Sayid Quthub

Ia merupakan salah satu pemikir, ideolog, dan aktivis besar Islam yang hidup pada 1906-1966 M. Berasal dari Mesir, Sayid Quthub memberikan pengaruh mendalam bagi Islam abad ke-20 melalui ide dan pemikirannya mengenai Islam seperti yang tercantum dalam karya monumentalnya, Fi Dzilal al-Quran.

Sebagai raja muda Dinasti Usmaniyah Dinasti Muhammad Ali Pasya memerintah Mesir lebih dari setengah abad, sebelum Inggris menduduki Mesir pada tahun 1882. Bangga dengan identitas mereka sebagai Muslim, masyarakat Mesir sangat menolak pendudukan militer asing atas negeri mereka. Namun, abad ke-19 merepresentasikan sebuah periode yang bergejolak dalam sejarah Mesir (dan Islam) karena dua sebab. Pertama, pada periode ini, banyak wilayah di dunia Islam yang dijajah oleh negara-negara besar Eropa, yang berinisiatif melemahkan infrastruktur politik-ekonomi negara-negara Muslim. Kedua, masuknya budaya dan nilai-nilai Eropa ke dalam dunia Islam menyebabkan ketegangan dan kekacauan sosial-kultural yang cukup besar.

Ketika ketidakstabilan politik dan kerusuhan sosial mencengkeram sebagian besar wilayah dunia Islam, sejumlah gerakan nasionalis lokal yang kuat bermunculan untuk melawan kekuatan penjajah. Di Mesir, penyebaran gerakan nasionalis di paruh awal abad ke-20 memaksa Inggris untuk memberikan kemerdekaan resmi pada Mesir. Meskipun kaum Nasionalis Mesir (seperti rekan-rekan sejawat mereka di belahan dunia Islam lainnya) bertarung dengan gigih untuk memerdekakan negeri mereka, mereka gagal mempersiapkan diri mereka setelah merdeka.

Ini terbukti sangat fatal bagi Mesir manakala berbagai faksi politik saling beradu visi ntuk menentukan masa depan negara tersebut. Sebagian faksi mengusulkan agar Mesir dibuat seperti tipikal negara Eropa yang sekuler dan demokratik. Sebagian lagi mengusulkan kerangka politik sosialis. Sebagian lainnya mengusulkan pendekatan Islam dalam membangun negara.

Menurut para penganjur politik Islam, baik model sekuler maupun sosialis pernah dicoba, diuji, dan ternyata gagal. Hanya pendekatan Islam yang paling cocok untuk negara Muslim besar seperti Mesir. Salah satu pemikir dan ideolog Islam paling berpengaruh di Mesir pada masa itu adalah Sayid Quthub, yang ide dan pemikirannya telah memberikan pengaruh begitu mendalam bagi Islam abad ke-20.

Sayid Quthub Ibrahim Husain Syadzili dilahirkan di Desa Musya, di dekat Asyut di Mesir Atas. Meskipun keluarganya berasal dari Semenanjung Arab, leluhur langsungnya pindah ke Mesir. Sebagai Muslim yang cenderung pada mistis, ayahnya bekerja sebagai petani. Rakyat Mesir hidup di bawah pendudukan Militer Inggris pada waktu itu. Mayoritas dari mereka (entah itu pengusaha kaya, petani miskin, penduduk desa yang buta huruf, atau pejabat tinggi pemerintah) mendukung al-Hizb al-Wathani, sebuah partai nasionalis Mesir yang dipimpin oleh Musthafa Kamil dan rekan-rekannya. Sebagai seorang nasionalis yang bangga menjadi Muslim, Haji Quthub secara aktif mendukung aktivitas politik partai ini, sembari bekerja keras agar keluarganya bisa hidup dengan nyaman.

