Tahun Kesedihan dan Petaka Thaif

  1. Tahun kesedihan

Wafatnya Abu Thalib

Abu Thalib wafat pada penghujung tahun ke-10 kenabian. Dia adalah pama Nabi Muhammad SAW yang senantiasa membentengi beliau. Dia sangat marah jika ada orang yang menyakiti beliau, dan selalu memberikan pertolongan kepada beliau. Masyarakat Quraisy pun sangat menghormati Abu Thalib. Menjelang wafatnya, para pemuka Quraisy datang menjenguknya, dan mendorongnya untuk tetap berpegang teguh pada agama nenek moyangnya dan tidak masuk Islam. Mereka berkata, “Apakah kau sudah benci dengan agama Abdul Muthalib?” sementara di lain pihak Rasulullah juga mengajak beliau untuk mengucapkan syahadat. Beliau berkata, “Ucapkanlah Tiada Tuhan selain Allah, niscaya aku akan memberikan kesaksian bagimu dengan kalimat syahadat itu pada Hari Kiamat kelak.” Maka berkatalah Abu Thalib, “Andaikan masyarakat Quraisy tidak akan merendahkanku jika aku mengucapkan kalimat itu, aku tahu mereka akan mengatakan “Abu Thalib mengucapkannya karena ketakutan”, niscaya aku akan membuatmu senang dengan mengucapkan kalimat itu.”

Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk,(Al-Qashash : 56)

Sesungguhnya, pikiran-pikiran Jahiliyah sangat kuat melekat dalam pikiran Abu Thalib, dan dia tidak sanggup untuk mengubahnya. Dia adalah sosok orangtua yang sulit untuk mengubah paradigmanya, terutama keyakinan yang selama ini telah tertanam, diwariskan dari nenek moyangnya. Terlebih lagi sahabat-sahabat dekatnya, semuanya hadir pada saat dia hendak menghembuskan nafas terakhir. Maka mereka terus menghembuskan nafas ketakutan di dalam hatinya, bahwa jika dia masuk Islam, serentak kabar buruk itu akan menyebar di tengah masyarakatnya dan akan membentuk citra buruk tentang dirinya di tengah kaumnya.

Wafatnya Khadijah

Khadijah wafat tiga tahun sebelum pelaksanaan hijrah ke Madinah, yaitu pada tahun yang sama dengan tahun wafatnya Abu Thalib.

Dengan meninggalnya Khadijah yang mengiringi kematian Abu Thalib, rasa sedih kian merundung Rasulullah, beliau sangat kehilangan dua orang yang sangat beliau sayangi, tentu saja keduanya adalah penopang perjalanan dakwah beliau, terutama di masa-masa kritis ketika itu.

Abu Thalib benteng bagi terpaan eksternal, dialah yang membela beliau dari rongrongan kaumnya. Sedangkan Khadijah merupakan sandaran bagi urusan internal. Dialah yang meringankan psikis beliau saat menghadapi berbagai cobaan dan krisis yang menerpanya.

Dengan kepergian keduanya, kesempatan besar terbuka di hadapan kaum Quraisy. Apa yang selama ini sangat mereka inginkan, namun tidak dapat terlaksana semasa hidup Abu Thalib, kini menjadi berpeluang untuk dilakukan. Maka mulailah fase-fase sulit, rintangan, musibah, dan fitnah menerpa Rasulullah, yang kini berdiri sendiri tanpa penolong kecuali Allah SWT. Namun dengan semua ini, beliau tetap tegar untuk melanjutkan langkah dakwah dan menyampaikan risalah Tuhannya kepada seluruh manusia walau semakin banyak penentangan dan intimidasi yang harus beliau hadapi.

Kitab-kitab hadits dan sirah dipenuhi oleh semua kisah tentang perjuangan Rasulullah dengan sanad-sanad yang shahih. Dan kemampuan beliau menanggung semua aral rintangan, sesuatu yang bahkan gunung pun menyerah untuk memikulnya. Maka tatkala semakin mengental semua cobaan dan fitnah yang menerpa beliau, di tengah kampung halaman beliau sendiri, dan di tengah kaumnya yang mengenal sosok beliau dari yang terkecil hingga yang terbesar, muncullah keinginan kuat dari diri beliau untuk berpindah ke negeri lain, dan hidup bersama kaum yang lain, berusaha membuka lahan baru bagi penyampaian dakwahnya, dan mencari suatu peluang bantuan dan pertolongan, sekaligus penuh harap agar semua yang akan beliau sampaikan dapat langsung diterima dengan baik. Maka dengan semua ekspektasi tersebut, berangkatlah beliau ke Thaif, suatu negeri yang paling dekat dengan negeri Makkah.

