Ibnu Battutah

Salah satu pelopor besar dalam hal perjalanan internasional dan pelaporan budaya, Ibnu Battutah (1304 – 1378) dikenal sebagai “Pelancong Islami” – yang memegang rekor perjalanan keliling dunia lebih dari tujuh puluh lima ribu mil sampai terciptanya mesin uap pada abad kedelapan belas.

Muhammad bin Ahmad bin Jubayr bukan hanya salah seorang pengeliling dunia paling terkenal di dunia Islam, melainkan juga salah satu pelancong besar Eropa Abad Pertengahan. Dia meninggalkan spanyol Islam dan melakukan perjalanan ke seluruh wilayah Timur Islam (termasuk Mesir, Saudi, dan Suriah), sebelum akhirnya pulang untuk mencatat pandangan dan pengalamannya di negeri-negeri tersebut dalam bentuk memoar. Memoar ini kemudian menjadi terkenal, baik di Timur maupun Barat.

Satu abad kemudian Marco Polo, seorang pedagang dan petualang ternama asal Venesia, melancong ke seluruh Eropa dan Asia.

Selain Baghdad, dia juga mengunjungi China, tempat dia dikabarkan melayani Kubilai Khan, sang penguasa terkenal Mongol, selama beberapa waktu, sebelum kembali ke Venesia pada tahun 1295. Dia kemudian menulis sebuah catatan detail tentang semua perjalanan dan petualangannya yang terus dibaca secara luas sampai hari ini.

Baik Ibnu Jubayr maupun Marco Polo merupakan para pelancong besar yang melakukan perjalanan jauh yang dianggap tidak normal pada masa itu. Satu tahun setelah kematian Marco Polo, seorang pemuda Muslim Afrika Utara bepergian menemukan dunia, melakukan perjalanan ke bagian-bagian dunia yang terkenal pada waktu itu dengan berjalan kaki, mengendarai keledai, dan menaiki kapal. Dengan melakukan itu, dia mungkin menjadi pelancong terbesar dalam sejarah manusia. si pengeliling dunia yang tidak mengenal rasa takut, gigih, dan inspiratif itu tidak lain adalah Ibnu Batutah.

Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Luwati – lebih dikenal sebagai Ibnu Battutah – lahir di Tangier (saat ini Maroko) dari sebuah keluarga ulama dan hakim terkemuka. Meskipun nenek moyangnya berasal dari pinggiran Mesir, para anggota keluarganya kemudian menjadi tokoh-tokoh penting suku Barbar, Luwata.

Dibesarkan dan dididik dalam keluarga kaya dan terpelajar, Ibnu Battutah mempelajari bahasa Arab, sastra, dan ilmu-ilmu Islam tradisional di tahun-tahun pertamanya. Karena ayah dan pamannya merupakan ulama dan anggota peradilan lokal yang ternama, dia juga menerima pelajaran lanjutan dalam bidang fiqih. Didorong oleh ayahnya untuk mengikuti jejaknya sebagai pengacara, Ibnu Battutah menyelesaikan pendidikan formalnya dalam ilmu-ilmu keagamaan-dengan fokus pada fiqih-sebelum dia memutuskan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Baru berusia dua puluh satu tahun pada saat itu, Ibnu Battutah sangat ingin melakukan perjalanan panjang dan sulit ke Makkah dalam rangka melaksanakan rukun Islam kelima. Di sana, dia juga sekaligus melanjutkan pendidikan tinggi dalam bidang fiqih, dengan harapan meningkatkan peluangnya memperoleh jabatan peradilan yang penting sekembalinya ke Tangier.

Pada tahun 1325, Ibnu Battutah meninggalkan keluarganya dan berangkat ke Makkah. Pada masa itu, perjalanan dari Afrika Utara ke kawasan Arabia dilakukan dengan kabilah sering memakan waktu berbulan-bulan (bahkan bisa lebih lama), serta senantiasa penuh bahaya, penderitaan, dan halangan. Namun, Ibnu Battutah yang pemberani dan gigih berangkat sendirian.

