Bersama Sebelas Abdullah

Paling tidak ada sebelas Abdullah, para sahabat Nabi yang unggul dengan amal unggulannya masing-masing. Setiap mereka dikenal karena berkarakter kuat. Berkontribusi dengan paripurna dan maksimal dalam beramal. Ada pula sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Pertama, Abdullah bin Umar R.A. adalah prajurit kecil yang tergerak berjihad sejak usia 13 tahun di medan Badar. Nabi belum mengizinkan. Di usia 14 tahun dia bersikeras berkontribusi dalam jihad. Saking cintanya kepada Rasul SAW, dia berupaya mengikuti gerak-gerik Nabi hingga hal-hal yang sangat kecil dan mubah semata.

Abdullah Bin Umar mengisahkan bahwa dia menikah dengan seorang wanita yang digandrunginya. Namun ayahnya Umar Bin Khattab membencinya, maka Umar menyuruhnya untuk menceraikan istrinya namun dia menolak. Kemudian Binu Umar pergi memberi tahu Rasulullah SAW, maka Nabi bersabda kepada Binu Umar, “Ceraikanlah!” akhirnya Binu Umar menceraikan istrinya sebagai bentuk ketaatan kepada Rasulullah SAW dan kepada orang tuanya. Inilah totalitas loyalitas manusia berkualitas.

Abdullah bin Umar terkenal juga dengan mimpi surganya dan dua orang yang hendak menyeretnya ke neraka. Dia belajar untuk mengikuti Sunnah Nabi yakni tidak pernah lagi meninggalkan qiyamul lail.

Kedua, Abdullah bin Rawahah R.A. menjadi prajurit dan panglima andal dengan kekuatan syair yang monumental. Syahid di medan jihad Mu’tah sebagai salah seorang dari ketiga panglima yang dikabarkan Nabi akan syahid silih berganti. Abdullah bin Rawahah mengolaborasi syair dahsyat sebagai penyemangat jihad.

Wahai jiwa…

Jika engkau tidak gugur di medan juang

Kau akan tetap mati…

Meski di atas ranjang

Ketiga, Abdullah bin Abdillah bin Ubay bin Salul, karena ketaatan dan cintanya kepada Rasulullah dia bersiaga dan rela hati bila harus membunuh ayahnya sendiri – Abdullah bin Ubay bin salul, gembong kemunafikan – sebab ia tak ingin tersakiti hatinya bila orang lain yang membunuh ayahnya.

Sang ayah dikenal karena perilaku kemunafikan yang yang meresahkan kaum mukminin. Di antara orang yang mendengar ucapan Abdullah bin Ubay bin salul adalah Zaid bin Arqam. Dia melaporkan berita kemunafikan Abdullah bin Ubay kepada Rasulullah SAW. Umar bin Khattab yang pada saat itu berada di samping Rasulullah berkata, “wahai Rasulullah, perintahkan saja Ibbad bin Bisyr untuk membunuhnya.” Rasulullah SAW menjawab, “Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang mengatakan bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya? Tidak!”

Sampai di Madinah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin salul berkata, “Saya dengar, engkau ingin membunuh ayahku. Jika engkau memang ingin melakukannya, maka perintahkanlah aku. Aku bersedia membawa kepalanya ke hadapanmu. Demi Allah, tidak ada orang dari suku Khazraj yang dikenal lebih baik sikapnya kepada orangtuanya daripada diriku. Aku khawatir engkau akan memerintahkan orang selainku untuk membunuhnya sehingga jiwaku tidak tahan melihat pembunuh Abdullah bin Ubay berjalan di tengah masyarakat, lalu aku membunuhnya pula. Ini berarti aku seorang kafir sehingga aku menjadi penghuni neraka.”

Ketaatan dalam keimanan berbalut cinta membentuk integritas dan karakternya dengan jelas. Tak ragu dalam bersikap, mengambil pilihan dan tindakan. Dari Abdullah bin Abdillah bin Ubay bin Salul kita belajar fiqih prioritas birrul walidain. Muslim dan mukmin tidak bingung menentukan sikap dan pilihan dalam hidup, serta siap menanggung risikonya.

Belum dikatakan berbuat baik pada Islam orang yang tidak berbuat baik pada kedua orang tuanya.

Keempat, Abdullah bin Zubair R.A. adalah sahabat Nabi yang lahir dari rahim perjuangan hijrah ayah bundanya, Zubair bin Awwam dan Asma’ binti Abu Bakar. Abdullah bin Zubair sosok sahabat pemberani yang rela mati di tangan al-Hajjaj bin Yusuf demi menegakkan izzah Islam. “Terhadap kebatilan tiada tempat untuk berlemah lembut kecuali apabila gigi geraham dapat mengunyah bebatuan menjadi lembut,” ujarnya.

Dari Abdullah bin Zubair kita belajar keberanian namun juga sikap perwira mengakui kesalahan. Ketika berseteru dengan khalifah Mu’awiyah bin Abu sufyan, Binu Zubair sempat melayangkan surat untuk meminta keadilan kepadanya karena tukang kebun Mu’awiyah “merangsek” ke kebunnya.

