Abu Dzar Al-Ghifari

Ia datang ke Makkah dengan tubuh gontai dan keletihan, namun ada sinar kebahagiaan. Beratnya perjalanan di tengah teriknya gurun sahara telah membuatnya sangat letih, namun, semua keletihan itu tidak terasa oleh tujuan yang ingin dicapainya. Bahkan, jiwanya semakin bersemangat melihat dekatnya tujuan itu.

Ia memasuki kota dengan menyamar. Ia seperti orang yang hendak melakukan peribadatan kepada berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Ia seperti musafir yang tersesat atau singgah sebentar untuk istirahat. Padahal, seandainya orang-orang Makkah mengetahui bahwa kedatangannya itu untuk menemui Muhammad Saw, dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan membunuhnya.

Ia sadar akan hal itu. Ia juga tidak takut dibunuh, asalkan setelah ia bertemu dengan Muhammad. Setelah ia beriman dengan laki-laki itu, jika dakwahnya patut diterima.

Ia selalu memasang telinga. Setiap kali ada orang berbicara tentang Muhammad Saw, ia menyimak dengan seksama dan hati-hati. Akhirnya dari banyak cerita yang ia dengar, ia tahu di mana bisa menemui Muhammad Saw.

Di suatu pagi, ia pergi ke tempat itu. Ia mendapati Muhammad saw duduk seorang diri. Ia mendekat dan berkata, “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa.” Rasul menjawab, “Semoga kesejahteraan selalu menyertaimu, wahai sahabat”

Kata Abu Dzar, “Senandungkan kepadaku syair ciptaanmu.”

Rasul menjawab, “Aku tidak punya syair yang bisa kusenandungkan, ini adalah Al-Quranul Karim.”

“Kalau begitu, bacakanlah,” kata Abu Dzar.

Maka Rasulullah membacakan ayat Al-Quran dan Abu Dzar mendengarkan dengan baik. Belum banyak ayat yang dibaca Rasulullah Saw, Abu Dzar mengucapkan, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya)”

Rasulullah bertanya, “Engkau dari mana, saudara sebangsa?”

“Dari suku Ghifar,” jawab Abu Dzar

Rasulullah tersenyum senang dan takjub. Abu Dzar pun tersenyum. Ia tahu mengapa Rasul takjub ketika mendengar bahwa orang yang masuk Islam yang berada di hadapannya ini adalah dari suku Ghifar.

Suku Ghifar adalah perampok yang sangat kejam. Bahkan sudah menjadi simbol perampokan. Rombongan pedagang yang kemalaman di wilayah Ghifar akan berakhir mengenaskan. Sekarang, saat Islam baru saja lahir dan bergerak dengan sembunyi-sembunyi, ada orang Ghifar yang sengaja datang untuk masuk Islam!

Abu Dzar menceritakan sendiri kisah itu. “Maka, pandangan Rasulullah pun turun naik, sangat takjub karena aku dari Ghifar. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki.”

Sejak dulu, Abu Dzar sudah bisa memilah-milah, antara yang benar dan yang salah. Sejak dulu, ia tidak mau mengakui patung-patung sebagai tuhan. Ia meyakini adanya satu Pencipta yang Maha Agung. Karena itulah, ketika ia mendengar munculnya seorang nabi yang menentang berhala-berhala itu dan mengajak manusia untuk menyembah Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa, maka iapun menyiapkan bekal dan bergegas ingin menemui nabi tersebut.

Saat ia masuk Islam, dakwah yang dilakukan Rasulullah masih sembunyi-sembunyi, dan bagi Abu Dzar, tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali merahasiakan keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Makkah secara diam-diam dan kembali kepada kaumnya.

Tetapi Abu Dzar yang nama aslinya Jundub bin Junadah adalah orang yang berkarakter pemberani dan revolusioner. Ia telah diciptakan untuk menentang segala bentuk kebatilan. Dan sekarang kebatilan itu berada di depan matanya. Ia melihat patung-patung pahatan bisu disembah dan diagung-agungkan.

