Malcolm X (1925-1966)

Salah satu pemimpin Afro-Amerika paling karismatik dan berpengaruh pada abad ke-20, Malcolm X (Al-Hajj Malik AlSyabazz) turut merintis gerakan anti-rasis terhadap kalangan kulit hitam di AS dan menyuarakan kesetaraan derajat kaum miskin di seluruh dunia dalam segala aspek kehidupan.

Masyarakat Afrika datang ke Amerika Utara bukan atas keinginan mereka sendiri, tetapi dibawa dengan paksa. Namun yang tidak begitu diketahui adalah bahwa perbudakan atas orang-orang Afrika (di koloni-koloni Inggris di Amerika Utara) dimulai sejak era 1640-an dan terus terjadi sampai akhirnya Presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln, secara resmi menghapus perbudakan (di Amerika bagian utara) dengan menandatangani Proklamasi Emansipasi pada 1863.

Namun, Amerika bagian selatan menolak peraturan semacam itu sampai arus sejarah akhirnya menenggelamkam mereka. Berkat ratifikasi amandemen ke-14, seluruh bekas budak mendapatkan kewarganegaraan Amerika. Dua tahun kemudian, berkat pasal Amandemen ke-15, mereka mendapatkan hak untuk memberi suara dalam pemilu. Pemberian hak-hak konstitusional kepada masyarakat Afro-Amerika merepresentasikan sebuah pergeseran fundamental dalam sikap Amerika terhadap populasi kulit hitam di sana, walau tak begitu berdampak pada kondisi politik dan ekonomi mereka waktu itu.

Nantinya, ketika jutaan orang Afro-Amerika pindah ke Utara untuk mencari kehidupan lebih baik, masyarakat kulit putih – yang khawatir dengan meningkatnya persaingan dalam mendapatkan pekerjaan dan rumah – bergerak melawan para pekerja migran kulit hitam. Tahun-tahun selama Periode Depresi pada dekade 1930-an semakin memperburuk perselisihan dan ketegangan rasial di seluruh AS. akibatnya, kerusuhan dan kekerasan rasial antara kulit putih dan hitam di negara-negara bagian Selatan dan Utara semakin meluas.

Terinspirasi oleh Marcus Garvey – seorang pendukung gerakan nasionalis kulit hitam yang kemudian menyebar ke seluruh AS, terbukalah jalan bagi kehadiran Gerakan Hak-Hak Sipil pada 1940-an. Salah satu pemimpin kaum Afro-Amerika paling karismatik pada abad ke-20, Malcolm X, muncul di hadapan publik pada periode ini dan meninggalkan jejak tidak terhapuskan dalam sejarah modern.

Terlahir dengan nama Malcolm Little di Omaha, Negara Bagian Nebraska. Malcolm X adalah putra seorang pendeta Baptist. Ayahnya, Earl Little, dan ibunya, Louise, merupakan anggota aktif Universal Negro Improvement Association (UNIA) bentukan Marcus Garvey. Meskipun menjadi korban kekerasan dan rasisme kulit putih, orangtuanya bekerja keras untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi mereka. Namun, Ku Klux Klan (sebuah grup supremasi kulit putih) memaksa keluarganya hengkang dari Omaha dan menetap di Lansing, Michigan. Saat itu, Malcolm masih sangat muda.

Di Lansing, keluarga itu jatuh bangun menghadapi kesulitan-kesulitan sosial-ekonomi yang mereka hadapi. Situasi mereka semain diperburuk oleh kebiasaan minum dan sikap tak terkendali Earl Little yang kerap menciptakan ketegangan dalam keluarganya, tetapi Louise tetap setia kepada suaminya.

Ketika Malcomlm berusia enam tahun, ayahnya meninggal dunia dan semakin memperburuk kesulitan yang dihadapi keluarganya. Sendirian menafkahi sembilan anak ternyata membuat ibu Malcolm sangat tertekan. Akibatnya, sang ibu mengalami kemunduran mental dan harus dirawat di sebuah institusi kejiwaan.