Mu’awiyah mempersilahkan Binu Zubair mengambil kebun miliknya sekaligus pegawai kebunnya, maka Binu Zubair memeluk kepala Mu’awiyah seraya berkata, “Semoga Allah menjaga akalmu, dan Allah telah memilihmu di antara orang-orang Quraisy untuk menduduki tempat ini yakni jabatan khalifah.”

Kelima, Abdullah bin Jahsy R.A. sudah kenal? Mari kita berkenalan. Dia adalah sosok prajurit yang berdoa untuk kesyahidannya untuk medan jihad Uhud. ‘Ya Allah pertemukanlah aku dengan lelaki yang kuat dan perkasa. Kami saling serang lalu dia menawanku kemudian memotong hidung dan telingaku. Dengan begitu, ketika aku menemuiMu esok hari, Engkau akan bertanya, ‘Mengapa hidung dan telingamu buntung?’ Aku dengan bangga akan menjawab, ‘Karena membela-Mu dan membela Rasul-Mu.’ Lalu Engkau pun berfirman, ‘Engkau benar.’ Dan Engkau pun memasukkanku ke dalam surga.”

Abdullah bin Jahsy R.A. menjemput tekdir syahidnya berbekal doa menggugahnya tersebut. Sa’ad bin Abi Waqqash mempersaksikan itu di hadapan anak-anaknya, “Ketahuilah, wahai anak-anakku, sungguh doa Abdullah bin Jahsy waktu itu jauh lebih baik daripada doaku. Ketika petang hari, aku benar-benar melihat hidung dan telinganya tergantung di atas pagar.”

Keenam, Abdullah bin Mas’ud R.A. membuktikan cintanya, mencurahkan seluruh waktunya untuk mendampingi Nabi, mendapat izin khusus membersamai, dan menjadi madrasah Qur’an yang mengabadi. Tubuh pendeknya, betis kecilnya, kurus kerempeng posturnya lebih berat timbangannya daripada Bukit Uhud. Keterbatasannya sama sekali tak menghalangi kebesaran jiwa keprajuritannya untuk selalu berjihad bersama Rasulullah SAW.

Ketujuh, Abdullah bin Abbas R.A. menjadi mutarabbi Nabi sejak dini. “Ya Allah berilah dia ilmu agama yang mendalam, dan ajarkanlah kepadanya takwil.” Doa Nabi ini menjadi jalan kemurabbiannya, satu jiwa berjuta hikmah. Berbagai pokok dan cabang ilmu ditekuni sang habrul ummah ini. “Lisan yang gemar bertanya dan akal yang senang berpikir” itulah spirit yang melejitkan potensi menjadi ulama umat ini.

Kedelapan, Abdullah bin Amru Ash R.A. berislam mendahului ayahnya, Amru bin Ash. Jika ayahnya guru dalam kecerdasan, lihai dalam muslihat, cerdik dalam strategi, dan ahli dalam diplomasi, maka Abdullah bin Amru bin Ash unggul dalam ibadah, luhur dalam dakwah, dan hebat dalam munajat.

Perhatiannya pada Al-Quran menyita sebagian besar waktunya. Dia bisa mengkhatamkan Quran tiap tiga hari sekali. Bakat sucinya menjadi keunggulan tarbiyah dzatiyahnya. Jika libur dari medan juang maka dia habiskan waktunya untuk beribadah sambung-menyambung dari Sholat, puasa, dan tilawah Al-Quran. Kegetolannya dalam ibadah hingga bisa mengkhatamkan Quran dalam semalam ditegur Nabi agar seimbang. Tekad dan kesanggupannya dididik Nabi agar tidak berlebih. Menu tarbawinya adalah puasa Dawud, sehari puasa sehari berbuka. Lauknya adalah tilawah khatam tiap tiga hari. Penyegarnya adalah sholat sepanjang malam.

Abdullah bin Amru bin Ash R.A. di senja usia dia menyadari ketidakseimbangannya, “wahai, betapa malang nasibku, mengapa dulu tidak kulaksanakan keringanan dari Rasulullah SAW.”

Kesembilan, Abdullah bin Ummi Maktum R.A. ketaatannya untuk sholat berjamaah meski buta, selama masih mendengar seruan azan menjadi cermin yang sangat jelas bagaimana kualitas keimanannya. Parameter keterikatannya kepada jamaah terukur dengan sholat jamaah di mesjid. Karena “Barang siapa yang mudah meninggalkan sholat berjamaah, maka dia akan lebih mudah lagi meninggalkan jamaah dakwah.”

Kesepuluh, Abdullah bin salam R.A. ucapan yang pertama didengarnya dari Nabi adalah “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan orang yang membutuhkan (orang miskin), perbanyaklah silaturrahim, shalatlah di waktu malam saat orang lain terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh kesejahteraan.”