Memang, ia melihat Rasulullah memilih berdakwah secara sembunyi-sembunyi pada hari-hari tersebut. akan tetapi, menurutnya, harus ada yang meneriakkan dakwah ini. Dan itu akan ia lakukan sebelum pergi meninggalkan kota Makkah.

Saat baru saja mengucapkan syahadat, ia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kukerjakan?”

Rasul menjawab, “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintah dariku.”

Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, aku tidak akan pulang ke kampungku sebelum meneriakkan Islam di Ka’bah.”

Lihatlah, ia masuk Masjidil Haram lalu berseru sekencang-kencangnya,

“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah”.

Menurut saya, inilah kali pertama Islam disuarakan dengan terang-terangan, menantang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka. Diteriakkan oleh orang asing yang tidak mempunyai kedudukan, keluarga, dan pembela di kota Makkah.

Abu Dzar sudah tahu resiko yang akan ia hadapi. Orang-orang kafir Quraisy mengepung dan memukulinya hingga ia pingsan.

Peristiwa ini didengar oleh Abbas (paman Nabi). Maka ia bergegas mendatangi tempat itu. Ia tidak bisa menyelamatkan Abu Dzar jika tidak menggunakan siasat. Abbas berkata kepada orang-orang yang memukuli Abu Dzar,

“Wahai kaum Quraisy, kalian adalah para pedagang yang pasti melewati wilayah Ghifar. Dan orang ini termasuk tokoh suku Ghifar. Jika dia menggerakkan kaumnya, kafilah dagang kalian akan celaka.”

Mereka berhenti memukuli Abu Dzar dan meninggalkannya. Akan tetapi, bukan Abu Dzar jika ia menyerah begitu saja. Apalagi ia sudah menikmati asyiknya tantangan dalam membela agama Allah. Ia tidak akan meninggalkan Makkah sebelum menikmati keasyikan itu lagi.

Esok harinya, ia melihat dua wanita sedang menyembah berhala Usaf dan Na’ilah. Abu Dzar segera menghampiri keduanya, lalu di hadapan mereka berhala-berhala itu dihina sejadi-jadinya. Kedua wanita itu berteriak minta tolong. Orang-orang berdatangan, lalu menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tak sadarkan diri.

Ketika siuman, ia berseru “Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad itu utusan Allah.”

Rasulullah Saw, memahami karakter murid barunya itu. Beliau tahu bahwa Abu Dzar memiliki keberanian yang menakjubkan untuk melawan kebatilan. Akan tetapi saatnya belum tiba. Maka, Rasulullah mengulangi perintahnya agar ia pulang ke kampungnya, dan jika nanti ia mendengar tampilnya Islam secara terang-terangan, ia bisa mengambil peran yang semestinya.

Abu Dzar kembali kepada keluarga dan kaumnya. Ia menceritakan kepada mereka tentang Nabi yang mengajak manusia menyembah Allah semata, dan membimbing mereka supaya berakhlak mulia. Satu persatu, mereka masuk Islam. Bahkan dakwahnya tidak terbatas pada kaumnya. Ia juga berdakwah di suku Aslam. Ia sebarkan cahaya di tengah-tengah mereka.

Waktu terus berjalan. Rasulullah pun sudah hijrah ke Madinah dan menetap di sana bersama kaum muslimin.

Suatu hari, satu barisan panjang yang terdiri dari para pengendara dan pejalan kaki menghampiri kota Madinah. Derap langkah rombongan ini mengepulkan debu yang tidak sedikit. Seandainya bukan karena suara takbir mereka yang menggema, pasti mereka disangka pasukan musuh yang bermaksud menyerang kota Madinah.

Rombongan besar itu semakin dekat. Lalu memasuki kota. Menuju ke arah masjid nabawi dan kediaman Rasulullah.

Ternyata rombongan itu adalah kabilah Ghifar dan Aslam, para lelaki dan pertempuran, anak-anak dan orang tua. Mereka dipimpin oleh Abu Dzar. Mereka semua sudah masuk Islam.

Rasulullah semakin takjub dan kagum.

