Cinta Abadi

“…Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tiada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi…” (Q.S. Ar-Ra’d : 17)

Dalam temaram cahaya unggun yang meretih di luar jeruji jendela sempit, Ibnu Taimiyah melihat titik-titik bening di mata para muridnya. Ia tersenyum. Kejernihan di sorot matanya menebar, mendesak gemuruh api yang memakan kayu berkeretak. Keteduhan itu, tatapan penuh kasih itu, seperti sapuan salju di dada mereka yang membara. Kemudian, penjara kota Damaskus di tahun 728 H, menjadi saksi kata-katanya yang abadi menyejarah.

“Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Demi Allah, jika mereka memenjarakanku, inilah rehat yang nikmat. Jika mereka membuangku ke negeri antah, inilah tamasya yang indah. jika mereka membunuhku, sebagai syahid aku disambut.” Tembok-tembok yang lumutnya mengering hitam, lantai yang mencium mesra wajah sujudnya di malam dingin, dan besi-besi jeruji berkarat diam khidmat.”

“Apa yang harus kami lakukan, wahai Guru?”

“Beberapa hari ini, Sultan telah melarang penjaga memberiku pena, kertas, dan tinta. Tolong lemparkan arang-arang itu ke dalam…sungguh, aku ingin menulis.” Ya, mulai hari itu, dari arang yang menari di atas tembok saksi, salah satu karya besarnya yang berjudul Risalatul Hamawiyah dipahatkan untuk keabadian da’wah dan jihadnya. Keabadian atas hasad orang-orang kerdil jiwa yang iri padanya.

Ketika ia wafat, buku-bukunya dibakar dan dihancurkan. Muridnya, Ibnul Qayyim Al Jauziah diarak keliling kota, terikat diatas gerobak sampah. Anak-anak kecil berlarian seiring ejek tawa para dewasa, mengolok, meludahi, dan melemparinya dengan buah busuk. Hari ini, dalam katalog hampir semua perpustakaan dan toko buku orang menjumpai nama Ibnu Taimiyah.

Tetapi jika makna abadi bagi sebuah buku hanyalah keberadaan, maka sungguh sederhana ia. Lebih dari itu, ia adalah pewarisan nilai. Apa pun itu. Baik atau buruk. Maka dalam Islam ada konsep tentang sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah. Ada keshalihan jariyah yang pahalanya terus mengalir, tapi juga ada dosa yang terus mengalir. Inilah pewarisan penuh risiko. Maka apakah yang kau wariskan?

Berbahagialah Ibnu Taimiyah. Setiap huruf yang ia tuliskan tumbuh menjadi dzarrah kebaikan, memicu reaksi berantai yang mengalirkan pahala dari sisiNya. Adakah Nicolo Machiavelli menyesal ketika tahu bahwa II Principe menjadi sahabat lekat bukan hanya Pangeran Cesare de Borgia – penguasa cerdik yang ia cantumkan di halamn persembahan – tetapi juga Napoleon dan Hitler? Juga Stalin yang akan menyumbangkan pembantaian 20 juta manusia sebagai tafsir karyanya?

Jika kata adalah sepotong hati, seperti kata Abul Hasan Ali An Nadwi, maka semoga buku adalah cinderajiwa. Bagi mukmin sejati, ia adalah sekelumit manikam yang diuntai dari ketulusan terdalam. Ia adalah huruf-huruf yang mengenalkan pahatan makna dari prasasti nurani penulisnya. Maka sucilah buku sebagaimana suci jiwa yang menuangkan inspirasinya. Meski, mereka masih manusia. ada salah ada lupa.

Anggun dan bijak Imam besar ahli hadits, Syamsiddun Adz-Dzahabi berkata tentang Ihyaa’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, “Kalau saja tidak ada ilmu musthalahul hadits, maka inilah salah satu buku terbaik sepanjang masa.” Ya, ia pun mengabdi hingga kini meski kita tak menyaksikan bagaimana penulisnya kemudian menyadari indahnya hadits-hadits shahih Rasulullah. Abu Hamid Al-Ghazali wafat dengan Shahih Al-Bukhari terpeluk erat di dadany. Niat sucinyalah yang mengabadi.

