintanya memerintahkan serangan militer terhadap Roderick. Oleh karena itu, Musa memanggil jenderal kebanggaannya, Tariq bin Ziyad, untuk memimpin serangan mendadak ke Iberia. Pada tahun 711M, Tariq berangkat dengan tujuh ribu tentara Muslim dari berbagai latar belakang berbeda, termasuk Barbar, Arab, dan Persia. Mereka semua disatunkan oleh kekuatan persatuan Islam. Ilyan berjanji memberikan pasokan perahu pada tentara Muslim agar dapat menyeberangi laut yang memisahkan Iberia dan Afrika Utara. Dalam perjalanan singkatnya dengan perahu itu, Tariq tertidur, dan diceritakan bahwa Rasulullah SAW menampakkan diri dalam mimpinya. Beliau memintanya untuk maju dengan gagah berani, karena dijamin pasti menang.

Begitu mencapai pantai, Tariq memerintahkan pasukan Muslim untuk turun dari perahu sehening mungkin dan menghancurkan semua perahu. Para tentaranya yang kebingungan tidak bisa memahami bagaimana cara mereka pulang jika semua perahu dihancurkan. Tariq mengatakan bahwa mereka harus menaklukkan Andalusia atau mati berjuang demi Islam. Nantinya tempat ini dikenal sebagai Gibraltar, yang berasal dari kata Arab Jabal Tariq (Gunung Tariq), dan seperti itulah nama Tariq biin Ziyad diabadikan. Sampai hari ini, semua pelancong yang melewati Selat Gibraltar senantiasa mengingat Tariq, jenderal Muslim Afrika Utara nan legendaris, yang membebaskan wilayah itu dari cengkeraman Roderick, penguasa Visigoth yang kejam.

Ketika Tariq mendarat di Gibraltar, dia mendapati Raja Roderick terlibat dalam aksi militer melawan bangsa Basque di Iberia Utara. Bangsa Basque memberontak terhadap Roderick dan coba menurunkannya dari kekuasaan. Namun, berkat ketangguhan militernya, dia melindas mereka tanpa ampun. Ketika berita penyerangan Islam ke Iberia disampaikan kepada Roderick, dia menuju selatan dengan kontingen besar untuk menghadapi tentara Muslim pimpinan Tariq yang berjumlah sekitar dua belas ribu orang.

Setelah mencapai kordoba, Roderick siap menyerang. Namun sebelum melakukan itu, dia memutuskan memata-matai pasukan Muslim guna memastikan kekuatan militer mereka. Dia mengirim salah satu letnan kepercayaannya untuk menyusup ke dalam kamp Muslim dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Dengan berpakaian Arab, si mata-mata memasuki kamp Muslim.

Begitu diberi tahu tentang adanya penyusup, Tariq memerintahkan untuk menyiapkan dan merebus sebuah mayat seolah-seolah sedang dipersiapkan sebagai hidangan. Ketika mayat tersebut dipotong-potong dan dagingnya dimasak sesuai instruksi Tariq, si mata-mata mulai gemetar ketakutan dan keheranan. Dia mengira umat Muslim adalah kanibal dan pulang menghadap Roderick. Dia memberitahukan bahwa kerajaannya diserang oleh orang-orang yang memakan daging manusia. mendengar ini, Roderick dan orang-orang gemetar ketakutan dan merasa khawatir.

Namun bagi Roderick, mundur dan melarikan diri bukanlah pilihan. Oleh karena itu, dia mengerahkan semua pasukannya dan memutuskan menyerang tentara Muslim. Kedua belah pihak bertemu di Guadalete. Di depan anak buahnya, Tariq menyampaikan salah satu pidato paling inspiratif yang pernah disusun seorang komandan militer Muslim. Dia mengakhiri pidato panjangnya dengan kata-kata ini, “Ingatlah bahwa Allah Yang Mahakuasa akan memilih sesuai janji kepada mereka, baik di dunia maupun akhirat; dan juga tahu bahwa aku yang akan memberikan contoh pertama dan mempraktikkan apa yang aku perintahkan, karena tujuanku adalah – pada pertemuan kedua belah pihak – untuk menyerang dan membunuh si Kristiani tiran Roderick dengan tanganku sendiri jika Allah mengizinkan. Ketika kalian menyaksikan aku bertarung melawannya, ikutlah denganku; jika aku membunuhnya maka kemenangan ada di tangan kita. Namun jika aku terbunuh sebelum aku menyentuhnya, jangan khawatirkan diriku. Tetaplah bertarung seakan-akan aku masih hidup dan berada diantara kalian. Lanjutkan tujuanku, karena ketika mereka melihat raja mereka mati, orang-orang kafir ini akan lari. Jika aku terbunuh setelah menewaskan raja mereka maka tunjukkanlah satu orang di antara kalian yang memiliki keberanian dan pengalaman, yang mampu mengomando dalam situasi darurat ini dan menciptakan kemenangan. Jika kalian mengikuti instruksi-instruksiku, kemenangan pasti di tangan kita.”