Dari Tangier, Ibnu Battutah menuju Tilimsan dan berlanjut ke Aljazair bersama serombongan pedagang. Setelah melintasi Konstantinopel, dia tiba di Tunis tepat pada hari raya idul Fitri (atau perayaan yang menandai akhir bulan suci Ramadhan). Setibanya disana, dia jatuh sakit, tetapi untungnya segera pulih. Dia kemudian melihat orang-orang Tunisia sibuk menyiapkan kafilah haji mereka sendiri. Ketika dia menawarkan untuk ikut bersama mereka, mereka menunjuknya sebagai pemimpin kafilah menuju Makkah. Mungkin karena dia memiliki pengetahuan hebat soal prinsip dan praktik keislaman.

Sesampainya di Tripoli (Libya saat ini), Ibnu Battutah menikah untuk pertama kalinya. Namun, pernikahan itu segera berakhir dengan perceraian karena sengketa sengit antara Ibnu Battutah dan ayah mertuanya. Tak terpengaruh oleh pengalaman buruknya, dia menikah untuk kedua kalinya dan merayakannya dengan pesta yang mewah.

Pada bulan April 1326, Ibnu Battutah tiba di Alexandria bersama kafilah haji dan bertemu seorang darwis sufi (mistikus Islam) yang meramalkan bahwa suatu hari dia akan melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Sebelum berjumpa dengan sufi itu, dia tidak berniat untuk bepergian ke manapun, selain Makkah dan Madinah. Akan tetapi, kini ide dan kemungkinan untuk menjelajahi dunia benar-benar membuatnya terpesona.

Demi menyelesaikan ibadah haju, Ibnu Battutah meninggalkan Alexandria dengan menaiki kapal dan tiba di Kairo pada bulan Juli 1326. Dia tidak hanya berjalan-jalan di Kairo, tetapi juga melakukan sebuah survei dan deskripsi yang rinci mengenai kota bersejarah ini. Dia menyukai apa yang dia lihat dan memutuskan untuk terus melakukan perjalanan.

Dari Kairo, Ibnu Battutah melintasi gurun tandus dan mengunjungi Gaza, Hebron, Betlehem, dan Yerussalem. Saat tinggal di Yerussalem, dia mengunjungi Masjid al-Aqsa dan Kubah Batu (Qubbas al-Sakhra) yang merupakan situs paling suci ketiga dalam dunia Islam. Dia sangat gembira menyaksikan keindahan dan keagungan masjid tersebut.

Setelah mengelilingi Palestina, Ibnu Battutah melanjutkan perjalanan ke Suriah, mengunjungi Aleppo dan Antakya (Antiokia), sebelum akhirnya tiba di Damaskus pada bulan Agustus 1326. Seperti pendahulunya yang tersohor, Ibnu Jubayr, dia menilai Damaskus sebagai sebuah kota yang amat indah. Dia mengaku bertemu dengan salah satu warga paling terkemuka di kota itu, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, seorang pemikir dan pembaru besar Islam.

Namun menurut para sejarawan, Ibnu Battutah tidak mungkin bertemu Ibnu Taimiyah karena Taimiyah dipenjara sebulan sebelum kedatangan Ibnu Battutah di Damaskus. Oleh karena tampaknya ia membuat kesalahan kronologis – jika bukan kesalahan faktual – dalam hal ini. Yang jelas, dia menetap di Damaskus untuk beberapa saat dan menghadiri ceramah-ceramah para cendekiawan terkemuka.

Sebagai orang yang mempelajari Islam secara tekun, Ibnu Battutah memperoleh sertifikat dalam bidang ilmu-ilmu Islam tradisional. Di Damaskus dia juga menikah untuk ketiga kalinya. Namun, sebulan kemudian dia meninggalkan Damaskus dan berangkat menuju kota Rasulullah, Madinah, melalui Tabuk. Sesampainya di Madinah, dia langsung menuju Masjid Nabawi untuk memberi penghormatan kepada Rasulullah dan para sahabat dekatnya, Abu Bakar Al-Siddiq dan Umar bin Al-Khattab.

