Dia, Tentang Dirinya

Di lapis-lapis keberkahan; mengenal sosok yang seiman, pribadi yang seislam, dan sahabat yang seihsan adalah nikmat yang menetap di hati, bertumbuh di jiwa, serta berbuah semanis-manisnya. Maka betapa memuncak kesyahduan itu, jika yang kita akrabi adalah sosok paling sempurna dari semua pribadi.

“Aku rindu kepada ikhwan-ikhwanku,” demikian ujarnya pada suatu hari. “Kami ada di sini duhai kekasih hati,” sahut para rekannya yang selalu setia di sisi. “Tetapi kalian adalah sahabat-sahabatku,” ujarnya sembari tersenyum, para pendengarnya pun tersentak namun kagum. “Lalu siapakah ikhwan-ikhwanmu?” tanya mereka dengan nada cemburu. “Ikhwan-ikhwanku adalah mereka yang belum pernah melihatku, tak berjumpa denganku. Tetapi mereka mengimani apa yang kusabda, meyakini apa yang aku bawa.”

Sungguh, di antara mata air kebahagiaan hidup adalah mengenal orang yang paling mencintai kita; yang menyebut-nyebut kita hingga di nafas terakhirnya. “Ummati…ummati…” inilah Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam. Mari sejenak mengunjunginya, agar beliau memperkenalkan dirinya kepada kita.

Pada umumnya, kita akan meragukan sosok yang bercerita tentang pribadinya, sebab sudut pandangnya akan sesisi dan cenderung menonjolkan benar diri. Tapi tidak begitu jika Al-Amin orangnya, yang terpercaya dan tak pernah dusta. Tapi tidak begitu jika Al Mushthafa orangnya, yang terpilih di antara semua hamba sepanjang masa. Tapi tidak begitu jika Muhammad orangnya, kekasih Allah yang terpuji di langit dan di bumi.

Tak ada yang lebih jujur dan adil daripada dia, bahkan juga dalam perbincangan tentang dirinya.

Menyimak Rasulullah tentang dirinya adalah berkenalan dengan sosok paling berkah dari lisan yang paling berkah. Dan lapis-lapis keberkahan itu, kita akan mengarungi bersusun-susun rasa surga, dalam dosa moyangnya, kabar gembira saudaranya, syukur manusia atasnya, pujian dari Rabbnya, dan kerendahan hatinya.

Doa Empat Ribu Tahun

“Ya Rasulullah,” begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “ceritakanlah tentang dirimu.”

Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim ‘Alaihis Salam.”

Doa itu, doa yang berumur 4.000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi hanya dihuni Isma’il dan ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak cucunya. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahaya-Nya.

“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayat Mu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al Baqarah : 129)

“Kata adalah sepotong hati,” ujar Abul Hasan ‘Ali An-Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan tadharru’ dan khufyah; dengan berendah-rendah mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar-Rahman itu, doanya mencekam gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-keturunannya, tapi semesta; membacakan ayat-Nya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.

Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintai pun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan. Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugerahkanNya.

Dalam syukur pada dua orang yang disebut “Uswatun Hasanah” itu, kita teringat shalawat yang diajarkan Muhammad Shallallahu “Alaihi wa Sallam dengan rendah hati; mengenang Bapak para nabi yang atas doanyalah beliau diutus. Maka tiap kebaikan yang dipancarkan Muhammad hingga Hari Kiamat, Ibrahim memegang sahamnya.

Dan di lapis-lapis keberkahan, kita yang rindu pada Sang Nabi untuk disambut di telaganya, diberi minum dengan tangannya, dinaungi bersamanya, dan beroleh syafa’atnya; mari tak bosan membaca, “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa Aalii Muhammad; kama shallaita ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa Aalii Ibrahim.”