  1. Perjalanan Rasulullah ke Thaif

Walaupun masa dakwah yang harus dilalui sangat panjang, namun dia tidak pernah berhenti dari berdakwah, tak pernah menjadi jemu semangatnya, dan tak pernah menjadi lemah pemikirannya untuk memunculkan teknik-teknik baru dalam metode penyampaiannya. Al-Alusi menjelaskan dalam tafsir ayat : “Nuh berkata, “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku,” yaitu menuju keimanan dan ketaatan. “Malam dan siang,” yaitu terus-menerus tanpa pernah merasa jemu atau bosan. Kemudian dia menggambarkan penolakan kaumnya yang sangat keras : “Kemudian Sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” Al-Alusi menjelaskan tentang hal ini, “Yaitu aku (Nuh) menyeru mereka berkali-kali dengan berbagai teknik dan metode yang beragam. Hal ini berlaku umum untuk semua langkah dakwah. Kemudian pernyataan Nabi Nuh mengenai dakwahnya yang terang-terangan adalah sebuah isyarat, bahwa dakwah tersebut telah terlebih dahulu dimulai dengan cara diam-diam, karena memang cara seperti itu lebih halus dan kerap lebih mengena kepada objek dakwah.

Dalam berdakwah, Nabi melakukan berbagai macam metode, beliau pun melakukan dakwah secara diam-diam dan terang-terangan, dengan damai dan peperangan, berkelompok dan sendirian, dalam perjalanan dan sedang tidak dalam perjalanan. Beliau juga melakukan dakwahnya dengan menyampaikan cerita, perumpamaan, membuat bagan atau alur-alur dengan menggaris di atas tanah, dan lain sebagainya. Sebagaimana beliau juga memberikan kabar gembira dan peringatan, dan beliau selalu berdoa dalam setiap kesempatan dan dengan berbagai macam metode yang efektif dan dapat memberikan pengaruh.

Lihatlah, beliau melakukan perjalanan dakwah ke Thaif. Di tempat tersebut, beliau keluar masuk ke perkampungan berbagai kabilah, lalu beliau berpindah lagi dan terus melanjutkan misi dakwahnya kepada seluruh makhluk Allah.

Rasulullah berusaha untuk mengadakan pusat dakwah baru. Beliau meminta pertolongan kepada kaum Tsaqif, namun mereka menolak, bahkan mereka memberikan tanggapan dengan tindakan intimidasi, termasuk anak-anak dari kaum tersebut, melempari beliau dengan bebatuan. Lalu dalam perjalanan pulang dari Thaif beliau bertemu dengan Addas, seorang Nasrani yang kemudian masuk islam. Al-Waqiqi mencatat bahwa peristiwa ini terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Dan dia menyebutkan bahwa beliau tinggal di Thaif selama 10 hari.

Mengapa Nabi Muhammad memilih Thaif?

Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai. Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantara Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka. Bergabung pula bersama mereka Bani Daus. Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Juga di sanalah mereka mengisi waktu-waktu rehat di musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Sebagaimana juga orang-orang suku Makhzum memiliki keterkaitan kerjasama bisnis dengan orang-orang Tsaqif. Karenanya, apabila Rasulullah berencana menuju Thaif, sesungguhnya hal ini adalah rencana yang sudah dipelajari dengan seksama. Dan jika beliau berhasil menjejakkan kakinya dengan sambutan yang baik, serta menerima bantuan dari para penduduknya, tentu saja akan membuat kejutan yang menghenyakkan masyarakat Quraisy, mengancam keamanan mereka, dan mengacaukan maslahat ekonomi mereka secara langsung.

Pergerakan dakwah yang penuh strategi yang dijalankan oleh Rasulullah ini sebagai bentuk upaya beliau, dan antusias beliau, untuk mendirikan negara Islam tangguh yang sanggup bertahan dalam arena pertarungan. Karena, sesungguhnya suatu negara yang kuat merupakan fasilitas dakwah yang teramat penting dan utama. Maka tatkala beliau tiba di Thaif, beliau langsung menuju pusat kekuasaan, tempat diputuskannya suatu ketetapan politik di Thaif.

Di mana letak pusat kekuasaan di Thaif?

