Abu Hamid Al-Ghazali

Salah satu ulama dan pemikir paling berbakat dalam dunia Islam, Al-Ghazali – yang dikenal di Barat sebagai Algazel – membebaskan pemikiran Islam dari cengkeraman filsafat Yunani melalui karya fenomenalnya Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filsuf). Al-Ghazali hidup pada 1058 – 1111 M.

Sumber pemikiran awal Islam adalah Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Tetapi perkembangan Islam yang begitu cepat di Mesir, Persia dan Suriah menjadikan umat Islam bersentuhan langsung dengan ide-ide dan pemikiran-pemikiran asing (seperti filsafat Yunani kuno). Sehingga memberi pengaruh besar pada kaum intelektual Islam. Alhasil, pemikiran Islam pun mulai memanifestasikan dirinya dalam cara yang berbeda-beda.

Walaupun awalnya muncul sebagai sebuah gerakan politik, Mu’tazilah kemudian sepenuhnya mengambil bentuk rasionalistik di bawah pengaruh Wasil bin Ata. Dipengaruhi oleh pemikiran Helenistik, para filsuf Islam (falasifah) kemudian muncul untuk merintis interpretasi filosofis terhadap Islam. Di bawah bimbingan Abul Hasan Al-Asy’ari, teologi spekulatif (ilm al-Kalam) juga menjadi kekuatan besar dalam cakrawala intelektual Islam. Sebelum itu, di bawah bimbingan Hasan Al-Basri, aliran Sufi menjadi kekuatan besar di dunia Islam.

Tren rasionalistik, filosofis, teologi dan mistik ini terus bersaing untuk mendpaatkan hati dan pikiran umat Islam. Semua itu terjadi sebelum kepribadian gigih Al-Ghazali muncul pada abad kesebelas untuk memperjuangkan dan menegaskan kembali pemikiran dan praktik-praktik Islam tradisional dengan lebih hebat daripada sebelumnya.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Tusi Al-Ghazali – dikenal di Dunia Barat dengan nama Algazel – dilahirkan di kota bersejarah, Tus, di Khurasan (sekarang Masyhad di Iran). Sebagai tempat kelahiran master sufi Abul Hasan Ali Al-Hujwiri, penyair epik terkenal Firdausi, serta sarjana dan negarawan ternama Nizam Al-Mulk, Tus merupakan pusat kegiatan belajar dan pengetahuan Islam pada waktu itu.

Ayah Al-Ghazali merupakan seorang Muslim yang taat dan meninggal saat putranya masih bayi. Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, kemudian dibesarkan ibu mereka yang memastikan mereka menerima pendidikan yang baik. Al-Ghazali mengikuti kelas seorang tutor sufi lokal. Sebelum menginjak usia lima belas tahun, Al-Ghazali menguasai bahasa dan tata bahasa Arab, Al-Quran, hadist, fiqih serta aspek-aspek pemikiran dan puisi Sufi.

Selanjutnya, dia melakukan studi rinci mengenai fiqih di bawah bimbingan Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Radhkani di Tus dan Abul Qasim Ismail bin Mas’ada Al-Ismaili – seorang ahli terkemuka dalam bidang ini – dalam seminar di Jurjan. Pada usia tujuh belas tahun, Al-Ghazali berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang fiqih dan pulang ke Tus untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.

Al-Ghazali merupakan seorang siswa berbakat yang hanya membutuhkan sedikit bimbingan dan pengawasan dari para pembimbingnya. Kemampuan luar biasanya dalam memahami ide-ide dan pemikiran komplks memungkinkannya untuk menyerap prinsip-prinsip dan praktik-praktik Islam dengan mudah.

Menjelang usia dua puluhan, Al-Ghazali berangkat menuju Nisyapur untuk mengejar pelajaran lanjutan dalam ilmu-ilmu keislaman. Dia beruntung mempelajari teologi Islam dan fiqih di bawah bimbingan “Imam al-Haramain” Abul Ma’ali Abdul Malik Al-Juwaini. Al-Juwaini tidak hanya seorang eksponen teologi Asy-ariyyah yang terkenal, tetapi juga salah satu cendekiawan Islam yang masyur pada generasinya.

Al-Juwaini mengajar di Madrasah Nizamiyah yang terkenal di Nisyapur dan Al-Ghazali menjadi salah seorang murid favoritnya. Seperti Al-Juwaini, Al-Ghazali menjadi seorang teolog Asy’ari dan faqih (ahli hukum) Syafi’i. Al-Juwaini juga yang memperkenalkan ilmu logika (mantiq) dan pemikiran filosofis para filsuf Islam kepadanya.

