Apa yang Sudah Kau Lakukan Untuknya?

Pagi ini, aku dikejutkan dengan sms dari seorang teman nun jauh di sana. Sms itu bertuliskan “Seseorang sering mengeluhkan saudaranya pasif, tidak produktif, tidak bersemangat, susah diajak bergerak. Kemudian, ia terperangah ketika ditanya: ‘Apa yang sudah kau lakukan untuknya?’.

Ukhwah itu inisiatif bukan menunggu, memberi bukan meminta, mendorong bukan terus-terusan meminta disemangati. Yang mengucap salam lebih dulu mendapat 99 sedang yang menjawabnya hanya mendapat satu. Saudariku, ayo berfastabiqul khoirot.”

Subhanallah, sejenak hatiku tersentak. Saudariku yang satu itu memang jarang mengirim taushiah, tapi, sekalinya ia mengirimnya untukku, selalu tepat sasaran, seakan ia tahu isi hatiku. Saudariku yang satu itu, yang kata-katanya selalu kunanti setiap waktu, yang nasihatnya selalu menjadi inspirasi bagiku, yang khayalan tak masuk akalnya menjadi inovasi terindah dalam ukhwah ini. (Hei, bagaimana kabarmu, kawan?)

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN UNTUKNYA?”, sebuah pertanyaan besar, yang ku tak bisa menjawabnya. Pernahkah kita merasakan jenuh sesaat, futur, atau apa lah itu namanya. Namun, tatkala ada seorang saudara yang mendekati kita, mengajak kita lagi, menasehati kita, memberi sesuatu untuk kita apapun itu bentuknya, berkorban untuk kita, kemudian… semangat itu muncul kembali. Percayakah kau, bahwa orang-orang yang futur itu, orang-orang yang ‘pernah’ merasakan indahnya berada di jalan ini, orang-orang yang menyatakan dirinya barisan sakit hati, orang-orang yang saat ini tengah mencicipi dunia barunya… mereka pasti rindu.. rindu pada ukhwah ini, ukhwah yang mungkin tak mereka dapatkan di tempat lain. Mereka rindu akan ajakan kita, nasihat kita, meski terkadang mereka mengelak, membantah, atau bahkan memusuhi kita.

Maka, izinkan ku kecewa karena Allah, jika ada salah satu saudaraku (atau mungkin diriku sendiri) yang melakukan khilaf (mungkin ia sedang futur, mungkin ia sedang butuh nasihat, mungkin ia sedang banyak masalah besar yang kita tak tahu -tak tahu atau tak mau tahu?- hingga akhirnya ia menjauh dari jalan ini), lalu ia harus mendapatkan ‘perlakuan’ berbeda-yang bagiku- sungguh menyakitkan dan akan membuatnya bertambah jauh dari dakwah ini. Bukankah justru kita harus merangkulnya, atau bahkan memeluknya, membuatnya kembali merasa nyaman bersama kita, bersama dakwah ini. Bukan memarahinya, memberinya iqob, atau menjauhinya. Tidak, bukan itu…

Demi Allah, rangkullah ia….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s