Barakah

Bayangkanlah hari itu. Saat kita berdiri dengan pakaian terindah, haruman mewangi, dan riasan sederhana yang anggun. Di belakang kita, mahligai berukir menaungi kursi berwarna menyala. Tatapan mata hadirin disejukkan wewarna bunga, yang dirangkai dalam tatanan menawan. Satu per satu, dilantuni nasyid yang romantis dan kilatan blitz kamera, tetamu datang menyalami. Mereka tersenyum, mengadu pipi, dan membisikkan doa. Kira-kira seperti apa doa mereka?

Ada kegundahan besar dalam diri Uqail bin Abu Thalib, sang pengantin, ketika mendengar kawan-kawannya berdoa, “Birrafaa’i wal baniin, semoga bahagia dan banyak anak!” Mudah-mudahan sama dengan kegundahan kita, ketika mendengar doa, “Selamat menempuh hidup baru, semoga kekal dunia akhirat!” atau doa, “Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah…” Lho apa yang salah? Doa-doa ini semuanya berisi harapan kebaikan. Apa yang salah?

Kegundahan Uqail bin Abu Thalib berujung sebuah sunnah yang sangat indah. Sebuah pelajaran, sebuah doa. Sebuah tuntunan tentang bagaimana selayaknya kita mendoakan orang yang menikah.

“Janganlah kalian katakan demikian, karena sesungguhnya Rasulullah telah melarangnya”, kata Uqail. Lalu bagaimana? Apa yang harus diucapkan? “Ucapkanlah”, sambung Uqail, “Baarakallahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir…,Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.”

Ada kata-kata preposisi yang sengaja diketik italic dan bold. Disinilah tempat kita belajar. Sesungguhnya bentuk gabungan preposisi + nomina la + ka (kepada + mu) memiliki arti siratan yang sangat berbeda dengan ‘alai + ka (atas + mu).

la + ka (kepada + mu) berarti barakah kita harapkan ada pada hal-hal yang kita sukai

‘alai + ka (atas + mu) berarti barakah itu juga kita doakan senantiasa ada dalam hal yang tidak kita sukai.

Yang satu bersumsumkan hal-hal yang ‘baik’, dan yang lain membawakan makna hal yang ‘buruk’. Mohon perhatikan bahwa kata ‘baik’ dan ‘buruk’ berada di antara dua tanda petik! Hanya berbeda beberapa huruf, namun maknanya sangat jauh berbeda.

Secara garis besar, hidup hidup ini isinya hanya dua, yang kita sukai dan yang tidak kita sukai. Dan pasti dua-duanya ada. Kadang seiring, ada kalanya bergantian, dan berselang-seling. Dalam pernikahan pun demikian. Ada saat, ada waktu, ada kala, ada kondisi, ada hal, ada keadaan, semuanya bisa dalam konteks disukai dan tidak. Tetapi dalam hal apapun itu, disukai atau dibenci, menyenangkan maupun memprihatinkan, melahirkan tawa ataupun tangis, membuat gelak maupun isak, kita senantiasa berharap ada barakah. Kita berdoa, “Baarakallahu laka, wa baarakallahu ‘alaika”, dan kita tutup dengan, “semoga Allah himpun kalian berdua dalam kebaikan.”

Sejatinya apa itu barakah? Sepertinya ia begitu penting, begitu menyita prioritas. Gambarannya, kalau Anda menyuruh saya shalat khusyu’, berarti Anda menyuruh saya menyempurnakan thaharah, menjaminkan segala kesucian, membuat suasana ibadah yang kondusif; jika masih lapar makanlah dulu, jika ada hajat yang ditahan tunaikanlah dulu ke WC. Anda juga sekaligus telah mengarahkan saya untuk memahami apa yang saya baca dalam shalat, menyuruh saya untuk mengerti dan mengamalkan apa itu ihsan. Banyak sekali yang terangkum dari kata-kata ‘sholat khusyu’.

Seperti itu pula barakah. Seolah ia merangkum aneka harapan, yang sejatinya berujung kebaikan. Bahagia, banyak anak, hidup yang baru, kekal dunia akhirat, sakinah mawaddah warahmah. Itu semua harapan. Tentang bahagia dan banyak anak misalnya, memilih calon pasangan pun kita diperintahkan untuk memilih yang penyayang lagi subur, karena Rasulullah akan berbangga dengan banyaknya jumlah ummatnya di hadapan ummat-ummat lain pada hari kiamat. Tetapi, ada yang bahagia hanya di dunia saja. Ada yang banyaknya anak justru menjadi fitnah. Ada yang kehidupannya yang baru bukan semakin dekat, tetapi semakin jauh dari Allah. Ada yang kekal berpasangan dunia akhirat, tetapi abadi menggelegak di jahannam, seperti Abu Lahab dan isterinya. Na’udzu billaahi min dzaalik…

Jadi, apa yang menjadi perangkum, pengikat semua kebaikan dan kebahagiaan itu, agar benar-benar menjadi kemuliaan? Apa yang membuat banyak anak dan kehidupan baru menjadi bermakna? Apa yang membuat sakinah, mawaddah, dan rahmah jauh lebih bernilai dari sekadarnya saja?