Bani Malik dan Bani Ahlaf adalah dua suku yang menguasai Thaif. Merekalah yang memegang kekuasaan agama dan politik serta hubungan eksternal dan ekonomi. Namun demikian, kedua suku ini tidak memiliki kemampuan maksimal dalam mempertahankan Thaif sebagai wilayah subur yang menjadi incaran banyak bangsa. Kedua suku penguasa Thaif tersebut takut kepada kabilah Hawazin, Quraisy, dan Bani Amir, kesemuanya adalah kabilah-kabilah kuat yang sangat mampu untuk melakukan pendudukan dan perampasan. Karena itulah para penguasa Thaif berusaha untuk mempertahankan politik perdamaian, demi menjaga ketenangan politik, yaitu melalui jalan utama yang melancarkan stabilitas. Itulah jalan utama yang melancarkan keinginan kaum Quraisy. Maka jadilah Bani Malik meneguhkan hubungan mereka dengan Hawazin agar mereka selamat dari kejahatannya. Sementara Bani Ahlaf menjalin hubungan dengan Quraisy untuk mengamankan sisi lainnya.

Tentu saja Rasulullah menyadari betul semua jaringan persekutuan ini. Bahkan beliau mengetahui bahwa di Thaif tidaklah terdapat satu pusat kekuasaan. Namun kekuasaan yang ada di sana terpisah-pisah sesuai dengan kesepakatan internal antara pemuka suku yang hidup di dalamnya. Maka suku yang memiliki hubungan kuat dengan sekutu eksternal dialah yang dianggap paling berkuasa di Thaif. Oleh karena itu, jika pendekatan dapat dilakukan kepada suku yang kuat tersebut, tak ayal akan memberikan pengaruh dahsyat terhadap keseimbangan politik di sana. Ini secara umum. Yang lebih khusus lagi, jika mampu melakukan pendekatan langsung kepada Bani Ahlaf, yaitu pusat persekutuan dengan suku Quraisy, maka langkah beliau bisa dikatakan sempurna, dan ini tidak mustahil. Sebab beliau mengetahui, bahwa pusat persekutuan itu tidak dibangun atas dasar loyalitas keagamaan atau aliran, hanya dibangun lantaran rasa takut terhadap suku Quraisy. Maka atas dasar persepsi tersebut, tatkala memasuki Thaif, beliau langsung menuju kepada Bani Amr bin Umair, suku yang menjadi pimpinan kelompok Al-Ahlaf dan memiliki hubungan kuat dengan Quraisy. Dan beliau tidak menemui Bani Malik yang bersekutu dengan Hawazin.

Ibnu Hisyam menuturkan, “Tatkala Rasulullah tiba di Thaif, beliau menemui beberapa orang dari Tsaqif, pada masa itu, mereka adalah pemuka-pemuka Tsaqif, yaitu Abdu Yalail, Mas’ud bin Amr, Hubaib bin Amr. Pada salah satu dari ketiganya, terdapat seorang wanita asal Quraisy dari kalangan Bani Jamuh. Hanya saja, Bani Amr terlalu takut dan memiliki banyak kekhawatiran, karenanya mereka enggan menerima dakwah Rasulullah, justru mereka bertindak keterlaluan dengan berlaku biadab kepada beliau. Lalu Rasulullah pergi meninggalkan mereka, hilanglah harapan beliau untuk berhasil mengajak kelompok terbaik Bani Tsaqif, beliau berkata kepada mereka, “Apabila kalian telah melakukan apa yang telah kalian lakukan terhadapku, maka tutupilah oleh kalian mengenaiku.” Beliau tidak ingin hal tersebut terdengar oleh kaumnya sehingga akan memperunyam keadaan. Karena dalam misinya ini, beliau berusaha melakukan serahasia mungkin, dan tidak ingin tercium pergerakannya oleh kaum Quraisy, beliau sangat memperhatikan hal-hal berikut ini :