Karisma dakwah menggugah kesadaran iman menemukan hidayah lalu berjalan bersama Islam hingga meraih jannah.

Kesebelas, Abdullah bin Jubair R.A. dia adalah komandan pasukan pemanah dalam Perang Uhud. Dari 50 orang yang ditugaskan berjaga, 40 orang ikut berebut ghanimah hingga pasukan kaum Muslimin kalah karena diserang Khalid bin Walid – waktu itu masih kafir – dipukul dari belakang.

Abdullah bin Jubair adalah panglima dari 10 orang yang tetap bertahan. Dia mengingatkan pasukan yang turun berebut harta rampasan perang. “Apakah kalian lupa dengan apa yang dikatakan Rasulullah SAW?”

Abdullah bin Jubair adalah satu dari 10 orang yang tetap bertahan di markas penjagaan, tidak berebut jabatan, tidak berbondong-bondong dalam riuh keduniawian, dan tetap berjaga meski sendirian. Sepuluh orang inilah manusia militan yang benar-benar bisa diandalkan karena tetap berada di posnya sesuai perintah Rasulullah SAW.

Jadilah Manusia yang Terbaik

Ibnu Mas’ud berpesan, “Tiga hal ini yang akan membuatmu menjadi manusia terbaik.

  1. Pertama, laksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling baik ibadahnya.
  2. Kedua, jauhilah apa yang dilarang oleh Allah, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling zuhud.
  3. Ketiga, terimalah dengan ridha rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya.”

Haraga dirimu terletak pada kontribusi kebaikanmu, amal shalihmu, manfaat yang engkau berikan. Janganlah engkau berputus asa atas apa yang tidak engkau miliki dan syukuri apa yang kita dapatkan.

Untuk menjadi manusia terbaik kita belajar menggesa diri dengan pembinaan diri agar benar-benar layak menjadi penumpang teladan.

  1. Riyadhah, yaitu pelatihan terus menerus, yang terkadang terasa berat dan melelahkan, untuk terus menerus menempa dan memperbaiki dirinya.
  2. Ta’dib, yaitu upaya-upaya untuk meluruskan hal-hal atau sifat-sifat yang belum lurus pada dirinya, agar menjadi lurus, meskipun untuk hal ini, ia perlu melakukan bentuk-bentuk iqab atau hukuman terhadap diri sendiri, agar diri yang cenderung bengkok ini menjadi beradab dan lurus.
  3. Tadrij, semua upaya perbaikan dan tarbiyah diri sendiri itu hendaklah dilakukan secara gradual atau berangsur-angsur, jangan dipaksakan berubah dalam sekejap.

Jaga kemurnian mukmin sejati

“Bahan baku murni dan asli bila bertemu dengan para tokoh akan menjadi pribadi yang terdidik.” Itulah khazanah hikmah orang mulia dalam kemuliaan akhlak, ketulusan ibadah, kejernihan fikrah, dan kebersihan aqidah.

Totalitas loyalitas bicara, bukan di saat suka, namun tetap aplikatif di kala duka. Bukan di tengah pesta, namun usai kalah berdarah-darah. Seruan perang Hamra’atul Asad buktinya. Usai kembali dari medan Uhud dalam keadaan kalah, Rasul titahkan mereka kembali berperang. Itulah ruhul istijabah yang berbuah jannah, insyaAllah.

Amrun wa tha’atun. Mereka tergugah untuk melangkah. Tak memandang aneh perintah tak menganggap remeh titah. Tak membantah tidak pula bersilat lidah. Sebuah ketaatan indah berbingkai mahabbah. Hasan al-Banna memberikan arahan kepada para pemuda “wahai pemuda! Fikrah ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas, punya semangat yang berkobar-kobar, kesiapan berkorban, dan beramal untuk mewujudkannya.

Empat rukun ini : iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan ciri khas pemuda. Sesungguhnya dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas ialah hati yang suci murni, landasan semangat yaitu perasaan yang kuat dan fondasi amal adalah tekad yang selalu segar.”

Berperang dengan Dua Pedang

Hasan bin Tsabit, sastrawan sahabat yang sering disuruh Nabi untuk memunculkan karya sastranya. Ketika Nabi diserang oleh caci maki hinaan penyair Quraisy, maka Nabi menitahkan sebuah amar mulia, “Balaslah mereka, dan Jibril akan membersamaimu.”

Gaya Nabi sebagai murabbi sungguh mulia. Memupuk semangat dengan hangat. Menyuburkan potensi agar berkontribusi. Pada kesempatan lain, Nabi juga memunculkan sastrawan Islam yang luar biasa ini agar menarasikan gagasannya melalui sebuah inspirasi,

“Kalau sahabat-sahabatku berjuang dengan satu pedang, Hasan bin Tsabit berjuang dengan dua pedangnya (pedang besinya dan pedang lidahnya).”

Sumber : Back to Tarbiyah oleh Solikhin Abu Izzuddin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s