Pembentukan Akidah pada Periode Makkah

  1. Kecerdasan Nabi dalam berinteraksi dengan Sunnatullah

Pembentukan negara, pembinaan umat, dan kebangkitannya tunduk pada undang-undang, ketentuan-ketentuan, dan aturan-aturan yang mengatur perjalanan kehidupan pribadi, masyarakat, umat dan negara. Jika kita memperhatikan perjalanan hidup (sirah) Nabi, kita mendapatkan bahwa beliau telah berinteraksi dengan sunnatullah dan ketetapan Ilahi dengan penuh hikmah dan dengan kemampuan yang mumpuni.

Sunnatullah (As-Sunnah Ar-Rabbaniyah) adalah ketentuan-ketentuan Allah yang tetap dan berlaku di alam semesta ini bagi seluruh manusia di setiap ruang dan waktu, dan jumlahnya banyak sekali. Pada pembahasan buku ini, yang menjadi konsentrasi perhatian kita adalah sunnatullah yang berkaitan erat dengan gerakan kebangkitan umat.

Orang yang merenungi ayat-ayat Al-Quran akan mendapatkan bahwa cukup banyak ayat yang membicarakan tentang sunnatullah yang tetap dan tidak berubah. Dia juga akan mendapatkan ayat-ayat yang mengungkapkan sunnatullah itu, dan mengarahkan pandangan kepadanya, serta bagaimana mengambil kesimpulan ibrah (pelajaran) atau hikmah darinya, selanjutnya dengan mengaplikasikan kisi-kisinya guna membentuk masyarakat muslim yang benar sesuai dengan perintah Allah. Ketika Al-Quran mengarahkan pandangan orang-orang muslim kepada sunnatullah di muka bumi, maka sejatinya ia mengarahkan mereka kepada dasar-dasar yang akan berputar pada poros sunnatullah, dan mereka bukanlah yang pertama mengalaminya dalam kehidupan ini. mengingat, ketetapan sunnatullah yang mengatur alam semesta, masyarakat, umat, Negara, dan individu berjalan tak berbeda. Segala perkara tidak berjalan dengan kepalsuan, dan kehidupan di dunia ini tidak berjalan sia-sia, tetapi berjalan mengikuti ketentuan-ketentuan sunatullah ini. apabila umat Islam mempelajari sunnatullah ini, dan memahami kandungannya, maka mereka dapat menyingkap hikmah di balik setiap kejadian, dan tampak tujuan-tujuan di balik setiap realita, dan mereka akan percaya dengan ketetapan sunnatullah di balik setiap kejadian atau peristiwa, juga dengan adanya hikmah tersembunyi di balik sunnatullah ini. selanjutnya mereka perlu mengambil langkah perjalanan hidup dengan melihat perjalanan sejarah masa lalu. Demikian pula untuk meraih kemenangan dan kejayaan mereka tidak hanya bersandar karena mereka sebagai umat Islam, dengan tanpa mengambil sebab, usaha atau ikhtiar yang mengantarkan mereka pada tujuannya.

Sunnatullah yang mengatur kehidupan akan terus terjadi, ia tidak hanya terjadi di masa lalu, tapi akan terus terjadi di setiap masa.

Umat Islam lebih utama memahami sunnatullah yang terekam di dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi, agar mereka sampai pada kejayaan dan kemuliaan dan kejayaan yang mereka harapkan. “Karena kejayaan tidak datang cuma-Cuma, dan tidak turun sekonyong-konyong, tidak bergulir dengan sendirinya, tetapi ia memiliki ketentuan-ketentuan yang Allah tulis di dalam Kitab-Nya, agar diketahui oleh hamba-hambaNya yang mukmin, sehingga mereka dapat berinteraksi dengannya dengan tepat.

Di antara syarat berinteraksi dengan manhaj atau metode yang tepat terhadap sunnatullah dan regulasi alam semesta yang berlaku pada individu, masyarakat dan umat adalah dengan kita mengetahui bahkan memahami dengan pemahaman yang cerdas dan menyeluruh atas sunnatullah ini; bagaimana ia bekerja di bawah kendali aturan Ilahi, atau yang kita sebut dengan Fiqh As-Sunnan. Selanjutnya kita dapat mengambil kesimpulan dari pemahaman kita tersebut untuk mencermati aturan-aturan sosial dan pertimbangan-pertimbangan dalam peradaban kita.