Setelah empat hari berdoa dan beribadah, Ibnu Battutah pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji lagi. Dengan penuh suka cita dan bahagia, dia menyelesaikan semua proses ibadah haji.

Kemudian, pada bulan November 1326, dia meninggalkan Makkah bersama terkemuka di Irak (termasuk Najaf, Basrah, Baghdad, Kufah, Mosul, dan wilayah bagian selatan Persia), dia kembali ke Makkah bersama kafilah haji. Selama di makkah, dia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk melakukan shalat dan aktivitas-aktivitas ibadah lainnya. dia pun merampungkan ibadah haji ketiganya secara beruntun.

Setahun kemudian, Ibnu Battutah melakukan ibadah hajinya yang keempat dan memperoleh sertifikat dalam bidang studi-studi Islam lanjutan. Memilih untuk tidak pulang ke Tangier, dia memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling dunia. Baru berusia dua puluh enam tahun waktu itu, dia meninggalkan Makkah dan berlayar ke Yaman untuk mengunjungi San’a dan Aden. Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke Oman, sebuah negeri nan subur yang dipenuhi pepohonan, tanaman, dan segala macam buah dan sayuran.

Dari Oman, Ibnu Battutah berpindah ke Hormuz dan Bahrain, dan akhirnya kembali ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, dia memutuskan untuk pergi ke India dan melihat negeri Sultan Muhammad bin Tughluq untuk pertama kalinya.

Dari Makkah, Ibnu Battutah pergi menuju Yaman dengan harapan bisa menaiki kapal yang berlayar menuju India. Dalam perjalanan sebelumnya ke Yaman, para penduduk setempat memberi tahu Ibnu Battutah bahwa kuda turunan asli dikirim secara rutin dari Yaman ke India. Inilah yang mendorongnya untuk pergi ke India dengan menaiki kapal.

Namun, rencananya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Dia justru terpaksa mengambil rute sulit menuju Ladhiqiya melalui Kairo, Suriah, serta kota-kota di Palestina (Gaza, Hebron, dan Yerussalem). Di sini dia beruntung menaiki kapal Genoa dengan rute menuju wilayah Turki kuno, Anatolia. Setelah sepuluh hari dan sepuluh malam di lautan, Ibnu Battutah yang kelelahan akhirnya tiba di Anatolia. Dia disambut hangat oleh para penduduk setempat, meskipun tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dalam bahasa Turki.

Dari Anatolia, Ibnu Battutah melanjutkan perjalanan ke Konya, tempat mausoleum pemikir Sufi dan penyair besar Mawlana Jalaluddin Rumi, yang ketika itu telah menjadi pusat kegiatan-kegiatan sufi yang penting. Dari Konya, dia menuju Amasya dan merayakan perayaan Islam tahunan Idul Adha bersama gubernur kota itu. Dia selanjutnya menuju Kaukasus, negeri yang diperintah oleh Sultan Muhammad Uzbeg Khan dari Golden Horde.

Namun, cuaca dingin dan lingkungan Kaukasus yang keras mendorongnya untuk melanjutkan perjalanan ke ibukota Greater Bulgaria. Dari sana, Ibnu Battutah pergi ke kota kuno Konstantinopel sambil ditemani istri ketiga Sultan Muhammad Uzbeg Khan. Tidak seperti ketika menetap di Kaukasus, masa tinggalnya di Konstantinopel terbukti sangat bermanfaat. Paling tidak karena dia bisa mengelilingi seluruh kota, serta memberikan pengamatan dan deskripsi mendetail tentang segala sesuatu yang disaksikannya.

Namun, menurut sejumlah sejarawan, Ibnu Battutah mungkin tidak mengunjungi semua tempat sebagaimana yang disebutkan dalam buku Rihla (Perjalanan). Tidak ada pembaca – misalnya – tentang deskripsinya mengenai Sarai, ibukota Dinasti Tatar yang merasakan bahwa itu adalah dari seorang saksi mata saja. Lebih dari itu, catatan perjalanan Ibnu Battutah di Asia Kecil telah dibuktikan dan diperkuat oleh sumber-sumber sejarah lainnya.

