Sa’d Bin Abi Waqqash “Singa yang Menyembunyikan Kukunya”

Pasukan Persi menyerang kaum muslimin secara licik.

Pertempuran liar menelan banyak korban dari pihak kaum muslimin.

Empat ribu kaum muslimin gugur sebagai syahid dalam satu hari.

Penduduk Irak berkhianat.

Semua itu adalah berita-berita beruntun yang membuat gelisah Khalifah Umar bin Khattab hingga ia memutuskan untuk memimpin sendiri pasukan yang akan berperang habis-habisan melawan pasukan Persi.

Tanggung jawab pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada Ali ra. Disertai beberapa kaum muslimin, Umar berangkat menuju perbatasan tempat perang antara kaum muslimin dengan pasukan Persi berkecamuk.

Namun, belum jauh ia meninggalkan Madinah, sebagian anggota rombongan berpendapat agar ia kembali memilih salah seorang di antara mereka untuk melakukan tugas tersebut.

Usul ini diprakarsai oleh Abdurrahman bin ‘Auf. Ia menyatakan bahwa keberangkatan Khalifah tidak tepat karena akan sangat berbahaya bagi keselamatannya, padahal Islam sedang menghadapi hari-harinya yang menentukan.

Umar pun menyuruh kaum muslimin berkumpul untuk bermusyawarah. Ali juga dipanggil. Dengan ditemani beberapa orang Madinah, Ali berangkat ke tempat Umar dan rombongan berkumpul.

Akhirnya mereka setuju dengan usulan Abdurrahman bin ‘Auf. Khalifah Umar harus kembali ke Madinah dan memilih seorang panglima lain yang akan memimpin peperangan menghadapi Pasukan Persi.

Khalifah Umar tunduk pada keputusan ini. Ia bertanya kepada mereka, “Menurut kalian, siapa yang bertugas sebagai penglima perang?”

Mereka semua tertegun dan berpikir.

Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku tahun orangnya.”

“Siapa?” tanya Umar.

Abdurrahman bin Auf, “Singa yang menyembunyikan kukunya. Dia adalah Sa’d bin Malik Az-Zuhri (Sa’d bin Abi Waqqash).”

Kaum muslimin setuju dengan usulan Abdurrahman bin Auf. Khalifah memanggil sa’d dan menyampaikan tugas yang harus dilaksanakan : mengurus Irak dan memimpin pasukan melawan Persi.

Nah, siapakah dia “Singa yang menyembunyikan kukunya itu”?

Siapakah dia sebenarnya? Mengapa setiap kali dia menjumpai Rasulullah, beliau menyambutnya dengan ucapan selamat datang sambil bergurau, dan berkata, “Ini dia pamanku. Adakah di antara kalian yang mempunyai paman seperti dia?”

Sa’d adalah cucu Uhaib bin Manaf. Uhaib adalah Siti Aminah; ibunda Rasulullah.

Sa’d masuk Islam saat berusia 17 tahun. Termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia pernah berkata, “Saat itu, aku adalah sepertiganya Islam.” Maksudnya bahwa ia adalah satu dari tiga orang yang paling dahulu masuk Islam.

Pada hari-hari pertama Rasulullah menjelaskan tentang Allah yang Maha Esa, tentang agama baru yang dibawanya, dan sebelum beliau mengambil rumah al-Arqam sebagai tempat pertemuan dengan para pengikutnya, Sa’d bin Abi Waqqash telah mengulurkan tangan kanannya untuk berbai’at kepada Rasulullah Saw.

Buku-buku sejarah dan biografi menyebutkan bahwa ia termasuk satu dari orang-orang yang masuk Islam berkat dakwah Abu Bakar.

Bisa jadi ia mengikrarkan keislamannya bersama beberapa orang yang masuk Islam berkat dakwah Abu Bakar. Mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah. Dan ini tidak menutup kemungkinan bahwa sebelumnya ia sudah memeluk Islam secara sembunyi-sembunyi.