  1. Saat berangkat ke Thaif, beliau tidak menggunakan kendaraan, namun dilakukan dengan berjalan kaki, agar orang Quraisy tidak mengira bahwa beliau akan keluar dari Makkah. Sebab jika sampai beliau menggunakan kendaraan, mereka akan membaca bahwa beliau sedang menuju suatu tempat tertentu, dan boleh jadi mereka akan melakukan penghadangan dan pencekalan.
  2. Rasulullah mengajak Zaid, anak angkat beliau dalam keberangkatan tersebut. jika dicermati, dengan memilih Zaid sebagai teman perjalanan, terdapat beberapa aspek keamanan. Yaitu, jika orang melihat bahwa ada orang lain yang menemani keberadaannya, tentunya mereka akan membaca bahwa Rasulullah tidak bergerak sendirian. Di samping itu, beliau mengenal Zaid sangat dekat. Beliau percaya Zaid dapat menjaga rahasia, karena dia adalah orang yang ikhlas, jujur, dan amanah. Dan itulah yang ditampakkan Zaid tatkala beliau diserang dengan lemparan batu. Dia dengan berani melindungi Rasulullah dengan menjadikan dirinya sebagai perisai beliau dari lemparan tersebut, walau kepalanya harus cedera.
  3. Tatkala perlakukan para pemuka dan masyarakat Thaif sangat buruk kepada beliau. Beliau dengan sabar menanggungnya, tidaklah beliau marah atau mendendam, namun beliau hanya meminta agar mereka tidak menutupi semua kejadian ini. Inilah langkah kerahasiaan yang sangat optimal. Sebab jika sampai orang Quraisy mengetahui hal itu, tidak hanya mereka akan mencerca beliau, namun boleh jadi mereka akan semakin keras dalam melakukan penindasan dan tekanan, maka semakin terhalangilah semua gerakan beliau di dalam dan di luar Makkah.

Berserah diri dan berdoa kepada Allah

Sungguh, Bani Amr adalah orang-orang yang tercela, bukannya menutupi peristiwa itu, mereka malah membesar-besarkannya dengan melakukan aksi penyerangan kepada Rasul. Mereka melempari beliau hingga berdarah-darah. Hingga akhirnya beliau dan Zaid terpojok di perkebunan Atabah dan Syaibah keduanya adalah putra Rab’iah, dan keduanya sedang berada di dalam kebun tersebut. lalu setelah melihat kondisi yang demikian, orang-orang Tsaqif yang semula mengejar beliau akhirnya kembali pulang. Lalu beliau bersandar di salah satu batang anggur. Di sana beliau dan anak angkatnya Zaid terduduk lemas, berusaha memulihkan tenaga dari apa yang baru saja keduanya rasakan, dan kedua putra Rabi’ah si pemilik kebun melihat kepada beliau dan Zaid. Keduanya pun menyaksikan dengan mata kepala apa yang diterima Rasulullah dari keburukan orang-orang Tsaqif. Maka dalam kondisi yang lemah dan tekanan psikis tersebut, beliau menengadahkan tangannya kepada Tuhannya, beliau bermunajat kepadaNya mengharap ridhaNya semata, “Ya Allah kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajahMu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenanMu.

Kasih sayang Nabi Muhammad

Ternyata sikap kasih tetap mendominasi dalam diri Rasulullah SAW di tengah petaka yang baru saja beliau terima, bukan hanya petaka fisik namun juga menekan psikis beliau. Tetapi dengan semua itu, rasa kasih yang sangat besar tetap dapat beliau tunjukkan.

Diriwayatkan dari Aisyah, sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?” Nabi menjawab, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalail bin Abdi Kulal, tetapi mereka tidak merespon ajakanku. Maka aku pun pergi dengan penuh kegundahan di wajahku, lalu aku tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarn Ats-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,” Nabi melanjutkan, “Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Nabi menjawab, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukanNya, dengan sesuatu pun.”

Memang hantaman fisik yang beliau terima dalam peristiwa ini cukup keras, namun hantaman psikis lebih parah dan lebih dahsyat, sehingga beliau limbung dan terus memikirkannya sejak beliau keluar dari Thaif hingga tiba di Qarn Ats-Tsa’alib. Tatkala semua hantaman kaum Thaif beliau terima, bahkan penderitaan itu nampak jelas di wajah beliau, beliau hanya mampu kembali kepada Allah, mengadu kepadany dengan munajat doa, hingga akhirnya datanglah jawaban dari Tuhan Penguasa semesta melalui lisan Jibril dan Malaikat penjaga gunung.