Seperti saudara laki-laki dan perempuannya, Malcolm besar di panti asuhan. Dia bersekolah di Mason Junior High di Lansing, di mana ia menyelesaikan pendidikannya di tingkat delapan. Di sekolah, gurunya yang berkulit putih menyarankannya untuk menjadi tukang kayu. Menurut si guru, cita-cita Malcolm menjadi seorang pengacara merupakan impian yang tidak realistis bagi seorang bocah berkulit hitam. Malcolm pun meninggalkan pendidikan formal dengan perasaan muak.

Dari Lansing, Malcolm pergi menuju Boston. Di sana dia terkejut mengetahui para pekerja kulit hitam rela dibayar dengan gaji amat kecil. Dia merasa bahwa prinsip-prinsip yang menginspirasi para nasionalis dan pejuang kebebasan kulit hitam telah dilupakan oleh para pekerja kulit hitam yang saat itu tinggal di pinggiran Boston dan New York. Sudah merasa bahagia dengan harta benda dan kenyamanan yang mereka miliki, Malcolm merasa orang-orang ini tidak lagi ingin berjuang demi tujuan Black Nationalism sebagaimana yanag dilakukan generasi terdahulu. Keadaan ini meresahkan Malcolm muda, meski saat itu dia tidak dalam posisi untuk melakukan apa pun.

Selama periode ini, Malcolm mengunjungi Boston dan New York secara rutin. Lingkungan kelas pekerja kulit hitam (seperti Roxbury di Boston dan Harlem di New York) menjadi tempat-tempat favoritnya. Terjerembab dalam dunia kelam obat bius, prostitusi dan kejahatan, Malcolm menjadi begundal dan memimpin sebuah gang pencuri. Dia pun mengukuhkan reputasinya sebagai pemimpin sebuah kelompok bandit lokal yang menakutkan.

Ketika “Detroit Red” – julukan yang diberikan kepada Malcolm karena rambut merahnya – akhirnya ditangkap, dia dinyatakan bersalah atas tuduhan perampokan bersenjata. Dipenjara selama enam tahun, Malcolm mengalami sebuah transformasi yang mengubah hidup. Setelah bertahun-tahun bergelut dalam kejahatan, kini dia mulai memikirkan kehidupannya, makna dan tujuan kehidupannya, dan juga mulai bertanya tentang hal-hal yang lebih tinggi dalam kehidupan.

Karena ingin menelusuri isu-isu ini, Malcolm membaca buku-buku sejarah, filsafat, budaya, dan agama. Selama periode ini, dia menjadi seperti seorang petapa dan membaca secara membabi-buta. Akibatnya penglihatannya terganggu dan dia harus mengenakan kaca mata. Dari hasil bacaannya yang luas, Malcolm mampu mengeksplorasi dan memahami kondisi alamiah dan kerumitan dari kehidupan, kebudayaan, dan peradaban umat manusia. dan di dalam penjara inilah saudaranya memperkenalkannya pada ajaran-ajaran Elijah Muhammad dan Nation of Islam.

Terinspirasi oleh Fard Muhammad, Elijah (putra seorang pendeta Baptis asal Georgia) mendirikan sebuah gerakan religius-nasionalis hitam, Nation of Islam, pada era 1930-an. Seiring waktu, gerakan ini menjadi kekuatan yang sangat kontroversial, tetapi besar dalam komunitas Afro-Amerika. Meskipun interpretasi rasialis Elijah terhadap Islam ditolak oleh kalangan Muslim arus utama, tetapi Malcolm merasa nada dan kepercayaan diri dalam pesannya sangat menarik orang.

Sebagai gerakan nasionalis dan religius, Nation of Islam merupakan sebuah organisasi yang sangat terorganisir dan disiplin yang memperjuangkan hak-hak kaum kulit hitam yang miskin dan tidak berhak politik. Karena pernah mengalami banyak perlakuan rasial dan kesulitan hidup yang disebabkan oleh kelompok supremasi kaum kulit putih, dia menemukan sebuah gerakan sosial religius dalam Nation of Islam yang tidak gentar menyerukan hak-hak kulit hitam. Nation of Islam tidak hanya memperjuangkan Black Nationalism. Gerakan ini juga mendukung sebuah bentuk supremasi kulit hitam atas kulit putih, sehingga Malcolm begitu mengagumi Elijah dan Nation of Islam.