Hajj Quthub memiliki lima orang anak; tiga putri dan dua putra. Sayid Quthub adalah anak tertua. Karena ingin memberikan pendidikan yang terbaik kepad putranya, Hajj Quthub memastikan putranya menghafalkan seluruh Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Selanjutnya, Quthub muda mempelajari kehidupan dan sejarah Rasulullah SAW., para sahabatnya, dan aspek-aspek sejarah Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Quthub meninggalkan kampung halamannya dan – pada tahun 1921 – menetap di Kairo, ibukota Mesir sekaligus pusat kehidupan intelektual, kultural, dan kesusasteraan yang ramai dan sibuk.

Di Kairo, Quthub tinggal bersama pamannya dan belajar di sebuah sekolah persiapan guna memastikan tempat di Dar al-Ulum (saat ini bernama Universitas Kairo). Aslinya didirikan oleh Pemerintah Mesir untuk melatih para guru untuk sekolah-sekolah negeri. Institusi ini menawarkan pendidikan modern ala Barat dan disiplin-disiplin lainnya yang lebih tradisional. Kalangan kelas menengah Mesir sangat ingin anaknya bersekolah di institusi ini, karena menawarkan jalan cepat untuk memastikn posisi sebagai pegawai pemerintah bergaji tinggi.

Karena ingin berkarir sebagai pendidik, Quthub menyelesaikan sekolah persiapannya dan mendpaatkan tempat di Dar al-Ulum untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Dari tahun 1927 sampai 1930, dia menenggelamkan diri dalam studi-studinya, serta aktif terlibat dalam aktivitas-aktivitas budaya dan kesusasteraan. Dia menjadi seorang penulis dan kritikus sastra yang produktif saat masih berusia dua puluh tahun. Saat itu, dia rutin menerbitkan astikel, ulasan, dan puisi di berbagai surat kabar dan jurnal terkemuka di Kairo. Ulasan-ulasan yang tajam, artikel-artikelnya yang mendalam, dan puisi-puisinya yang menyentuh segera mengukuhkan reputasinya sebagai figur kesusasteraan terkemuka.

Meskipun dibesarkan secara tradisional, tulisan-tulisan Quthub pada saat itu hampir sepenuhnya bernada modernistik dan nasionalistik. Meski begitu ia bukanlah pendukung modernisme dan sekulerisme Barat yang diimpor ke Mesir dari Eropa dan dipromosikan ke seluruh penjuru negeri oleh para elite Mesir. Quthub justru menentang pengimporan moral dan nilai-nilai Barat.

Selama periode ini, Quthub mengarang buku Asywak (Duri-duri), sebuah kisah cinta yang berakhir dengan tragedi; Tifla min Qaryah (Anak dari Desa), sebuah otobiografi mengenai masa kecilnya, dan Madinah al-Masyurah (Kota yang mempesona) yang mengisahkan bangunan-bangunan bersejarah dan istana kerajaan yang dibalut dlaam bahasa sastra. Kala itu, dia kerap bergaul dengan para penulis dan intelektual Mesir terkemuka seperti Thaha Husein dan Abbas Mahmud Al-Aqqad. Dan mendukung Musthafa Shadiq Rafai – seorang penulis Mesir – kala berselisih dengan Al-Aqqad. Pada tahap sekarang ini, Quthub dianggap sebagai seorang penulis dan kritikus sastra yang berbakat.

Setelah lulus dari Dar al-Ulum pada tahun 1933, Quthub mengajar di sekolah-sekolah lokal, sebelum bergabung dalam Kementerian Pendidikan. Karena ingin meningkatkan sistem pendidikan di Mesir, dia menuliskan serangkaian hasil penelitian yang menjelaskan cara untuk mereformasi kebijakan dan praktik pendidikan di negara tersebut. Namun, proposalnya tidak pernah didengarkan. Yang lebih menyedihkan, Pemerintah Mesir hanya ingin mendengarkan para elite Inggris dan – seperti yang diperkirakan – ini membuat Quthub marah. Ini mendorongnya untuk terang-terangan mengkritik Pemerintah Mesir yang bersikap membudak terhadap Inggris dan gagal dalam menformasi embrio sistem pendidikan di Mesir.