Dari Sarai, Ibnu Battutah melakukan perjalanan melalui Khawarizm, Khiva, Bukhara, Samarqand, dan Balkh, sebelum sampai di provinsi bersejarah Khurasan. Dari sini, dia pergi menuju Kabul, ibukota Afghanistan modern. Pada bulan September 1333, pada usia dua puluh sembilan tahun, dia akhirnya sampai di perbatasan India.

Setelah menyeberangi Sungai Indus, Ibnu Battutah pergi menuju Multan dan disambut hangat oleh gubernurnya. Dari sana, dia berangkat ke Delhi, ibukota megah Muslim India, dan bergabung dalam jajaran pemerintahan sipil Sultan yang berkuasa. Namun, mengingat pendidikannya yang hebat dan pengetahuannya yang luas tentang hukum Islam, para elite penguasa dalam pemerintahan Sultan tak hanya sangat cemburu kepadanya, tetapi juga mulai berkomplot memusuhinya.

Ibnu Battutah menetap cukup lama di India dan berkeliling ke seluruh pelosok negeri itu. Dia dengan seksama mengamati kebudayaan, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat. Selain Abu Raihan Al-Biruni, ahli astronomi dan ilmuwan Muslim terkenal (penulis Kitab Tarikh al-Hind atau Sejarah India saat tinggal lama di India antara tahun 1021 sampai 1031), tidak ada pelancong atau penulis Abad Pertengahan lainnya yang memberikan penjelasan yang rinci tentang India seperti yang dilakukan Ibnu Battutah.

Menurut sejarawan besar Islam, Ibnu Khaldun, catatan Ibnu Battutah tentang India begitu rinci, membingungkan, dan bernuansa petualangan, sampai-sampai dia menerima beragam macam reaksi di istana Sultan Abu Inan sekembalinya ke Maroko. Ibnu Battutah mungkin sedikit melebih-lebihkan petualangannya di India. Namun, bahkan sejarawan kritis seperti Ibnu Khaldun tidak mempertanyakan kedalaman atau keaslian catatan-catatan perjalanannya, yang juga didukung oleh sumber-sumber sejarah India terpercaya lainnya.

Setelah hampir satu dekade di India, kala Ibnu Battutah akhirnya memutuskan untuk kembali ke Makkah, Sultan Abu Inan memanggilnya ke istana dan memintanya untuk memimpin misi diplomatik ke penguasa Mongol dari China. Tertarik untuk melakukan petualangan lainnya, dia menerima tawaran Sultan dan berangkat ke Timur Jauh.

Perjalanan melalui dataran India dipenuhi banyak bahaya dan kesulitan. Satu kali Battutah ditawan oleh suku setempat, tetapi untungnya berhasil lolos tanpa luka. Setelah mencapai Kalkuta dia menaiki sebuah kapal China yang tenggelam begitu menginjakkan kaki di geladaknya. Dia pun terdampar di pantai.

Akhirnya Ibnu Battutah tiba di kepulauan Maldivas. Dia tinggal disana selama delapan belas bulan, menikah untuk keempat kalinya dan bekerja sebagai seorang qadhi (hakim Islam), sebelum melanjutkan perjalanan ke Ceylon (Srilanka modern). Saat ini deskripsi Ibnu Battutah tentang kepulauan Maldivas dianggap sebagai salah satu catatan perjalanan yang paling rinci dan jelas sepanjang masa. Tidak ada penulis atau pelancong lain yang mampu melampaui deskripsi dan catatannya mengenai pulau-pulau dan penduduknya yang menakjubkan itu.

Di Ceylon, Ibnu Battutah berjalan-jalan mengelilingi negeri itu. Dia bahkan mendaki gunung tertinggi di sana – dikenal sebagai Adam’s footprint (Jejak Kaki Adam), sebelum berlayar ke Chittagong di Benggala Timur (saat ini Bangladesh). Dari Benggala Timur , dia melakukan perjalanan ke Pulau Sumatra di Indonesia. Dari sana, dia menaiki kapal yang membawanya ke China.