Barakah. Ya, barakah. Dan kita semakin bertanya-tanya, apa itu barakah. Secara sederhana, barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu. Ketika Allah mencintai hambaNya, maka ia berkenan membuat hati sang hamba begitu peka. Saat ditenggelamkan dalam lautan nikmat, sang hamba peka untuk segera mengenakan alat selamnya. Ia peka. Hatinya berbunga melihat indahnya berbagai rerupa, namun tak pernah melalaikan satu kata. Syukur. Lain sisi, Allah juga mengasah agar sang hamba peka, di saat gelombang musibah bertubi-tubi menghantam dan badai melantakkan apa yang dia punya, dia tak melupakan satu kata. Sabar. Ia menapaki jalan-jalan Sulaiman, sekaligus juga menyusuri pematang-pematang Ayyub, as.

Barakah, dalam bahasa Aa Gym adalah kepekaan untuk bersikap benar menghadapi masalah. Barakah, kata Ibnul Qayyim adalah, semakin dekatnya kita pada Rabb, semakin akrabnya kita dengan Allah. Barakah, dalam umpama Umar bin Khattab adalah dua kendaraan yang ia tak peduli harus menunggang yang mana : sabar dan syukur. Barakah, dalam pujian Sang Nabi adalah keajaiban. Kejaiban. Keajaiban yang menakjubkan!

“Menakjubkan sungguh urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baiknya baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya.” (H.R. Abu Dawud & At Tirmidzi)

Barakah adalah keajaiban. Keajaiban yang hanya terjadi pada orang beriman. Jadi, yang dicintai di sisi Allah tak selalu mereka yang senantiasa tertawa dan gembira, tersenyum dan terbahak semata karena nikmat, kemudahan hidup, kekayaan, dan kelimpahan. Sebagaimana bukan berarti dibenci Allah jika senantiasa merasakan kesempitan, kelemahan, kekurangan, dan kefaqiran. Di dalam sebuah pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Bahwa apa pun kondisinya, kemuliaan di sisi Allah bisa diraih. Apa pun keadaannya, pernikahan adalah keindahan dan keagungan, kenikmatan dan kemuliaan, kehangatan dan ketinggian. Jika dan hanya jika kita senantiasa membawanya kepada makna barakah.

Di saat apa pun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apa pun masalah yang sedang membadai rumah tangga. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah. Bahasa barakah, logatnya logat cinta, ucapannya halus dan penuh kelembutan.

Barakah itu ada bahagia meski harus menembus badai hujan. Barakah itu ada senyum terulas meski lelah melanda. Pada tataran apapun, barakah menghadirkan dunia yang tak tembus oleh mata kasat kita. Barakah telah menghapus ukuran-ukuran dan standar-standar yang kita pakai untuk mendefinisikan apa itu ‘bahagia’. Barakah bekerja mewujudkan rasa agung itu pada semua tataran, dari urusan besar hingga yang kecil-kecil.

Kunci barakah itu ada pada keimanan dan ketakwaan. Keimanan yang meyakinkan kita untuk terus beramal shalih menurut apa yang telah dituntunkan Allah dalam tiap aspek hidup, semuanya. Dan ketaqwaan, yang mengisi hari-hari kita dengan penjagaan, kepekaan, dan rasa malu bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah. Dan jika hidup ini terasa menyiksa, langit dan bumi terasa sempit, dada kita sesak, kita merasa semakin jauh dari Allah…barangkali ada nikmat Allah yang kita kufuri. Barangkali ada karunia yang kita dustakan. Atau mungkin ada ayat-ayatNya yang kita permainkan. Astaghfirullah…Astaghfirullahal’adhiim…

Ada banyak jalan ditawarkan menuju kebahagiaan. Tetapi tiada yang menjamin khatimah-nya. Kecuali jika kita memilih memprioritaskan barakah. Bahwa di saat apapun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang sedang membadai rumah tangga. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

Sumber : Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim Oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s