212 : Sebuah Momentum Hijrah

Berawal dari kata-kata menyakitkan yang secara sengaja keluar dari mulut seorang non-muslim No.1 di DKI, ketika ia tengah berpidato di pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang kemudian diproses secara hukum sebagai kasus “penistaan agama”. Umat Islam sebagai penghuni mayoritas Negara Indonesia merasa tersakiti dan menuntut agar Sang Penista mendapat sanksi hukum secara adil. Berbagai aksi dari berbagai ormas, komunitas, dan lembaga Islam turun ke Ibukota untuk menyuarakan isi hati mereka, “Saya muslim, dan saya tersinggung karena Anda telah menghina Kitab suci agama saya!!.”

Aksi Bela Islam 212 menggaung ke seluruh negeri, tidak hanya nusantara, bahkan hingga ke manca negara. Media-media dalam dan luar negeri dihebohkan dengan peristiwa di penghujung 2016 ini. Dengan berbagai angle, kepentingan, latar belakang dan motif, berbagai media secara masif dipenuhi dengan berita bertemakan “Aksi Damai” dan “Aksi bela Islam”.

Bagi si awam, aksi ini membuat mereka mengernyitkan kening, tak habis pikir,

“kok bisa sih, hanya gara-gara ucapan seseorang yang mungkin dia sendiri tidak sengaja mengucapkannya, sampai menyedot jutaan massa ke ibukota”.

“lebai banget sih, emang tidak cukup dengan permintaan maaf dia?”

“Tidak usah ekstrim sampai ikutan aksi segala, biasa-biasa aja, ibadah yang bener, kerja yang bener, kan Allah yang menilai…”

Subhanallah….

Coba lihat peristiwa hari itu…

Jutaan manusia berjalan kaki puluhan kilometer tanpa kata lelah meskipun berpeluh keringat. Mereka berbaris rapi, tertib, hati dan kepala berdzikir menyebut namaNya.

Jutaan manusia rela meninggalkan rutinitas harian, berdesak-desakkan, tak peduli perut lapar dan dahaga..

Jutaan manusia dengan sukarela menginfakkan makanan, minuman di pinggir jalan…

Jutaan sajadah dibentangkan di tengah guyuran berkah dari langit…

Jutaan manusia sujud di bumi Allah, berjamaah, merendah, menghamba kepada Sang Maha Besar, bermunajat, mengetuk pintu langit, berdoa menadahkan tangan kepadaNya…

Mereka bersatu, membela agama Allah, membela kitab suciNya, menggemakan AllahuAkbar!!!

MasyaAllah….

Hari itu, Makkah seakan pindah ke Ibukota.

Sungguh indah….

Inilah yang ingin kita tunjukkan kepada dunia. Kepada kaum kafir. Inilah kami. Inilah Islam. Rahmat bagi semesta alam. Islam bukan agama kekerasan, Islam bukan agama penindasan, Islam bukan agama radikal, Islam bukan agama yang lemah, Islam bukan minoritas, tapi Islam adalah agama yang paling indah. Agama tauhid. Agama yang datangnya dari Allah.

Apakah Allah butuh kita? Apakah Allah butuh pertolongan kita untuk menegakkan kalimat Laa ilaa ha illallah…? tidak !! sama sekali tidak. Allah tidak butuh bantuan kita untuk memenjarakan si penista agama. Allah tidak butuh bantuan kita untuk menghancurkan kaum kafir si penindas di bumi Palestina. Allah tidak butuh bantuan kita untuk mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita di Rohingya. Allah Maha Besar. Dalam sekejap Allah bisa meluluhlantakkan musuh-musuhNya seperti Ia menenggelamkan pasukan Fir’aun. Allah bisa dengan mudah membantu umatnya seperti Ia membantu penduduk Makkah ketika diserang pasukan bergajah Abraham.

