Harun Ar-Rasyid

Salah satu pemimpin Muslim paling terkenal dan berpengaruh, Harun ar-Rasyid yang hidup pada 766-809 M bergelar Ar-Rasyid (Sang Pemberi Petunjuk) mengangkat Dinasti Abbasiyah ke masa keemasan dan menjadi tokoh utama dalam kisah-kisah dongeng fenomenal dunia Seribu Satu Malam bersama sahabatnya Jafar dan Abu Nawas.

Kerajaan Abbasiyah merupakan salah satu dinasti politik terkemuka yang pernah memerintah dunia Islam. Era Umayyah seketika berakhir menyusul revolusi Abbasiyah pada tahun 750. Kala itu, penguasa terakhir Umayyah, Marwan II, dikalahkan secara telak oleh para pendukung Abul Abbas Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas (dikenal sebagai Abul Abbas Al-Saffah). Abbasiyah kemudian memerintah dunia Islam sampai pasukan Mongol muncul dari Asia pada abad ketiga belas.

Meski pada umumnya Al-Saffah dianggap sebagai pendiri kerajaan Abbasiyah, tetapi adalah kakaknya yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas (lebih dikenal sebagai Abu Ja’far Al-Mansur) yang berperan penting dalam mengonsolidasikan pemerintahan Abbasiyah ke seluruh pelosok dunia Islam. Al-Mansur merupakan seorang pemimpin yang cerdas dan berbakat. Dia juga terkenal karena kesalehan pribadinya, serta keterampilan politik dan diplomatiknya yang luar biasa. Setelah kematian Al-Saffah, dia tidak hanya dengan cepat memulai otoritasnya sebagai khalifah, tetapi juga mendirikan kota Baghdad pada tahun 762 dan memastikan terlaksananya transisi politik yang mulus setelah pemerintahannya.

Abu Abdullah Muhammad bin Al-Mansur (lebih dikenal sebagai Al-Mahdi) menggantikan ayahnya, Al-Mansur, dan memerintah selama satu dekade. Dia memiliki tujuh anak, termasuk Musa dan Harun. Setelah Al-Mahdi wafat, Musa menaiki tahta Abbasiyah, tetapi masa pemerintahannya hanya bertahan setahun. Dia digantikan oleh Pangeran Harun Ar-Rasyid yang kemudian menjadi salah satu pemimpin dunia Islam paling terkenal dan berpengaruh.

Lahir di kota Rayy, Iran Tengah, Harun merupakan putra kesayangan kedua orangtuanya. Pada saat kelahirannya, ayahnya, Al-Mahdi, menjabat sebagai gubernur wilayah timur Kekaisaran Abbasiyah. Ibunya yang cantik, Khayzuran binti Alta, yang berasal dari Yaman merupakan istri kesayangan ayahnya.

Sebagaimana ibunya, Harun yang tampan tumbuh besar di bawah bimbingan ketat kedua orangtuanya dalam istana gubernur, dikelilingi oleh banyak kekayaan dan kemewahan. Dididik dalam bahasa Arab dan aspek-aspek keilmuan Islam sedari muda, Harun segera dikenal karena keberanian, kecerdasan, dan kesetiaannya kepada klan Abbasiyah.

Seperti kakeknya, ayahnya sangat menyukai orang-orang Makkah dan Madinah. Ketika mengunjungi kedua kota suci tersebut pada tahun 777, Al-Mahdi membagi-bagikan uang dan hadiah kepada para penduduk setempat. Dia juga sangat tertarik untuk melakukan perenovasian terhadap masjid suci (haram al-syarif) di Makkah.

Saat remaja, Harun menemani ayahnya ke Makkah dan Madinah selama musim haji dan langsung jatuh hati kepada masyarakat di kedua kota suci tersebut. masyarakat Arab terpikat oleh kemurahan hati Al-Mahdi dan ini membantunya mengonsolidasikan otoritas kekhalifahannya ke seluruh pelosok dunia Islam. Di saat ini pula Al-Mahdi menggunakan kesempatan untuk memperkenalkan Harun kepada masyarakat Makkah dan Madinah sebagai calon penerusnya.