Gerakan Islam pertama yang dipimpin oleh Nabi dalam mengatur gerakan semangat dakwah, mendirikan negara, dan menciptakan manusia ideal yang rabbani dan maju berperadaban yaitu tunduk pada sunnatullah. Karena ia begitu urgen dalam kepemimpinan untuk menciptakan kemajuan, dan dalam komunitas orang mukmin yang disiplin dalam memerangi kebathilan, juga urgen sebagai manhaj yang menjadi sandaran akidah, akhlak dan ibadah, nilai-nilai, dan prinsip. Di antara sunnatullah yang tampak dan telah disebutkan adalah sunnatullah gradual, yang merupakan sunnatullah pada makhluk ciptaan dan alam semesta-Nya. Proses gradual merupakan sunnatullah yang urgen dan harus menjadi perhatian umat, sekaligus menjaganya. Karena ia bekerja untuk kebangkitan dan kejayaan agama Allah.

Titik tolak dari sunatullah ini adalah bahwasanya jalan itu panjang. Terlebih lagi pada masa sekarang ini, masa yang dikuasai oleh kebodohan, dan kejahatan yang mengambil alih kendalinya. Demikian halnya, kejahatan dan kerusakan telah tersebar di setiap lini masyarakat, dan solusi untuk itu membutuhkan perjalanan secara gradual (bertahap).

Dakwah Islam pertama kali dimulai secara gradual. Ia berjalan mengiringi manusia dengan perjalanan bertahap. Dimulai dengan tahapan seleksi dan pembentukan, kemudian tahapan perlawanan dengan musuh, kemudian tahapan kemenangan dan kejayaan. Semua ini tidak mungkin dapat dimulai dalam satu waktu.

Sunnatullah gradual ini tampak tinggi urgensinya. Ini mengingat, masih banyak para aktivis di medan dakwah Islam menilai bahwa kejayaan dapat terealisasi dalam waktu singkat. Mereka berharap mengubah realita umat dalam sekejap mata, tanpa melihat usaha-usaha di balik itu, dan tanpa memahami keadaan dan peristiwa yang meliputinya, juga tanpa persiapan yang baik sebagai permulaan, atau tanpa mempersiapkan sarana dan prasarananya.

Jika kita mengkaji Al-Quran dan As-Sunnah yang mulia dengan kajian mendalam, kita akan mengetahui bagaimana proses dan tahapan perubahan terjadi secara islami di negara-negara Arab, juga ke sebagian negara dunia yang seluruhnya di tangan Nabi. Ketika itu semuanya berjalan sedikit demi sedikit, bertahap sesuai dengan perjalanannya yang alami hingga ia kokoh di tempatnya, seperti yang dikehendaki Allah, Tuhan semesta Alam.

Sunnatullah gradual ini harus diterapkan dalam penerapan mengatur urusan manusia. Juga ketika ingin menerapkan Islam dalam kehidupan, dan pembentukan kehidupan islami yang paripurna dan meraih kejayaan. Oleh karena itu jika kita ingin membangun masyarakat atau komunitas Islam yang sebenarnya, maka jangan berkhayal bahwa ia dapat terealisasi dengan surat keputusan SK) seorang presiden, raja, atau dari MPR-DPR. Tentu tidak, tapi ia terealisasi dengan cara bertahap, yaitu tahapan persiapan, konsep, pada indovidu dan masyarakat. Metode gradual juga merupakan manhaj atau metode yang sama dirintis Nabi untuk mengubah kehidupan Jahiliyah menjadi kehidupan islami. Beliau berada di Makkah selama 13 tahun. Peran utama dan paling prinsip pada saat itu fokus untuk mencetak, mendidik generasi mukmin agar mampu menanggulangi hambatan dakwah, tuntutan-tuntutan jihad, untuk menjaga dan menyebarkannya di seantero dunia. Oleh karena itu periode Makkah bukanlah periode penetapan syariat, melainkan periode tarbiyah (pendidikan) dan pembentukan.

