Halal, Akar Kebaikan (1)

Demi Allah, memastikan halalnya satu suapan ke mulutku, lebih aku sukai daripada bershadaqah seribu dinar. (Abdullah ibn Umar Radhiyallahu Anhu)

Adalah Nabi SAW, kakek yang sangat penyayang. Digendongnya sang cucu Umamah binti Abil ibn Rabi’ ketika menghadap Sang Pencipta Alam. Saat beliau berdiri gagah, Umamah nyaman di papah. Saat beliau ruku’ mengiblat, gadis cilik itu disanding lekat-lekat. Demikian pula pernah sujudnya kala menjadi imam jadi sangatlah lama, karena Husain naik ke punggungnya. “Husain menjadikanku kuda-kudaan ketika aku sujud tadi. Aku tak ingin memutus kesenangannya bermain. Maka kubiarkan dan kutunggu sampai dia puas hingga turun dengan sendirinya,” demikian ujar beliau seusai salam untuk meminta maaf kepada para jama’ah.

Namun, ada kalanya sikap tegas dan keras sang Nabi muncul disertai wajah beliau yang memerah.

Pada suatu hari, Al-Hasan ibn ‘Ali yang sedang merangkak-rangkak di lantai tiba-tiba dijunjung penuh cinta. “Khekhh…khekhh…” begitu sosok agung itu mencontohkan gerakan mulut untuk memuntahkan kunyahan pada sang cucu pertama. “Tidak tahukah kau, Bocah,” suaranya tegas dan berat, “boleh jadi kurma yang kaumasukkan ke mulutmu tadi adalah bagian dari kurma zakat. Dan tidak tahukah kau, bocah, bahwa keluarga kita dilarang memakan apa pun dari shadaqah?”

Aduhai, mungkin kita banyak terbalik sikap dibanding Rasulullah.

Kita sering justru menjadi sosok yang mengerikan bagi anak-anak kita ketika menjalankan shalat dan menunaikan ibadah. Semua gangguan mereka, kadang menarik sarung dan mukena, kadang pula memanjat punggung dan mengajak bercanda; hampir selalu kita sikapi dengan galak dan menakutkan. Saat mentaati Allah itu, bagi mereka kita justru lebih menyeramkan dari hantu; membelalak, mencubit, mendesak, dan menyingkirkan.

Kita telah mengenalkan ibadah sebagai sesuatu yang tidak nyaman.

Adapun soal halal-haram dari kudapan, makanan, kesukaan, dan permainan, kita cenderung berlonggar-longgar dan membiarkan. Seakan-akan tak memenuhi pinta mereka adalah aib besar. Apalagi jika si kecil sudah bersenjata ratapan di depan khalayak ramai. Seakan-akan, membiarkan anak menangis bersebab ini adalah pelanggaran dan dosa. Padahal sejatinya, ketidakhati-hatian dalam soal halal-haram inilah asal segala bencana bagi masa depan kita dan diri mereka. Mari menata ulang pementingan hal yang penting dalam hidup kita. Sebab dalam setitis rizqi di lapis-lapis keberkahan, halal adalah akar prasyarat dari semua kebaikan.

Asupan halal adalah penjamin mesra kita dengan Allah Azza wa Jalla.

Suatu hari, Sa’d ibn Abi Waqqash bersiaga menjagai Nabi SAW dengan sepenuh kewaspadaan. Dia gigih menahan lelah, kantuk, dan dingin malam. Sa’d, sang pemanah ulung yang dalam 100 bidikan tiada melesat satu pun itu tadinya mendengar gumam Sang Nabi, “Adakah lelaki shalih yang malam ini akan menjagai kami?” Bergegaslah dia sedia. Kisah tentang suara gemuruh di ujung Madinah, kegesitan Sa’d, dan lebih trengginasnya Nabi yang mendahului memeriksa dan justru menenangkan penjaganya, telah kita kenal.

