Abu Jahl

Orang Arab biasanya memiliki tiga ‘nama’ dalam dirinya. Tiga sebutan itu adalah ism, kuniyah, dan laqab. Sebagai contoh kita ambil Umar bin Khattab. Itu merupakan ism-nya. Kuniyah-nya Abu Hafsh, diambil dari nama putrinya, Hafshah binti Umar yang kelak menjadi Ummul Mu’minin. Sementara laqab-nya adalah Al-Faruq. Jadi, namanya adalah Umar bin Khattab, ia dipanggil sebagai Abu Hafsh, dan digelari Al-Faruq.

Rasulullah pernah berdo’a, “Ya Allah, perkuatlah Islam dengan salah satu dari dua ‘Amr yang lebih Kau cintai: Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam…” dalam bahasa Arab, kata Umar dan Amr sama-sama tersusun dari huruf Ain, Mim, dan Raa sehingga Rasulullah menyebut mereka berdua sebagai Amraini (dua Amr). Ketika itu malam kamis, di sebuah rumah di bawah bukit Shafa. Dan selang beberapa hari, Allah memilih Umar bin Khattab untuk menjadi tonggak beralihnya fase da’wah sembunyi-sembunyi menuju da’wah terang-terangan.

Dan siapakah orang yang tidak dipilih Allah itu?

Amr bin Hisyam, itu ism-nya. Sebenarnya orang-orang Quraisy akrab memanggil kuniyah-nya, Abdul Hakam. Al Hakam, kemungkinan adalah nama anak lelakinya. Tetapi itu juga menjadi isyarat betapa ia masuk dalam lingkaran utama hukumah (pemerintahan) kota Makkah. Juga bahwa dia adalah seorang yang Hakiim, memiliki banyak hikmah kebijakan. Dan sekaligus Haakim – dengan ha panjang – yang berarti memiliki kewenangan legislasi dan yudikasi karena kecerdasan dan ilmunya. Nyatanya memang, Amr adalah salah satu di antara sedikit penduduk Makkah yang pandai baca tulis, fasih dalam sastra, banyak harta, hidup elegan, dan cerdas.

Pertanyaan besar menggelayut di benak saya, “Jadi mengapa ia lebih terkenal di kalangan orang beriman sebagai Abu Jahl?” dia tidak mungkin menamai anaknya sebagai Jahl, si bodoh. Jahl merupakan kata yang begitu identik dengan buta huruf, tidak kenal etika, biadab, dan terbelakang secara materi. Hal-hal yang justru sama sekali tidak ada pada diri Amr bin Hisyam. Tetapi dia asalah Abu Jahl, si biang kejahiliahan.

Ternyata memang, definisi jahiliah yang menjadi sasaran da’wah para Rasul untuk diangkat dari kegelapan menuju cahaya tidak terkait langsung dengan buta huruf, tidak kenal etika, kemiskinan dan keterbelakangan. Bukan itu.

Dalam sejarah perjalanan da’wah para Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka, jahliah telah menemukan jati dirinya sebagai penyakit yang menjangkiti keyakinan. Ia adalah rabun yang mengacaukan pandangan terhadap hakikat kehidupan, kemanusiaan, dan peribadatan.

Memang, jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi persangkaan. Dari kedunguan dan logika yang dipaksakan. Dari kesalahpahaman yang diwarisi temurun. Singkatnya dari kebodohan. Sering kali begitu. Tetapi tak jarang juga, jahiliah bersumber dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi, atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi.

Bicara soal ekspresi jahiliah, nah ini bisa macam-macam. Ia bisa berbentuk kecurangan ekonomi sebagaimana terjadi pada kaum Syu’aib, penduduk Aikah. Atau mungkin penyimpangan seksual kaum Luth, penduduk Sodom. Bisa juga bermegah-megahan yang melahirkan penzhaliman seperti terjadi pada kaum ‘Aad, kaum Nabi Huud. Dan mungkin berbentuk penyalahgunaan otoritas kekuasaan. Fir’aun misalnya. Atau pemerintahan. Seperti Haman – Prime Ministernya Fir’aun – contohnya. Atau keulamaan seperti Bal’am bin Ba’uraa. Atau keterampilan seperti Samiri pembuat patung sapi. Atau kekayaan seperti Qarun.

Jahiliah datang dalam bentuk dan rupa yang kadang menjijikkan, di saat lain tampak wajar-wajar saja, atau malahan dalam dandanan yang mempesona. Tetapi semuanya sama : jahiliah. Dialah ancaman terburuk bagi eksistensi manusia sebagai makhluk yang mendapat tugas ibadah dan tugas khilafah.

Matarantai jahiliah yang membentang sepanjang sejarah ini dihubungkan oleh satu benang merah : syirik. Wujudnya berupa penyekutuan atau bahkan penggantian terhadap haq Allah sebagai ilah, sebagai sesembahan Yang Maha Esa. Yang ditaati dalam semua penganturannya di tiap hirup nafas dan noktah hidup. Karena ia Sang Pencipta, Pemelihara, Pemberi Rizqi, Pengatur Alam Semesta.

Dari cakupan makna jahiliah yang luas ini, juga mengingat sepak terjangnya selama hidup, maka jelaslah mengapa Amr bin Hisyam dipanggil Abu Jahl. Jika laqab Umar bin Khattab adalah Al-Faruq. Si pemisah kebenaran dan kebatilan. Maka laqab Amr bin Hisyam alias Abu Jahl ialah Aduwullah. Musuh Allah !

Maka ketika mengaku sebagai aziizul kariim, orang perkasa lagi mulia, Allah menyerahkan kematiannya justru kepada dua bocah Anshar ‘ingusan’ dan Abdullah bin Mas’ud, gembala yang dulu sering dihajarnya. Seperti juga telah ia serahkan kebinasaan pasukan gajah Abrahah, justru pada burung-burung kecil. Lalu Allah menjamu Abu Jahl dengan hidangan zaqqum dalam gelegak jahannam, dan memfirmankan ejekan padanya :

“Rasakanlah, sesungguhnya kamu ini orang yang ‘perkasa’ lagi ‘mulia’” (Q.S. Ad-Dukhaan : 49)

Sumber : Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim Oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s