Pengikat Kebajikan

Ar-Rahman. Dia mengajarkan Al-Quran. Dia mencipta manusia. dia ajari pandai menyampaikan. (Q.S. Ar-Rahman : 1-4)

Ar-Rahman. Nama Allah yang indah ini menggambarkan keluasan kasih yang tiada pilih, kelapangan sayang yang tiada berbilang, kemerataan cinta yang tiada tara, berbilang kebaikan yang tak berhingga, dan berlimpah karunia yang takkan sanggup manusia menghitungnya.

Surah yang mulia ini memang memiliki kekhasan. Nantinya ia akan mengulang-ulang tanya, “Maka terhadap nikmat Rabbmu berdua yang manakah; kamu sekalian mendustakan?”

Nikmat terbesar yang Allah sebut pertama-tama sesudah namaNya yang mulia adalah mengajarkan Al-Quran. “Yakni,” demikian Imam Al-Fakhrur Razi dalam tafsirnya. “mengajarkan huruf serta bunyinya, hasanya.” Dengan itulah Al-Quran mudah difahami oleh hambaNya. “Inilah rahmatNya yang terbesar,” ujar Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “sebab Al-Quran mengandung segala kebajikan dan mencegah semua kejelekan.”

Setelah itu, Allah sampaikan bahwa Dia mencipta manusia. “Sungguh manusia adalah makhluq Allah paling sempurna dan tinggi derajatnya,” demikian Dr. Nashir ibn Sulaiman Al-Umar dalam himpunan tulisan Liyadabbaru Ayatih, “tetapi Al-Quran adalah Kalamullah, firman-Nya yang agung. Maka mengajarkan Al-Quran adalah karunia yang didahulukan daripada mencipta manusia.”

Kemudian dinyatakan bahwa karunia terdahsyat setelah manusia tercipta adalah Dia ajari manusia itu al-bayaan. “Al-Bayaan,” sebagaimana dikatakan Ibn Abbas, “adalah kemampuan menerima dan menyampaikan makna dengan bahasa, baik melalui lisan maupun tulisan.” Kemampuan ini adalah penyempurna bagi rapi dan jelitanya penciptaan manusia. kemampuan ini adalah pembeda manusia dari makhluq penghuni bumi lainnya. atas kemampuan hebat ini pula, Adam, moyang semua insan mampu menyebutkan segala nama. Hingga dengan sebab itu, malaikat diperintahkan sujud kepadanya.

Maka penciptaan manusia dalah karunia yang diapit oleh dua pengajaran Ilhiah. Ialah pengajaran Al-Quran dan pengajaran al-bayaan. Maka, sungguh, kebaikan manusia diikat oleh pemahamannya akan kedua pengajaran itu. Kadar pengertian dan pelaksanaannya terhadap kedua pengajaran yang mengapit penciptaannya ini akan menentukan kemuliaannya di akhirat dan di dunia.

Inilah ilmu, dasar bagi segala ucap dan perbuatan. Inilah ilmu, penuntun hidup hingga kematian. Inilah ilmu, yang dengannya kebaikan diraih dan keburukan dienyahkan. Inilah ilmu, yang Allah meminta kita beribadah pada-Nya hanya berdasar ia.

Allah tidak memerintahkan, “Yakinilah bahwa tiada Ilah selain Allah”, Allah tidak menitahkan, “Percayai saja bahwa tiada Ilah selain Allah”. Dia yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui mengamanatkan, “Maka ilmuilah…”

“Sesungguhnya Allah tidak ridha,” demikian Syaikh Mutawalli Asy-Sya’rawi menulis, “jika diibadahi dengan kebodohan. Maka Dia mewajibkan ilmu atas kita; dalam mengenal-Nya, menyembah-Nya, mentaati-Nya, dan melaksanakan aturan-aturan-Nya di segenap kehidupan kita.”