Banyak sekali keistimewaan Sa’d yang dapat dibanggakan. Namun hanya dua keistimewaan penting yang ia banggakan. Pertama, dialah orang yang pertama kali menggunakan panah dalam perang membela agama Allah, dan ia juga orang yang pertama kali terkena anak panah. Dan, kedua, dia merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Di waktu Perang Uhud, Rasulullah bersabda, “Panahlah hai sa’d! Ibu bapakku menjadi jaminan.”

Betul. Ia selalu membanggakan dua keistimewaan ini, dan menjadi kesyukurannya kepada Allah. Ia berkata, “Demi Allah, aku adalah orang yang pertama kali menggunakan panah dalam perang membela agama Allah.”

Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah menjadikan ayah dan ibunya sebagai jaminan kecuali kepada Sa’d di Perang Uhud. Aku mendengar beliau bersabda, ‘Panahlah hai Sa’d! Ibu bapakku menjadi jaminan.’”

Sa’d termasuk seorang ksatria berkuda paling berani yang dimiliki oleh bangsa Arab dan kaum muslimin. Ia memiliki dua senjata ampuh, panah dan doa. Jika ia memanah, pasti mengenai sasarannya, dan jika berdoa, pasti dikabulkan. Ini disebabkan oleh doa Rasulullah untuk dirinya. Pada suatu hari, ketika Rasulullah menyaksikan dari Sa’d sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau, beliau berdoa, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya.”

Doa Sa’d dikenal bak pedang yang tajam. Sa’d menyadari hal ini. Karena itu ia tidak mau berdoa buruk untuk orang lain kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah.

Amir bin Sa’d menceritakan, “Suatu hari, Sa’d melihat seorang laki-laki sedang mencaci-maki Ali ra, dan Zubair ra. Ia menegur orang itu. Namun orang itu tidak peduli. Lalu Sa’d berkata, “Kalau begitu, aku akan mendoakan keburukan untukmu.” Laki-laki itu menjawab, “Kamu mengancamku? Kamu ini seperti nabi saja.”

Sa’d pergi. Ia berwudhu, sholat dua rakaat, lalu menengadahkan dua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa laki-laki itu telah mencaci-maki kaum yang telah mendapatkan kebaikan dari-Mu. Caci-makinya tentu membuat-Mu marah. Karena itu, tunjukkan kebesaranMu, dan jadikanlah dia sebagai pelajaran bagi orang lain.”

Tidak lama kemudian, seekor unta berlari kencang keluar dari sebuah rumah. Unta itu tidak bisa dikendalikan. Ia terus menerobos kerumunan orang, seakan ada sesuatu yang dicarinya. Unta itu menabrak laki-laki tadi, dan terus menginjak-injaknya hingga tewas.

Ini menandakan kebeningan jiwa, kesungguhan iman dan keikhlasan yang mendalam. Begitu pula Sa’d, jiwanya adalah jiwa merdeka. Keyakinannya kuat membaja dan keikhlasannya tak ternoda.

Untuk meningkatkan ketakwaannya, ia memakan makanan yang halal, dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat.

Kehidupan Sa’d terus berjalan. Ia menjadi orang yang dikaruniai banyak harta. Saat akan wafat, ia meninggalkan warisan yang tidak sedikit. Biasanya, harta yang menumpuk tidak semuanya didapat dari yang halal. Akan tetapi, itu tidak berlaku bagi Sa’d. Harta banyak yang ada padanya semuanya halal.

Sa’d adalah teladan dalam kedermawanan. Ia juga teladan dalam membersihkan harta. Kemampuannya mengumpulkan harta diimbangi dengan kedermawanannya. Atau bahkan kemampuan mendermakan harta lebih besar dari kemampuannya mengumpulkan harta.

Sa’d termasuk yang ikut dalam rombongan haji Wada’. Saat itu, ia sakit. Rasulullah datang menengoknya.

Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta yang banyak, dan ahli warisku hanya seorang putri. Bolehkah aku sedekahkan dua pertiga hartaku?”

Rasulullah menjawab, “Tidak.”

“Bagaimana kalau separuhnya?”

“Tidak.”

“Bagaimana kalau sepertiganya?”