Tariq yakin sekali pasukan Muslim akan memenangkan Perang Rio Barbar. Dan itu terbukti. Di bawah kepemimpinan inspirasional Tariq, pasukan Muslim menang telak atas Roderick dan bala tentaranya yan jauh lebih besar dan superior. Ini benar-benar prestasi yang luar biasa. Karena pasukan Muslim hanya terdiri dari tentara tua dan paruh waktu yang tidak punya perlengkapan memadai dan sangat tidak familiar dengan medan Iberia. Yang jelas, mereka berhasil mengalahkanpasukan yang profesional dan besar di tanah mereka sendiri.

Kemenangan atas Roderick membuka pintu ke seluruh Iberia. Tariq bergerak cepat ke daerah-daerah lain dan menaklukkan sebagian besar negara itu, sebelum menuju Toledo. Ketika menerima berita kemenangan Tariq, Musa ikut menyeberang ke Iberia pada tahun 712 M. Bersama pasukan besarnya, dia berhasil menaklukkan kota-kota Iberia terkemuka, seperti Sidonia, Carmona, dan Seville sebelum bergabung dengan Tariq di Toledo.

Tariq dan Musa tetap tinggal di Muslim Spanyol selama tiga tahun. Selama menetap di sana, mereka memperlakukan para penduduk lokal dengan penuh keadilan, kejujuran, dan kesetaraan tidak seperti mantan pemimpin mereka. Teladan perilaku mereka begitu mengesankan para penduduk setempat sampai-sampai mereka mulai memeluk Islam. Mereka yang tetap beragama Kristen mendapatkan toleransi dan dibiarkan hidup dalam damai, bersama-sama sejumlah besar orang Yahudi di Spanyol Islam.

Di bawah perlindungan Islam, bangsa Yahudi berkembang di seluruh Spanyol dan dikenal dengan Masa Keemasan Yahudi di Eropa. Para sarjana dan pemikir besar Yahudi seperti Musa bin Maimon (lebih dikenal sebagai Maimonides), Ibnu Gabirol, dan Ibnu Daud kemudian menetap dan menghasilkan beberapa karya mereka yang paling berpengaruh.

Kedatangan umat Islam tidak hanya menandai awal yang baru bagi Spanyol, tetapi juga menandai awal yang baru bagi Eropa secara keseluruhan. Melalui Spanyol Islam, umat Muslim memperkenalkan konsep kebebasan, toleransi, masyarakat sipil, seni, ilmu pengetahuan, matematika, dan filsafat ke Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Jika bukan karena ekspedisi militer Tariq ke Spanyol maka ini tidak mungkin terjadi. Karena itulah Tariq layak diakui sebagai salah satu jenius militer paling berpengaruh sepanjang masa.

Manakala Tariq dan Musa siap bergerak ke selatan Prancis, berita keberhasilan Islam di Iberia sampai ke telinga Khalifah Al-Walid di Damaskus. Dia pun memberi perintah agar Tariq dan Musa segera melapor kepadanya. Intervensi tidak terduga Khalifah Al-Walid ini tidak hanya menyelamatkan Prancis, tetapi juga menyelamatkan seluruh Eropa dari dominasi Islam.

Setelah kembali ke Qayrawan – dimana dia tinggal untuk sementara waktu – Tariq akhirnya berangkat ke Damaskus. Menurut beberapa sejarawan, Khalifah Al-Walid masih hidup ketika Tariq mencapai Damaskus. Namun menurut beberapa sejarawan lainnya, sang Khalifah sudah wafat saat Tariq tiba di Damaskus. Yang jelas, begitu tiba di sana, Tariq disambut hangat para elite penguasa Umayyah. Dia kemudian memudar di balik layar dan wafat di akhir usia tujuh puluhan tahun.

Tariq tidak hanya menjadi orang Islam pertama yang menginjakkan kaki di dataran Eropa, tetapi juga bertanggung jawab – bersama Abdurrahman I – memprakarsai kekuasaan Islam di Spanyol selama lebih dari tujuh abad. Tidak diragukan lagi bahwa Tariq adalah seorang komandan militer inspirasional sejati. Berkat prestasi luar biasanya di medan perang, dia menempati posisi unik dalam catatan sejarah.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Dalam Sejarah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s