Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah hidup pada 1263 – 1328. Ia adalah salah satu pemikir, ideolog, pejuang, dan tokoh pembaru Islam terkemuka yang bergelar “Syaikhul Islam” karena keulamaannya mencakup seluruh kajian keislaman. Ia memiliki misi utama dalam hidup untuk memurnikan ajaran Islam dengan cara kembali pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.

Kembali pada Al-Quran dan Sunnah merupakan slogan terkenal yang digunakan para ulama dan reformis Muslim sepanjang sejarah Islam untuk menyeru para penguasa dan masyarakat Islam yang membangkang untuk kembali pada Islam yang orisinil seperti yang dirumuskan Nabi Muhammad SAW. Seruan ini memberikan persentase keberhasilan yang lumayan besar karena keyakinan setiap muslim bahwa Al-Quran adalah komunikasi terakhir Allah kepada umat manusia dan praktik sunnah Rasulullah memberi komentar yang kuat dan relevan mengenai wahyu Ilahi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah salah satu ulama dan pembaharu agama yang luar biasa. Ide-ide dan pemikiran keagamaannya terus memberikan pengaruh dahsyat kepada para ulama dan reformis Muslim sampai hari ini.

Taqiyudin Abu Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah lahir di sebuah kota di pinggiran Damaskus, Harran, dalam sebuah keluarga penulis, ulama, dan teolog terkemuka. Ayahnya, Abdul Halim, dan kakeknya, Majduddin, dikenal sebagai fuqaha (ahli hukum) Hanbali yang menuliskan banyak buku tentang hukum Islam (fiqih) dan hadits Rasulullah. Dibesarkan dalam lingkungan yang ramah secara intelektual, Ibnu Taimiyah menghafal seluruh isi Al-Quran, serta menerima pelajaran bahasa Arab, tata bahasa, hadits, dan aspek-aspek fiqih di bawah bimbingan ayahnya yang terpelajar.

Ketika Ibnu Taimiyah hampir berusia tujuh tahun, seluruh keluarganya terpaksa melarikan diri dari Harran akibat ancaman serangan Pasukan Mongol ke kota tersebut. mereka menduduki Baghdad, kursi Kekhalifahan Abbasiyah. Meskipun invasi Mongol ke kota Baghdad merupakan salah satu periode paling merusak dalam sejarah Islam, para tentara Mamluk Mesir yang gagah berani akhirnya menghentikan mereka pada tahun 1260 dalam Pertempuran Ain Jalut (Spring of Goliath). Kemenangan Mamluk di Ain Jalut menyelamatkan Mesir, kawasan Arabia, dan negeri-negeri tetangga Islam dari invasi dan penjarahan Mongol. Meski menderita kekalahan telak di Ain Jalut, bangsa Mongol tetap menjadi ancaman serius.

Karna tak siap mengambil resiko, keluarga Ibnu Taimiyah pindah ke Damaskus yang kala itu dikendalikan oleh bangsa Mamluk. Di Damaskus, keluarga Ibnu Taimiyah disambut hangat oleh penduduk setempat dan gubernur kota. Karena prestasi-prestasinya dalam bidang ilmiah dan sastra, ayahnya diangkat sebagai kepala sekolah sebuah madrasah setempat (Darul Ulum), di mana dia menyampaikan ceramah rutin mengenai ilmu-ilmu keislaman tradisional. Ketika nama dan ketenarannya mulai tersebar ke seluruh Damaskus, dia diundang untuk memberikan khutbah rutin di Masjid Umayyah yang bersejarah di kota tersebut.

Seperti ayah dan kakeknya, Ibnu Taimiyah muda adalah murid yang sangat cerdas. Dia diberkati kecerdasan yang tajam dan memori yang kuat. Tidak heran dia menghafal begitu banyak informasi (Al-Quran, hadits, fatwa, puisi, serta buku-buku tentang filsafat dan logika) dengan mudah. Selain kekuatan ingatannya yang luar biasa, ruang lingkup membaca Ibnu Taimiyah sangat luas. Kehausannya pada ilmu pengetahuan sebegitu besarnya sampai-sampai dia mengaku telah belajar di bawah bimbingan tidak kurang dari dua ratus ulama Islam terkemuka pada zamannya. Tidak heran, Syamsuddin – kepala pengadilan Damaskus – menganggap Ibnu Taimiyah cukup kompeten untuk mengeluarkan fatwa ketika dia hampir berusia tujuh belas tahun.