  1. Sunnatullah perubahan dan kaitannya dengan pembentukan Akidah

Di antara sunnatullah terpenting di jalan kebangkitan umat adalah sunnatullah yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolakny; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(Q.S. Ar-Ra’d : 11)

Hubungan sunnatullah perubahan dengan kemenangan umat Islam sangatlah jelas. Pasalnya, kemajuan tidak datang di bawah kondisi umat Islam seperti sekarang ini. karena itu meniscayakan adanya perubahan. Sebagaimana kemajuan tidak terealisasi pada umat yang tunduk dengan kehidupan hina dan terbelakang, tidak berusaha menghadapi realita yang dihadapinya, dan membebaskan dari seluruh problematika yang ada.

Perubahan yang dikomandani Nabi Muhammad dengan manhaj Allah dimulai dari jiwa manusia. Dari jiwa, terbentuklah sosok-sosok agung, kemudian bertolak untuk menciptakan perubahan terbesar pada tataran masyarakat. Sehingga membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju ilmu, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan menciptakan peradaban terindah yang pernah diketahui kehidupan ini.

Rasulullah telah berdiri tegak, berbuat-dengan manhaj Al-Quran-untuk merubah akidah, pemikiran, pandangan manusia. Beliau mengajarkan keyakinan dan akhlak di dalam jiwa para sahabatnya, sehingga berubahlah seluruh manusia di sekitarnya, berubahlah Madinah, kemudian Makkah, kemudian semenanjung Arab, lalu negeri Persia dan Romawi, dalam gerakan dunia yang bertasbih dan berdzikir siang dan malam kepada Sang Pencipta mereka.

Perhatian manhaj Al-Quran pada periode Makkah fokus pada akidah, dengan pemaparan indah menggunakan gaya bahasa, sehingga mewarnai hati mereka dengan makna-makna iman, lalu terjadi perubahan besar dalam diri mereka. Mengenai hal ini, Allah menjelaskan dengan gamblang dalam firmanNya, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan(Q.S. Al-An’am : 122)

  1. Reformasi akidah para sahabat

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, para sahabat memiliki perspektif dan paradigma yang lemah dan penuh kekurangan. Mereka berpaling dari al-haq ((kebenaran) dalam memahami nama dan sifat Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya, “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan(Q.S. Al-A’raf)

Maka datanglah Al-Quran untuk mengukuhkan akidah yang benar, sekaligus memantapkannya di hati orang-orang mukmin, dan menjelaskannya ke seluruh manusia. Yaitu dengan menjelaskan Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat, dan mengimani setiap yang dikabarkan oleh Allah; mengenai para malaikat, Kitab-KitabNya, para nabi, qadha dan qadar yang baik dan buruk, dan Hari Kiamat (rukun iman). Demikian pula dengan meyakini rialah Rasulullah, dan mengimani semua yang beliau kabarkan (risalahnya).

Generasi pertama (para sahabat) telah dididik dengan memahami sifat dan Asmaul Husna Allah dengan benar. Mereka beribadah kepadaNya sebagaimana mestinya, jiwa mereka mengagungkan Allah, keridhaanNya menjadi tujuan utama dan sebagai motivator bagi mereka, dan mereka selalu merasakan pengawasanNya dalam setiap waktu.

Tarbiyah Nabi kepada setiap pribadi merupakan dasar tegaknya bangunan Islam, dan inilah manhaj yang benar, yang juga dilakukan para nabi dan para Rasulullah sebelum beliau.