Sekembalinya ke Baghdad, Al-Mahdi memercayakan kebutuhan pendidikan Harun kepada Yahya bin Khalid al-Barmaki, penasehat politik dan administratornya yang berbakat asal Persia. Yahya mendidik Harun dengan penuh perhatian, mengajarkan aspek-aspek strategi politik dan administrasi sipil. Dia pun mempersiapkan Harun untuk menjadi pemimpin politik dalam waktu dekat. Yahya sangat mempengaruhi pendidikan dan peikiran politik Harun sampai-sampai Harun juga meminta dukungan psikologis dan emosional darinya.

Sebagaimana yang diharapkan, Harun tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat mampu dan kompeten. Usianya belum lagi menginjak lima belas tahun manakala pengetahuannya mengenai strategi dan taktik militer mendapatkan ujian berat. Harun ditunjuk sebagai komandan tentara Abbasiyah pada tahun 780 dengan tugas menetralisir pasukan Byzantium yang terus-menerus menjadi ancamana tentara Abbasiyah. Dengan pencalonan ini, Al-Mahdi secara efektif juga mencalonkan putra kesayangannya untuk menggantikannya sebagai Khalifah Abbasiyah. Kampanye militer Harun terhadap Byzantium terbukti sangat sukses.

Selama berada di kemiliteran, Harun menunjukkan prestasi yang baik bersama para jenderal yang sangat mengagumi pangeran muda itu. Dua tahun kemudian, Harun ditugaskan memimpin kampanye militer skala besar lainnya melawan Byzantium dan lagi-lagi pulang dengan membawa kemenangan. Pasukannya mengepung orang-orang Yunani di dalam Konstatinopel, sebelum akhirnya Ratu Irene keluar dan memohon perdamaian. Inilah prestasi luar biasa bagi Harun yang baru berusia enam belas tahun. Prestasinya ini kemudian membuatnya memperoleh gelar “Ar-Rasyid” (Sang Pemberi Petunjuk).

Karena sikap rakus, para penguasa Muslim saat itu sering kali meninggal dunia secara mendadak di puncak kejayaan mereka. Ini mendorong Al-Mahdi untuk secara resmi mencalonkan penggantinya guna menghindari pergolakan politik yang pahit setelah kematiannya. Setelah mempersiapkan Musa dan Harun untuk menjadi pemimpin politik, Al-Mahdi memastikan setiap orang untuk berjanji setia kepada Musa sebagai penggantinya, sementara Harun dikukuhkan sebagai penerus Musa.

Ketika Al-Mahdi meninggal dunia pada tahun 785, Harun menjabat sebagai gubernur wilayah barat Kekaisaran Abbasiyah yang terbentang dari Tunisia sapai Anbar di pinggiran kota Baghdad. Penasihat dan pembimbingnya, Yahya bin Khalid, ditugaskan menangani administrasi politik dan pemerintahan provinsi tersebut, dimana posisi Harun sebagai gubernur lebih seperti pemimpin tanpa wewenang.

Musa – yang bergelar Al-Hadi – menggantikan ayahnya sebagai khalifah, tetapi masa pemerintahannya tidak berlangsung lama. Setelah itu, Musa digantikan oleh Harun untuk menduduki takhta Abbasiyah – dan menobatkannya sebagai khalifah baru.

Baru berusia dua puluh satu tahun pada saat itu, sang khalifah muda menunjuk Yahya bin Khalid yang sudah tua sebagai penasihat dan pemandu pribadinya, jabatan pemerintahan tertinggi di negeri itu. Dengan dibimbing Yahya dalam melaksanakan tugas berat mengurusi masalah-masalah internal dan eksternal Kekaisaran Abbasiyah yang luas, Harun segera membuktikan dirinya sebagai penguasa dunia Islam yang tidak perlu diragukan lagi.

Sebagai seorang birokrat yang setia, berkomitmen, dan sangat berpengalaman, Yahya menikmati dukungan penuh dan kepercayaan dari Harun sampai-sampai sang Khalifah muda sering merujuknya dengan kasih sayang sebagai “Ayah”. Namun, justru putra termuda Yahya, Ja’far, yang menjalin persahabatan erat dengan Harun. Seperti halnya Harun, Ja’far berada di usia awal dua puluhan dan terkenal karena kecintaannya pada keglamoran, kesenangan, dan petualangan. Mereka memiliki banyak kesamaan sampai-sampai Ja’far kemudian dikenal sebagai sahabat setia Harun dalam kisah petualnagn ternama di dunia Seribu Satu Malam (Alf Layla wa Layla – yang juga dikenal dengan Malam-Malam di Arabia).

