Halal, Akar Kebaikan (2)

Asupan halal adalah pelembut hati yang paling mula-mula.

Seseorang datang kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal untuk mengadukan kekerasan hatinya. “Lembutkanlah hati kalian,” ujar Imam Ahmad Rahimahullah, “dengan hanya mengasup makanan yang halal.”

“Sebab dengan makanan yang halal itulah,” demikian ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Ath-Thibbun Nabawi, “zat-zat yang masuk ke tubuh menjadi ramah kepada fitrah, ia turut mensucikan darah, lalu hati yang menjadi pusat peredarannya terbasuh sudah. Qalbu itu, yang juga menjadi kedudukan nuraninya akan senantiasa mendapat gizi dari unsur-unsur yang sehat. Sebab, tiap butir dalam makanan yang halal lagi thayyib, sesungguhnya senantiasa berdzikir pada Allah.

“Hati yang semacam itu akan mudah mengingat Allah,” lanjut beliau, “sebab padanya tumbuh khasyah, rasa takut pada-Nya. Ia terus merunduk, mudah diingatkan jika lalai, mudah diluruskan jika bengkok, mudah dibetulkan jika keliru. Ia merasai pengawasan Allah, melakukan muhasabah, dan menguatkan mujahadah. Ia juga rendah hati pada sesama, melihat dirinya sebagai yang harus terus belajar lagi membenahi diri. Inilah hati yang lembut, sebab tubuhnya hanya diberi asupan yang diridhai Allah.”

Asupan halal adalah penguat ketaatan.

Ini cerita kunjungan Imam Asy-Syafi’i ke Baghdad untuk yang kedua kali. Malam itu, kala beliau menginap di rumah Imam Ahmad, makan malam yang disajikan amatlah bersahaja. Tentu sang tuan rumah telah mengupayakan yang terbaik. Namun, memang demikianlah keadaan keluarga sang penulis kitab Musnad yang amat zuhud dan wara’ itu.

Sungguh menakjubkan karena setelah seluruh keluarga Imam Ahmad selesai makan, Sang Nashirus Sunnah menghimpun semua wadah yang ada di hadapannya. Dengan teliti, beliau bersihkan semua wadah itu dari semua remah makanannya. Lalu kesemua sisa hidangan itu dia satukan di wadahnya. Betapa indahnya, beliau melanjutkan makan dengan lahapnya. Hingga habis tak bersisa.

Sebenarnya ini hanya satu dari tiga perilaku aneh tapi ternyata penuh hikmah dari diri Imam Asy-Syafi’i malam itu, yang dikisahkan dalam sebuah riwayat teramat panjang. Tapi sungguh utama saat ini menyimak jawaban beliau ketika salah seorang putra Imam Ahmad menanyakan keganjilan itu pada ayahnya. “Tamu kita ini rakus tak terperi,” ujar anak itu, “lihatlah dia makan banyak sekali.”

Imam Ahmad tersenyum. “Tanyakan sendiri padanya, Nak, mengapa demikian,” ujar beliau lembut dan bijak.

“Nak,” kata Imam Asy-Syafi’i ketika akhirnya si bocah menyoal perilakunya, “sesungguhnya aku yakin bahwa hidangan di rumah keluarga Ahmad ibn Hanbal adalah makanan yang berasal dari salah satu sumber tersuci di muka bumi ini. Kehalalannya terjaminkan. Maka demi Allah, aku berharap berkah dari menikmati jamuan di rumah kalian. Berkah itu sangat berharga, ia menjadikan kita mampu mentaati Allah di setiap keadaan. Maka tidak akan kubiarkan satu remah pun tercecer dan sia-sia. Hingga aku santap semua sajian tanpa sisa.”

Hidangan yang halal adalah pengokoh ketaatan bagi segenap anggota badan. Seluruh bagian tubuh yang tumbuh dari zat-zat yang bersih, baik, dan suci akan ringan memenuhi panggilan pengabdian. Lembar-lembar mushhaf jadi tampak indah dan tak membosankan. Adzan jadi terasa merdu dan terindu. Lapar puasa jadi terasa syahdu dan lezat. Mengeluarkan harta jadi terasa ringan dan nikmat. Bahkan jihad serta syahid terasa agung dan sama sekali tak menjerikan hati.

Sebaliknya, anggota tubuh yang tumbuh dari barang haram, mudah bergetar jika berdekat dengan dengung kemaksiatan. Mata yang dialiri gizi tak halal, tertagih menikmati pandangan yang terlarang. Juga telinga yang tersusun atas zat-zat yang tak suci, lebih suka mendengarkan dusta, gunjing, adu domba, dan ketidakbaikan. Lidah yang tumbuh dari rezeki terdosa, lebih ringan memfitnah, mencela, berghibah, dan berpalsu kata. Tangan jadi lebih tega menganiaya dan mengambil hak sesama. Dan kaki pun jadi berat dibawa ke mesjid dan majelis ilmu. Bahkan, ia sulit dikendalikan dari langkahnya ke tempat kemaksiatan. Semoga Allah menjaga kita semua dari segala yang demikian.