Hasil dari tarbiyah Nabi kepada para sahabatnya telah melahirkan buah keberkahan. Para sahabat membersihkan diri dari sejumlah keyakinan yang berlawanan dengan tauhid Uluhiyah, tauhid Rububiyyah dan tauhid Asma wa Shifat; mereka tidak berhukum kecuali kepada Allah, tidak taat kepada selainNya; tidak mengikuti seorang pun jika bukan karena mengharap ridhaNya; tidak mencintai kepada selain Allah seperti cinta mereka kepadaNya tidak takut kecuali kepadaNya, tidak takut kecuali kepadaNya, tidak bertawakal kecuali kepadaNya; tidak mengadukan masalah kecuali kepadaNya; tidak berdoa meminta sesuatu dan mohon ampunan kecuali hanya kepada Allah; tidak menyembelih kecuali karenaNya, tidak meminta bantuan dan pertolongan kecuali hanya kepadaNya; tidak rukuk dan sujud, menunaikan haji, melakukan thawaf atau beribadah kecuali hanya karenaNya; juga tidak menyerupakanNya dengan sesuatu apapun, tidak dengan makhluk-makhluk, benda-benda, tapi mereka mensucikanNya dengan sempurna.

Sebagaimana halnya ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan di Makkah menanamkan akidah yang benar di dalam hati para sahabat, juga tentang tauhid dan bagian-bagiannya, tentang Rasulullah dan risalahnya, juga memperbaiki akidah mereka yang berhubungan dengan rukun iman dan yang lainnya.

  1. Karakteristik surga di dalam Al-Quran dan pengaruhnya terhadap para sahabat

Pada periode Makkah, ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan ketika itu sangat fokus pada hal yang berhubungan dengan Hari Kiamat. Karena itu sedikit saja ayat-ayat pada surat Makkiyah (yang diturunkan di Makkah) yang tidak menyebutkan tentang Hari Kiamat; ihwal orang-orang yang mendapatkan nikmat dan yang mendapatkan adab Allah; bagaimana manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, dan perhitungan amal mereka, sampai seolah-olah manusia melhat kejadian Hari Kiamat dengan mata kepala mereka sendiri.

  • Surga tidak ada bandingannya

Ayat-ayat Al-Quran hadir menjelaskan sifat dan karakteristik surga, sebagai kenikmatan yang mustahil ada bandingannya di alam semesta ini, dan ini sangat memberi pengaruh besar pada jiwa para sahabat.

Kenikmatan surgawi merupakan sesuatu yang disiapkan Allah untuk hamba-hambaNya yang bertaqwa, yang tiada lain bermuara pada kemurahan, keutamaan, kemuliaan Allah. Allah telah menyebutkan di antara sifat kenikmatan surga. Namun yang disembunyikanNya (tidak dikabarkan) adalah kenikmatan yang tidak dapat dicerna akal, dan tidak sampai pada kekuatan pemahaman pemikiran manusia. Dalam hal ini Allah berfirman, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan,(As-Sajdah : 17)

  • Nikmat yang paling utama diberikan kepada ahli surga

Gambaran tentang adanya surga beserta kenikmatan di dalamnya, dan keyakinan kuat terhadapnya sangat penting untuk kebangkitan umat kita. Ketika gambaran surga hidup di jiwa setiap pribadi umat ini, ia akan mendorongnya mencari ridha Allah, dan mempersembahkan sesuatu yang mahal dan berharga dari dirinya, serta membersihkan jiwa dari cinta dunia dan takut mati. Maka terpancarlah di jiwa mereka energi dahsyat dengan keyakinan, memompa semangat, memperkokoh untuk berjuang, memuliakan, dan menegakkan agama Allah.