Niat suci. Ikhlas. Allah telah membuat perumpamaan yang indah tentang keikhlasan.

“…Di antara kotoran dan darah, ada susu yang khalis – ikhlas, murni – mudah ditelan bagi peneguknya…” (Q.S An-Nahl : 66)

Layaknya susu yang murni itu, keikhlasan mengambil tempat dalam ancaman ketakmurnian. Ada kotoran dan darah. Tetapi susu itu murni, bergizi, bermanfaat, dan mudah ditelan. Sungguh jika seorang penulis ikhlas, ia – hati, ucapan, tulisan, dan tindakannya – akan murni, bergizi, bermanfaat, dan mudah ditelan. Mudah dicerna, menjadi energi jiwa. Aduhai sungguh malang meminum susu bercampur sedikit kotoran atau darah. Kalaupun tak muntah, jadilah penyakit. Semalang mencerap buku yang ditulis tanpa keikhlasan. Tetapi, betapa sulitnya ikhlas itu.

Syukurlah, sejarah mencatat nama Abul Faraj Ibnul Jauzy. Ia bukan raja, bukan penguasa, kata Ustadz Anis Matta dalam serial cintanya. Tetapi 50.000 orang yang hadir tiap kali ia menggelar majelisnya di Baghdad senantiasa menitikkan air mata bersamanya merasai keagungan Allah. Melalui lisannya, 30.000 orang yang tersesat kembali ke pangkuan hidayah. Dan tulisan-tulisannya pun mengabadi. Seperti Khaidul Khatir, yang oleh ‘Aidh Al Qarni disebut, “Buku paling bagus dan paling menarik yang pernah saya baca.”

Ya, cinta. Buku terkadang juga mengabadikan cinta penulisnya. Cinta yang besar, cinta yang agung, cinta yang suci. Imam As-Syafi’i menghadiahkan sebuah karya berjudul Al Umm, Sang Ibunda. kepada sang Ummi sebagai bentuk cinta kepada Ibunda yang telah membesarkannya sebagai yatim dalam kondisi papa.

Di sisi lain, Hasan Al Banna memang berkata, “Saya tidak mencetak buku, saya mencetak kader!” tetapi kecintaanya yang begitu tinggi pada da’wah tak dapat ditutupi dari Majmuu’atur Rasaail kumpulan risalah kecilnya dan bahkan Mudzakkiratud Da’wah wad Da’iyyah, memoarnya yang ditujukan untuk da’wah dan para da’inya.

Benarlah Abdullah Azzam ketika mengatakan bahwa sejarah Islam hanya ditulis dengan dua warna. Hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada’. Ia, lelaki yang meninggalkan duduk manis mengajar mahasiswa untuk tegak mengokang Kalashnikov diantara hujan peluru itu telah menuliskan kedua warnanya untuk kita.

Saat hadir pertama kali, di jalanan Kairo 8000 jilid Fii Zhilaalil Quraan dibakar. Cukuplah memiliki Ma’alim fith Thariq sebagai alasan untuk memasuki penjara perang Abdel Nasser sepuluh tahun lamanya. Tetapi Sayyid Quthub, lelaki kurus dengan kata-kata menyala yang menulis kedua buku itu meyakini dan menuliskan kalimat ini jauh sebelum kematian menjemputnya :

Kalimat-kalimat kita menjadi boneka lilin

Jika kita mati untuk mempertahankannya

Maka saat itulah ruh merambahnya

Hingga kalimat-kalimat itu hidup selamanya

Kalau saja dia hanya bicara, kata-kata ini akan menjadi hampa. Tetapi Sayyid Quthub menyongsong janji pada Rabbnya. Ia menjemput syahidnya. Maka salam untuknya, “Kalimat-kalimat itu hidup selamanya!”

Sumber : Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim oleh Salim A. Fillah

Advertisements

3 thoughts on “Cinta Abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s