Salman Al-Farisi “Pencari Kebenaran” (Part 3)

<< Previously on Part 2

Dengan kata-kata yang indah dan jelas, cerita ini mengalir dari bibir Salman Al-Farisi. Cerita yang menggambarkan perjalanan panjang dan terjal seorang pejuang besar dalam mencari kebenaran. Mencari agama yang paling benar. Agama yang akan menjadi panduan jalan hidupnya.

Jiwa besar dan kemauan kuat menjadikannya mampu mengatasi semua rintangan. Mampu mengubah yang mustahil menjadi mungkin. Kecendrungan terhadap kebenaran menyebabkan ia rela meninggalkan ladang, kekayaan dan segala fasilitas yang disediakan ayahnya. Ia memilih pergi ke daerah yang belum dikenal, dengan segala rintangan dan penderitaan. Berpindah dari satu daerah ke daerah lain; dari satu negeri ke negeri lain, tanpa kenal lelah, dengan tetap menjalankan ibadah. Pandangannya yang tajam selalu mencermati segala bentuk manusia, pola pikir dan kehidupan mereka.

Tekadnya telah bulat untuk mencari kebenaran. Pengorbanannya juga sangat besar, bahkan ia rela menjadi budak. Akhirnya Allah membalasnya dengan balasan setimpal. Allah mempertemukannya dengan kebenaran. Mempertemukannya dengan Rasulullah Saw. Allah juga memberinya umur panjang hingga ia bisa menyaksikan panji-panji Islam berkibar di seluruh penjuru dunia. Saat bumi dipenuhi oleh kaum muslimin yang menggemakan kebenaran dan keadilan.

Sungguh, keislaman Salman adalah keislaman pilih tanding. Kezuhudan, kecerdasan, dan ketakwaannya sangat mirip dengan Umar bin Khattab ra.

Ia pernah tinggal bersama Darda selama beberapa hari. abu Darda selalu berpuasa di siang hari dan menghabiskan malam untuk sholat tahajud. Melihat kondisi Abu Darda seperti ini, Salman melarangnya agar tidak keterlaluan dalam beribadah.

Suatu hari Salman ingin menggagalkan tekad Abu Darda untuk berpuasa sunnah. Maka Abu Darda berkata, “Apakah engkau melarangku puasa dan shalat?”

Salman menjawab, “Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak yang harus kamu penuhi, demikian pula istrimu. Jangan puasa tiap hari dan berikan kesempatan kepada matamu untuk tidur.”

Peristiwa itu sampai kepada Rasulullah. Beliau bersabda, “Sungguh, Salman telah dikaruniai ilmu yang luas.”

Rasulullah sendiri sering memuji kecerdasan dan luasnya ilmu Salman. Beliau juga memuji akhlaknya yang luhur dan ketaatannya terhadap hukum agama.

Di waktu Perang Khandaq, kaum Anshar sama-sama berdiri dan berkata, “Salman dari golongan kami.”

Kaum Muhajirin juga berdiri dan berkata, “Tidak. Dia dari golongan kami.”

Namun Rasulullah menengahi dengan sabdanya, “Salman adalah golongan kami, ahlul bait.”

Dan sudah selayaknya jika Salman mendapatkan kehormatan seperti ini.

Ali bin Abi Thalib ra. Menyamakan Salman dengan “Lukmanul Hakim”. Setelah Salman wafat, Ali berkomentar,

“Dia bermula dari kami dan berakhir kepada kami, ahlul bait.

Siapa diantara kalian yang menyamai Lukmanul Hakim

Ia diberi ilmu pertama dan ilmu terakhir

Ia membaca buku pertama dan buku terakhir

Ia adalah samudra yang takkan pernah kering.”

Di hati para sahabat, ia mendapati posisi tertinggi. Pada masa pemerintahan Umar ra, ia datang berkunjung ke Madinah, maka Umar melakukan penyambutan yang belum pernah dilakukannya kepada siapapun. Umar mengumpulkan rekan-rekannya dan mengajak mereka, “Marilah kita sambut kedatangan Salman.” Lalu mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya.

Sejak bertemu dengan Rasulullah dan beriman kepadanya, Salman hidup sebagai seorang muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan taat beribadah.

Salman dikaruniai usia panjang. Ia menyaksikan pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Ia meninggal dunia, kembali kepada Tuhannya, pada masa pemerintahan Utsman ra.