Al-Juwaini sangat terkesan dengan kecemerlangan intelektual dan kemampuan analisis Al-Ghazali, sehingga dia mencalonkan Al-Ghazali sebagai asisten pengajarnya. Ini memantapkan kredensial (mandat) Al-Ghazali dan mengangkat reputasi barunya sebagai seorang cendekiawan muda Islam. Pada periode inilah dia menulis al-Mankhul min Ta’liqat al-Ushul (Bunga Rampai Metode Dasar), yang menguraikan tentang prinsip-prinsip dasar hukum dan metodologi hukum Islam.

Sebagai pusat pengetahuan Islam terkemuka, Nisyapur juga menarik minat para sufi terkemuka yang tinggal di sana, yang menyampaikan pengetahuan esoterik Islam (batin) kepada para pengikut dan simpatisan mereka. Al-Ghazali menghadiri pondokan-pondokan sufi (zawiyyah) ini dan menerima pelatihan dalam dimensi-dimensi teoretis dan praktis Sufisme di bawah bimbingan Abu Ali Fadl bin Muhammad bin Ali Al-Farmadhi. Dia seorang sufi yang sangat dihormati di Nisyapur dan murid Al-Qushairi yang masyur.

Pada tahun 1085, Al-Juwaini wafat dan Al-Ghazali diminta menjadi profesor pemikiran Islam di Universitas Nizamiyyah di Baghdad oleh Nizam Al-Mulk, Perdana Menteri Seljuk dan pendiri Universitas Nizamiyyah. Pada sekitar usia tiga puluh empat tahun, Al-Ghazali menjadi profesor termuda di Nizamiyyah. Ini kehormatan luar biasa baginya, karena Universitas Nizamiyyah di Baghdad pada masa itu dapat disetarakan dengan Oxford atau Harvard.

Begitu Al-Ghazali mulai mengajarkan fiqih, kalam dan hadist di Nizamiyyah, nama dan ketenarannya mulai tersebar ke seluruh wilayah Islam. Sebagai pelindungnya, Nizam Al-Mulk secara rutin mengonsultasikan semua isu agama dan politik penting saat itu. Kuliah-kuliah harian Al-Ghazali di Nizamiyyah menjadi begitu terkenal sampai-sampai dihadiri oleh tiga ratus orang murid dalam sekali perkuliahannya. Namun, ketika Al-Ghazali mengira telah mencapai semuanya dalam usia yang sebegitu muda, tiba-tiba dia merasa dirinya terdampar di tengah-tengah krisis intelektual.

Krisis ini membuat Al-Ghazali gelisah. Secara alami memiliki sikap penasaran dan skeptis dalam menerima kebijaksanaan, dia mempertanyakan segala sesuatu dan melakukan segala cara untuk mencari jawaban-jawabannya. Dia sangat terganggu dengan konflik nyata antara pandangan kaum rasionalis dan tradisionalis. Di satu sisi, kalangan rasionalis menganggap akal manusia lebih unggul daripada wahyu Ilahi. Di sisi lain, tradisionalis menilai wahyu Ilahi sudah sempurna sehingga lebih otoritatif dibandingkan akal manusia yang tidak sempurna.

Meskipun Al-Ghazali bukanlah seorang filsuf semata, dia mempelajari pemikiran filosofis saat berguru kepada al-Juwaini. Ini memungkinkannya untuk memahami dan mengevaluasi berbagai aliran pemikiran filosofis dan teologis yang berkembang di dunia Islam saat itu. Dia menemukan bahwa ada begitu banyak sekte dan doktrin, keyakinan, dan konsep mereka sendiri. Menurut Al-Ghazali, sekte-sekte dan kelompok-kelompok itu tak hanya sesat, tetapi juga secara langsung bertentangan dengan ajaran-ajaran dan praktik-praktik Islam tradisional. Lantas bagaimana dia menentukan kelompok mana yang benar dan yang salah di antara berbagai klaim dan kontra –klaim ini?

Situasi ini mendorong Al-Ghazali untuk mundur dari Universitas Nizamiyyah dan mempelajari semua sekte dan kelompok agama terkemuka. Di tenga-tengah studinya, dia menyadari keterbatasan-keterbatasan eksistensialisme dan rasionalisme yang dianggapnya sebagai kategori-kategori yang tak dapat diandalkan untuk mencapai kebenaran.