“Boleh dan itu sudah banyak. Kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada kamu tinggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta. Apapun yang kamu belanjakan untuk mencari ridha Allah maka pasti ada pahalanya, bahkan sedikit makanan yang kamu suapkan ke mulut istrimu.”

Sampai peristiwa itu, Sa’d baru dikaruniai satu anak wanita. Namun setelah peristiwa itu, ia dikaruniai beberapa anak laki-laki.

Sa’d mudah menangis jika teringat akan siksa Allah. Jika mendengar Rasulullah berkhotbah dan memberi nasihat kepada kaum muslimin, air matanya bercucuran hingga membasahi pangkuannya.

Allah telah banyak memberikan kemudahan kepada Sa’d. Bahkan, ibadahnya pun diterima.

Suatu hari, ketika Rasulullah duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau memandang ke atas seakan sedang menerima bisikan. Beliau memandang ke arah para sahabat dan berkata, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga.”

Para sahabat pun mencermati setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang berbahagia yang beruntung mendapatkan karunia itu. Tidak lama kemudian muncullah Sa’d bin Abi Waqqash.

Setelah peristiwa itu, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash datang kepadanya meminta dengan serius agar Sa’d mau menunjukkan jenis ibadah yang menjadikannya layak mendapat berita baik dari Rasulullah.

Sa’d berkata, “Tidak ada yang melebihi ibadah yang biasa kita lakukan hanya saja aku tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorang pun dari kaum muslimin.”

Dialah “singa yang selalu menyembunyikan kukunya” sebagaimana diungkapkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf.

Dialah laki-laki yang dipilih Khalifah Umar untuk memimpin pertempuran Qadishiyah yang dahsyat itu. Khalifah mengetahui semua keistimewaan yang dimiliki Sa’d. Karena itu, ia dipilih untuk mengemban tugas yang berat ini.

Sa’d adalah orang yang doanya dikabulkan. Jika ia berdoa agar kaum muslimin mendapat kemenangan, pasti Allah akan mengabulkannya.

Sa’d selalu makan makanan yang halal, bersih kata-katanya, dan suci hatinya.

Sa’d selalu mengambil bagian dalam setiap peperangan yang diikuti oleh Rasulullah, termasuk dalam Perang Badar, dan Perang Uhud.

Dan satu lagi yang tak dapat dilupakan Umar, satu keistimewaan yang amat penting yang harus dimiliki oleh siapa saja yang akan menghadapi tugas berat, yaitu kekuatan imam.

Umar tidak lupa akan kisah Sa’d dengan ibunya sewaktu ia masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah. Semua cara telah ditempuh sang ibu untuk mengembalikan Sa’d ke pelukan agama nenek moyang mereka. Namun, semuanya gagal. Maka, sang ibu menggunakan cara pamungkas yang diyakini pasti mampu mengembalikan Sa’d ke agama yang dianut oleh nenek moyang mereka, menyembah berhala.

Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum, sampai Sa’d bersedia kembali ke agama nenek moyangnya. Mogok makan ia jalani, hingga tubuhnya lemah dan hampir mati.

Tetapi Sa’d tidak terpengaruh. Ia tidak akan menggadaikan keislamannya, meskipun nyawa ibunya sebagai taruhan.

Ketika kondisi sang ibu semakin parah, beberapa orang keluarganya membawa Sa’d kepadanya untuk menyaksikannya kali yang terakhr kali, dengan harapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat ibunya sedang sekarat.

Sesampainya disana, Sa’d menyaksikan suatu pemandangan yang dapat meluluhkan hatinya. Bahkan batu keras pun bisa luluh.

Tapi, keimanannya terhadap Allah dan Rasulullah lebih kuat dari baja dan batu karang manapun. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya. Ia berkata dengan suara keras agar terdengar oleh ibunya.

“Demi Allah, Ibu harus tahu, seandainya Ibu mempunyai seratus nyawa, lalu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agama yang sekarang kupeluk. Sekarang terserah Ibu, mau makan atau tidak.”

Akhirnya sang ibu mengalah.

Dan turunlah firman Allah yang memuji sikap tegas Sa’d ra.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.(Luqman : 15)

Nah, bukankah dia singa yang menyembunyikan kukunya?