Di tahun-tahun terakhir kehidupan Salman itulah, panji-panji Islam berkibar di seluruh penjuru dunia. Harta benda dan kekayaan mengalir ke Madinah, baik yang berasal dari pajak dan lainnya. Lalu kekayaan itu dibagikan ke warga sebagai tunjangan hidup yang dibagikan setiap bulan.

Secara otomatis tanggung jawab negara bertambah, dan kebutuhan akan orang-orang yang mampu menjadi pemimpin daerah juga bertambah. Dalam kondisi negara dipenuhi kekayaan, di manakah Salman? Perhatikanlah ia dengan seksama.

Lihatlah laki-laki tua berwibawa yang sedang duduk di bawah pohon. Lihatlah bagaimana ia asyik menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang. Laki-laki itu ialah Salman. Lihatlah gamisnya yang pendek, hanya sampai lutut. Padahal saat itu adalah orang yang dihormati dan disegani. Gaji yang diterimanya juga tidak sedikit : antara 4.000 – 6.000 dinar setahun. Namun, semuanya ia bagikan. Tidak sedikit pun ia ambil untuk kepentingan dirinya.

Dengarkan perkataannya, “Aku membeli daun kurma seharga satu dirham. Daun itu kubuat keranjang. Kemudian kujual dengan harga tiga dirham. Satu dirham kugunakan untuk modal usaha, satu dirham untuk nafkah keluargaku, dan satu dirham lagi untuk sedekah. Meskipun Khalifah Umar melarangku berbuat demikian, aku tidak mau menghentikannya.”

Wahai para pengikut Muhammad Saw!

Wahai kalian yang menganggungkan kemanusiaan!

Ketika mendengar kehidupan generasi sahabat yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar dan lainnya, sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan karakter hidup di Jazirah Arab saat itu, karakter hidup yang bersahaja.

Tetap sekarang kita berhadapan dengan seorang putra Persia. Suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan hidup. Dan ia bukan dari golongan miskin. Ia dari golongan kaya. Mengapa dia sekarang menolak kekayaan dan kesenangan, bertahan dalam kehidupan bersahaja, merasa cukup dengan satu dirham untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya? Satu dirham itupun ia peroleh dari hasil jerih payahnya sendiri.

Mengapa dengan gigih ia menolak jabatan? Ia berkata, “Seandainya kamu masih mampu makan tanah, asal tidak menjadi pemimpin, meskipun bawahanmu hanya dua orang, maka lakukanlah.”

Mengapa dia menolak semua jabatan kecuali jabatan panglima perang, atau kecuali ketika tidak ada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab itu selain dirinya? Ia menerima jabatan itu karena terpaksa dan isak tangis ketakutan.

Lalu mengapa setelah memegang jabatan itu, ia tidak mampu menerima tunjangan yang diberikan secara halal?

Hisyam bin Hisan menyebutkan bahwa Hasan pernah mengatakan bahwa tunjangan Salman sebesar lima ribu dinar setahun. Namun demikian, ketika dia berpidato di hadapan 30 ribu orang, separuh baju luarnya ia jadikan alas duduk, dan separuhnya lagi untuk menutupi badannya. Tunjangan hidup yang ia terima, ia bagi-bagikan sampai habis, sedangkan untuk nafkah keluarganya dia peroleh dari hasil usahanya sendiri.”

Mengapa ia melakukan semua ini? mengapa ia amat zuhud kepada dunia, padahal dia seorang putra Persia, tempat kesenangan dan kebudayaan?

Marilah kita dengan jawaban beliau.

Saat itu dia terbaring di atas tempat tidur, sesaat sebelum ajal menjeputnya, sesaat sebelum jiwa mulianya bertemu dengan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Penyayang. Saat itu, Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya. Tiba-tiba Salman menangis.

“Apa yang kamu tangiskan wahai Abdillah (panggilan Salman) ? padahal saat Rasulullah wafat, beliau ridha kepadamu?”

Salman menjawab, “Aku menangis bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan dunia. Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, “Hendaklah bagian kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang musafir.” Padahal harta milikku seperti ini banyaknya.”

Sa’ad menceritakan, “Aku perhatikan, tidak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan satu baskom. Lalu aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, berilah kami nasihat yang akan selalu kami ingat.”

>>Continue to Part 4

Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW Oleh Khalid Muhammad Khalid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s