Karena semakin dianggap membahayakan oleh para koleganya, atasannya di Kementerian Pendidikan merasa lega ketika dia setuju berangkat ke Amerika – didanai oleh beasiswa Pemerintah – untuk meneliti filsafat dan metodologi pendidikan Amerika. Namun, begitu tiba di Amerika tahun 1948, dia menderita sakit parah. Karena mengidap asma, perjalanan yang panjang dan melelahkan malah memperburuk problem pernafasannya. Namun, akhirnya dia dapat sembuh total dan bergabung dengan Wilson Teacher’s College di Washington DC untuk mempelajari bahasa Inggris. Dia kemudian pindah ke Colorado dan juga mengunjungi California, Chicago, dan San Fransisco, sebelum pulang ke Mesir pada tahun 1951.

Masa tinggalnya di Amerika mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan untuk selamanya. Sebagai orang yang berpendidikan, berbudaya, dan sensitif, Quthub merasa masyarakat Amerika hampir tidak menawarkan apa-apa kepadanya. Dia menilai nilai-nilai dan jalan hidup orang Amerika dibingungkan oleh kontradiksi-kontradiksi moral dan etik. Di balik kemilau kekayaan materi dan kemewahan, dia menemukan bagaimana penurunan spiritual, nihilisme moral, dan schizophrenia kultural sangat menguasai masyarakat Amerika. Dia tidak mengerti mengapa para elite Mesir sangat ingin mengimpor nilai-nilai dan moral-moral semacam itu, serta menyebarkannya di Mesir sebagai produk budaya dan peradaban tinggi. Dengan mengorbankan kolektivisme demi individualisme dan spiritualitas demi kesejahteraan material, rakyat Amerika-menurutnya-dicengkeram oleh relativisme moral, kebangkrutan sosial, dan ketidakamanan ekonomi.

Merasa yakin bahwa moral dan nilai ala Amerika bukanlah sebuah jawaban bagi masyarakat Muslim, Quthub mengalami transformasi intelektual dan kultural. Jika para petinggi di Kementerian Pendidikan mengirimnya ke Amerika untuk membuka pikirannya terhadap hal-hal berbau Barat maka dia kembali ke Mesir untuk mendukung nilai-nilai dan moralitas Islam. Dalam Amerika Allati Ra-aitu (Amerika Seperti yang Kulihat) yang ditulisnya, Quthub tidak hanya mematahkan argumen bahwa budaya dan nilai-nilai Amerika sangat pantas diikuti oleh masyarakat Mesir; dia juga menjelaskan kegagalan-kegagalan intrinsik dalam nilai-nilai dan filosofis materialistik Barat.

Pada tahun 1949, manakala Quthub sedang dirawat di George Washington University Hospital karena gangguan pernafasannya kambuh, dia menerima kabar pembunuhan Hasan Al-Banna. Setelah pembunuhan Perdana Menteri Mesir, Nuqrasyi Pasya – diduga dilakukan oleh aktivis Ikhwan al-Muslimin – Al-Banna ditembak mati di jalanan Kairo oleh agen rahasia Mesir.

Didirikan oleh Al-Banna pada tahun 1928, Ikhwan al-Muslimin merupakan sebuah organisasi massa Islam menolak upaya para elite Mesir untuk menyerukan perlunya mempromosikan dan menerapkan moral, dan nilai-nilai Islam di seluruh Mesir.

Gerakan ini menjadi begitu terkenal pada dekade 1940an, sehingga dianggap terlalu kuat dan berpengaruh oleh pihak penguasa Mesir. Karena itulah, mereka mengambil tindakan keras terhadap para pemuka terkemuka dan aktivis gerakan ini guna memperlemah keseluruhan organisasi. Namun, Ikhwan terus tumbuh sampai pendirinya terbunuh pada 1949.