Seperti yang diduga, ketika terbebas dari penjara pada 1952, Malcolm menjadi salah satu anggota aktif Nation of Islam. Selanjutnya, determinasinya untuk merekrut lebih banyak orang kulit hitam yang tidak memiliki hak politik ke dalam Nation of Islam sangat berhasil. Sebagai seorang orator yang ekspresif dan motivator yang hebat, Malcolm menyampaikan secara langsung ajaran Nation of Islam kepada masyarakat.

Kesuksesan Malcolm ini memberikan pengakuan yang diperlukannya dari para petinggi Nation of Islam, termasuk Elijah. Kerja keras, ditambah energi dan komitmen besarnya terhadap tugasnya, dengan cepat mengantarkannya dari seorang asisten Minister Nation’s Detroit Temple Number One menjadi jubir nasional organisasi itu dalam waktu yang singkat.

Yang lebih menarik lagi, ketika Malcolm pertama kali bergabung dengan Nation of Islam pada 1950-an, organisasi ini hanya punya kurang dari seribu pengikut. Namun di bawah kepemimpinannya, Nation of Islam berubah menjadi sebuah gerakan massa dahsyat yang memiliki ratusan ribu pengikut setia.

Secara rutin, Malcolm mengunjungi kawasan-kawasan kumuh kulit hitam di Detroit, Boston, dan New York. Di sana, dia mengajak para orang miskin kulit hitam bergabung dengan Nation of Islam untuk memperjuangkan hak-hak dan kebebasan mereka. Para penduduk merespon ajakannya dengan baik sehingga pada era 1960-an, Nation of Islam memiliki lebih dari empat puluh pusat keagamaan di sejumlah kota. Lebih dari itu, organisasi ini juga memiliki beberapa stasiun radio lokal untuk merekrut lebih banyak pengikut.

Berkat kecerdasan, kemampuan orasi yang menggetarkan, dan kepribadian karismatik yang dimiliki Malcolm, citra Nation of Islam yang semula tampak sebagai kelompok fundamentalis pinggiran berlahan berbalik membaik. Demikian juga ketika kecamannya terhadap ketidaksetaraan ekonomi, deprivasi sosial, ketidakberdayaan politik, dan ghettoisasi kultural Afro-Amerika senada dengan yang diutarakan massa, menjadikan popularitasnya melambung ke puncak tertinggi. Pendekatan “ungkapkan apa yang kau lihat” yang dilakukan Malcolm segera mengubahnya menjadi figur pujaan dalam komunitas kulit hitam.

Dengan cara yang sama, kecaman-kecaman kerasnya yang dilontarkan secara terus terang terhadap kelas-kelas penguasa mulai menyinggung kelompok konservatif yang menguasai negeri itu. Media sayap kanan di AS pun segera menjulukinya sebagai “kulit hitam paling pemarah di Amerika”. Menurut para pengkritiknya, Malcolm adalah seorang rasis yang menyebarkan pesan supremasi rasial yang membingungkan, kebencian agama, dan separatisme kultural. Tak mengindahkan kritik semacam itu, Malcolm terus memperjuangkan nasib orang-orang miskin kulit hitam.

Tidak seperti Martin Luther King Jr. (yang dianggapnya sebagai seorang “pecundang, bukan seorang juara”), Malcolm menjadi suara bagi jutaan orang Afro-Amerika yang tak bisa bersuara. Mereka itu adalah kalangan yang mengalami kesulitan ekonomi dan deprivasi sosial selama bergenerasi di perkampungan kumuh Detroit, Boston, New York, Chicago, Philadelphia, Cleveland, dan Idianapolis.

Kebalikan dengan yang dilakukan Malcolm, Gerakan Hak-Hak Sipil pimpinan Martin Luther King Jr. tidak banyak memberikan perubahan terhadap kehidupan orang-orang miskin Afro-Amerika di Selatan. Justru seruan Malcolm yang menyuarakan kebebasan, kemandirian ekonomi, dan pemberdayaan politik kulit hitam dengan cepat mengisi benak masyarakat kulit hitam di Utara. Bahkan, di bawah kepemimpinannya, Nation of Islam menjadi suara yang sangat kuat dan berpengaruh bagi kelas pekerja kulit hitam Amerika.