Semakin Al-Ghazali mempertanyakan, semakin dia meragukan landasan inti pengtahuan. Oleh karena itu, untuk jangka waktu tertentu, dia menjadi seenuhnya skeptis, serta hidup dalam keraguan dan perasaan depresi. Namun, perlu dicatat di sini bahwa keragu-raguan Ghazali tidak berseberangan dengan iman, melainkan merupakan bagian tak terpisahkan dari iman. Karena, sikap skeptisnya tidak membuatnya meragukan keberadaan Tuhan.

Meski begitu, Al-Ghazali memang merasa terdampar di sebuah bumi intelektual yang tak bertuan. Dia tidak menemukan kenyamanan dalam argumen-argumen rasional atau bukti-bukti logis sebagai sebuah metode dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Pada saat itulah Al-Ghazali mengaku terselamatkan oleh pancaran cahaya Ilahi yang mmasuki hatinya dan membebaskannya dari dilema intelektualnya.

Al-Ghazali menganggapnya sebagai berkah dari Allah yang telah memilih untuk membimbingnya ke jalan yang lurus. Imbasnya, pikiran dan tubuhnya yang tersiksa mendapatkan lebih banyak kedamaian dan pelipur lara yang sangat dia butuhkan. Di saat yang sama, dia menegaskan keunggulan wahyu kenabian dan intuisi intelektual atas rasionalitas manusia. setelah berdamai dengan dirinya sendiri dan memastikan kembali keotentikan pendekatannya pada Islam, Al-Ghazali kini melanjutkan studinya terhadap semua sekte dan kelompok keagamaan dalam rangka menemukan kebenaran bagi dirinya sendiri.

Al-Ghazali memulai dengan mempelajari dan menganalisis karya-karya para filsuf dan teolog. Dia membagi para pencari pengetahuan ke dalam empat kategori: teolog skolastik (mutakallimun), filsuf (falasifah), para pengikut doktrin (ta’limiyyah), dan sufi (mistik Islam). Selama periode ini, dia meneliti secara mendalam semua hal seputar teologi, filsafat alami, bid’ah agama, dan dunia supra-rasional mistisme. Sehingga dia memahami betul subjek-subjek ini.

Al-Ghazali menghadapi tugas yang maha berat, tetapi dia bertekad menyelesaikan misinya. Karena pernah mempelajari teologi skolastik di bawah bimbingan Al-Juwaini di Nizamiyyah, dia sudah sangat akrab dengan subjek ini. Toh, dia melakukan analisis yang benar-benar baru terhadap prinsip-prinsip dasar dan parameter-parameter logis dari teologi tersebut dan menemukan banyak kelemahan besar di dalamnya.

Selain kemampuan luar biasa para teolog dalam membuat teori, berdebat, dan mengargumentasikan alasan mereka, Al-Ghazali menemukan bahwa tak ada pandangan yang sama di antara semua teolog. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa teologi skolastik tidak akan bernilai bagi siapapun kecuali mereka memercayai kebutuhan mutlak akal manusia. selama periode ini, Al-Ghazali menulis sejumlah buku tentang teologi, sebelum melakukan penyelidikan dalam bidang filsafat.

Dari tahun 1091 sampai 1094, Al-Ghazali melakukan studi menyeluruh terhadap filsafat Islam (falsafah). Melalui studi dan penelitian yang mendalam, dia menjadi akrab dengan karya-karya para filsuf, termasuk para filsuf Islam besar seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Dia menilai ide-ide dan pemikiran mereka sebagai sesuatu yang membingungkan dan salah arah.

Hasil penelitiannya dalam bidang filsafat dituangkannya dalam buku Maqasid al-Falasifah (Tujuan Para Filsuf). Karya ini ditujukan sebagai pengantar karyanya yang sangat terkenal, Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filsuf). Hebatnya, Al-Ghazali baru berusia tiga puluh enam tahun saat menuliskan karyanya yang begitu berpengaruh itu. Dalam Tahafut, Al-Ghazali menganalisis secara sistematis dan menolak filsafat Peripatetik (mashsha’iyyah) seperti yang dikemukakan Al-Farabi dan Ibnu Sina.

Dalam pengantar buku ini, Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuannya adalah untuk membebaskan pemikiran Islam dari cengkeraman filsafat Yunani. Dengan membeberkan semua “kesalahan dan ajaran sesat” para filsuf itu, dia berharap dapat melindungi masyarakat dari kebimbangan dan kebingungan.

Serangan Al-Ghazali terhadap filsafat Peripatetik terbukti sangat sukses sampai-sampai setelah itu pemikiran filsafat Yunani tidak pernah lagi berhasil muncul di dunia Muslim secara signifikan. Tanpa bantuan siapapun. Al-Ghazali berhasil mencapai sebuah prestasi yang bahkan kesulitan dilakukan oleh sekelompok intelektual berbakat. Dengan kata lain, ini suatu prestasi yang luar biasa.