Ketika kembali ke Mesir pada tahun 1951, Quthub dengan teliti mempelajari ide, pemikiran, dan metodologi Ikhwan, dan setahun kemudian bergabung secara resmi. Dengan cepat, dia menjadi salah satu tokoh terkemuka dalam organisasi tersebut bersama dengan Hasan Islami Al-Hudaybi.

Periode dari tahun 1949 sampai 1952 merupakan periode yang krusial bagi Quthub karena sejumlah alasan. Pertama, pemahaman dan pendekatannya terhadap Islam bergeser secara radikal pada periode ini. Dia kini mulai melihat Islam sebagai satu keutuhan, di mana Islam bukan lagi menjadi sebuah elemen kultural dalam pandangan dunianya. Namun, dia justru mulai melihat Islam dari sudut pandang ideologis. Kedua, merasa yakin bahwa Islam bukan hanya sekedar serangkaian perintah dan larangan, dia menciptakan sebuah pendekatan konseptual terhadap Islam sebagai sebuah agama, kebudayaan, dan jalan hidup – sebuah pandangan dunia yang komprehensif.

Quthub memformulasikan pendekatan ideologis dan konseptualnya terhadap Islam dalam sejumlah buku yang dia tulis pada saat itu. Beberapa di antaranya adalah al-Adala al-Ijtima’iyyah fil Islam (Keadilan Sosial dalam Islam), Ma’rakat al-Islam wal Rasmaliyyah (Konflik Antara Islam dan Kapitalisme), dan al-Salam Al-Alam wal Islam (Islam dan Perdamaian Dunia). Sebagai penulis yang produktif sekaligus pemikir Islam berpengaruh, Quthub sangat paham bahwa menulis buku saja tidak akan menyebabkan perubahan. Seseorang juga harus siap jatuh-bangun untuk menyebabkan perubahan. Seseorang juga harus siap jatuh-bangun untuk menerjemahkan visinya ke dalam kenyataan. Ini mendorongnya untuk masuk ke dalam aktivisme politik di bawah bendera Ikhwan al-Muslimin.

Quthub tidak menikah dan melajang sepanjang hidupnya, dan mendedikasikan seluruh waktu dan energi sepanjang sisa hidupnya untuk menulis buku dan risalah mengenai Islam, serta juga menjadi seorang aktivis politik Islam secara purna-waktu. Semakin sering Quthub merefleksikan prinsip dan praktik Islam dengan masyarakat Eropa, semakin dia menjadi yakin bahwa negerinya telah diserang oleh kejahiliahan (menjauh dari Islam), baik secara moral, politik, kultural, maupun ekonomi. Quthub menyatakan bahwa hakimiyyah (kedaulatan) hanya milik Allah dan bahwa tatanan politik dan sosial Mesir harus diubah untuk dapat merefleksikan kebenaran tersebut. oleh karena itu, dia menyerukan perlunya melakukan jihad untuk mengubah status quo demi menciptakan sebuah tatanan sosial politik yang Islami.

Konsep jahiliah dan hakimiyyah berperan penting dalam pendekatan ideologis Quthub terhadap Islam. Istilah tersebut pertama kali ditafsirkan dalam konteks sosial-politik pada dekade 1940an oleh Abu A’la Al-Maududi, sang penulis dan cedekiawan Islam terkemuka dari Pakistan. Menurut beberapa penulis biografinya, Quthub tidak hanya menjadi familiar dengan tulisan-tulisan Maududi (setelah karya-karya Mawdudi mulai diterbitkan dalam bahasa Arab pada awal dekade 1950an), tetapi dia juga mengasimilasikan ide dan pemikiran politik Maududi guna menciptakan penafsiran ideologisnya sendiri mengenai Islam.

