Aktor Penting di Balik Tokoh Hasan Al Banna

Imam Hasan Al Banna dilahirkan dalam keluarga yang hidup dalam keadaan serba sederhana, dengan mengamalkan Islam di segenap sudut kehidupan mereka. Ayahnya adalah alumni Universitas Al Azhar dan mendalami Hadits dan ilmu Fiqh. Imam Hasan Al Banna menerima pendidikan agama dari ayahnya.

Hasan Al Banna berusia sembilan tahun ketika adiknya Abdurrahman Al Banna berusia tujuh tahun, keduanya mengaji Al Quran dan belajar menulis di sekolah. Hasan Al Banna mampu menghafal dua pertiga Al Quran, ketika abdurrahman menghafal sehingga surah At Taubah. Ayah mereka selalu menyambut dengan penuh kasih sayang ketika keduanya pulang dari sekolah Sang ayah yang mengajar kitab sirah (riwayat hidup) Rasulullah SAW, ilmu Fiqh dan nahwu. Beliau menyediakan jadwal pengajian di rumah. Mereka belajar ilmu Fiqh, nahwu, kitab Alfiyah, dan kitab Malhamatul Arab. Abdurrahman bercerita bahwa Hasan Al Banna merupakan sosok kakak teladan yang rajin sholat dan berpuasa. Ia bangun waktu sahur dan sholat, dan ia tidak lupa membangunkan adiknya untuk sholat shubuh berjamaah. Selepas sholat, Hasan muda membaca jadwal kegiatan harian. Pukul enam pagi adalah waktunya mengaji Al Quran; pukul tujuh adalah jadwal belajar tafsir Al Quran dan Hadits; pukul delapan waktu belajar Fiqh dan Usul Fiqh. Itulah agenda harian mereka. Selanjutnya mereka berangkat sekolah. Ada banyak buku di dalam perpustakaan sang ayah yang dicetak dengan huruf-huruf berwarna emas. Kadang kedua kakak beradik tersebut meneliti kitab Nisapur, kitab Qustalani, dan kitab Nail Al Authar. Mereka tak hanya diizinkan membaca kitab-kitab itu, tapi bahkan mendorong mereka untuk membaca.

“Aku mencoba mengikuti jejak langkahmu tetapi aku tidak mampu. Engkau seorang yang luar biasa. Walaupun perbedaan umur kita hanya dua tahun, tetapi Allah telah memberimu kapasitas yang luar biasa. Ayah selalu mengadakan majelis-majelis diskusi ilmiah. Kita kerap mengikuti dengan teliti kajian ilmiah antara beliau dengan para ulama yang lain. semua yang kita pahami terekam dalam ingatan. Segala masalah dan perkara yang sukar dipahami, kita tanyakan pada ayah ataupun kita rujuk kepada kitab-kitab tafsir dan As Sunnah.” Begitulah ingatan Abdurrahman Al Banna mengenai sang kakak.

Siapakah di balik proses ketokohan Hasan Al Banna? Sang Ayahlah adalah aktor utamanya.

Sumber : Cinta di Rumah Hasan Al Banna Oleh M Lili Nur Aulia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s