Ramadhan Saatnya Bicara Tentang Makanan

Di tengah terik membakar, peluh yang menetes-netes di pori, kita meresak jiwa akan sejuknya puasa. “Ajruki ‘ala qadri nashabik, pahalamu sesuai kadar payahmu…” Adakah hari di mana sepoaian lembut angin padang membelai begitu nikmat? Adakah waktu di mana syaithan dibelenggu, hingga hirupan nafas pun terasa mengandung keshalihan?

Ramadhan…malam-malam yang ditingkahi syahdu kalam Ilahi. Kecuali jika kita adalah syaithan dari golongan manusia, alangkah indahnya hari-hari itu. Saat sholat malam adalah aktivitas yang benar-benar ‘menghidupkan’. Saat kita begitu rajin, karena kokok ayam didahului dering weker. Kita menjadi Al Mustaghfiriina bil As-haar, yang menghiba ampun di waktu sahur. Dan kita menjadi pemburu kebaikan dalam penyegeraan berbuka bersama-sama, di Masjid…Ta’jilan….

Siang itu, betapa hati-hatinya kita, karena Allah tak membutuhkan lapar dan hausnya lisan yang terus berdusta, menggunjing, mencela, dan kesana kemari menabur bunyi-bunyi kesiaan. Betapa hati-hatinya kita, karena ini ibadah rahasia : hanya aku dan Allah yang tahu. Lalu adakah kalimat syukur yang terasa begitu nikmat diucap seperti saat tetes pertama air membasah kerongkongan? Laka shumtu Yaa Rabbii, wa bika amantu…

Di sela-sela panggilan Ar Rayyan yang mengetuk-ngetuk, di tengah syahdu Kalamullah bicara tentang puasa, di saat keriut membunyi lambung, di waktu misik mewangi mulut dan lemah bertambah-tambah, para sahabat Ridhwaanullahi Alaihim Jamaii’an disapa oleh kelembutanNya. Geliang tubuh mereka di ladang-ladang, peluh yang menguras daya, dan jihad yang berdarah-darah di saat shaum, disambut Allah dengan kalimat yang begitu dekat, begitu akrab, begitu mesra :

‘Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku.” Tetapi untuk menjawab pertanyaan itu, Allah tidak berfirman, “Faqul inni qariib, maka katakanlah (hai Muhammad) bahwa Aku ini dekat.” Allah mengubah khithab menjadi begitu langsung dan merasuk kepada jiwa-jiwa imani, seolah tanpa perantara, “Fainni qariib, maka sesungguhnya Aku ini dekat.”

Inilah kedekatan. Dan Allah memilih kedekatan yang menggambarkan siapa Dia dan siapa kita. Allah memilih kedekatan yang menunjukkan keagungan dan kasih sayangNya, sekaligus melukiskan hajat dan harap hamba pada Rabbnya. Itulah doa. Itulah istijabah (respons, pengabulan). “…Aku menjawab permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu…”

Di saat puasa mengeringkan bibir, memayahkan jasad, namun memperkaya jiwa, berdoalah pada Allah. Sebab, RasulNya telah menjaminkan,

Sesungguhnya, Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka di tiap siang dan malam bulan Ramadhan, dan sesungguhnya tiap Muslim yang berdoa, maka akan dikabulkan baginya.(H.r Al Bazzaar [3142], Ahmad [2/254] dari Al A’masy dari Abu Shahih dari Jabir, dan Ibnu Majah [1643] dari jalan lain yang kesemuanya shahih).

Dalam hadits lain disebutkan mereka-mereka yang tidak ditolak doanya : pemimpin yang adil, mujahid di jalan Allah, dan orang yang berpuasa hingga dia berbuka. Atau riwayat lain lagi : pemimpin yang adil, musafir yang melakukan perjalanan bukan dalam rangka ma’shiat, dan orang yang berpuasa. Selalu ada orang yang berpuasa pada keduanya. Tetapi apa syarat kedekatan yang menentramkan hati-hati imani ini?