Sebagai anggota terkemuka Ikhwan dan salah satu pemimpin ideologisnya, Quthub segera mengalami masalah dengan pihak penguasa Mesir karena menyerukan perlunya reformasi islami di negara tersebut. Namun, Jamal Abdul Nashir (yang menjadi pemimpin negara setelah Raja Faruk dijatuhkan oleh gerakan Perwira Bebas) ingin membawa Mesir menuju jalur sekuler. Ketika Ikhwan mulai menentang tawaran sekulerisme Nasir, mereka dicekal oleh pihak penguasa.

Dua tahun kemudian, pada tahun 1954, Ikhwan dinyatakan ilegal oleh rezim Nasir setelah dia nyaris dibunuh oleh orang yang diduga anggota Ikhwan. Akibatnya, seluruh pemuka terkemuka Ikhwan ditahan, termasuk Quthub. Setelah serangkaian proses persidangan, dia divonis penjara selama lima belas tahun. Di penjara inilah dia menuliskan karya monumental Fi Dzilal Al-Quran (Di Bawah Bayang-Bayang Al-Quran), sebuah ulasan berjilid mengenai Al-Quran. Dianggap luas sebagai salah satu tafsir Al-Quran paling berpengaruh pada abad ke-20. Dalam karya ini, Quthub mengembangkan sebuah interpretasi ideologis mengenai pemikiran dan pandangan dunia Islam.

Meskipun dibebaskan dari penjara pada tahun 1964 karena alasan kesehatan, satu tahun kemudian dia kembali ditahan karena aktif mendukung dan bekerja sama dengan Ikhwan. Didakwa melakukan makar untuk menjatuhkan pemerintah, pihak penguasa membuat bukti palsu yang membuktikan bahwa dirinya adalah ancaman bagi Pemerintah Mesir sehingga harus dihukum mati. Sejumlah paragraf diambil dari buku-bukunya – termasuk karyanya yang berjudul Ma’alim fil Tariq (Rambu-rambu di Jalan) – untuk menentukan nasibnya. Sebuah persidangan militer yang dibentuk oleh pemerintah memvonisnya dengan hukuman mati pada usia enam puluh tahun. Dia menjalani hukumannya itu tanpa rasa takut atau gentar.

Meskipun benar bahwa Quthub menyerukan jihad, dia tidak pernah mengajarkan kekerasan atau menghasut untuk menggulingkan pemerintah Mesir dengan kekuatan bersenjata. Toh sejumlah kelompok radikal tertentu di Mesir dan belahan dunia lain sejak itu berusaha membenarkan aksi-aksi kekerasan mereka terhadap rezim-rezim represif karena salah menafsirkan ide dan pemikirannya.

Begitu pula sejumlah penulis Barat yang mengulas tentang Islam dan topik-topik Timur Tengah telah secara keliru menjuluki Quthub sebagai “filsuf teror”. Mereka mengklaim bahwa interpretasi ideologis dan politis Quthub mengenai Islam memberikan pembenaran intelektual pada kelompok-kelompok ekstremis seperti al-Jamaah al-Islamiyyah dan al-Qaeda untuk melaksanakan kejahatan-kejahatan mereka. Untuk bersikap adil kepada Quthub, ini sebuah generalisasi yang sangat tidak sistematis, karena gagal mempertimbangkan keseluruhan fokus dan kerumitan dari ide dan pemikiran religiusnya.

Yang sebenarnya adalah Quthub tidak berpijak pada pemikiran dan keilmuan Islam tradisional. Oleh karena itu, interpretasinya mengenai sejumlah aspek tertentu mengenai Islam (misalnya konsep tauhid, hakimiyyah, jahiliah, dan jihad) sangat jauh dari pengertian tradisional. Dalam hal ini dia memang seorang pemikir dan aktivis Islam yang radikal. Namun, tidak tepat bila dia disebut sebagai pendukung ekstremis religius dan politik kekerasan, seperti yang selama ini dituduhkan oleh sejumlah penulis Barat.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s