Salman Al-Farisi “Pencari Kebenaran” (Part 4)

<< Previously on Part 3

Dia berkata, “Wahai Sa’ad, ingatlah Allah ketika kamu ingin sesuatu ketika kamu memberikan keputusan, dan ketika membagi.”

Ternyata inilah yang telah mengisi hati Salman, sehingga ia tidak mau mendekati kekayaan dan jabatan. Yaitu pesan Rasulullah Saw kepadanya dan kepada semua sahabat, agar mereka tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil dunia kecuali sekedar bekal seorang musafir.

Salman telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai melampaui batas yang ditetapkan. Di ruangannya hanya ada satu piring makan dan satu baskom tempat minum dan wudhu. Walau demikian dia menganggap dirinya telah berlaku boros.

Nah, bukankah telah kami sampaikan kepada Anda bahwa dia mirip sekali dengan Umar ra.?

Ketika ia diangkat sebagai walikota Madain pun karakternya tidak berubah. Seperti yang kita tahu bahwa ia tidak mengambil sedikit pun dari gaji jabatannya. Ia memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya dengan bekerja menganyam daun kurma. Pakaiannya hanya baju luar sederhana, sesederhana pakaiannya sebelum diangkat sebagai walikota.

Suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan, dia berjumpa dengan seorang laki-laki dari negeri Syam yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, sehingga melelahkannya. Ketika orang Syam itu melihat laki-laki yang berpenampilan biasa dan tampak dari golongan orang tak punya, ia berpikir hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan imbalan yang pantas sesampainya di tempat tujuan. Orang Syam itu memanggil Salman, dan Salman mendekat. Orang itu berkata kepada Salman, “Tolong bawakan barangku ini.” maka Salman mengangkat barang itu, dan mereka berdua berjalan bersama-sama.

Di tengah jalan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman mengucapkan salam kepada mereka. Mereka berhenti dan menjawab salam itu, “Kesejahteraan juga untuk walikota.” Orang Syam itu bertanya dalam hati, “Juga kepada walikota? Siapa yang mereka maksud?” keherananya semakin bertambah ketika beberapa orang dari rombongan itu bergegas mendekat dan berkata, “Biarkan kami yang membawanya.”

Barulah orang Syam itu sadar, bahwa kuli panggulnya itu Salman Al-Farisi, walikota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf mengalir dari bibirnya. Dia mendekat hendak mengambil beban itu, tetapi Salman menolak. Salman berkata, “Tidak, biar kuantarkan sampai rumahmu.”

Salman pernah ditanya, “Apa sebabnya Anda tidak menyukai jabatan?”

Dia menjawab, “Jabatan itu terasa manis saat dipegang, dan pahit saat dilepas”

Suatu ketika, seorang rekannya berkunjung ke rumahnya. Melihat Salman sedang memasak, dia bertanya, “Kemana pembantu Anda?”

Salman menjawab, “Aku suruh untuk suatu keperluan. Aku tidak ingin dia melakukan dua pekerjaan sekaligus.”

Kita menyebut Salman berada di rumahnya. Tahukah Anda bagaimana rumah beliau?

Ketika Salman ingin membangun rumahnya itu, ia bertanya kepada tukangnya, “Bagaimana model rumah yang hendak Anda bangun?”

Kebetulan tukang bangunan ini seorang yang arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman dan sifatnya yang tidak suka kemewahan. Dia berkata, “Tuan jangan khawatir. Rumah ini bisa digunakan bernanung dari terik matahari dan berteduh dari guyuran hujan. Jika Tuan berdiri, kepala Tuan akan sampai ke atap, dan jika Tuan berbaring, kaki Tuan akan menyentuh dindingnya.”

Salman berkata, “Bagus. Rumah seperti itu yang harus kau bangun.”

Salman sama sekali tidak tertarik dengan dunia. Hanya ada satu barang yang membuatnya sangat tertarik. Ia meminta istrinya untuk menyimpan barang itu baik-baik.

Saat ia sakit, sebelum meninggal dunia, ia memanggil istrinya, “Ambilkan barang yang pernah kutitipkan kepadamu.”

Ternyata barang itu adalah wewangian kesturi yang ia peroleh saat pembebasan kota Jalula. Sengaja ia simpan untuk wewangian saat ia meninggal dunia.

Ia meminta segelas air. Kasturi itu dimasukkan ke dalam air lalu diaduk. Ia berkata kepada istrinya, “Percikkanlah ke sekelilingku. Aku akan didatangi makhluk Allah yang tidak makan, namun suka dengan wewangian.”

Selesai memercikkan kesturi. Ia berkata kepada istrinya, “Tutuplah pintu dan keluarlah.” Sang istri menuruti perintah Salman.

Beberapa saat kemudian, sang istri masuk ke tempat Salman, dan dijumpainya Salman telah pulang ke pangkuan Tuhannya. Salman ikut serta dengan malaikat yang menjemputnya, terbang dengan sayap-sayap kerinduan, karena dia mempunyai janji. Janji bertemu dengan Rasulunya; Muhammad Saw, dengan dua rekannya: Abu Bakar ra dan Umar ra, para syuhada dan orang-orang shalih.

Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW Oleh Khalid Muhammad Khalid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s