Tapi…Allah turunkan ke dunia musuh-musuhNya, si penista agama, si yahudi, si kafir, dan si munafik karena Allah ingin menguji hamba-hambaNya, Ia ingin mengganugerahkan hadiah terindah bagi orang-orang bertaqwa pembela agamaNya. Maka, ketika kita berniat membantu agama Allah, imbalannya bukan untuk siapa-siapa kecuali untuk diri kita sendiri.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)

Semua berlomba-lomba. Dari berbagai kalangan. Dari berbagai profesi. Dari yang hobi aksi hingga yang baru ikut pertama kali. Dari golongan tarbiyah hingga golongan ammah. Dari yang menggebu-gebu ingin menurunkan si penista agama dari tahta pejabat negara hingga yang sekedar meramaikan suasana, mengikuti arus manusia.

Inilah Momentum Perubahan. Momentum hijrah. Momentum muhasabah diri. Tanpa kita sadari, ternyata semua orang sedang berlomba-lomba berebut tiket ke surga.

Apakah kita termasuk golongan mereka? Golongan orang-orang yang berduyun-duyun menuju surga? Atau kita masih terseok-seok, sibuk menari-nari ditarik arus gelombang duniawi, hedonisme, dan kekufuran?

Jangankan sholat sunnah, sholat wajib lima waktu saja seringkali terlewat. Jangankan tilawah 1 juz sehari, 1 halaman sehari saja sudah alhamdulillah. Jangankan ikut ngaji sana sini, kerjaan sehari-hari saja sudah menyita waktu dan hati. Berzina sih katanya tidak pernah, tapi pegang sana pegang sini, cium sana cium sini dengan yang bukan muhrim sudah biasa, didepan umum pula. Kemana urat malunya. KTP Islam, tapi berjiwa liberal. Berjilbab bukan kewajiban tapi tradisi, yang penting hati. Aurat kemana-mana entah sudah berapa juta pasang mata yang menikmati. Pendukung LGBT dibilang toleransi, yang berjenggot panjang dan bercadar dibilang aliran islam radikal. Ghibah sudah jadi makanan sehari-hari. Ngakunya berilmu tapi kata-katanya bak pedang menusuk hati.

Subhanallah…

Kalau bukan saat ini, detik ini kita berhijrah, kapan lagi? Mari kita pasang niat “Karena Allah Ta’ala” untuk berubah sedikit demi sedikit memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit mulai istiqamah menabung pahala untuk ke surga. Sedikit demi sedikit kita pelajari arti bacaan sholat agar sholat kita lebih khusyu’. Sedikit demi sedikit kita perbaiki bacaan Al-Quran kita agar tilawahnya lebih ngena ke hati. Sedikit demi sedikit kita pahami Al-Quran agar nanti bisa menjadi pembela di hari akhir. Sedikit demi sedikit kita perbaiki cara memakai jilbab kita agar syar’i dan menutup aurat dengan sempurna. Sedikit demi sedikit kita tinggalkan canda gurau tak bernilai agar tak ada yang tersakiti. sedikit demi sedikit kita kerjakan ibadah sunnah untuk menutupi kekurangan ibadah wajib yang masih compang camping. Sedikit demi sedikit kita pelajari Islam agar kita bisa menjadi mukmin yang kaffah. Agar kita mencapai derajat taqwa. Karena masuk surga tanpa hisab hanya diperuntukan bagi orang-orang yang bertaqwa.

Baca : Surga yang Allah Janjikan

Mari kita bermuhasabah sejenak, “jika Allah memanggil kita saat ini, siapkah kita? akankah ibadah kita diterima olehNya? Apakah amal-amal kita bisa menutupi segala khilaf dan dosa-dosa yang menggunung?

Mencapai gelar taqwa adalah perjuangan hingga akhir hayat. Apakah kita sudah berhijrah? Apakah kita sudah ber-Islam secara kaffah? Atau masih setengah-setengah? Atau ala kadarnya? Atau sekedar menjadi muslim minimalis?

Wallahu a’lam

Oleh : I am Muslim

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s