Kuasa Keshalihan

Ada satu kaidah yang senantiasa ditekankan Umar bin Al Khattab bagi kemaslahatan sebuah ummat; kekuatan yang berpadu dengan keshalihan dan kelemahan yang menjadi ciri kebathilan. Begitulah seharusnya, karena syari’at ini tidak utopis untuk kemudian mencitakan ‘Negara Malaikat’. Sampai kapan juga, dalam tiap manusia dan masyarakat, potensi negatif akan tetap ada. Yang ditegaskan Umar adalah konsep realitasnya; potensi keshalihan itu menjadi kinesi besar kemajuan dengan percepatan tertentu, sedangkan sang kebathilan dimasukkan ke zona lembam dalam diam.

Da’wah kini ditantang untuk membuktikan ideologi dan metodologinya dalam amal nyata pengelolaan hajat hidup masyarakat. Dulu, kita boleh mencukupkan diri dengan tertanamnya keyakinan Islam sebagai solusi dan tersebarnya fikrah keshalihan. Kini, masyarakat bertanya, “Di manakah bukti keunggulan sistem Islam dalam mengatur urusan kami?”

Bagaimana keshalihan bisa menyatu dengan kekuasaan? Idealnya, tentu mutlak. Kekuasaan adalah milik da’wah, oleh da’wah, dan untuk da’wah. Tetapi Rasulullah mencontohkan pada kita bahwa berserikat adalah jalan yang setapak demi setapak kita upayakan, hingga da’wah itu men-shibghah perserikatan, dan perserikatan itu men-shibghah alam semesta dengan nilai keshalihan. Dari Sirah Nabawi, kita berkaca tentang prinsip-prinsipnya.

  1. Da’wah adalah da’wah

Ada satu pesan yang menjadi manifesto paling sederhana da’wah, “perbaiki dirimu, dan ajak yang selainmu!” dalam terjemah yang lebih luas di ranah pengelolaan publik, kalimat “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka!” itu tentu bermakna melibatkan semua pihak yang peduli pada perbaikan kondisi. Pun ketika untuk menuju kekuasaan, sebuah da’wah harus bekerjasama dengan pihak lain, itupun dalam konteks da’wah. Minimal dalam dua sisi. Pertama, menda’wahi pihak yang diajak bekerjasama hingga mereka ter-shibghah dengan nilai-nilai ilahiyah. Dan kedua,  bersama dengan rekan seperjuangan yang terda’wahi itu memperbesar peluang menangnya keshalihan di panggung kuasa pengelolaan publik.

Terra Incognita. Kesanalah da’wah menuju. Ke tempat di mana selama ini bicara keshalihan adalah tabu. Adalah Shafwan ibn ‘Umayyah yang musyrik, mulanya meminjamkan ratusan baju besi kepada Nabi dengan sistem sewa. Pasca perang, ketika dilihatnya akhlak sang Nabi dalam memenuhi perjanjian, ia menyatakan keislamannya, tentu disertai ketulusan untuk menjihadkan semua hartanya dalam da’wah. Dan kini, tanpa sewa.

  1. Mendahulukan tercegahnya kerusakan

Dar’ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih. Ini kaidah yang indah dalam menentukan suatu keputusan. “menolak kerusakan itu, didahulukan daripada teraihnya kebaikan-kebaikan.” Kaidah ini sesungguhnya tercermin dari keseluruhan teks piagam Madinah yang kita kutip sebagian kecilnya berikut ini:

“…Sesungguhnya orang Yahudi wajib mengeluarkan dana bersama kaum Muslimin selama mereka diperangi oleh musuh. Orang Yahudi Bani Auf merupakan satu bangsa bersama kaum Muslimin. Bagi Yahudiagama mereka, dan bagi kaum Muslimin agama mereka. Budak-budak dan jiwa mereka terlindungi, kecuali bagi orang yang berbuat dan melakukan tindak kejahatan…”

Rasulullah SAW memasuki Madinah sebagai seorang pendatang, tetapi telah memiliki pengikut yang banyak. Nilai tawar itulah yang kemudian beliau pakai untuk menyusun pakta kerjasama yang kuat antara beliau dengan sesama kelompok berpengaruh di Madinah. Mereka terikat oleh kepentingan yang sama untuk menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal bersama, yang tetap kondusif dan aman dari gangguan musuh. Substansi ini lebih bersifat mencegah kerusakan.

Sebenarnya, selain dalam “What” dan “How”, kaidah ini dipakai oleh jama’ah da’wah untuk merumuskan kerjasama mereka dengan siapapun. “Who” nya juga. Sesungguhnya dalam konteks Islam dan da’wah, mencegah kemungkaran dan kerusakan itu didahulukan daripada meraih kebaikan-kebaikan. Seperti apa pemimpin yang akan dipilih? Jika ada dua pilihan, dimana yang satu berkompeten dalam menebar kebaikan namun tak mampu bersikap terhadap kemungkaran, sementara satu pihak lagi adalah orang yang mampu mencegah kerusakan meski kemampuannya menebar kebaikan belum teruji, mana yang dipilih? Jawabannya sama, “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih.”

Pilihlah pencegah kemungkaran! Karena sesungguhnya, kemaslahatan sejati di sisi Allah hanya dapat diraih dalam kondisi kemungkaran dan kerusakan minimal. Di situlah barakah Allah dikaruniakan, bukan pada orang yang menebar pembangunan dan kebaikan-kebaikan namun tak mempedulikan kemungkaran. Barakah Allah turun, pada ketaqwaan : takut yang sangat pada Allah untuk mendurhakaiNya.