…Maka hendaklah mereka itu mengistijabahKu dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Dan agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(Q.S. Al-Baqarah : 182)

Istijabah dan iman. Iman telah kita fahami meski sedikit, walhamdulillah. Sedang istijabah bermakna memenuhi seruan-seruan Allah saat ia memanggil kita menuju kebaikan, keberkahan, dan sesuatu yang membuat kita hidup sebenar hayat.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Allah dan Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (Q.S. Al Anfaal : 24)

Salah satu seruan yang menghidupkan itu adalah seruan kepada jiwa-jiwa beriman tentang makanan. Ya, tentang makanan.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (Q.S. Al Baqarah : 172)

Suatu hari, Nabi membacakan ayat ini kepada para sahabatnya. Keagungan perintah ini, kata beliau adalah bahwa ia menjadi seruan yang Allah tujukan pada para RasulNya (Q.S. Al Mukminun : 51), pada orang yang beriman (Q.S. Al Baqarah : 172), dan juga pada sekalian manusia (Q.S. Al Baqarah : 168). Betapa ia meliput semua. Pernah suatu hari, demikian Sang Nabi berkisah, ada seorang musafir kehabisan bekal dalam perjalanannya di tengah pepasir yang membarakan terik. Wajahnya penuh debu, tenaganya tinggal sisa-sisa dalam rangkakan yang dipenuhi harap-harap terakhir. Dengan kekuatan terakhir yang dimiliki, diangkatnya kedua lengannya tengadah, “Ya Rabb…Ya Rabb…Ya Rabb…”

Sesungguhnya orang ini memiliki aneka syarat untuk dijawab dan dikabulkan doanya : musafir, bertauhid (hanya berharap pada Allah), dan mengangkat tangannya pada Allah, padahal Allah malu jika ada tangan terangkat berharap padaNya lalu Ia tak memberi karunia. Hal-hal yang ada dalam dirinya telah memenuhi kondisi untuk terjawabnya doa. “Tetapi”, kata sang Nabi, “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan, sementara makanan yang ada di perutnya dari batang haram, pakaian yang dipakainya dari barang haram?!!!”

Ya, soal makanan adalah soal dijawab atau tidaknya doa kita. Haram atau halalnya, thayyib atau khabitsnya. Suatu hari, seorang sahabat yang dijanjikan surga, Sa’ad ibn Abi Waqqash mengajukan permintaan cerdas kepada manusia yang paling dicintainya, Muhammad SAW, “Ya Rasulullah…”, katanya, “Doakanlah pada Allah agar doa-doaku ini mustajabah!” Antum tahu betapa cerdasnya permintaan ini?

Bagaimanapun, manusia mulia itu tak langsung mengiyakan. Beliau tersenyum pada orang yang pernah beliau banggakan sebagai paman – “Ini pamanku, ayo tunjukkan padaku paman-paman kalian!” – dan yang dalam panahnya pernah ia kumpulkan ayah dan ibunya – “Panahlah hai Sa’ad, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu!” Beliau lalu bersabda padanya, “Wahai Sa’ad, bantulah aku dengan memperbaiki makananmu…bantulah aku dengan memperbaiki makananmu…”

Ramadhan, dalam makna yang dekat dengan perut adalah saat kita mampu menjaga makanan kita agar terjaminkan kedekatan agung dengan Allah. Di saat puasa, kita jaga pencernaan kita dari yang halal dan thayyib sejak terbit fajar hingga terbenamnya mentari semata karena mentaati Allah dan mencintaiNya. Maka sungguh ia menjadi cermin, bahwa di luar Ramadhan, kita harus menjaganya dari yang syubhat dan yang haram. Jika dari yang halal saja kita bisa menjaga – selama Ramadhan – maka dari yang syubhat, apalagi haram, insyaAllah kita bisa. Kita bisa! Maka itulah makna puasa. Itulah produknya. Itulah taqwa dalam maknanya bagi perut kita: berhati-hatilah menjaga makananmu!

Karena sekerat daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih layak baginya. Karena darah yang mengalir dari saripati makanan haram, syaithan berselancar ria di pembuluh-pembuluhnya. Karena anggota tubuh yang dialirinya, mudah teresonansi oleh frekuensi kemaksiatan. Tergetar hati kita bukan oleh asma Allah, tetapi oleh selainnya. Berdesir jantung kita bukan oleh kalimat-kalimatNya yang suci mulia, tetapi justru oleh huruf, suara, dan rerupa yang menjijikkan nista.

Jagalah makananmu, begitu Ramadhan berpesan. Karena, betapa setiap tetes barang haram menjauhkan kita dari Allah selautan. Setiap keratnya, menghalangi doa-doa dan komunikasi mesra kita denganNya sekuat benteng beton berlapis sejuta. Semoga pesan Ramadhan pada perut kita menggema hingga ke liuk-liuk usus. Allaahumma innaka ‘Afuwwun, Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Annii…di sayup tilawah tadarus malam, proklamasi langit itu menggema, “Adapun puasa itu untukKu, dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya…” Kapanpun engkau datang, hatiku rindu menyambutmu, “Marhaban Yaa Syahra Ramadhaan…”

Sumber : Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim Oleh Salim A. Fillah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s