Saya Tidak Suka Politik : Sebuah Interpretasi Buta

“There comes a time when one must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular, but he must take it because conscience tells him it is right.”

― Martin Luther King Jr.

“Saya tidak suka politik” Ini adalah kalimat yang untuk kesekian kalinya mampir di telinga saya, dengan tanggapan saya yang selalu sama yaitu : geleng-geleng kepala. Ingin rasanya mendebat pernyataan tersebut, dengan berjuta dalil dan fakta, namun setelah dicoba beberapa kali, ternyata pandangan mereka tetap tidak berubah, “saya tidak suka politik”.

Pernyataan ini uniknya lahir dari kaum “buta” yang sama sekali tidak paham dengan arti politik, atau mereka mengetahui namun hanya sebatas “menonton” para pelaku politik di media-media yang sebagian besar ditunggangi oleh pion-pion yahudi dengan karakter dan ideologi sesat mereka serta propaganda Islamophobia, lantas para kaum “buta” ini membangun interpretasi dan opini sendiri mengenai politik.

Agar kita tidak “tersesat” terlalu jauh, mari kita sama-sama lihat arti kata politik itu terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) politik memiliki tiga makna yaitu, (1) (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan), (2) segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain (3) cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan.

Nah, lalu bagaimana Islam memandang politik?

Dalam Islam, politik dikenal dengan istilah “Siyasah”. menurut terminologi bahasa siyasah menunjukkan arti mengatur, memperbaiki dan mendidik. Sedangkan menurut etimologi, siyasah (politik) memiliki makna yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Disebutkan bahwa ia adalah upaya memperbaiki rakyat dengan mengarahkan mereka kepada jalan selamat di kehidupan dunia maupun akhirat serta mengatur urusan-urusan mereka. Al Bujairumiy mengatakan bahwa politik adalah memperbaiki urusan-urusan rakyat dan mengatur perkara-perkara mereka.

Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa islam bukanlah melulu aqidah teologis atau syiar-syiar peribadatan, ia bukan semata-mata agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, yang tidak bersangkut paut dengan pengaturan hidup dan pengarahan tata kemasyarakatan dan negara. Islam adalah akidah dan ibadah, akhlak dan syariat yang lengkap. Dengan kata lain, islam merupakan tatanan yang sempurna bagi kehidupan individu, urusan keluarga, tata kemasyarakatan, prinsip pemerintahan dan hubungan internasional.

Bahkan bagian ibadah dalam fiqih itu pun tidak lepas dari politik. Islam memiliki kaidah-kaidah, hukum-hukum dan pengarahan-pengarahan dalam politik pendidikan, politik informasi, politik perundang-undangan, politik hukum, politik kehartabendaan, politik perdamaian, politik peperangan dan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kehidupan.

Apakah Rasulullah SAW berpolitik? Iya. Politik adalah suatu keniscayaan dalam dakwah Rasulullah. Nabi Muhammad SAW adalah seorang suami, ayah, nabi, pembuat hukum, pemimpin agama, hakim, panglima pasukan, pebisnis, dan kepala pemerintahan sipil – semuanya menyatu dalam diri Muhammad.

Ketika itu Nabi berusia 40 tahun. Perintah dakwah pertama kali turun dalam surat Al-Muddattsir : 1-4. Setelah itu Nabi mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi, pertama-tama kepada istri Beliau, Khadijah, kemudian kepada sahabat-sahabat terdekatnya, kepada keluarganya, dan kepada putri-putrinya. Dakwah terus dilancarkan secara rahasia kepada orang-orang yang diyakini Nabi mampu membantunya dalam usaha penyebaran Islam dan mampu menjaga rahasia keislamannya. Dalam tahap ini, sasaran dakwah Islam hanya difokuskan kepada mereka yang benar-benar aman dari bahaya akibat dakwah dan dapat dipercaya untuk menjaga kerahasiaannya. Pada saat ini perintah sholat belum menjadi kewajiban bagi pemeluk Islam karena akan sulit bagi mereka untuk melaksanakannya secara terang-terangan di hadapan banyak orang. Sebagai solusinya, kadang kaum muslim awal secara diam-diam pergi ke gunung dan lembah untuk menunaikan shalat. Ini adalah siyasah (politik).