Kalau begitu, pantaslah Khalifah Umar menyerahkan panji Qadisiyah di tangan kanannya, dan mengirimnya untuk menghalau pasukan Persi yang jumlahnya lebih dari 100 ribu prajurit terlatih dengan senjata dan peralatan perang yang paling ditakuti dunia saat itu. Dan, pasukan itu dipimpin oleh panglima perang paling lihai.

Betul. Tentara musuh yang menakutkan inilah yang akan dihadapi Sa’d dan pasukannya yang hanya berjumlah 30 ribu, dan hanya bersenjatakan tombak, panah dan pedang. Akan tetapi pasukan ini sama sekali tidak gentar karena dalam dada mereka menyala semangat agama baru, semangat keimanan, dan kerinduan untuk syahid.

Kedua pasukan sudah berhadapan. Ya…, mereka sudah berhadapan, namun belum saling bertempur.

Sa’d masih menunggu arahan dari Khalifah Umar.

Surat pertama Khalifah diterimanya. Surat itu berisi arahan agar pasukan segera ke Qadisiyah yang merupakan gerbang untuk memasuki Persi.

“Wahai Sa’d bin Uhaib, janganlah mudah terperdaya oleh sanjungan. Jika ada yang menyanjungmu sebagai paman dan sahabat Rasulullah, maka ketahuilah bahwa semua itu tidak berlaku di sisi Allah. Hanya ketaatan seseoranglah yang bermanfaat di sisi Allah. Yang berpangkat dan rakyat jelata sama saja di mata Allah. Allah adalah Tuhan mereka, dan mereka akan mendapatkan nikmat di sisi Allah dengan ketaatan mereka. Maka perhatikanlah segala sesuatu yang pernah engkau lihat pada Rasulullah Saw. Semenjak ia diutus sampai meninggalkan kita. Pegang teguhlah, karena itulah yang harus diikuti.

“Kabarkan kepadaku mengenai kondisi kalian : bagaimana posisi kalian dan dimana posisi pasukan musuh? Kabarkan semuanya dengan rinci, seolah-olah aku melihat kalian secara langsung.”

Sa’d pun menulis surat kepada Khalifah Umar, mengabarkan segala sesuatu, bahkan sepertinya ia menjelaskan posisi setiap prajurit secara rinci.

Sa’d telah sampai di Qadisiyah. Sementara itu, seluruh tentara dan rakyat Persi berhimpun. Sesuatu yang belum pernah mereka lakukan selama ini. Kendala pimpinan dipegang oleh Rustum. Seorang panglima pilih tanding dan termasuk panglima terlihai saat itu.

Sebagai balasan surat dari Sa’d yang baru dikirimnya, Khalifah Umar mengirimkan balasannya,

“Jangan sekali-kali gentar dengan persiapan mereka, dan cerita tentang mereka. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan pasrahkan kepada-Nya. Pilihlah orang-orang yang cerdas dan tabah, lalu utuslah untuk menyeru mereka ke jalan Allah. Dan jangan lupa mengirim kabar kepadaku setiap hari.”

Sa’d kembali mengirim surat kepada Khalifah, menyampaikan bahwa Rustum telah mendirikan perkemahan di Sabath dengan mengerahkan pasukan gajah dan kuda, dan mulai bergerak menuju kaum muslimin.

Khalifah Umar mengirimkan jawaban yang berisi arahan, dan agar Sa’d tidak gentar.

Sa’d bin Abi Waqqash adalah tentara berkuda yang lihai dan gagah berani, paman Rasulullah, generasi pertama yang masuk Islam, pahlawan dari berbagai perjuangan bersenjata. Tebasan pedang dan bidikan panahnya tak pernah meleset. Hari ini, ia tampil memimpin pasukan di satu medan perang terbesar dalam sejarah. Ia seorang panglima, tapi tak ubahnya seorang prajurit biasa. Kemahirannya dalam berperang dan kedudukannya sebagai penglima, tidak menjadikannya hanya mengandalkan pendapatnya semata. Ia selalu menghubungi Khalifah; Amirul Mukminin di Madinah yang jaraknya demikian jauh. Setiap hari ia mengirimkan sepucuk surat untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat, padahal pertempuran besar itu telah hampir berkecamuk.

