Pencerah Tempat dan Zaman

Kenalkan matahari pada mereka yang buta

Dengan hangatnya, bukan terangnya

Amir ibn Syurahbil Asy-Sya’bi adalah Imam para tabi’in di Kufah pada masanya. “Kedudukannya dalam ilmu,” demikian menurut Imam Adz-Dzahabi, “hanya dicapai oleh tiga orang lain yang sezaman dengannya. Mereka adalah Sa’id ibn Al-Musayyab di Madinah, Hasan Al-Bashri di Bashrah, dan Makhul di Syam.”

Masa kecil Imam Asy-Sya’bi beliau habiskan di Madinah. Di antara nikmat yang Allah limpahkan padanya adalah bahwa beliau sempat berjumpa dan menimba ilmu dari sekitar lima ratus sahabat Rasulullah SAW. Beliau meriwayatkan hadits dan belajar fiqh dari Ali ibn Abi Thalib, Sa’d ibn Abi Waqqash, Zaid ibn Tsabit, Abu Sa’id Al-Khudzri, Ubadah ibn Ash-Shamit, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah, dan para alim sahabat lainnya.

Majelis ilmu Imam Asy-Sya’bi di Masjid Kufah berlangsung setiap hari sepanjang hidupnya tanpa seorang pun merasa bosan akan apa yang disampaikannya. Bahkan tentang hal yang tak disukainya, yakni sya’ir, dikatakan bahwa seandainya beliau membacakan bait-bait hafalannya tanpa henti selama sebulan, takkan ada satu larik pun yang terulang.

Ilmunya seluas lautan, dan tawadhunya menjadikan kemuliaannya diangkat Allah ke langit zaman.

Suatu hari seseorang menanyakan soalan yang membuat beliau terdiam beberapa waktu. “Jawablah wahai orang yang alim lagi faqih! Ujar sang penanya tak sabar. “Aduhai,” sahut Asy-Sya’bi, “orang faqih adalah mereka yang menjauhi apa-apa yang diharamkan Allah. Adapun orang alim adalah mereka yang tunduk takut kepada Allah. Di manakah kami dari kedudukan semacam itu? Mohon jangan sifati kami dengan apa-apa yang tiada pada diri.”

Yang unik dan khas, Imam Asy-Sya’bi pandai bercanda untuk menjawab soalan yang mengada-ada, tak berfaedah, ataupun perkara yang nash-nash telah mendiamkannya demi keleluasaan amal dan agar ummat tak merasai kesempitan. Jawaban lucunya telak, membungkam, tanpa menyinggung perasaan.

Pada suatu ketika, seseorang bertanya kepada Imam Asy-Sya’bi yang sedang berjalan bersama istrinya sembari bercengkerama, “Siapakah nama istri Iblis?”

“Wah,” sahut beliau sembari tersenyum, “kami tidak diundang untuk hadir ke walimahannya.”

Di saat lain, seseorang bertanya kepada beliau. “Wahai Imam,” ujarnya. “jikalau aku mandi di sebuah sungai, maka ke manakah aku harus menghadap? Apakah ke arah kiblat, membelakanginya, atau menghindar dari arah keduanya? Dan bagaimana pula jika suatu kali aku tak tahu di mana arah kiblat?”

Imam Asy-Sya’bi tersenyum. “Menghadapkan ke arah tempat pakaianmu kauletakkan,” ujarnya lembut, “agar jangan sampai ia terhanyut atau diambil orang.”

Imam Asy-Sya’bi, semoga Allah menyayanginya, telah mencuatkan teladan kepada para pemikul pengetahuan sejati, bahwa ummat perlu diarahkan pada ilmu yang semata bermanfaat. Dengan candanya, beliau telah memalingkan para pendahaga kefahaman dari membahas apa yang tak teramalkan dan dari mengada-adakan sesuatu yang seakan baik, padahal tiada padanya kekhususan tuntunan.

Sungguh, beliau amat menghayati pengarahan gurunya, Abdullah ibn Mas’ud, yang telah mentaujihkan, “Bercukupringan dengan Sunnah, lebih baik daripada bersusah-lelah dengan bid’ah.”

“Sesungguhnya Allah telah memfardhukan berbagai kewajiban,” demikian sabda Rasulullah yang dibawakan Abu Tsa’labah, “maka janganlah kalian sia-siakan. Allah pun telah menggariskan hudud, maka janganlah kalian langgar. Allah juga telah mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian dekati. Dan Allah telah diam dari beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian dan bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencari-carinya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ad-Daruquthni, Imam Ath-Thabrani, dan Imam Ibn Baththah. Imam An-Nawawi mencantumkannya dalam Al-Arba’in, suatu tanda bahwa fahaman di dalam hadits ini adalah bagian dari pokok-pokok beragama. Demikianlah kesepakatan di kalangan para pensyarahnya.

Serupa makna dengan itu adalah sabda beliau yang dicatat Imam Al-Bazzar, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim, “Apa saja yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya adalah halal. Apa saja yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya adalah haram. Apa saja yang Allah diamkan adalah dimaafkan, maka terimalah kemaafan dari Allah, dan sesungguhnya Allah tiadakan lupa.” Lalu beliau membaca Surah Maryam ayat 64, “Dan tiadalah Rabbmu lupa.”