Setelah filsafat, Al-Ghazali mengalihkan perhatiannya pada sebuah doktrin sekte bernama Ta’limiyya. Kelompok ini meyakini bahwa suatu hari “seorang guru yang sempurna” akan muncul dan memulihkan perdamaian dan ketertiban di seluruh negeri. Al-Ghazali mempelajari keyakinan-keyakinan dan doktrin-doktrin sekte ini, kemudian menyangkal klaim mereka dalam buku-bukunya. Salah satunya adalah Fadhail al-Batiniyya wa Fadhail al-Mustazhiriyya (Keajaiban-keajaiban Batiniyyah dan Kebajikan Mustazhriyah) yang memicu perdebatan sengit antara Al-Ghazali dan para pendukung sekte ini.

Al-Ghazali selanjutnya menenggelamkan diri dalam pemikiran dan praktik-praktik Sufi. Setelah dengan mendalam mempelajari karya-karya sufi terkemuka, seperti Abu Thalib Al-Makki, Harits Al-Muhasibi, Abul Qasim Al-Junaid Al-Baghdadi, Abu Bakar Al-Syibli dan Abu Yazid Al-Bisthami, dia menyadari bahwa pengetahuan “empiris” – sebagai lawan “teoritis” – merupakan dasar dari Sufisme. Ini mendorongnya untuk meninggalkan semua kesenangan duniawi dan sepenuhnya menceburkan diri dalam samudra kesufian yang luas.

Sayangnya, Al-Ghazali menghadapi krisis lagi. Dia mengalami gangguan syaraf serius yang sangat memengaruhi kesehatan fisiknya. Selain itu, kemampuan bicaranya terhambat. Menurut Al-Ghazali, keadaanya baru membaik manakala Allah mengangkat kesulitannya dengan jalan menerangi hatinya dengan Kebenaran. Sekarang dia mampu membedakan antara pengetahuan “teoritis” dan pengetahuan “pengalaman”.

Al-Ghazali kemudian mencurahkan semua waktu dan energinya untuk menggali pengetahuan pengalaman dengan harapan bisa melangkah lebih dekat pada kedekatan Ilahi seperti para sufi. Dia merasa bahwa perdebatan-perdebatan teologis yang tak ada habisnya, filsafat yang terlampau pelik, dan interpretasi-interpretasi dari keyakinan-keyakinan dan prinsip-prinsip Islam yang menyesatkan, tidak akan menciptakan perdamaian dan kebahagiaan dalam hidup ini atau kesuksesan di akhirat. Dia justru menemukan ketenangan pikiran dan dorongan intelektual dalam pesan kesufian.

Al-Ghazali meninggalkan Baghdad pada tahun 1095 (pada usia tiga puluh tujuh tahun) untuk melakukan ibadah haji. Dia baru pulang ke kampung halamannya, Tus, sekitar tahun 1100, hanya untuk dipanggil kembali ke Nisyapur oleh Fakhr Al-Mulk untuk mengajar di Universitas Nizamiyyah.

Selama periode ini, Al-Ghazali menulis sejumlah buku berpengaruh – termasuk otobiografi terkenalnya, Mnqidh min al_Dalal (Penyelamat dari Kesesatan) – dan menyelesaikan karya terbesarnya yang sangat komprehensif, Ihya Ulum al-Din, Al-Ghazali meghadirkan sebuah ikhtisar etika yang detail dan merangsang pemikiran terhadap ajaran-ajaran Islam yang mencakup semua aspek kehidupan. Karya ini memantapkan reputasi Al-Ghazali sebagai salah satu cendekiawan dan pemikir paling berbakat dalam dunia Islam.

Ide-ide dan pemikiran-pemikiran religiusnya tidak hanya memengaruhi banyak ulama Islam, intelektual, Sufi dan reformis keagamaan terkenal. Beragam pandangan filosofis dan teologisnya juga sangat memengaruhi pemikir-pemikir Yahudi dan kristen ternama. Seperti St. Thomas Aquinas, Ramon Lull, Blaise Pascal, dan Musa bin Maimon (Musa Maimonides).

Pada akhirnya Al-Ghazali kembali ke kampung halamannya, Tus, pada tahun 1110. Setahun kemudian dia mengembuskan nafas terakhirnya dalam usia lima puluh tiga tahun. Dia dimakamkan di sebuah pemakaman tidak jauh dari Sanabad.

Sumber : 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Islam Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s