Sebab, Sa’d tahu bahwa usulan yang datang dari Madinah sana bukan hanya pendapat Khalifah Umar. Khalifah pasti telah bermusyawarah dengan kaum muslimin di sana, termasuk para sahabat terbaik. Karena itu, apapun kondisi peperangan yang ada di hadapannya, ia dan pasukannya tidak mau kehilangan berkah dan manfaat musyawarah, terutama yang dihasilkan oleh para tokoh kaum muslimin yang di dalamnya ada Umar ra, sang inspirator.

Pesan Umar dilaksanakan oleh Sa’d. Beberapa orang diutus untuk mengajak Rustum, panglima tentara Persi untuk beriman kepada Allah dan memeluk Islam.

Dialog panjang berlangsung antara utusan sa’d dengan Rustum. Di penghujung dialog, utusan kaum muslimin berkata,

“Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hambaNya yang dikehendakiNya dari pemujaan berhala kepada pengabdian terhadap Allah yang Maha Esa; dari memandang dunia secara sempit untuk memandangnya secara luas; dan dari kezaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa saja yang bersedia menerima, tentu kami terima dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa saja yang memerangi kami, tentu mereka kami perangi pula hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah.”

Rustum bertanya, “Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian?”

Mereka menjawab, “Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup.”

Para utusan kembali kepada panglima pasukan Islam, Sa’d, dan menyampaikan bahwa pihak Persi memilih perang Sa’d menangis. Andai saja perang sudah mulai beberapa waktu yang lalu, atau bisa diundur beberapa waktu karena saat itu ia sedang sakit parah hingga sulit bergerak. Bisul bermunculan di sekujur tubuhnya hingga ia tidak dapat duduk, apalagi harus menunggangi kuda dan terjun ke medan perang.

Andai saja perang berlangsung sebelum ia sakit. Atau, sesudah bisul-bisulnya pecah dan menegring, tentu ia bisa bertempur secara total.

Adapun sekarang, ia sedang sakit.

Tetapi, ia telah belajar dari Rasulullah untuk tidak mengatakan “andai saja”, karena kata “andai saja” menandakan ketidakberdayaan, dan seorang muslim sejati tidak pernah kehilangan akal dan strategi.

Saat itu juga, “Singa yang menyembunyikan kukunya” itu berdiri di hadapan pasukannya, menyampaikan pidato yang penuh gelora. Ia memulai dengan membaca firman Allah,

Dan sesungguhnya Kami menulis dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hambaKu yang saleh.(Al-Anbiya : 105)

Setelah menyampaikan pidatonya Sa’d melakukan sholat zuhur bersama pasukannya. Sambil menghadap mereka, ia mengucapkan takbir empat kali. Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…

Alam pun bergemuruh dengan suara takbir. Lalu Sa’d mengulurkan tangannya ke depan, ke arah pasukan musuh, dan berseru, “Marilah bergegas menuju berkah yang dijanjikan Allah.”

Dengan meningkatkan ketabahan menanggung sakit yang dideritanya, Sa’d masuk ke kemah yang ia jadikan markas komando, lalu bersandar di sebuah bantal. Sedikit saja serangan dari orang-orang Persi ke kemah itu, akan menyebabkan panglima pasukan Islam ini jatuh ke tangan mereka, hidup atau mati. Tetapi, ia tidak gentar dan tidak merasa takut.

Bisul-bisul pecah, tetapi ia tidak peduli, karena ia sibuk memberikan komando kepada pasukannya dan terus bertakbir. “Majulah ke kanan…Tutup pertahanan sebelah kiri…Awas di depanmu, hai Mughirah…ke belakang mereka, hai Jarit…Pukul, hai Hu’man…Serbu, hai Asy’ats…Hantam, hai Qa’qa’…Majulah semua, hai sahabat-sahabat Muhammad Saw…”

Suara yang berwibawa dan penuh semangat mampu mengubah seorang prajurit menjadi satu pasukan tersendiri.