Menurut Ibnu Battutah, China merupakan negara yang indah dan masyarakatnya sangat baik dan sopan. Namun, sebagai seorang praktisi Muslim, dia menilai betapa menjijikannya kebiasaan makan mereka. Dia mencatat bagaimana orang China sangat menyukai daging babi. Meskipun hanya tinggal sebentar di China, dia mengamati kebidayaan, adat istiadat, dan kebiasaan mesyarakat China secara langsung. Dari China, dia kembali ke Sumatra dan kemudian menuju Malabar.

Di pertengahan usia empat puluh tahun, Ibnu Battutah akhirnya memutuskan pergi ke arah barat, melakukan perjalanan di sepanjang Teluk Persia, dia segera mencapai Baghdad. Dari sana dia menuju Suriah dan – untuk pertama kalinya – dia menyaksikan malapetaka yang disebabkan oleh wabah mematikan Black Death (Kematian Hitam) yang menelan korban hingga sepertiga penduduk benua Eropa. Dari Suriah, Ibnu Battutah pergi ke Makkah melalui Mesir untuk beribadah haji kesekian kalinya. Setelah itu dia kembali ke Mesir dan berlayar dari Alexandria ke Tunis. Dari sana, dia meniki kapal menuju Aljazair dan tiba di kampung halamannya, Maroko, pada bulan November 1349.

Setelah berkeliling dunia, pada tahun 1352 di usia empat puluh delapan tahun, Ibnu Battutah memulai petualangan lainnya. Dia menyeberangi Selat Gibraltar dan tiba di Granada. Dari sana, dia kembali ke Maroko dan menyeberangi Gurun Sahara untuk tinggal sejenak bersama masyarakat Islam Mandingos di Niger. Di sana dia terkejut melihat rumah-rumah penduduk setempat yang dibangun dengan garam padat. Saat ini, catatan-catatan perjalanannya ke Niger dan Timbuktu dianggap sebagai sumber sejarah dan budaya Afrika abad pertengahan yang tak ternilai harganya.

Ibnu Battutah akhirnya pulang ke Fez pada usia lima puluh tahun. Atas perintah kerajaan, dia mendiktekanRihla (Catatan Perjalanan) miliknya kepada sekretaris pribadi Sultan Abu Inan, Muhammad bin Juzayy. Rihla Ibnu Battutah itu kemudian diberi judul Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa Aja’ib al-Asfar (Sebuah Persembahan Bagi Para Pengamat yang Ingin Mengetahui Keajaiban-Keajaiban Kota dan Kejutan-Kejutan Perjalanan). Ibnu Battutah menghabiskan dua puluh empat tahun berikutnya di Fez. Selama periode ini, dia juga menjabat sebagai seorang hakim dan akhirnya meninggal dunia pada usia tujuh puluh empat tahun.

Dikenal luas sebagai “Pelancong Islam”, Ibnu Battutah melakukan perjalanan lebih dari tujuh puluh lima ribu mil dan melakukannya sendirian. Dia mencapai prestasi yang belum pernah terjadi ini pada saat perjalanan jauh merupakan sesuatu yang tidak bebas dari mara bahaya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa dia merupakan salah satu pelopor besar dalam hal perjalanan internasional dan pelaporan kebudayaan.

Rekor perjalanannya sejauh tujuh puluh lima ribu mil tidak terpecahkan sampai mesin uap diciptakan pada abad ke-18. Berkat Sir Hamilton A.R. Gibb, penerjemah Bahasa Arab asal Inggris yang mahsyur, Rihla cipataannya kini tersedia dalam bahasa Inggris. Kenyataannya, sejak tahun 1929, Sir Hamilton menerbitkan edisi ringkas Rihla dengan judul The Travels of Ibn Battutah (Perjalanan-perjalanan Ibnu Battutah), yang terus dibaca secara luas sampai hari ini.

Sumber : 100 Tokoh Muslim Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s