Sebagai anggota terkemuka di lingkaran dalam Harun, Yahya dan putranya Ja’far dan Fadl, memegang kekuasaan cukup besar dalam hierarki politik Abbasiyah. Barmakiyah (begitu keluarga Ja’far disebut), mereka juga memiiki akses langsung kepada khalifah, berkat dukungan politik dan kesetiaan mereka kepada Harun sebagai penasehat dan pembimbingnya.

Selain menjadi terkenal sebagai khalifah yang memesona dan menyenangkan, Harun juga sama kondangnya berkat kesalehan dan kebajikan pribadinya. Sebagai seorang Muslim yang taat, dia menjadi khalifah pertama dan satu-satunya yang pernah melakukan ibadah haji – sebanyak delapan kali – bersama istri tercintanya, Zubaida. Seperti yang dilakukan oleh ayah dan kakeknya bilamana mengunjungi Makkah dan Madinah, Harun membagi-bagikan hadiah berupa pakaian dan uang kepada para penduduk setempat.

Setiap sebelum menunaikan ibadah haji, Harun selalu menyiapkan dirinya. Dia juga mendorong para pejabat dan rakyatnya untuk menemaninya, serta melimpahkan urusan-urusan negara kepada para menteri Barmakiyah dan pejabat pemerintah tingkat tinggi lainnya. Selama periodenya sebagai khalifah, Harun secara radikal mereformasi sistem dan administrasi sipil negara dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas di semua tingkat pemerintahannya.

Untuk menghentikan semua serangan Byzantium, Harun melancarkan kampanye militer terhadap mereka. Dengan demikian, Harun menjadi penguasa pertama dalam sejarah Islam yang memimpin delegasi haji dan memimpin tentara ke medan perang di tahun yang sama. Kebesaran Harun terletak pada fakta bahwa dirinya tidak hanya berkhotbah, tetapi juga memimpin rakyatnya dengan teladan pribadinya. Ini membuatnya sangat terkenal di kalangan para pejabat dan rakyatnya.

Pada masa pemerintahannya sebagai khalifah, Harun mengirimkan ekspedisi militer melawan Byzantium setiap tahun. Bertekad melemahkan siasat lawannya itu, Harun memanfaatkan pengetahuan dan pemahaman mendalamnya tentang strategi dan taktik militer dengan hasil yang luar biasa. Dia pun kerap meninggalkan urusan-urusan politik dan sipil di tangan Barmakiyah agar bisa memusatkan perhatiannya terhadap musuh eksternal kerajaan. Oleh karena itu, masa pemerintahannya mewakili puncak kejayaan dan prestasi Dinasti Abbasiyah.

Setelah menciptakan stabilitas politik, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, mengembangkan standar pendidikan, serta mempromosikan perdamaian dan solidaritas sosial di seluruh dunia Islam, Harun mendirikan rumah sakit pertama yang beroperasi penuh di Baghdad. Dia juga mendirikan sebuah perpustakaan dan pusat penelitian yang dikenal sebagai “Bait al-Hikmah” (Rumah Kebijaksanaan). Di sana, para ilmuwan, ahli astronomi, dan filsuf Muslim mempelopori pengajaran dan penelitian dalam semua bidang keilmuan pada saat itu. Selain itu, dia berperan penting dalam pengembangan sistem pos yang efektif di seluruh Kerajaan Abbasiyah. Harun juga membangun jalan-jalan raya baru untuk memfasilitasi perdagangan dan perniagaan, serta perjalanan dan komunikasi jarak jauh antar daerah di kerajaannya.

Di bawah kepemimpinan Harun yang bijak dan inspiratif, sebuah masyarakat yang toleran dan berkembang muncul di dunia Islam. Para sarjana, penulis, dan pemikir bisa berdebat dan berdiskusi mengenai agama, filsafat, ilmu pengetahuan, dan sastra tanpa takut dikenal sanksi-sanksi politik, agama, dan sosial. Karena alasan inilah, masa pemerintahannya dikenal sebagai Zaman Keemasan Dinasti Abbasiyah, dan gema periode ini tercantum dalam kisah terkenal Seribu Satu Malam.