Di antara lapis-lapis keberkahan yang menaungi kaum Muslimin bersebab kehadiran para imam yang alim lagi faqih adalah bahwa ummat terbebaskan dari beban-beban yang timbul akibat ketidaktahuan. Mereka terlepaskan dari kesempitan-kesempitan yang diakibatkan oleh kurangnya ilmu. Mereka dimerdekakan dari belenggu-belenggu kerumitan gara-gara dangkalnya pemahaman.

Ketika sesuatu dianggap haram, padahal sesungguhnya tidaklah demikian menurut Allah dan RasulNya, maka ahli ilmu nan rabbani bangkit untuk meluruskannya. Demikian pula ketika sesuatu menjadi hal yang seakan tak disuka, padahal ianya adalah amalan yang ditunaikan oleh manusia paling mulia, Rasulullah SAW.

Inilah teladan dari sepupu dan menantu Nabi SAW, Amirul Mukminin Abul Hasan, Karramallahu Wajhah.

Adalah Ali ibn Abi Thalib minum sembari tetap berdiri. Kemudian orang-orang memandang beliau dengan pandangan seakan membenci perbuatannya. Maka beliau berkata, “Apakah kalian menatapku dengan rasa tak suka di kala aku minum sambil berdiri? Demi Allah, harus kusampaikan bahwa aku melihat Nabi juga minum sambil berdiri. Dan apabila aku minum sambil berdiri. Dan apabila aku minum sambil duduk, itu pun karena sungguh aku juga telah elihat beliau minum sambil duduk.” Hadist yang menurut para penelaah berderajat hasan ini, direkam oleh Imam Ahmad dan Ath-Thahawi.

Dalam riwayat lain yang shahih, yang juga dibawakan oleh Imam Ahmad, bahwasanya Ali ibn Abi Thalib pernah berwudhu lalu minum air sisa wudhunya dengan tetap berdiri, kemudian beliau berkata, “Telah sampai kepadaku bahwasanya di antara kalian ada yang membenci minum sambil berdiri. Sesungguhnya aku berwudhu sebelum berhadats dan aku melihat Rasulullah melakukan seperti ini.”

Pada zaman ketika para manusia mulia berebut mengamalkan apa yang terbaik, justru menjadi penting kehadiran seorang faqih sejati yang akan menunjukkan pada ummat mana yang utama serta apa-apa yang meski kurang utama, tapi tetaplah sebuah kebajikan yang tak boleh dicela dan tetap berpahala.

Di mimbar Masjid Nabawi yang terataknya berundak lima, dulu Rasulullah berdiri di tingkat teratas setiap kali beliau berkhutbah. Ketika sang Nabi wafat, Abu Bakar dengan adabnya yang tinggi tak berani berdiri di tempat kekasihnya itu dahulu bertegak. Beliau turun ke undakan keempat. Demikian pula ketika Ash-Shiddiq wafat, Umar ibn Al-Khattab merasa tak pantas setingkat dengan Abu Bakar. Maka Al-Faruq turun satu teratak lagi, beliau berkhutbah di undakan ketiga.

Mari bayangkan apa yang akan terjadi jika semua pengganti merasa tak patut berdiri sederajat dengan pendahulunya? Niscaya kian ke zaman kita, Khathib di Masjid Nabawi harus menggali berdepa-depa ke bawah demi menyesuaikan dirinya.

Maka inilah Sayyidina Utsman ibn Affan begitu menerima bai’at kaum Muslimin untuk menjadi pengganti Khalifah Umar sesudah kesyahidan Al-Faruq di mihrab, beliau menggenggam tongkatnya dan menaiki mimbar. Ketika sampai di undakan kedua, beliau berhenti sejenak kemudian bergumam dengan suara lirihnya yang dapat didengar sebagian hadirin. “Sungguh perkara ini akan berkepanjangan,” ujarnya. Lalu dengan memantapkan hati Sang Dzun Nurain mendaki mimbar hingga ke puncak tertinggi. Dengan gemetar dia berdiri di tempat yang dahulu Rasulullah bertegak di sana. Lalu beliau pun berkhutbah.

Pada tahun ke-29 hijriah, Sayyidina Utsman berangkat melaksanakan haji bersama orang banyak. Ketika didirikan kemah untuk beliau di Mina, adalah beliau menyempurnakan raka’at shalatnya, yakni tidak menqasharnya. Beberapa sahabat utama seperti Ali ibn Abi Thalib, Abdurrahman ibn Auf, dan Abdullah ibn Mas’ud mengajukan keberatan dan ketaksetujuannya kepada beliau.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” seru Ibn Mas’ud, “aku dulu shalat bersama Rasulullah dan beliau mengqashar. Lalu aku shalat bersama Abu Bakr dan beliau mengqashar. Kemudian aku shalat bersama Umar dan beliau mengqashar. Hari ini aku shalat bersama Utsman dan dia tidak mengqashar.”

Bagianku dari yang empat raka’at ini,” demikian  Sayyidina Utsman menjawab, “adalah dua rakat yang maqbul.”

“Bagaimana bisa demikain?” cecar Abdurrahman ibn Auf.

Sumber : Lapis – Lapis Keberkahan oleh Salim A. Fillah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s