Hati Ini untuk Siapa?

Siapakah diri ini?

Kemanakah hati ini berlabuh?

Kepada siapakah hati ini berpihak?

Dimanakah hati ini bermukim?

Apakah diri ini tergolong kepada manusia yang bersegera?

Apakah diri ini tergolong kepada manusia yang menunda-nunda?

Apakah hati ini condong kepada kekafiran?

Laa ilaaha ilallah…

Mengapa kafir Quraisy begitu memerangi Rasulullah SAW yang membawa kalimat tauhid ini? beliau begitu ditentang habis-habisan. Kaum kafir rela mengorbankan harta, tenaga dan nyawa agar kalimat ini tidak tegak di bumi Mekkah? Mengapa paman Nabi, Abu Thalib yang hingga akhir hayatnya, tetap tidak bersedia bersyahadat meski selama hidupnya ia teguh membela dan melindungi Rasulullah?

Wahai sekalian manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalian akan mendapat kesuksesan. (HR. Ahmad 16023, Ibnu Hibban 6562 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apa susahnya bagi mereka sekedar mengucapkan kalimat tauhid ini? karena kaum kafir quraisy sangat memahami makna kalimat ini. mereka paham akan setiap arti suku kata kalimat Laa ilaaha illallah. Mereka juga paham akan konsekuensi ketika mereka mengucapkannya. Dan mereka sadar, kalimat ini sangat bertentangan dengan keyakinan mereka. Laa ilaaha illallah tidak hanya bermakna;

Tidak ada yang berkuasa selain Allah,

Tidak ada wujud yang haqiqi selain Allah,

Tidak ada pengatur alam semesta selain Allah,

Tidak ada penguasa abadi selain Allah.

Banyak pemuja kubur, pelaku perdukunan dan klenik, sampai pecandu kejawen, mereka kekeuh menolak untuk disebut melakukan kesyirikan, karena mereka masih meyakini bahwa yang kuasa hanyalah Allah. Selama kami meyakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, yang memberi rizki hanya Allah, yang menciptakan dan menghidupkan hanya Allah, maka kami masih berpegang dengan Laa ilaaha illallah.

Subhanallah…

Andai mereka berada di zaman Nabi, mungkin semua sahabat akan menyebutnya orang munafik. Mengaku muslim, tapi perbuatannya tidak berbeda dengan  orang musyrik. Meskipun mereka shalat, mereka puasa, bahkan haji, namun ketika mereka memberikan satu peribadatan saja kepada selain Allah, berarti amal mereka menyimpang dari kalimat tauhid.

Yang kedua, justru kebalikannya. Yang penting laa ilaaha illallah ada di hati, namun sama sekali tidak pernah beramal. Tidak shalat, tidak puasa, tidak peduli dengan agamanya. Kasus semacam ini pernah terjadi di zaman ulama Tabiin Wahb bin Munabbih (w. 114 H). Ada seseorang yang bertanya kepada beliau,

“Bukankah laa ilaaha illallah adalah kunci surga.”

Maksud orang ini, yang penting orang sudah mengucapkan laa ilaaha illallah, dia terjamin masuk surga, sekalipun dia tidak beramal.

Kemudian dijawab oleh Imam Wahb bin Munabih,

Benar, laa ilaaha illallah adalah kunci surga. Namun bukankah setiap kunci harus punya gigi. Jika kamu membawa kunci yang ada giginya, dibukakan surga untukmu, jika tidak ada giginya, tidak dibukakan surga untukmu.(HR. Bukhari secara Muallaq sebelum hadis no. 1237 dan disebutkan Abu Nuaim secara Maushul dalam al-Hilyah 4/66).

Maka, makna yang benar telah dijelaskan di dalam Al-Quran

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil” (QS. al-Hajj : 62)

Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

“Disembah”

Maka, seluruh perintah Allah…Ya, keseluruhan perintah Allah dalam Al-Quran wajib diikuti, ditaati, dilaksanakan. Dan, seluruh laranganNya, wajib ditinggalkan.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu mengenakan jilbab?”, jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena ingin cantik, ingin terhindar dari godaan lelaki, disuruh, dan alasan lainnya.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu tidak memakan babi?”, jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena babi mengandung penyakit ini, penyakit itu, bakteri ini bakteri itu.

Ketika ada pertanyaan “kenapa kamu mau berlelah lelah membela agama Islam, berdakwah?” jawabannya; ini perintah Allah. Bukan karena lulusan pesantren atau ingin menjadi ustadz ataupun ustadzah.

Dan surga adalah tempat terbaik bagi kita yang menjalankannya. InsyaAllah…

Apakah hati ini condong kepada kefasikan?

Fasik artinya keluar dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintahnya. (Tafsir At-Thabari, 1 : 409).

“Kecuali iblis ((tidak mau sujud), dia termasuk golongan jin, dan dia berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya.” (Q.S. Al Kahfi : 50)

Fasik ada dua:

– Fasik besar, yaitu kufur

– Fasik kecil

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. (18) Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (19) Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (QS. As-Sajdah: 18 – 20)

Fasik disini bermakna kekafiran, karena Allah kontraskan dengan iman dan diberi ancaman dengan siksa abadi di neraka.

Sedangkan fasik kecil, adalah perbuatan kefasikan yang tidak sampai pada derajat kekafiran. Misalnya firman Allah:

“… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat: 7)

Allah dalam ayat ini menyebutkan kekafiran, kemudian kefasikan, dan maksiat. Artinya tiga hal ini berbeda. Dan kefasikan dalam ayat ini adalah fasik kecil, artinya bukan kekufuran. Dosa-dosa besar yang tidak pernah ditaubati, serta dosa-dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus hingga jadi kebiasaan merupakah benih-benih kefasikan. Naudzubillah….

Dan hati itu adalah segumpal daging, yang tak seorangpun mengetahui isinya.

Namun, Allah akan memperlihatkan kepada dunia.

Mana hati yang benar-benar bertaqwa…

Mana hati yang benar-benar mencintaiNya…

Mana hati yang selalu mengingatNya…

Mana hati yang bersegera dalam bertaubat…

Mana hati yang memilih kekafiran…

Mana hati yang memilih kefasikan…

Mana hati yang dekat dengan maksiat…

Mana hati yang munafik…

Ketika Allah turunkan ujian, cobaan, sakit, derita, nestapa, dan kehancuran negeri, maka Allah sedang menyaring hati-hati kita. Siapakah kita? Dimanakah hati kita berlabuh?

Dan Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah 208)

Semoga diri ini senantiasa tergolong ke dalam orang-orang yang berfastabiqul Khairat untuk berislam secara keseluruhan, baik hati, akal, pemikiran, pakaian, ucapan, tindakan, akhlak, dan perbuatan.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s