Walau mendapatkan pendidikan formalnya dari seorang teolog dan ahli hukum Hanbali, sedari awal Ibnu Taimiyah sangat menyukai Al-Quran. Dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari dan merenungkan makna surah-surah dan ayat-ayat Al-Quran. Dia bahkan mengaku telah membaca lebih dari dua ratus tafsir Al-Quran demi mengakrabkan dirinya dengan keragaman pandangan mengenai pemikiran dan ilmu pengetahuan Al-Quran. Setelah melakukan penelitian yang luas pada hampir semua cabang ilmu di zamannya, dia selanjutnya dikenal sebagai seorang ulama dan pemikir Islam yang serba bisa.

Menyusul kematian ayahnya, Ibnu Taimiyah diangkat sebagai guru besar Pemikiran Islam di lembaga tempat ayahnya pernah mengajar. Kala itu dia baru berusia 20 tahun. Menurut sejarawan Syamsuddin Al-Dzahabi, Ibnu Taimiyah makan sangat sedikit dan hanya memiliki beberapa pakaian. Dia juga sama sekali menghindari gairah seksual sehingga dia tetap membujang sepanjang hidupnya.

Walaupun masih berusia dua puluh tahun, ketenaran Ibnu Taimiyah mulai tersebar luas. Kemudian pada tahun 1292, dia pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah menyelesaikan ibadah haji, dia kembali ke Damaskus dan mulai mengajar di masjid Umayyah yang terkenal di kota tersebut. sebagai seorang pembicara yang inspirasional dan membuka pikiran, kuliah-kuliahnya menarik perhatian orang-orang dari banyak tempat. Kemampuannya mengingat ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah dengan mudah membuatnya sangat populer di kalangan masyarakat Damaskus. Ribuan orang di Damaskus biasanya memenuhi masjid untuk mendengarnya berbicara.

Namun, ketenaran dan popularitasnya yang terus membesar membuat sejumlah elite teologis dan politik setempat sangat marah dan cemburu. Karena Ibnu Taimiyah sangat blak-blakan, mereka amat membencinya dan ingin dia diusir dari Damaskus. Pada tahun 1298, ketika berusia 35 tahun, terjadilah serangkaian musibah pertama yang memberi banyak penderitaan dan kesulitan kepada Ibnu Taimiyah. Tidak hanya ingin berkhotbah, dia juga berinisiatif mengeluarkan fatwa-fatwa mengenai sejumlah masalah-masalah teologis yang kontroversial. Ini membuat para ulama Damaskus geram dan meminta pemerintah lokal untuk menghukumnya atas tuduhan bid’ah. Karena ingin meredakan keributan, pemerintah pun memenuhi tuntutan para ulama dan memenjarakan Ibnu Taimiyah.

Dikenal sebagai sosok yang tidak mengenal kompromi dan kadang sangat keras kepala, Ibnu Taimiyah jarang mengalah kala berselisih dengan lawan-lawannya. Pada suatu kesempatan, ketika dia diminta untuk menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat Allah dari sudut pandang Al-Quran dan hadits, dia memberikan jawaban rinci atas pertanyaan tersebut. Namun para pengkritiknya menuduhnya sebagai penganut antropomorfisme.

Selama periode ini, Ibnu Taimiyah rutin terlibat dalam perdebatan-perdebatan polemik dengan lawan-lawannya sampai, pada tahun 1300, gerombolan Mongol tanpa diduga menembus pertahanan kuat yang dibangun oleh Dinasti Mamluk dan menduduki Suriah. Sebagai respon, Ibnu Taimiyah mendesak rakyat Damaskus untuk melakukan jihad dan membebaskan negara mereka dari pendudukan Mongol. Begitu menginspirasinya deklarasi jihad yang dikumandangkan Ibnu Taimiyah, rakyat Suriah mengangkat senjata untuk mengusir penjajah.

Terkesan dengan kemampuan Ibnu Taimiyah dalam mengerahkan massa dan pasukan, Gubernur Damaskus memintanya untuk pergi ke Kairo. Di sana, dia meminta Sultan Nasir untuk membantu Suriah dalam pertempuran mereka melawan Mongol. Tergerak oleh permohonan Ibnu Taimiyah, Sultan Nasir setuju membantu rakyat Suriah. Pasukan gabungan Mesir-Suriah menghadapi Mongol pada tahun 1302. Dalam pertempuran itu, dia berjuang seperti seekor singa sampai musuh diusir keluar dari wilayah-wilayah kekuasaan Mamluk. Sementara Ibnu Taimiyah sibuk bertempur dengan gagah berani, para pengkritiknya tidak terlihat. Bahkan beberapa dari mereka lari dari medan perang begitu melihat serangan musuh.