Kemarin, beliau begitu takjub ketika di hadapannya berdiri seorang laki-laki dari Ghifar yang menyatakan keislamannya. Saat itu beliau bersabda, “Sungguh, Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Dan hari ini, seluruh warga Ghifar datang dan sudah memeluk Islam. Sudah beberapa tahun yang lalu mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Dzar. Warga Aslam juga ikut bersama mereka.

Mereka yang selama ini dikenal sebagai komplotan perampok yang ditakuti dan kaki tangan setan, sekarang menjadi pendukung kebenaran.

Tidakkah ini bukti bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya?

Rasulullah memandang mereka dengan pandangan penuh haru dan cinta. Beliau memandang ke kabilah Ghifar dan bersabda,

“Allah memberikan maghfirah (ampunan) kepada kabilah Ghifar.” Lalu memandang ke kabilah Aslam dan bersabda, “Allah memberikan keselamatan kepada kabilah Aslam.”

Lalu apa yang diperoleh Abu Dzar sang mubalig ulung yang berjiwa besar dan bercita-cita mulia itu? Apakah Rasulullah tidak memberikan sambutan istimewa untuknya?

Tentu. Ia mendapatkan balasan yang tak terhingga dan ucapan selamat yang menyejukkan.

Di dadanya akan disematkan bintang tertinggi, dan sejarah hidupnya akan selalu dikenang. Generasi demi generasi akan selalu mengingat kata-kata Rasulullah tentang Abu Dzar, “Tidak akan ada lagi orang sejujur Abu Dzar.”

Tidak akan ada lagi orang sejujur Abu Dzar?

Artinya, Abu Dzar adalah orang yang sangat jujur. Dan itulah jalan hidupnya yang telah dibacakan oleh Rasulullah. Orang yang sangat jujur. Semua kehidupan Abu Dzar penuh dengan kejujuran. Kejujuran yang terpancar dari hatinya. Kejujuran yang bersumber dari keyakinannya.

Ia menjalani hidupnya dengan penuh kejujuran. Tidak menipu dirinya atau menipu orang lain, dan tidak mau ditipu orang lain. kejujuran bukan berarti diam membisu. Baginya, kejujuran yang tidak diekspresikan dalam kata-kata atau tingkah laku bukanlah kejujuran. Kejujuran adalah memperlihatkan kebenaran dan menentang kebatilan. Kejujuran adalah loyalitas kepada kebenaran, keberanian mengekspresikan kebenaran, dan gerakan seirama dengan kebenaran.

Dengan penglihatannya yang tajam, bagai menembus ke alam gaib yang jauh tidak terjangkau atau samudra yang tidak terselami. Rasulullah Saw menampakkan segala rintangan yang akan dialami Abu Dzar sebagai konsekuensi dari kejujuran dan ketegasannya. Beliau berpesan kepadanya untuk selalu sabar dan berhati-hati.

Suatu hari Rasulullah bertanya kepadanya, “Abu Dzar, apa yang akan kamu perbuat jika kamu hidup di bawah pemerintahan para pemimpin yang menguasai harta rampasan perang untuk kepentingan mereka sendiri?”

Abu Dzar menjawab, “Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, akan kutebas mereka dengan pedangku!”

Rasulullah bersabda, “Maukah kuberitahu tindakan yang lebih baik. Bersabarlah hingga kamu berjumpa denganku.”

Tahukah Anda, mengapa Rasulullah mengajukan pertanyaan seperti itu?

Para pemimpin dan harta. Inilah permasalahan yang akan dihadapi Abu Dzar. Permasalahan yang terkait dengan masyarakat dan masa depan. Rasulullah sudah mengetahuinya, maka beliau menanyakan hal tersebut kepada Abu Dzar, lalu membekalinya dengan nasihat berharga, “Bersabarlah sampai kamu menemuiku.”

Abu Dzar pasti akan selalu ingat wasiat gurunya ini. Ia tidak akan menggunakan pedangnya untuk menghentikan para pemimpin yang seenaknya memakan hrta umat. Namun, ia juga tidak akan tinggal diam.