Tentara Persi berjatuhan, tak ubahnya lalat-lalat yang terkapar. Paganisme dan penyembahan terhadap api juga terkubur bersama mereka.

Setelah melihat tewasnya panglima besar dan prajurit-prajurit pilihan mereka, sisa-sisa pasukan musuh lari tunggang-langgang. Pasukan Islam terus mengejar mereka hingga ke Nahawand lalu ke Mada’in. Mereka masuk ke Mada’in, mengambil singgasana dan mahkota Kisra.

Di pertempuran Mada’in kiprah Sa’d sangat besar. Pertempuran ini terjadi kira-kira dua tahun setelah pertempuran Qadisiyah.

Setelah Perang Qadisiyah, terjadi perang-perang kecil antara sisa-sisa pasukan Persi dan kaum muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi berhimpun di kota Mada’in, bersiap untuk melakukan pertempuran terakhir dan menentukan.

Sa’d menyadari bahwa semakin lama, maka pasukan Persi di Mada’in akan semakin kuat. Tentu ini tidak menguntungkan bagi pasukan Islam. Karena itu, pasukan Islam harus secepatnya menyerang mereka. Namun sepertinya mustahil karena antara pasukannya dan Mada’in terbentang sungai Tigris yang lebar. Alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap.

Disinilah strategi dan keberanian Sa’d teruji. Benarlah apa yang dikatakan Abdurrahman bin Auf, bahwa Sa’d adalah “singa yang menyembunyikan kukunya.” Tiada yang mustahil di mata Sa’d.

Sa’d memerintahkan pasukannya untuk menyeberangi sungai Tigris, dan mencari daerah yang dangkal agar lebih mudah untuk diseberangi. Dan akhirnya, mereka menemukannya, walaupun untuk menyeberanginya tidak luput dari bahaya yang mengancam.

Sebelum tentara memulai penyeberangan, panglima besar Sa’d menyadari pentingnya pengamanan pinggiran seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan pengawasan musuh.

Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara. Pasukan pertama yang dinamakan “kompi sapu jagat”, di komandani oleh Ashim bin Amr. Dan yang kedua dinamakan “kompi gerak cepat”, di komandani oleh Qa’qa bin Amr.

Adapun tugas dari kedua kompi ini adalah menerjuni bahaya dan meretas jalan yang aman menuju pinggir sungai daerah musuh dan melindungi induk pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang. Dan mereka telah menunaikan tugas itu dengan kemahiran yang menakjubkan.

Strategi Sa’d pun berhasil, hingga membuat kagum para ahli sejarah. Salman al-Farisi, kawan seperjuangannya dalam pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai. Bahkan ia sampai bertepuk tangan karena takjub dan bangga. Saat itu ia berkata, “Agama Islam masih baru. Tetapi lautan sudah dapat mereka taklukkan, sebagaimana daratan juga sudah mereka kuasai. Demi Allah yang nyawa Salman berada di tangan-Nya, mereka akan keluar dari sungai ini berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya berbondong-bondong.”

Dan benarlah apa yang dikatakannya itu. Sebagaimana mereka terjun ke sungai berbondong-bondong, mereka juga keluar dari sungai dan mencapai seberang sana berbondong-bondong. Tak seorang prajuritpun hanyut terseret air. Bahkan mereka sampai di seberang sana dengan badan yang masih segar. Tidak sedikitpun ada tanda-tanda kelelahan.

Diceritakan bahwa saat menyeberang, ada tempat minum seorang prajurit jatuh ke air. Maka ia tidak ingin jadi satu-satunya orang yang kehilangan barang waktu penyeberangan itu. Ia meminta tolong kepada teman-temannya untuk mendapatkan barang itu kembali. Kebetulan satu ombak besar melemparkan tempat minum itu ke dekat rombongan hingga mereka dapat memungutnya.

Ada catatan sejarah yang melukiskan bagaimana dahsyatnya suasana penyeberangan sungai Tigris itu.

Sa’d memerintahkan pasukannya agar membaca, Hasbunallahu wa ni’mal wakiil (cukuplah Allah bagi kita, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong), Lalu ia menggerakkan kudanya menerjuni sungai, dan diikuti oleh pasukannya. Tidak seorang pun tertinggal.