Asupan halal adalah hak surga atas diri kita.

Saya terkenang sewaktu dahulu mengaji Fikih Puasa menurut Madzhab Syafi’i, tertakjub hati membaca bahwa salah satu pembatal puasa adalah “muntah dengan sengaja”. Saya bergumam tanya, “Alangkah sia-sia dan kurang pekerjaan dia yang muntah dengan sengaja! Mana ada?” menginjak baligh, barulah saya fahami bahwa kita hidup di zaman yang kepedulian terhadap soal halal dan haram begitu rendahnya. Ia menjadikan muntah dengan sengaja sebagai perkara aneh.

Padahal pernah ada suatu masa, saat orang begitu takut sebab mendengar sabda Nabi-Nya, “Daging yang tumbuh dari makanan haram, tiada yang pantas baginya, kecuali api neraka!” demikian sebagaimana Imam At-Tirmidzi meriwayatkan. Maka di zaman itu, memeriksa kembali apa yang terlanjur ditelan, lalu memuntahkannya jika terbukti – atau teragukan – mengandung keharaman dalam zat maupun cara perolehan, adalah perbuatan yang umum dan wajar dilakukan.

Lihatlah Abu Bakar Ash-Shidiq yang suatu hari pulang saat sang istri menyediakan roti beserta kuah daging di meja makan. Lapar dan percaya telah melalaikannya dari bertanya asal-usul hidangan di meja sebagaimana kebiasaannya. Maka dinikmatinya segera. Sang istri menegur dan mengatakan bahwa yang membawakan hidangan itu adalah tetangga. Telisik pada pembantu sang jiran menjadikannya tahu bahwa seorang tukang ramal-lah asal mula hadiah hidangan. Sigap beliau susupkan tiga jari ke pangkal lidah, dan dimuntahkanlah semua yang termampu.

“Andaikan makanan itu tidak bisa keluar, kecuali ruhku juga harus keluar,” demikian Abu Bakar berkata setelahnya sebagaimana dibawakan riwayatnya oleh Imam Al-Bukhari, “aku akan tetap mengeluarkannya. Ya Allah, aku berlepas diri dari setiap yang masuk ke urat dan yang berada di lambung.”

Sebagian kalangan menilai hal semacam ini sebagai sikap berlebihan dan menyulitkan. Bukankah jika kita tak tahu dan tak menyengaja, sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana? Namun, Imam Asy-Syafi’i mencatat hal penting, bahwa andaipun dosanya diampuni, dampak buruk dari bercampurnya barang haram kepada anggota tubuh akan tetap terasa memberi pengaruh.

“Wahai Ali,” demikian Rasulullah memberi wasiat pada menantunya sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, “orang yang mengasup makanan halal, agamanya akan bersih, hatinya menjadi lembut, dan doanya tidak ada penghalang. Barang siapa yang mengasup makanan syubhat, agamanya menjadi samar-samar dan hatinya menjadi kelam. Dan barang siapa yang mengasup makanan haram, maka hatinya akan mati, agamanya menjadi goyah, keyakinannya melemah, dan ibadahnya semakin lembut, dan doanya tidak ada penghalang. Barang siapa yang mengasup makanan syubhat, agamanya menjadi samar-samar dan hatinya menjadi kelam. Dan barang siapa yang mengasup makanan haram, maka hatinya akan mati, agamanya menjadi goyah, keyakinannya melemah, dan ibadahnya semakin berkurang.”

Betapa indahnya sebuah pagi di lapis-lapis keberkahan. Ketika seorang suami pamit berangkat bekerja kepada istri dan anak-anaknya. Tampak dia mengecup dahi sang bidadari rumah tangga, lalu sang istri menggamit tangannya untuk dicium dengan ta’zhim pada hidungnya. Masing-masingnya menggumamkan doa, menitipkan pasangannya agar Allah senantiasa menjaga.

“Sayang,” kata istri lirih dan pelan, “berangkatlah dengan asma Allah. Bekerjalah dengan niat karena Allah. Bertawakallah atas setiap hasilnya juga kepada Allah. Janganlah pulang, kecuali hanya membawa yang halal dan thayyib untuk kami. Demi Allah, kami semua lebih bersabar untuk menahan lapar, daripada harus menanggung siksa di dalam panasnya An-Naar. Selamat berjuang, cintaku, doa kami selalu mengiringimu.”

Betapa indahnya hidup bersama Allah. Dengannya tumbuh keinsyafan, bahwa kehalalan adalah akar yang memasok gizi bagi semua lapis-lapis keberkahan.

Sumber : Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s