Rasulullah melarangnya menggunakan pedang untuk menghentikan para pemimpin itu, tapi beliau tidak melarangnya menggunakan kata-kata.

Itu pasti akan dia lakukan.

Masa Rasulullah pun berlalu. Tibalah masa Abu Bakar lalu masa Umar. Masa-masa ini, godaan hidup tidak bisa unjuk gigi. Nafsu serakah sama sekali tidak mendapatkan jalan. Tidak ada penyelewengan-penyelewengan yang harus ditentang oleh Abu Dzar. Kecaman-kecaman kerasnya belum diperlukan.

Khalifah Umar mengharuskan para pemimpin daerah dan orang-orang kaya untuk tetap hidup sederhana.

Jika ada pemimpin daerah, baik di Irak, Syam, Shan’a, atau di negeri lain yang memakan kue yang tidak terjangkau oleh rakyat miskin, maka berita itu akan sampai ke Khalifah, dan pemimpin daerah tersebut pasti dipanggil menghadap untuk mempertanggungjawabkannya.

Abu Dzar merasa lega dan tenang, karena tidak mendapati penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta, sebab Khalifah Umar melakukan pengawasan ketat terhadap para pejabat, dan melakukan pemerataan kekayaan. Dengan demikian, ia bisa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ibadah dan berjihad. Ia juga masih terus meluruskan kesalahan-kesalahan yang ada meskipun hanya sedikit yang terjadi.

Akan tetapi, setelah Khalifah terbesar yang sangat adil dan paling mengagumkan wafat, terasa adanya celah yang amat dalam. Seiring dengan perluasan wilayah Islam, ambisi dan keinginan meraih jabatan dan menikmati kekayaan juga bertambah.

Abu Dzar melihat bahaya ini.

Kepentingan pribadi sudah hampir menyesatkan orang-orang yang tugasnya sehari-hari menegakkan panji-panji Allah. Dunia dengan daya tarik dan tipu muslihatnya yang mempesona sudah hampir memperdayakan orang-orang yang mengemban risalah untuk mempergunakan dunia sebagai ladang kebajikan. Harta yang dijadikan Allah sebagai pelayan yang harus tunduk kepada manusia sudah hampir berubah menjadi tuan yang mengendalikan manusia.

Padahal mereka adalah generasi sahabat yang telah lama mendampingi Muhammad Saw. Muhammad Saw yang di waktu wafatnya, baju besinya sedang tergadai, padahal penghasilannya dari harta rampasan perang sangat besar.

Allah menciptakan kekayaan bumi untuk semua manusia. mereka mempunyai hak yang sama untuk menikmati kekayaan itu. Tetapi sekarang dimonopoli oleh sekelompok manusia.

Jabatan yang merupakan amanah untuk dipertanggungjawabkan kelak di pengadilan Ilahi, berubah menjadi alat untuk berbuat sewenang-wenang, mengumpulkan kekayaan, dan hidup bermegah-megahan yang pasti membawa kehancuran.

Abu Dzar melihat semua ini. Ia langsung menghunuskan pedang dan mengibaskannya di udara. Kemudian ia menghadapi masyarakat dengan pedangnya yang tidak pernah melesat. Akan tetapi saat itu juga ia mendengar getaran hatinya yang menyuarakan kembali pesan Rasulullah. Ia langsung menyarungkan pedangnya. Tidak sepantasnya ia menghunus pedang untuk menghadapi saudaranya sesama muslim.

“Seorang mukmin tidak membunuh mukmin yang lain kecuali karena salah.” (An-Nisa’ : 92)

Sekarang bukan saatnya membunuh, tetapi mengingatkan mereka. Bukan pedang yang saat ini dibutuhkan, tetapi mengingatkan mereka. Bukan pedang yang saat ini dibutuhkan, tetapi kata-kata yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang dibutuhkan adalah nasihat kebenaran yang tidak berdampak negatif.

Dulu Rasulullah telah menyatakan di hadapan para sahabatnya bahwa di bawah langit ini takkan pernah lagi muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.