Ketika popularitas Malcolm terus menanjak, Elijah Muhammad menjadi khawatir dengan meningkatnya politisasi Nation of Islam. Karena menganggap dirinya lebih sebagai pemimpin agama dan bukannya politisi, dia tidak begitu ingin terlibat dalam politik dan urusan-urusan publik.

Meski Malcolm sangat loyal kepada Elijah, sikap apolitis Elijah terhadap banyak isu penting ketika itu membuatnya kecewa. Malcolm yang marah dan tanpa kompromi tidak sabar untuk keluar dan secara terbuka menyatakan pentingnya gerakan perlawanan kulit hitam, terutama jika ini satu-satunya cara untuk mewujudkan kebebasan hakiki kaum Afro-Amerika. Namun, kecendrungan Malcolm untuk meleburkan agama dengan aktivitas politik menakutkan Elijah. Bahkan kini dia mulai lebih melihat Malcolm sebagai halangan daripada aset.

Segera setelah itu, ketika seorang wartawan menanyakan responnya terhadap pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada 22 November 1963. Malcolm menjawab, “Saya tidak pernah menyangka para ayam itu akan pulang kandang secepat ini. Sebagai anak yang besar di peternakan, ayam yang pulang kandang tidak pernah membuat saya sedih. Ayam-ayam itu selalu membuat saya gembira.” Ini peristiwa terakhir yang membangkitkan kemarahan : Elijah menganggapnya sebagai komentator provokatif dan tidak sensitif sehingga dia melarang Malcolm untuk berbicara kepada publik.

Selama periode ini, Malcolm menyadari kesalahan manajemen Elijah terhadap keuangan Nation of Islam dan praktik seksual amoral Elijah (seperti keterlibatannya dalam hubungan di luar nikah) yang tentu saja mengagetkan dan menakutkan Malcolm. Ini mendorong Malcolm untuk hengkang dari Nation of Islam pada tahun 1964. Meskipun ini bukan keputusan yang mudah baginya, tetapi korupsi moral dan finansial yang marak terjadi pada masa kepemimpinan Elijah memantapkan niatnya.

Setelah meninggalkan Nation of Islam, Malcolm dan para pendukungnya mendirikan dua organisasi terpisah, yaitu Muslim Mosque, Inc. Dan Organisation of Afro-American Unit (OAAU) sebagai sayap politik Muslim Mosque. Malcolm kemudian berkeliling Afrika dan Timur Tengah, serta melaksanakan ibadah haji di Makkah. Di sana ia bertemu umat Muslim arus utama dan merasakan persaudaraan universal manusia yang dibawa Islam yang meresap dalam benaknya. Imbasnya, dia secara terbuka membuang pemahaman dan interpretasi Islam gaya Elijah yang tidak jelas dan menjadi seorang Muslim ortodoks. Sejak saat itu dia dikenal dengan nama muslim, al-Hajj Malik al-Syabazz. Sekembalinya ke AS, dia mulai mendukung Islam arus utama dan mengemukakan pentingnya toleransi dan pemahaman rasial dan budaya dalam seluruh sisi kehidupan masyarakat Amerika, kesetaraan sosial, keadilan ekonomi, kemerdekaan politik, dan kebebasan bagi orang-orang miskin di dunia – terutama saudara-saudaranya sesama Afro-Amerika.

Malcolm meninggal dunia pada 21 Februari 1965, tiga bulan sebelum ulang tahunnya yang keempat puluh karena dibunuh. Tiga pendukung Nation of Islam ditangkap dan dinyatakan bersalah atas kematiannya, meskipun beberapa penulis biografinya berpendapat bahwa CIA atau FBI yang berperan dalam pembunuhan Malcolm. Saat ini, Malcolm tidak hanya dianggap sebagai salah satu perintis gerakan anti-rasisme, namun juga merupakan salah satu pemimpin Muslim paling berpengaruh pada abad ke-20.

Sumber : 100 Muslim paling berpengaruh oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s