Kisah Masuk Islam Dhamad Al-Azidi

Dhamad Al-Azidi datang ke Makkah. Ia terpengaruh dengan tuduhan-tuduhan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah. Sampai-sampai ia merasa yakin bahwa benar beliau orang gila, sebagaimana yang dituduhkan para pemimpin Makkah. Dhamad berasal dari Azdi Syanwah, dan ia biasa menyembuhkan orang gila. Ketika orang-orang bodoh Makkah mengatakan bahwa Muhammad adalah orang gila, ia berkata, “Jika aku melihat laki-laki itu (Rasulullah), semoga Allah menyembuhkannya lewat tanganku.”

Dhamad meriwayatkan, “Lalu aku bertemu dengannya.” Ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku dapat menyembuhkan dari angin (pembawa penyakit gila) ini, dan sesungguhnya Allah menyembuhkan melalui tanganku orang-orang yang dikehendakiNya. Bagaimana dengan engkau?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji dan memohon pertolonganNya, siapa yang Dia beri petunjuk, maka tidak ada seorangpun dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkannya, maka tidak ada seorang pun dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dia maha esa tidak ada sekutu bagiNya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan RasulNya, amma Ba’du.

Ia berkata, “Ulangilah untukku kalimat-kalimatmu itu.” Lalu Rasulullah mengulanginya tiga kali. Ia pun berkata, “Aku telah mendengar perkataan tukang ramal, ahli sihir, perkataan para penyair, tapi aku tidak pernah mendengar perkataan seperti yang engkau katakan. Perkataan engkau telah mencapai nilai puncak tinggi. Lalu ia berkata kepada Rasulullah, “Ulurkan tanganmu, aku berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.” Rasulullah pun membaiatnya. Dan Rasulullah bersabda, “Dan juga untuk kaummu.” Ia menjawab, “Juga untuk kaumku.”

Ketika negara Islam berdiri di Madinah, dan sejumlah pasukan Rasulullah diutus. Ketika mereka melewati kaum Dhamad, pemimpin pasukan berkata kepada pasukannya, “Apakah kalian mengambil sesuatu dari mereka?” seorang dari mereka berkata, “Aku mengambil dari mereka alat pembersih.” Ia berkata, “Kembalikanlah, karena mereka adalah kaum Dhamad.”

Ada pelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari kisah ini :

Fitnah dan makar orang-orang Quraisy terhadap sosok agung Rasulullah, tuduhan mereka dengan mengatakan beliau orang gila membawa Dhamad berjalan menemui Rasulullah untuk menyembuhkan beliau dengan ruqyah. Tapi ternyata perang urat saraf terhadap Rasulullah di Makkah mendorong Dhamad dan kaumnya masuk Islam.

Memperjelas dua sifat agung Rasulullah, yaitu sabar dan kelembutan beliau. Mengingat saat Dhamad menawarkan kepada Rasulullah untuk menyembuhkan beliau dari penyakit gila, tentu hal ini merupakan sikap yang mengundang amarah. Karena sudah menganggap Rasulullah orang gila. Tetapi Rasulullah menerima perkataan Dhamad ini dengan lembut dan tenang, yang berpengaruh pada kekaguman Dhamad dan penghormatannya kepada beliau.

Urgensi mukaddimah yang menjadi kalimat pembukaan khutbah Rasulullah pada sebagian khutbahnya. Kalimat yang mengandung pengagungan kepada Allah dan memuliakanNya dan menegaskan ibadah kepadaNya. Oleh karena itu beliau acap kali menggunakannya sebelum memulai khutbah dan nasihat-nasihat beliau.

Dhamad terpengaruh dengan kefasihan dan kekuatan penjelasannya. Karena pembicaraan Rasulullah terlahir dari hati yang penuh dengan keimanan, keyakinan, dan kaya dengan hikmah. Sehingga pembicaraan beliau sampai masuk ke dalam hati dan menggugah kepada iman.

Rasulullah berusaha menyebarkan dakwahnya. Ketika beliau melihat Dhamad dengan kebenaran imannya, kesungguhannya untuk Islam, kekuatan kepercayaannya, mendorong beliau meminta Dhamad untuk mengajak kaumnya berbaiat kepada Islam.

Menegaskan urgensi dakwah kepada Allah. Nabi menjadikannya keterikatan pribadi dalam dakwah. Ketika Rasulullah membaiat Dhamad untuk konsisten dengan Islam, beliau tidak mencukupkan dengan keislamannya saja, tapi beliau memintanya untuk bertekad menjadikan kaumnya masuk Islam juga.

Menjaga kebaikan dan kasih sayang orang-orang yang telah dahulu masuk Islam dan mendapat keutamaan. Seperti tergambar dalam perkataan pemimpin pasukan, “Kembalikanlah karena mereka dari kaum Dhamad.”

Dalam pembicaraan ini juga disebutkan beberapa wasilah tarbiyah yang digunakan Nabi terhadap Dhamad, seperti dengan bicara pelan-pelan, menggunakan gaya bahasa dialog, memberi arahan secara langsung. Dari peristiwa ini juga tampak beberapa sifat sosok pribadi Rasulullah sebagai sang murabbi, kelemahlembutan, kesabaran, dan memotivasi memperbanyak amal kebaikan.

Sumber : Sejarah Lengkap Rasulullah SAW oleh Prof DR. Muhammad Ali Ash-Shalabi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s