Orang yang memiliki keistimewaan seperti ini, tidak memerlukan lagi pedang sebagai senjata. Satu kata yang diucapkannya, akan lebih mengena daripada ribuan pedang.

Maka, dengan kejujuran dan keberaniannya ia akan menemui para pemimpin, orang-orang kaya, dan mereka yang terlena dengan dunia. Ia akan menjelaskan kepada mereka bahwa perilaku mereka itu membahayakan Islam. Islam datang untuk membimbing manusia bukan untuk mengambil pajak dari mereka. Islam mengajarkan kenabian bukan kerajaan. Islam datang dengan kasih sayang bukan dengan ancaman dan siksa. Islam mengajarkan sikap tawadhu’ bukan sewenang-wenang, Islam mengajarkan persamaan bukan pengkastaan; kesahajaan bukan keserakahan; kesederhanaan bukan keborosan; kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup, bukan terperdaya dan mati-matian dalam mengejar hidup.

Abu Dzar akan menemui mereka semua, hingga Allah memberikan keputusan di antara mereka dengan benar. Dia-lah sebaik-baik pemberi putusan.

Maka Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta. Dengan kata-katanya, ia ingin mengubah mental mereka satu per satu.

Hanya dalam beberapa hari, ia ibarat panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja. Namanya dikenal di mana-mana, bahkan di negeri yang belum ia kunjungi. Setiap Abu Dzar mengunjungi suatu daerah, atau bahkan ketika namanya sampai ke daerah itu, sudah membuat repot orang-orang yang terlena dengan kekuasaan dan kekayaan.

Abu Dzar memulai dakwahnya di wilayah Syam. Wilayah terluas dan tersubur. Kekayaan mengalir tanpa batas. Semua kebutuhan duniawi terpenuhi terutama bagi mereka yang punya jabatan. Gubernur Syam saat itu adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Syam dipenuhi ladang-ladang subur, bangunan-bangunan megah, dan kekayaan melimpah yang dapat menggelincirkan para pelopor dakwah. Sebelum bahaya ini menimpa, Abu Dzar harus mencegahnya. Ia singsingkan lengan baju, lalu bersegera berangkat ke Syam.

Baru saja ia datang di Syam, masyarakat sudah menyambutnya dengan antusias dan penuh kerinduan. Mereka mendampinginya ke mana saja ia pergi. “Ceritakan kepada kami, wahai Abu Dzar, wahai sahabat Rasulullah.”

Abu Dzar memandangi orang-orang yang sedang berkerumun di sekitarnya dengan seksama. Ternyata mereka adalah orang-orang miskin. Sementara di dekat situ terdapat bangunan-bangunan megah dan ladang-ladang subur terhampar luas.

Ia berkata dengan suara lantang. “Aku heran terhadap orang yang tidak punya makanan di rumahnya, mengapa ia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunuskan pedangnya.”

Tetapi ia segera teringat pesan Rasulullah yang menyuruhnya memilih cara bertahap daripada cara revolusi. Menggunakan kata-kata daripada pedang. Maka ia tinggalkan bahasa perang dan kembali menggunakan bahasa logika dan kata-kata jitu. Ia menyampaikan bahwa tidak ada kelebihan seseorang dari lainnya kecuali dengan takwa. Pemimpin harus yang pertama kali merasakan lapar jika rakyatnya kelaparan, dan yang terakhir merasakan kenyang jika rakyatnya bisa makan.

Dengan ucapan dan keberaniannya, Abu Dzar ingin membentuk satu pendapat umum di setiap wilayah, yang nantinya menjadi kekuatan tersendiri untuk mencegah para penguasa menyalahgunakan kekuasaannya dan memonopoli kekayaan. Dalam beberapa hari saja wilayah Syam seakan berubah menjadi sarang lebah yang tiba-tiba menemukan ratu yang mereka taati. Alhasil, nasihat-nasihatnya menjadi buah bibir di tempat-tempat pertemuan, di masjid dan di jalan-jalan.