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raaf : 96)

  1. Ikatan kontrak yang kuat

Sulitnya sebuah jama’ah da’wah bekerjasama dengan selain mereka, kadang berlatar asumsi bahwa tidak ada kata ‘pengkhianatan’ dalam kamus pihak-pihak itu. Akan jadi lucu, jika kemudian pengkhianatan terjadi, hanya kita yang bisa berteriak, “Kami dikhianati!” lalu mereka bertanya, “Apanya? Ini tidak diatur dalam butir-butir kontrak meski kemudian menguntungkan kami dan merugikan kalian?”

Rasulullah memberikan teladan bahwa sebuah kontrak tak boleh memberi celah bagi pihak yang diajak bekerja sama untuk menelikung. Tugas kita, menutup semua celah itu, bukan dengan sekadar percaya pada komitmen awal. Bahkan kalau perlu, siapkan kekuatan pemaksa agar mereka selalu menaati kontraknya.

  1. Ketegasan dalam pengkhianatan

Lelaki tampan itu tampak pucat. Dari atas kudanya ia terus menggumamkan doa, “Ya Allah berikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan urusan dengan Bani Quraizhah…!” dan hari itu, lukanya yang terus mengalirkan darah dari nadi yang pecah dibebat kuat-kuat. Ia, Sa’d ibn Mu’adz ra, pemimpin Aus, datang sebagai hakim yang ditunjuk Rasulullah dan diridhai Yahudi Bani Quraizhah untuk menyelesaikan sengketa pengkhianatan mereka dalam Perang Khandaq. Sebenarnya, Rasulullah sendiri berhak untuk memutuskan vonisnya. Hanya saja ada makna lebih dalam di sana: penghormatan, meredam gejolak, dan memuaskan semua pihak.

“Sambutlah Sayyid kalian…!”, begitu Rasulullah berujar ketika melihatnya datang tertatih. Bani Quraizhah menerima Sa’d menjadi hakim, karena suku Aus adalah sekutu mereka di masa jahiliah. Para pemuka Aus pun berpesan pada Sa’d agar bertindak bijaksana, mengingat Rasulullah telah menyerahkan urusan ini kepadanya agar dia berbuat baik terhadap sekutu-sekutunya.

Tapi apa kata Sa’d sebagai vonis? “Telah tiba saatnya bagi Sa’d untuk tak lagi mempedulikan cercaan para pencela dalam memutuskan hukum karena Allah. Semua laki-laki di antara Bani Quraizhah harus dibunuh! Dan harta mereka disita!”

“Sungguh”, kata Rasulullah, “Engkau telah memberikan keputusan menurut hukum Allah…” Beberapa hari setelah itu, sang hakim terus terbaring sakit di tenda Rufaidah. Darah terus mengalir dari lukanya hingga seorang shahabiyah berkata, “Bagai sebuah selokan!” akhirnya ruhnya menemui Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Kedahsyatan kematiannya pun, sampai-sampai membuat Arsy berguncang. Kata sang Nabi, “Arsy berguncang ketika ruh Sa’d ibn Muadz diangkat ke langit!”

  1. Mendesain selalu keteladanan baru

Tantangan selalu muncul saat kita memasuki wilayah baru. Bahkan dalam hal yang sangat sederhana. Saat kita sedang membangun kebiasaan bangun malam untuk menghadap Allah dalam tahajjud, rasa-rasanya tantangan kita ada pada daya diri untuk bangun dan melangkah ke tempat wudhu. Tetapi begitu kebiasaan bangun itu tersistemkan dalam tubuh kita, tantangan baru muncul, mengapa shalat kita terasa kering? Dulu, ketika bangun terasa sulit, shalat kita rasa-rasanya lebih khusyu’ dari pada kini.

Demikian pula di wilayah baru pengelolaan publik. Kita harus semakin cerdas mendesain keteladanan baru. Dulu, demonstrasi memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi istimewa. Dulu, anggota dewan yang mengembalikan uang tidak jelas menjadi keteladanan yang sangat istimewa. Dulu anggota dewan yang menolak KunKer tanpa agenda nyata, itu istimewa. Dulu, partai yang memiliki layanan sosial adalah keteladanan istimewa. Dulu, partai yang menerjunkan satgasnya ke lokasi bencana adalah keteladanan istimewa. Kini? Nanti dulu. Masyarakat semakin menganggapnya sebagai hal yang biasa karena tak hanya partai da’wah yang bisa melakukannya. Tentu, kita syukuri hal itu sebagai suatu keberhasilan da’wah, bahwa kini – terlepas apa pun motifnya – ada lebih banyak kepedulian.

Selanjutnya kita upayakan bagaimana agar identitas da’wah tidak kabur karena kurangnya keteladanan. Nah, seperti Umar mencegah para panglimanya memiliki tanah agar mereka tak kehilangan daya ekspansi, jama’ah da’wah perlu terus membangun sistem yang mendukung terciptanya keteladanan baru yang tak usang tak lekang dari para kader da’wah yang mengelola kepentingan publik, yang menggiatkan penguatan struktur, maupun yang bergerilya di ranah sya’biyah.

Selamat berserikat. Seperti kata Dr. Surahman Hidayat, “Tanggungjawab ini kita bagi bersama, tapi kita tetap sebagai pionirnya!” inilah berserikat, untuk kuasa keshalihan.

Sumber : Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim Oleh Salim A. Fillah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s