Tak bisa tidak bagi tiap yang beriman untuk mengikat keyakinannya dengan ilmu. Sebab sebuah rasa percaya, bahkan pun jika disandarkan pada mu’jizat yang membelalakkan mata, tanpa ilmu akan mudah runtuh di perjalanannya. Sebab sebuah iktikad, betapa pun bersama seorang yang terbimbing langit, akan mudah goyah jika tak didasari kokohnya pengetahuan.

Lihatlah sejenak pada kaum yang menyejarah itu; Bani Israil. Mereka menyaksikan dengan mata kepala, ketika Musa mengalahkan para tukang sihir, tongkatnya menjadi ular, dan tangannya memancar gemerlapan. Mereka mengalami dengan sepenuh kesadaran di kala lautan terbelah, lalu berjalan dengan kaki kering di antara gunung air, dan Fir’aun ditenggelamkan. Mereka juga menikmati dengan penuh kelezatan manna dan salwa yang jadi hidangan tanpa usaha, pula tanpa kepayahan. Tetapi melihat patung sapi buatan Samiri yang yang terbuat dari emas dan bisa berbunyi, serentak meerka kufur kembali. Subhanallah.

Betapa berharga ilmu bagi iman. Ialah asasnya. Ialah penopangnya. Ialah penaungnya. Dan ialah pengikat bagi semua kebaikannya.

Berkah seumpama manisan yang dibuat dari buah yang dihasilkan pohon iman. Ia adalah saripati yang legit, harum, dan lembut dari tanaman yang berakar, tumbuh, dan mekar di hati seorang mukmin. Maka sebagaimana iman, berkah sangat berhajat pada ilmu.

Jika berkah adalah makanan, maka ilmu adalah gizi yang menentukan manfaatnya bagi badan. Jika berkah adalah kendaraan, maka ilmu adalah pemandu yang menjamin safarnya sampai ke tujuan. Jika berkah adalah buruan yang sukar ditangkap dan amat pandai meloloskan diri, maka ilmulah pengikatnya yang paling dapat dipegangi.

“Terbagi hamba-hamba Allah menjadi empat golongan,” demikian sabda Sang Nabi yang dibawakan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi. “Yang pertama,” lanjut beliau, “adalah hamba yang dilimpahi karunia ilmu dan anugerah harta. Lalu dia bertaqwa pada Allah dengan ilmunya dan memperbuat hartanya di jalan kebajikan hingga manfaat tertebar luas. Dialah sebaik-baik hamba. Adapun yang kedua, adalah hamba yang dilimpahi karunia ilmu tapi tak dihuluri anugerah harta. Lalu dia bertaqwa pada Allah dengan ilmunya dan berbuat sejauh kemampuannya sembari merintihkan doa, “Ya Allah, jika Kaulimpahi aku anugerah harta seperti saudaraku si hamba pertama, maka aku akan memperbuatnya di jalan kebajikan sebagaimana dia.””

“Kedua hamba ini,” demikian Rasulullah menyimpul kabar gembira, “pahalanya sama.”

“Sedangkan yang ketiga,” sambung Al-Musthafa, “adalah hamba yang dilimpahi anugerah harta, tapi tiada karunia ilmu baginya. Maka dia tak bertaqwa, dan mempergunakan hartanya di jalan sia-sia serta perbuatan dosa. Jadilah dia seburuk-buruk hamba. Terakhir adalah yang keempat, yakni hamba yang tiada baginya limpahan karunia ilmu maupun anugerah harta. Tetapi setiap saat dia menggumamkan harap, Ya Allah, seandainya Kaulimpahi aku anugerah harta seperti temanku si hamba ketiga, maka aku pun akan memperbuat maksiat sebagaimana dia.”

“Kedua hamba ini,” demikian Rasulullah mengabarkan peringatannya, “timbangannya sama.”