Dan puncaknya adalah saat ia berdialog dengan Mu’awiyah di depan umum. Peristiwa ini akhirnya didengar di semua penjuru Syam. Abu Dzar menasihati Mu’awiyah dan orang-orang yang bersamanya agar melepaskan ladang dan bangunan megah, dan agar tidak menyimpan harta kekayaan itu kecuali sekedar untuk keperluan sehari-hari.

Berita tentang Abu Dzar dan dialog ini tersebar luas. Semboyannya bergema di mana-mana, di rumah-rumah dan di jalan-jalan, “Sampaikan kepada pada penumpuk harta, pada hari kiamat kelak mereka akan disetrika dengan setrika api neraka.”

Mu’awiyah mulai terusik. Kata-kata sang pelopor kesederhanaan terus mengganggu tidurnya. Akan tetapi ia juga sadar akan kedudukan Abu Dzar di hati rakyat. Ia tidak mungkin mengambil tindakan keras kepada Abu Dzar. Maka ia menulis surat kepada Khalifah Utsman bin Affan, “Abu Dzar sudah merusak pola pikir orang-orang Syam.”

Sebagai jawabannya, Khalifah Utsman mengirim surat kepada Abu Dzar, memintanya datang ke Madinah.

Abu Dzar berkemas, lalu berangkat ke Madinah. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan saat penduduk Syam melepas kepergian Abu Dzar. Mereka seakan kehilangan induk mereka. Sungguh peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Aku tidak memerlukan kekayaan dunia kalian.”

Itulah yang dikatakan Abu Dzar kepada Khalifah Ustman sesampainya ia di Madinah. Dan terjadi dialog panjang di antara keduanya.

Dari hasil dialog dengan Abu Dzar, dan berita yang berdatangan dari seluruh pelosok negeri tentang dukungan rakyat kepada seruan Abu Dzar, Ustman menyadari sepenuhnya bahaya gerakan ini dan kekuatannya. Karena itu ia memutuskan untuk membatasi langkah Abu Dzar, yaitu dengan menyuruh Abu Dzar tinggal di Madinah.

Keputusan itu disampaikan Khalifah secara lembut dan bijaksana. “Tinggallah di sini, di sampingku. Akan kami sediakan unta yang akan mengeluarkan susu di pagi dan sore hari.”

Abu Dzar menjawab, “Saya tidak membutuhkan kekayaan kalian.”

Abu Dzar meminta kepada Khalifah Utsman r.a. agar ia diberi izin tinggal di Rabdzah. Ia pun diberi izin.

Di tengah gejolak penentangannya itu, Abu Dzar tetap memelihara amanah Allah dan RasulNya, dan meresapi nasihat yang diberikan oleh Nabi Saw agar tidak menggunakan senjata. Abu Dzar sudah tidak memerlukan kekayaan dunia. Ia adalah orang suci yang butuh kekayaan ruhiyah dan ingin menjalani hidup untuk memberi , bukan untuk mengambil.

Abu Dzar meminta kepada Khalifah Utsman agar ia diberi izin tinggal di Rabdzah. Ia pun diberi izin.

Di tengah gejolak penentangannya itu, Abu Dzar tetap memelihara amanah Allah dan Rasul-Nya, dan meresapi nasihat yang diberikan oleh Nabi Saw agar tidak menggunakan senjata. Seolah-olah Rasulullah telah melihat semua yang belum terjadi; masa depan Abu Dzar, sehingga nasihat berharga itu diberikan.

Oleh karena itu, Abu Dzar tidak menyembunyikan kemarahannya ketika orang-orang yang suka membuat kekacauan memanfaatkan gerakannya untuk memenuhi keinginan dan siasat licik mereka.

Suatu hari, sewaktu ia berada di Rabadzah, rombongan dari Kufah datang menemuinya. Mereka memintanya untuk memulai pemberontakan terhadap Khalifah.

Abu Dzar langsung memarahi mereka, dan berkata, “Demi Allah, seandainya Khalifah Utsman menyalibku di tiang kayu yang tinggi atau di atas bukit sekalipun, aku akan patuh. Aku jalani dengan sabar seraya berharap pahala dari Allah. Itulah yang terbaik untukku.