  1. Karakteristik neraka dalam Al-Quran dan pengaruhnya terhadap jiwa sahabat

Para sahabat takut kepada Allah dan berharap hanya kepadaNya. Tarbiyah Rasulullah berpengaruh besar pada jiwa mereka. Manhaj Al-Quran yang diterapkan Rasulullah bekerja efektif di dalam jiwa sahabat. Di antaranya dikarenakan Al-Quran menggambarkan marakteristik menakutkan mengenai Hari Kiamat dan peristiwa yang meliputinya; dari hancur luluh lantaknya bumi, runtuh bergoncangnya langit, tercabutnya gunung-gunung, bergejolak meluapnya gelombang laut, hancurnya matahari, hancurnya bulan, saling bertabrakan langit dan benda-benda langit, dan lain sebagainya. Al-Quran juga menggambarkan keadaan orang-orang kafir, kehinaan dan kerendahan mereka, penyesalan mereka, dan hancurnya segala yang mereka lakukan di dunia. Demikian pula Al-Quran membicarakan tentang akhir perjalanan orang-orang kafir, yaitu neraka, juga sebaliknya, bagaimana perjalanan orang-orang mukmin melaui shirath (jembatan) menuju surga, dan perbedaan nasib orang-orang mukmin dengan orang-orang munafik. Pembicaraan masalah ini berpengaruh besar dalam jiwa para sahabat. Al-Quran menggambarkan jenis-jenis adzab di neraka, sehingga seolah-olah generasi pertama melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.

  1. Pemahaman qadha dan qadar, alam semesta dan pengaruhnya pada tarbiyah sahabat

Pada periode Makkah, Al-Quran memberikan perhatian tentang qadha dan qadar. Pemahaman yang benar, keyakinan atau akidah yang melekat di hati para sahabat tentang hakikat qadha dan qadar memberikan manfaat kepada mereka, untuk kebaikan mereka di dunia dan akhirat. Di antara manfaat itu adalah :

  1. Beribadah kepada Allah
  2. Iman kepada qadha dan qadar sebagai jalan membebaskan diri dari kesyirikan. Pasalnya seorang mukmin yang meyakini bahwa manfaat dan bahaya, kemuliaan dan kehinaan, kejayaan dan kegagalan hanya Allah yang menentukan.
  3. Melahirkan keberanian dan siap berjuang. Karena keimanan mereka kepada qadha dan qadar menjadikan mereka meyakini bahwa ajal, kematian di tangan Allah, dan bahwasanya setiap jiwa telah ditulis jadwal akhir hayatnya.
  4. Sabar, tegar, dan siap menghadapi kesulitan dan kesempitan.
  5. Menenangkan hati, menentramkan jiwa, dan melapangkan dada.
  6. Memuliakan jiwa, menentramkan, dan memerdekakannya dari penghambaan terhadap makhluk.

Sejatinya manfaat dari iman kepada qadha dan qadar banyak, tapi yang tersebut di atas sebagai permisalan saja.

Tarbiyah Rasulullah kepada sahabatnya tidak sebatas pengajaran rukun iman yang enam saja, tetapi beliau banyak membenarkan pemahaman, pandangan dan keyakinan mereka tentang manusia, mengenai kehidupan, alam semesta dan hubungan antarkeduanya. Dengan maksud, agar seorang muslim berjalan di atas cahaya Allah, memahami tujuan eksistensi atau keberadaannya dalam kehidupan, merealisasikan apa yang dikehendaki Allah, dan membebaskan diri dari tahayul dan khurafat.

Nabi memfokuskan penjelasan ini pada sisi yang penting, yaitu bahwasanya kehidupan dunia ini, betapa pun lamanya, ia akan punah; perhiasannya bagaimana pun ia indah, sesungguhnya ia sedikit dan hina. Banyak para aktivis dakwah yang terhempas dari diri mereka tentang hakikat bahwa duna adalah hanya senda gurau, permainan, sesuatu yang menipu. Hal ini karena mereka tenggelam di kehidupan dunia ini dan terpana dengan perhiasannya, keindahan, cinta dunia menguasai mereka, dan mereka terus berada di belakang semua itu. Setiap dia mendapatkan sesuatu dari perhiasan dunia, maka dia meminta lebih. Dia tidak akan kenyang dan tidak pernah puas, karena dirinya begitu terikat dengan dunia. Sesungguhnya fenomena ini merupakan kesedihan besar bagi dakwah dan kebangkitan umat. Adapun menikmati kehidupan ini sesuai dengan batas-batas yang digariskan syariat, dan mengambilnya demi mendapatkan akhirat, maka ia adalah perbuatan terpuj.

Sumber : Sejarah Lengkap Rasulullah SAW oleh Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shalabi

Advertisements

2 thoughts on “Pembentukan Akidah pada Periode Makkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s