Peran Ibnu Taimiyah dalam perang melawan Mongol memberinya pengakuan nasional di Suriah. Tersulut oleh sambutan heroik yang diterimanya dari rakyat Suriah, para pengkritiknya kembali mulai berkonspirasi terhadapnya. Kebencian mereka terhadap pemikiran teologi dan hukum Ibnu Taimiyah yang radikal – ditambah ketenaran dan popularitas barunya di kalangan masyarakat Suriah dan Sultan Nasir (yang sering mengonsultasikan masalah politik dan agama terhangat dengannya) – mendorong mereka untuk melakukan perdebatan agama dan intrik politik demi merusak kedudukan politik-agamanya.

Ibnu Taimiyah tidak hanya amat menentang orang-orang yang mempraktikkan taqlid dalam masalah-masalah hukum, tetapi juga berinisiatif mengungkapkan apa yang dianggapnya sebagai kepercayaan-kepercayaan ortodoks dan praktik-praktik para Sufi, terutama pemikiran metafisika Ibnu Arabi. Dia juga menyerang wacana filosofis dan spekulatif Al-Farabi, Ibnu Sina, Fakhruddin Ar-Razi, Al-Syahrastani, dan bahkan mempertanyakan aspek-aspek dari sejumlah pandangan teologis Al-Ghazali.

Karena misi utamanya dalam hidup adalah memurnikan semua keyakinan, ajaran, dan praktik Islam dari cengkeraman bid’ah dan syirik, Ibnu Taimiyah bersikap sangat tegas dan tanpa kompromi dalam usahanya menghidupkan kembali norma-norma dan praktik-praktik Rasulullah. Sikapnya terhadap berbagai isu keagamaan membuatnya merasakan bui lebih dari satu kali, termasuk pada tahun 1306, 1309, 1318, dan terakhir pada tahun 1326. Namun, dia mampu bertahan dari peradilan ini dan menjalaninya dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Masa-masanya di penjara terbukti sangat produktif dari segi intelektual, karena dia menulis sebagian besar buku-bukunya pada periode ini. Sebagai seorang pakar yang tak diragukan lagi dalam bidang ilmu-ilmu tradisional dan penulis yang hebat, menurut Al-Dzahabi, Ibnu Taimiyah menulis sekitar seratus buku dan risalah mengenai ilmu-ilmu keislaman, perbandingan agama, aspek-aspek filsafat dan logika, serta mistisisme. Menurut para penulis biografinya yang lain, dia menulis sebanyak lima ratus buku, risalah, dan esai mengenai berbagai macam subjek. Buku-buku paling terkenalnya adalah Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah (Metode sunnah Nabi), Majmu al-Fatawa (Kumpulan Fatwa), Al-Raddul ala al-Mantiqin (Jawaban terhadap para ahli Mantik), Al-Siyasah al-Syari’ah (Kebijakan hukum Islam), Al-Hisba fil Islam (Pelayanan publik dalam Islam) dan Jawab al-Sabib (Jawaban yang Benar). Dia juga menulis empat puluh jilid mengenai tafsir Al-Quran yang berjudul Bahr al-Muhit, tetapi karya ini tidak selamat.

Ibnu Taimiyah meninggal dunia di penjara pada usia enam puluh lima tahun. Saat berita kematiannya disampaikan ke seluruh Damaskus, masyarakat kota tersebut berbondong-bondong keluar untuk meratapi kematiannya. Tidaklah berlebihan untuk menyebutkan pengaruh dan kebesaran Ibnu Taimiyah. Dianggap luas sebagai salah satu pemikir, ideolog, dan pejuang terbesar dalam dunia Muslim, ide-ide dan pemikiran-pemikiran keagamaannya telah menginspirasi generasi-generasi ulama, pemikir, dan reformis Islam terkemuka. Sebut saja seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Katsir, Syamsuddin Al-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Syah Waliullah, Sayyid Ahmad Barelvi, Syah Ismail Syahid, Muhammad Abduh, Haji Shari’atullah Benggala, Hasan Al-Banna, dan Abul A’la Al-Maududi.

Sumber :  100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s