Keislaman para jin

Tatkala Nabi keluar dari Thaif menuju Makkah, dengan kondisi pupus harapan lantaran penolakan kaum Tsaqif, beliau terus berjalan hingga akhirnya tiba di sebuah kebun kurma. Beliau bangun tengah malam lalu beliau shalat. Pada saat itu melintaslah beberapa orang dari kalangan jin. Mereka berjumlah tujuh jin. Kesemuanya mendengarkan lantunan ayat Al-Quran yang dibaca oleh Nabi Muhammad. Maka tatkala beliau telah menyelesaikan shalatnya, mereka langsung berbalik kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan peringatan. Mereka telah beriman dan merespon apa yang telah mereka dengar. Para jin itu mendarat di hadapan Nabi tatkala beliau membaca Al-Quran di perut lembah yang ditumbuhi pepohonan kurma. Maka tatkala mereka mendengarnya, mereka berkata, “Diamlah kalian, dengarkan dengan baik.” Inilah seruan yang ditolak oleh kaum Musyrik di Thaif, kini dakwah tersebut sedang berpindah ke alam lainnya, yaitu alam jin, dan mereka langsung pulang menuju kaumnya untuk memberikan peringatan kepada mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Dzar Al-Ghifari kepada kaumnya, juga oleh Thufail bin Amr kepada kaumnya, juga oleh Dhimad Al-Azidi kepada kaumnya. Sehingga di dunia alam jin terdapat para dai yang akan menyampaikan dakwah Allah kepada kaumnya. Nama Nabi Muhammad terkenang selalu di hati para jin, bukan hanya hati orang beriman dari kalangan manusia saja, dari kalangan para jin pun terdapat para penolong Nabi, yang siap mengibarkan bendera tauhid, dan menobatkan diri mereka sebagai dai yang menyerukan agama Allah.

Inilah pembukaan wilayah baru dalam kancah dakwah. Walau Rasulullah harus merasa sulit untuk kembali memasuki Makkah, namun tidak demikian dengan mereka yang berasal dari alam jin. Kaum kafir Makkah dan Tsaqif tidak mampu untuk mencekal mereka yang beriman dari kalangan jin, apalagi menimpakan siksaan dan penindasan kepada mereka.

Tatkala Rasulullah memasuki kota Makkah dengan pengamanan dari Muth’im bin Adi, beliau membacakan surat Al-Jinn kepada para sahabatnya. Serentak hati mereka merespons dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan, bahkan mereka sangat tersentuh dengan pembukaan arena baru di dunia dakwah ini, dan meninggikan panji-panjinya, mereka menjadi tahu bahwa mereka menjadi tahu bahwa ada saudara mereka sesama mukmin dari kalangan jin, yang juga turut berkecimpung di medan dakwah melawan kesyirikan.

Setelah beberapa bulan, sejak pertemuan dengan kelompok pertama dari kalangan jin, beliau berjumpa lagi dengan kelompok kedua, mereka datang dengan penuh kerinduan untuk berjumpa dengan kekasih Allah dan mendengarkan bacaan ayat-ayat Allah Tuhan semesta alam dari lisan beliau. Diriwayatkan dari Alqamah, aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud, “Apakah salah seorang dari kalian menyaksikan pada malam pertemuan Rasulullah dengan kaum jin?” Ia menjawab, “Tidak.” Akan tetapi pernah pada suatu malam kami sedang bersama Rasulullah, lalu kami kehilangan beliau, maka kami mencari-cari beliau di lembah-lembah dan di lereng-lereng bukit, lalu kami berkata, “Beliau dibawa kabur atau mungkin beliau dibunuh.” Ibnu Mas’ud berkata, “Maka pada malam itu, kami melewatinya sebagai malam yang paling buruk yang pernah dirasakan oleh suatu kaum.” Lalu tatkala hari telah pergi, kami menemukan beliau muncul dari arah gua Hira, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami kehilangan engkau, lalu kami mencari-cari, namun tidaklah kami menemukan engkau, dan sungguh kami melewati malam tadi sebagai seburuk-buruknya malam.” Maka beliau bersabda, “Telah datang kepadaku seorang da’i dari kalangan Jin. Maka aku pergi bersamanya. Lalu aku membacakan untuk mereka ayat-ayat Al-Quran.”  Ibnu Mas’ud berkata, “Lalu beliau mengajak kami pergi, beliau memperlihatkan kepada kami bekas-bekas keberadaan mereka dan bekas-bekas api mereka. Lalu para sahabat bertanya kepada beliau mengenai makanan para jin, maka beliau bersabda, “Janganlah kalian beristinja’ dengan keduanya (tulang dan kotoran hewan yang kering), sesungguhnya keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian (dari kalangan jin).

Inilah pembukaan lahan dakwah yang sangat besar, dan kemenangan yang nyata di dunia jin, sebagai pembuka bagi kemenangan berikutnya yang sangat besar di alam manusia. karena setelah beberapa bulan berikutnya, beliau akan bertemu dengan para delegasi dari kalangan Anshar.

Sumber : Sejarah Lengkap Rasulullah SAW oleh Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shalabi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s