Di lapis-lapis keberkahan, ilmu adalah pengikat kebajikan. Di mana ilmu hadir, segala hal menjelma menjadi berkah yang mengalir. Ketika ilmu hadir, maka hati berjuang meraih taqwa. Ruh, pikiran, dan seluruh anggota badan dikerahkan untuk merajutnya dari benang-benang keshalihan. Ketika ilmu hadir, maka harta merunduk padanya, bekerja dalam bimbingannya, menghasilkan manfaat dan faedah yang tumpah ruah ke berbagai arah.

Pun ketika ilmu itu melekat pada sosok kurang berpunya, sungguh ia menghiasinya dengan amal sejauh kesanggupan dan harap yang meluap-luap. Kurangnya harta memang membatasi amal sang hamba. Tapi niat baik yang berhulukan taqwa tiada yang dapat membendungnya. Dengan ilmu, dia semai cita-cita beramal di kesuburan hatinya, dia sirami dan rawat niat baik itu tanpa jeda. Hingga ia pun tumbuh, naik menghadap Allah, mengetuk pintu-pintu karunia untuk memampukannya mewujudkan karya.

Ya. Suatu saat nanti. Dan Allah jadikan itu sebagai karunia pernguji. Di lapis-lapis keberkahan, ilmu adalah pengikat kebajikan.

Sebaliknya, jika ilmu itu meniada, maka kebajikan pun pergi dari para hamba. Tanpa ilmu, si kaya tak lagi mampu bertaqwa. Tanpa ilmu, harta-harta kehilangan guna dan makna. Tanpa ilmu dan taqwa, hawa nafsu tak terkendali untuk menjadikan harta sebagai pemuas syahwat dalam berbagai maksiat. Kerusakan terjadi bagi diri, keluarga, dan sesama. Berkah telah lari, sebab ilmu yang mengikatnya tiada lagi.

Bahkan, ketika ilmu pergi dari si fakir yang patut dibelaskasihi, jadilah insan ini pencinta dosa dan penggandrung nista hewani. Hatinya gelap, dan taqwa tak lagi mau tinggal di ruang tanpa cahaya. Maka hawa nafsunya yang kehausan mencari pemuas dahaga. Ketika ternyata tak ada padanya harta maupun sarana, niatnya bermaksiat terus menghuni dada, melolong-lolong dan meraung-raungkan gairah durhaka.

Alangkah celaka, sebab yang merawat subur keinginan maksiat dalam dada, terancam untuk mati dan dibangkitkan dengan hati yang busuk. Betapa rugi pemilik jiwa yang tak kesampaian berlaku cela, tapi dinilai sama dalam timbangan amalnya dengan orang-orang yang menghambur-hamburkan raga dan kekayaan dalam dosa. Sebab memang pertama-tama, Allah hanya melihat isi dada.

Para pendahulu kita yang shalih, demi memahamkan kita akan betapa pentingnya ilmu yang menjadi pengikat segala kebaikan dan penyimpul semua keberkahan, sering membandingkannya dengan karunia lainnya, yakni harta. Ungkapan-ungkapan mereka menjadi permata tempat kita berkaca, agar diri bersemangat mengalih bentuk kekayaan, dari benda-benda menjadi pengetahuan yang mengikat kebajikan.

Ilmu adalah pengikat terkuat bagi lapis-lapis keberkahan yang ingin kita sesap sepanjang hayat. Ilmu adalah pengapit terkukuh bagi iris0irisan makna kebajikan. Ilmu adalah pembebat terkencang bagi tetumpukan bahan-bahan pemerindah kehidupan. Maka tak heran kala Sang Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia fahamkan yang bersangkutan dalam agama.”

Di lapis-lapis keberkahan; gairah kita untuk ilmu adalah semangat agar hidup kita diperbaiki. Gelora kita untuk ilmu adalah hasrat agar perjalanan kita di dunia dijelitakan. Segala puji bagi Allah, Rabb Yang Mencipta dan Memberi pengajaran.

Sumber : Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s