Tarbiyah di Rumah Hasan Al Banna (1)

Adanya visi yang benar dan kemampuan aplikasi sikap yang baik, adalah syarat utama dalam tarbiyah keluarga. Bila seseorang tidak memiliki visi dalam hidupnya, ia seperti seorang buta yang tak memiliki petunjuk. Atau, seperti musafir di tengah padang pasir tanpa memegang peta dan alat petunjuk apapun. Bila seseorang tidak mampu mengejawantahkan prilaku yang baik, maka visi yang dimilikinya hanya bermakna ilmu teoritik belaka atau filosofi yang jauh dari kenyataan lahir. Dan kedua kondisi itu sama tidak bermanfaatnya.

Ketika kita mempelajari prilaku Hasan Al Banna di dalam rumahnya, kita akan mendapatkan dia sebagai sosok yang mampu menjadi contoh dalam segalanya. Ia memiliki visi yang jelas dan mulia, sehingga itu juga yang menjadikannya secara sadar menjalani berbagai aktivitas hidupnya. Mari kita masuki rumah Imam Hasan Al Banna rahimahullah untuk melihat, bagaimana ia mendidik anak-anak dan istrinya.

Makan bersama, yang menjadi prioritas

Siapakah diantara para juru dakwah yang merasa tidak punya lagi waktu untuk sekedar makan bersama anak-anak di rumah? Imam Hasan Al Banna rahimahullah, mempunyai catatan kehidupan dakwah yang begitu memukau. Hasan Al Banna, dalam buku sejarah dakwahnya, dituliskan telah berhasil membentuk fondasi sebuah gerakan dakwah bernama Al Ikhwan Al Muslimun hanya setelah ia tinggal 6 bulan di Ismailiyah, salah satu distrik kota Kairo Mesir. Lalu dalam rentang waktu selanjutnya, selama 15 tahun, Al Banna terus melebarkan sayap dakwahnya dengan membentuk sayap Al Ikhwan d 20 negara.

Di kota Kairo sendiri, ia mendirikan fondasi pembentuan 2000 cabang Al Ikhwan. Tapi, ternyata beliau masih mampu menyempatkan waktu untuk makan bersama anak-anaknya di rumah. Susana makan bersama itulah di antara detik-detik penuh kenangan bagi anak-anaknya.

Tsana putri Al Banna bercerita: “Beliau sangat mengerti apa yang dikatakan oleh Rasulullah, Sesungguhnya badanmu mempunyai hak, keluargamu juga mempunyai hak….Ayah biasanya tidur hanya empat jam saja dalam satu hari. karena itu, salah satu dari sepuluh wasiat ayah adalah bahwa sebenarnya pekerjaan yang harus dilakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Ini sama dengan apa yang dirasakan para mujahid umumnya. Sedangkan sekarang, kami tahu bagaimana menyia-nyiakan waktu dan mencari alasan untuk membuang waktu. Engkau lihat ayah selalu berusaha untuk bersama-sama makan dengan keluarga, bahkan meskipun ketika ada tamu, ia tetap meminta mereka datang ke rumah agar ketika waktu makan pagi ayah bisa bersama kami.”

Sumber  Cinta di Rumah Hasan Al Banna oleh Muhammad Lili Nur Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s