Seandainya ia menyuruhku pulang, aku akan patuh. Aku jalani dengan sabar seraya berharap pahala dari Allah. Itulah yang terbaik untukku.”

Dia sama sekali tidak menginginkan kepentingan duniawi. Karena itu, Allah memberinya pandangan hati yang tajam. Ia melihat bahaya yang tersembunyi di balik pemberontakan bersenjata, maka ia menjauhi cara itu. Ia juga tahu apa akibatnya bila ia membisu, maka ia tidak mau diam saja. Ia angkat suara, dan tidak menghunus pedang, tetapi menyerukan kebenaran dan kesungguhan. Tidak ada rayuan yang mampu menggodanya, dan tidak ada resiko yang mampu menghalanginya.

Abu Dzar berharap tidak seorangpun dari generasi sahabat yang duduk di pemerintahan atau menumpuk harta kekayaan, dan tetap menjadi pelopor dakwah dan berkonsentrasi pada ibadah.

Ia sudah mengetahui besarnya tipu daya dunia dan tipu daya harta. Ia juga sadar bahwa Abu Bakar dan Umar tidak akan hidup kembali. Ditambah lagi ia sering mendengar Nabi Saw memperingatkan para sahabatnya akan godaan kekuasaan, “Jabatan adalah amanah. Dan di hari Kiamat kelak akan menyebabkan kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengembannya dengan benar, dan menunaikan kewajibannya.”

Abu Dzar betul-betul memegang prinsipnya, sampai-sampai ia menjauhi rekan-rekannya yang duduk di pemerintahan yang secara otomatis menjadi kaya-raya.

Suatu hari, Abu Musa al-Asy’ari menemuinya. Abu Musa membentangkan tangannya dan berkata, “Senang berjumpa denganmu wahai Abu Dzar, saudaraku.”

Akan tetapi Abu Dzar menolak, seraya berkata, “Aku bukan saudaramu lagi. Sebelum kamu menjadi gubernur, aku memang saudaramu, tetapi sekarang tidak.”

Demikian juga ketika ditemui Abu Hurairah yang memeluknya sambil mengucapkan selamat. Abu Dzar menyingkirkan pelukan itu, “Menyingkirlah dariku. Bukankah engkau sudah menjadi seorang pejabat, mendirikan bangunan-bangunan megah, berternak dan bertani?”

Abu Hurairah menyangkal semua tuduhan itu.

Bisa jadi sikap Abu Dzar ini berlebihan. Tetapi ia mempunyai alasan yang didasari kebenaran dan keimanan. Abu Dzar bersikap dengan cita-cita dan perbuatan nyata. Dengan perilaku dan pikirannya. Sesuai yang digariskan oleh Rasulullah dan dua sahabatnya; Abu Bakar dan Umar. Abu Dzar adalah mahaguru dalam hal menjauhkan diri dari kekuasaan dan harta kekayaan.

Suatu hari ia ditawari untuk menjadi gubernur Irak. Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, kalian tidak akan berhasil merayuku dengan dunia kalian ini.”

Pada kesempatan lain, seorang kawa melihatnya memakai jubah usang. Orang itu berkata, “Bukankah kamu punya baju lain? beberapa hari yang lalu aku melihatmu punya dua baju baru.”

Abu Dzar menjawab, “Kawan, dua baju itu sudah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya.”

Orang itu berkata, “Demi Allah, kamu juga membutuhkannya.”

Abu Dzar menjawab, “Ya Allah, ampunilah kami. Kawan, tidaklah kamu lihat saya sedang memakai jubah ini? Aku punya satu lagi untuk shalat jum’at. Aku juga punya seekor kambing perah, dan seekor keledai tunggangan. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini?”

Sekarang Abu Dzar sedang menghadapi sakratul maut di Rabadzah, tempat yang dipilihnya sebagai tempat tinggal setelah terjadi perbedaan pendapat dengan Khalifah Utsman ra.