Karakteristik awal yang mewarnai dakwah pada masa permulaan ini adalah adanya satuan kelompok yang setiap saat menghilang dari khalayak ramai untuk mempersiapkan diri dan menerima latihan. Rasulullah membentuk kelompok-kelompok kecil dengan membaurkan dua orang muslim dengan saudaranya yang kaya dan mempunyai banyak kelebihan harta sehingga yang kaya dapat memberikan kelebihan makanannya kepada saudaranya yang miskin. Disini ada proses tarbiyah (pendidikan) dengan mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah mendidik sahabat dengan berbagai materi yang disampaikan secara menyeluruh dari akidah, ibadah, akhlak, dan sekaligus memberikan perasaan aman kepada mereka. Sejak awal para sahabat telah melakukan pengumpulan berbagai informasi terkait orang yang akan dijaring dalam dakwah yang akan mereka sampaikan, dan tentunya hal ini lepas dari komando yang diberikan oleh Rasulullah. Maka dari itu Rasulullah telah membentuk badan intelijen tingkat tinggi lengkap dengan berbagai aturan yang mengikat ketat untuk menjamin kerahasiaan dakwahnya. Ini adalah siyasah (politik).

Setelah Nabi Muhammad melakukan persiapan besar dengan mentarbiyah para sahabat, membangun jamaah muslim pertama yang terorganisir dan berdasarkan akidah, ibadah, dan akhlak yang tinggi, tiba waktunya untuk mengumumkan dakwah secara terang-terangan, berdasarkan firman Allah dalam surat Asy-syu’ara : 214-215. Setelah turun ayat ini, Rasulullah mengumpulkan kabilah dan keluarga beliau, lalu mendakwahkan secara terang-terangan untuk beriman kepada Allah yang Maha Esa. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa dan berseru kepada seluruh kabilah yang beliau kumpulkan. Ini adalah siyasah (politik).

Apa yang akan terjadi jika Muhammad serta merta langsung berdiri di atas bukit Shafa ketika seruan dakwah datang pertama kali, tanpa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi terlebih dahulu? Tanpa backup dan support dari keluarga dan para sahabatnya? Mereka semua pasti akan bubar jalan! Makkah adalah negeri yang bergejolak dengan fanatisme kesukuan. Karena itu, dakwah dimulai dari keluarga, yang nantinya akan membantu, menguatkan, dan menjaga beliau.

Intimidasi yang dirasakan Rasulullah dari kaum Quraisy semakin keras terasa terutama setelah wafatnya paman beliau. Karena selama ini pamannyalah yang senantiasa berdiri tegak menjadi benteng perlindungan Rasulullah dari tindakan buruk kaum Quraisy. Rasulullah mulai melakukan lobi dan pendekatan ke berbagai Kabilah yang berdatangan pada musim haji untuk mencari bantuan. Rasulullah melakukan metode-metode pendekatan seperti mendatangi pada malam hari, dari pintu ke pintu, bersahabat dengan kelompok yang mau menolong, melakukan negosiasi dengan Bani Amir dan Bani Syaiban. Rasulullah senantiasa mengajak sahabatnya terutama Abu Bakar untuk menyatakan bahwa beliau tidak seorang diri. Yang menjadi target Muhammad SAW adalah pemimpin kabilah yang kuat dan dihormati oleh kaumnya. Ini adalah siyasah (politik).

Masih banyak contoh-contoh siyasah yang dilakukan oleh Rasulullah terutama setelah beliau hijrah ke Madinah dan Madinah dijadikan sebagai Ibu kota negara Islam. Islam mulai disebarkan secara massive ke berbagai wilayah-wilayah di luar jazirah Arab, penaklukan-penaklukan negeri-negeri Romawi dan Persia yang terus berlangsung bahkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Islam tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia, hingga ke Indonesia perjuangan dakwah yang penuh dengan pergolakan politik, ekonomi, dan sosial yang tak henti-hentinya oleh Khulafaur Rasyidin, para Sahabat Nabi, para tabi’ dan tabi’in serta para da’i dan ulama. Siyasah telah menjadi satu bagian tak terpisahkan dari perjuangan panjang ini. bahkan hingga saat ini, hingga hari ini, di negara kita tercinta, negara demokrasi, Indonesia.