Lalu malam itu, Sa’d menyiapkan air wudhu Rasulullah dan keperluan shalatnya. Begitu beliau bangkit hendak menunaikan shalat malam, Sa’d telah bersiap menuangkan bejana. Welas asih sang Nabi memandangnya lalu bersabda, “Mintalah sesuatu padaku, hai sa’d, aku akan memohonkannya kepada Allah untukmu.”

Maka Sa’d santun menjawab, “Mintakanlah pada Allah, ya Rasulullah, agar doaku mustajab!” Nabi tersenyum mendengar pinta yang sungguh cerdas itu. Lalu beliau bersabda, “Bantulah aku hai Sa’d, dengan memperbaiki makananmu.”

Apa hubungan antara perbaikan makanan dengan mustajabnya doa? Sungguh agung sekali Islam, yag kesucian menjadi salah satu asasnya. Suatu hari, di hadapa para sahabatnya, Nabi membacakan ayat-ayat agung yang menyebutkan pilar kehidupan manusia.

Hai rasul-rasul, makanlah dari yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Q.S. Al-Mu’minuun : 51)

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian. (Q.S. Al-Baqarah : 168)

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik dari rizqi yang Kami anugerahkan kepada kalian. (Q.S. Al-Baqarah : 172)

Inilah perintah bagi para rasul dan semua insan, terlebih lagi bagi yang beriman, untuk memakan rizqi Allah yang halal lagi baik. Setelah melihat bahwa para sahabat telah mengeja pemahaman atas ayat-ayat itu, beliau kemudian bercerita tentang seorang musafir. Dia berada di tengah padang pasir, dalam keadaan berpuasa, dengan bekal yang terampas, dan tersesat jalan; lalu dia mengangkat tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rass! Ya Rabb!”

“Namun, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan,” ujar Nabi memperingatkan, “Sedangkan yang dimakannya haram, yang dikenakannyapun haram.” Padahal orang yang disebut dalam kisah memiliki empat keutamaan yang menjamin doanya diijabah : safar, berpuasa, dizhalimi, mengangkat tangannya kepada Ar-Rahman. Namun, perkara haram yang melekati tubuh, telah menghalangi sampainya doa itu ke sisi Allah Azza wa Jalla.

“Sesungguhnya Allah itu Thayyib,” demikian Rasulullah bersabda mengawali cerita ini sebagaimana diimlakkan Imam Muslim, “Dia tidak menerima kecuali yang thayyib.” Allah Yang Maha Suci, Baik, dan Indah, tidaklah patut menerima kecuali amal yang suci, baik, dan indah, dari hamba yang juga berupaya menjaga kesucian, kebaikan, dan keindahan dirinya. Pertama-tama adalah asoal pangan, apa yang diasup tuk jadi tenaga ke dalam tubuhnya.

Dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa yang terbentang di Surah Al-Baqarah antara ayat 183 hingga 187, kita akan menemukan ayat 186 yang bicara tentang doa. Sebab puasa sebagai ibadah, erat kaitannya dengan pembersihan lahiriah dan penjagaan perut dari mengasup – bukan cuma yang syubhat, apalagi haram – bahkan yang halal sejak terbit fajar hingga terbenam mentari. Maka puasa adalah madrasah taqwa dan tarbiyah jiwa. Jika yang halal saja mampu kita hindari demi menggapai ridha-Nya, di luar puasa nanti hal yang syubhat dan haram seharusnya dapat kita jauhi.

Bersihnya saluran pencernaan dari hal-hal yang haram, menjadi penghantar sampainya rintih doa-doa kita kepada Allah Al ‘Aliy yang bersemayam di atas ‘Arsy. Setelah itu, terserah pada-Nya dalam bentuk apa Dia akan menjawab doa-doa kita. Boleh jadi sesuai dengan yang kita minta, atau dihindarkan dari petaka, atau diberi yang jauh lebih baik darinya, atau ditunda sampai tiba saat terbaik menurut-Nya, atau disimpan sebagai kejutan karunia kelak di surga.

Sumber : Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s