Mereka berjalan di atas air, seperti berjalan di atas tanah. Dari tepi sungai yang satu ke tepi lainnya telah dipenuhi oleh pasukan yang begitu banyak hingga permukaan air tidak kelihatan. Mereka menyeberangi sungai itu sambil bercakap-cakap, seperti mereka berjalan di daratan saja. Sebabnya tidak lain karena mereka merasa yakin dengan pertolongan Allah.”

Tatkala Sa’d diangkat Khalifah Umar sebagai gubernur Irak, ia berhasil melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah diperluas. Ajaran Islam diberlakukan di wilayah yang luas itu.

Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa’d kepada Khalifah Umar. Rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh tabi’at yang mudah dihasut dan suka memberontak. Mereka melontarkan tuduhan lucu, “Sa’d tidak bisa sholat dengan baik.”

Mendengar itu, Sa’d hanya tertawa. “Demi Allah, sholat yang aku lakukan seperti sholat Rasulullah. Memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua terakhir.”

Sa’d dipanggil menghadap Khalifah di Madinah. Sa’d tidak marah. Saat itu juga ia menghadap Khalifah.

Selang beberapa waktu, Khalifah bermaksud mengutus Sa’d untuk menjadi gubernur Irak lagi. Akan tetapi, dengan tertawa Sa’d menjawab “Apakah Anda hendak mengutusku kepada kaum yang menuduhku tidak bisa sholat dengan baik?”

Sa’d lebih memilih tinggal di Madinah.

Ketika Khalifah Umar dicederai orang, ia memilih enam orang sahabat Rasulullah Saw yang menjadi penanggung jawab pemilihan Khalifah baru, dan Sa’d adalah satu diantaranya.

Bahkan dari ucapan Khalifah Umar terakhir bisa dipahami jika seandainya pemilihan Khalifah baru diserahkan kepadanya, maka dia akan memilih Sa’d.

Sewaktu memberi wasiat terakhir dan ucapan perpisahan kepada sahabat-sahabatnya, Khalifah Umar berkata, “Jika Khalifah dijabat oleh Sa’d, maka itu sudah semestinya. Dan seandainya dijabat oleh orang lain, hendaklah ia menjadikan Sa’d sebagai penasehatnya.”

Sa’d sikaruniai umur panjang. Suatu hari di tahun 54H, saat usia Sa’d sudah lebih dari 80 tahun, ia terlihat dirumahnya, di Aqiq sedang bersiap-siap hendak berpulang ke rahmatullah.

Detik-detik terakhir ini diceritakan oleh putranya.

“Saat itu kepala ayah di pangkuanku. Aku menangis. Ayah bertanya, “Apa yang membuatmy menangis, Nak? Allah tidak akan menghukumku. Aku akan menjadi penduduk surga.”

Kuatnya iman yang dimiliki tidak tergoyahkan oleh apapun, bahkan oleh kematian.

Rasulullah pernah menyampaikan kabar gembira itu kepadanya, dan ia sangat percaya kepada Rasulullah. Lantas apa yang harus ditakuti? Dengarkan ucapannya, “Allah tidak akan menghukumku. Aku akan menjadi penduduk surga.”

Ia ingin menghadap Allah dengan membawa kenang-kenangan yang paling manis dan mengharukan, masa-masa indah bersama Islam dan Rasulullah.

Ia menyuruh keluarganya mengeluarkan sehelai kain tua dari lemari, dan meminta mereka menjadikan kain itu sebagai kafannya nanti. Ia berkata, “Kain ini kupakai saat menghadapi orang-orang musyrik di Perang Badar. Kain ini sengaja kusimpan untuk hari ini.”

Akhirnya jasad pahlawan kita ini dibawa ke Madinah untuk dimakamkan di Baqi’, dekat rekan-rekannya yang telah mendahuluinya meghadap Allah. Dialah Muhajirin yang terakhir meninggal.

Selamat jalan wahai Sa’d…

Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Mada’in dan pemadam api pemujaan di Persi untuk selama-selamanya…

Sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW Oleh Khalid Muhammad Khalid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s