Seorang perempuan kurus berkulit coklat duduk di dekatnya sambil menangis. Dialah istrinya.

Abu Dzar bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis. Mati itu pasti datang.”

Wanita itu menjawab, “Engkau akan meninggalkan dunia, dan aku tidak punya kain yang cukup untuk mengkafanimu.”

Abu Dzar tersenyum dan berkata, “Tenanglah. Jangan menangis. Suatu hari, ketika aku berada dekat Rasulullah bersama beberapa orang sahabat, aku mendengar beliau bersabda, “Seorang dari kalian akan mati di padang pasir. Ia disaksikan serombongan orang-orang beriman. Semua yang ada di majelis Rasulullah saat itu telah meninggal di tengah-tengah masyarakat. Hanya aku yang masih hidup, dan sekarang akan mati di padang pasir, jauh dari masarakat. Lihatlah ke jalan. Akan datang serombongan orang beriman. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi.”

Lalu ruhnya kembali ke hadirat Allah.

Dan sungguh benar ucapannya. Di tengah sahara sana, terlihat serombongan orang beriman sedang menempuh perjalanan. Mereka dipimpin oleh Ibnu Mas’ud, sahabat Rasulullah.

Sebelum ke tempat Abu Dzar, Ibnu Mas’ud sudah diperlihatkan gambaran sesosok tubuh kurus kering terbujur seperti tubuh mayat, dan di sebelahnya ada seorang wanita tua dengan seorang anak. Keduanya menangis.

Dibelokkannya kekang hewan tunggangan ke tempat itu, diikuti dari belakang oleh anggota rombongan. Ketika melihat tubuh yang terbujur kaku itu, ia langsung bisa mengenalinya. Dia adalah saudaranya sesama muslim; Abu Dzar.

Ibnu Mas’ud tak kuasa menahan tangis. Ia berkata, “Sungguh benar Rasulullah yang pernah bersabda, “Kamu berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.”

Setelah itu, ia duduk, menjelaskan maksud dari sabda Rasulullah itu.

Peristiwa itu terjadi di Perang Tabuk, tahun 9H. Rasulullah menyuruh kaum muslimin bersiap menghadapi pasukan Romawi yang mulai menyerang wilayah Islam. Saat itu musim paceklik. Jarak yang akan ditempuh sangat jauh dan musuh pun sangat kuat.

Sejumlah orang minta izin tidak ikut berangkat dengan berbagai alasan. Rasulullah dan pasukan Islam berangkat. Jauhnya perjalanan menambah lelah dan sulit. Tidak sedikit anggota pasukan yang tertinggal dari rombongan. Setiap ada seseorang yang tertinggal, mereka mengadu ke Rasulullah, “Ya Rasul, si fulan tertinggal.” Beliau menjawab, “Biarkanlah. Jika dia membawa manfaat, Allah pasti akan membawanya bergabung dengan kita. Jika tidak, maka Allah telah meringankan beban kita.”

Pada suatu saat, mereka melihat-lihat pasukan, ternyata mereka tidak menemukan Abu Dzar. Maka mereka berkata kepada Rasulullah Saw, “Abu Dzar tertinggal, keledainya sulit berjalan.” Abu Dzar sudah berusaha dengan berbagai cara agar keledainya mau berjalan tapi tidak berhasil. Maka ia pun turun dari keledai dan memanggul perbekalannya. Ia meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, di tengah sahara yang sangat menyengat. Ia berjalan agak cepat agar bisa menyusul rombongan Rasulullah. Rasulullah tersenyum ketika melihat Abu Dzar menyusul rombongan dan akhirnya tiba di tempat peristirahatan.

Peristiwa itu terjadi 20 tahun yang lalu atau lebih. Kini, Abu Dzar meninggal dunia sendirian di padang pasir Rabadzah, setelah ia berjuang sendirian. Sejarah juga akan menulisnya secara tersendiri karena sikap zuhud dan perjuangannya yang tiada dua.

Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW Oleh Khalid Muhammad Khalid

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s