Sebagai pahlawan utama dalam kisah dongeng epik ini, Harun diceritakan berjalan keliling Baghdad, sebuah kota istana megah yang dihuni oleh pegawai sipil kaya dan pedagang kelas menengah. Bersama sahabatnya Ja’far Barmakiyah dan sang penyair terkenal, Abu Nuwas, mereka terlibat dalam petualangan-petualangan (sering kali di tengah malam) yang menggelitik tawa.

Walaupun Seribu Satu Malam hanya cerita fiksi tentang Khalifah Harun Ar-Rasyid, tetapi sebenarnya sangat mirip dengan khalifah yang sebenarnya. Harun selalu menghargai dan mengagumi sisi kehidupan yang lebih ringan dan humoris. Sebagai orang yang cerdas dan berbudaya, Harun sangat menikmati kehidupannya yang dia lakoni tanpa mengolok-olok keimanan dan keyakinan agamanya.

Meski berhasil mengubah Baghdad menjadi salah satu kota paling canggih dan mempesona di dunia, Khalifah Harun tidak menyukai iklim dan udara pasan di kota itu. Selama masa pemerintahannya, dia pergi dari satu kota ke kota lainnya demi mencari lokasi dan lingkungan yang ideal. Dia lebih menyukai suasana yang sejuk, hidup, dan segar. Setelah pencarian panjang, Harun akhirnya menetap di Callinicum, sebuah kota Romawi kuno yang telah diubah oleh kakeknya menjadi sebuah kota metropolis yang berkembang. Nantinya berganti nama menjadi al_rafiqa, kota itu kini terletak di Suriah.

Pada tahun 802, Harun pergi menunaikan ibadah haji, dan kali ini dia membawa serta putra-putranya, Muhammad (yang kemudian dikenal sebagai Khalifah Al-Amin) dan Abdullah (yang menerima gelar Khalifah Al-MA’mun). Mereka mengunjungi kota Makkah dan Madinah, di mana Harun mendistribusikan sejumlah besar uang kepada para penduduk setempat, sekaligus memperkenalkan putra-putranya-calon-calon penerusnya-kepada masyarakat Makkah dan Madinah. Sang khalifah baru berusia tiga puluh enam tahun kala itu.

Sekembalinya dari ibadah haji, Harun merasakan sesuatu yang tidak beres di kerajaan dan responsnya mengejutkan semua orang. DIA MENDEPAK ANGGOTA KELUARGA Barmakiyah – menteri Yahya dan kedua putranya Ja’far dan Fadl – dari jabatan tinggi di pemerintahan dan menempatkan mereka sebagai tahanan rumah. Ja’far pada akhirnya terbunuh. Tindakan Harun yang drastis dan keras terhadap para mantan pendukungnya terus membingungkan dan mengejutkan para sejarawan sampai hari ini.

Seperti yang diduga, tanpa dukungan dan bimbingan menteri-meneteri keluarga Barmakiyah yang setia dan sedikit flamboyan, Harun kesulitan memelihara perdamaian dan stabilitas di seluruh Kerajaan Abbasiyah. Ini mendorongnya untuk menunjuk Fadl bin Rabi-putra seorang menteri terkenal bernama Rabi yang sangat setia kepada kakek dan ayahnya-sebagai kepala menteri. Namun, Fadl pun menemui kesulitan yang sama seperti Harun.

Selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, Harun sangat disibukkan oleh kampanye militer melawan Byzantium dan lawan-lawan politik di negaranya. Dia meninggal dunia karena sakit pada usia empat puluh tiga tahun tatkala melakukan ekspedisi militer ke Persia dan dimakamkan di kota kuno Tus. Sebelum wafat, Harun menetapkan putranya, Al-Amin, untuk menggantikannya sebagai khalifah dan Al-Amin pada gilirannya digantikan oleh Al-Ma’mun. Dengan penetapan ini, Harun berharap dpat menghindari pertempuran suksesi yang berlarut-larut setelah kematiannya. Akan tetapi, rencana-rencananya tak berjalan sesuai harapannya.

Yang jelas, dengan kematian Khalifah Harun Ar-Rasyid, sebuah bab terindah dalam sejarah Islam tiba-tiba berakhir. Sebagai salah satu pemimpin dunia Islam paling berpengaruh, Harun kini terkenal di Timur dan Barat berkat kontribusi luasnya dalam peningkatan dan pengembangan budaya dan peradaban Islam.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s