Negara kita bukanlah negara yang berdasarkan pada hukum Islam. Indonesia adalah negara pancasila. Negara yang menganut sistem demokrasi dimana aturan-aturannya dibuat oleh manusia yang dapat menaungi kepentingan 5 agama. Apa itu negara demokrasi? Nah, agar pengetahuan kita bertambah, mari kita intip sejenak mengenai demokrasi ini. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan-dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

Proses pendewasaan demokrasi di Indonesia telah melalui masa 10 tahun sejak tahun 1999, dan dalam perjalanannya telah melewati berbagai proses yang penuh dengan dinamika kehidupan demokrasi. Pelaksanaan Pemilihan Umum untuk memilih anggota DPR-RI,DPRD Provinsi & DPRD Kab/Kota telah dilalui sebanyak 3 kali dengan 4 Presiden yang berbeda pasca pemerintahan Presiden Soeharto. Dalam periode 10 tahun ke belakang telah banyak perubahan yang dialami Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menjalankan proses demokratisasi, diantaranya adalah Amandemen UUD 1945, kebebasan pers, pemisahan yang jelas antara militer dan sipil, kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, dan lain-lain. Salah satu perubahan yang sangat penting sejak Reformasi adalah munculnya berbagai partai politik sebagai salah satu wujud kebebasan mengeluarkan pendapat, berserikat, dan berkumpul yang menjadi satu ciri utama negara yang menjalankan sistem demokrasi.

Apa yang kita inginkan sebagai umat Islam yang hidup di negara Indonesia?

“Bebas menjalankan segala bentuk ibadah dengan rasa aman dan nyaman tanpa tekanan”. Agar hal ini dapat terlaksana, maka diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kecerdasan spiritual (aqidah, syariat, akhlak), dan kecerdasan intelektual (akademis, politik, sosial ekonomi, dll).

Nah, disinilah muncul benang merah antara Islam dan Politik demokrasi Indonesia. Tanpa partai, maka kita tidak akan dapat masuk ke dalam tatanan pemerintahan Indonesia. Tanpa masuk ke dalam tatanan pemerintahan, kita tidak akan mampu mengubah kebobrokan dalam tatanan tersebut. Sehingga pada akhirnya kita hanya akan menjadi penonton yang hanya bisa berkomentar tanpa berbuat apa-apa, yang hanya bisa berucap “saya tidak suka politik”, seperti burung Beo yang bahkan tidak mengerti apa yang sedang diucapkannya. Dan seperti yang dikatakan oleh Theodore Roosevelt : It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have done them better. The credit belongs to the man who is actually in the arena”. Semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita untuk terus memiliki keinginan untuk belajar, mempelajari Islam, dan berbagai ilmu dan hikmah yang terbentang di jagat raya ini. Cita-cita kita adalah negara ini akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang cerdas spiritual sekaligus cerdas intelektual. Cita-cita kita adalah Islam manjadi sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Islam perlu, harus, dan wajib ada di seluruh lini kehidupan pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan nasional.

Islam wajib ada di setiap komponen vital yang berkaitan dengan setiap struktur pemegang kebijakan yang menguasai hajat hidup masyarakat.

Islam wajib ada di jantung kehidupan bangsa dan negara.

Islam harus menjadi “virus” dalam setiap nafas kehidupan.

Islam harus menjadi penguasa.

Karena Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin…

Sumber :

  1. Buku Pintar Sejarah Islam. Jejak langkah Islam dari masa Nabi hingga masa kini. Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh. Penerbit Zaman
  2. History of the Arabs. Philip K. Hitti. Penerbit Serambi
  3. Sejarah Lengkap Rasulullah. Fikih dan studi analisa komprehensif. Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shalabi. Penerbit Pustaka Al-Kautsar
  4. http://kbbi.web.id/
  5. http://www.amazine.co/
  6. https://boykepriyoutomo.wordpress.com/
  7. http://www.eramuslim.com/

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s