Kabar Gembira dan Sebuah Bata

Masih hening sukma-sukma dalam renungan atas keagungan doa Ibrahim ‘Alaihis salam, ketika Sang Nabi, mentari di hati para sahabatnya itu kembali bersabda, “Dan aku adalah kabar gembira yang dibawa oleh Isa ‘Alaihis Salam.”

“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat. Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (Q.S. Ash-Shaff : 6)

Ya Rasulullah, engkaulah imam bagi mereka dalam shalat yang ditunaikan di Masjidil Aqsha nan suci, beberapa saat jelang keberangkatanmu bermi’raj ke haribaan Ilahi. Engkaulah yang disambut Adam, Yahya serta ‘Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim di tiap lapis langit dengan doa yang mesra. Engkaulah penutup, bagi mata rantai terhubungnya bumi dengan langit.

Segala keutamaanmu adalah kesempurnaan. Dan kerendahan hatimu pada mereka menjadikan kemuliaan dirimu tak tergapai oleh seorang makhluk pun. Inilah kami menitikkan air mata, saat Imam Al Bukhari dan Imam Muslim membawakan riwayat berisi permisalan yang kaubuat tentang dirimu dengan para Nabi yang memancangkan tapak-tapak Tauhid sebelum engkau dibangkitkan.

“Perumpamaan antara aku dengan para nabi yang diutus sebelumku,” ungkap beliau, “adalah seperti orang yang membangun sebuah rumah lalu membaguskan dan memperindahnya. Hingga tersisa sebuah labinah, ceruk yang satu batu bata belum terpasang pada dinding samping rumah tersebut. maka orang-orang pun mengelilingi dan mengaguminya seraya berkata, “Duh, betapa baiknya jika batu bata terakhir dipasang pada tempatnya agar rumah ini sempurna.” Akulah batu bata terakhir itu. Akulah penutup para Nabi.”

Inilah kami, ummatmu yang berbahagia dengan kehadiranmu nan rendah hati. Yang menyebut keakuan hanya sebagai sesudut batu di rumah yang indah. Yang memandang diri cuma bak sebatang bata penggenap sempurnanya sebuah bangunan.

“Rabbku mengajariku adab,” lagi-lagi kau bertawadhu bahwa semua kemuliaanmu adalah karuniaNya, seperti tercantum dalam riwayat At Tirmidzi, “maka Dia membaguskan adab-adabku.” Dan adab da’wahmu adalah kerendahan hati. Sebab kebenaran tak dapat disampaikan oleh insan yang merasa tinggi. Sebab orang benar yang angkuh, akan merusak rasa hormat semesta pada kehakikian itu sendiri.

Inilah engkau yang menjadi jalan hidayah bagi semesta, rahmat dan cahaya yang menerangi gelap hati, Allah menuntunmu untuk merundukkan diri. Sebab bagi hati yang merunduk tak ada lagi kerendahan tuk jatuh. Sebab dalam hati yang merunduk, segala kepongahan akan takluk. Sebab pada hati yang merunduk, cinta manusia mengalir teruntuk. Sebab terhadap hati yang merunduk, semesta akan bertepuk.

Tapi segala ketundukan dan kekhusyukan hatimu hanyalah untuk mengundang cinta-Nya, bukan sorak-sorai manusia.

Maka izinkan kami belajar darimu wahai hati yang merunduk. Bahwa jika diri merasa besar, kami harus memeriksa hati. Mungkin ia sedang bengkak. Jika diri merasa suci, kami harus memeriksa jiwa. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika diri merasa tinggi, kami harus memeriksa batin. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Dan jika diri merasa wangi, kami harus memeriksa niat. Mungkin itu asap dari amal shalih yang hangus dibakar riya.

Di lapis-lapis keberkahan, besusun-susun rasa surga dimulai dari sesosok pribadi yang rendah hati. Shalawat dan salam bagimu duhai Nabi yang merundukkan diri; yang terpuji di langit dan bumi.

Sumber : Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A. Fillah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s