Para Panglima Perang dan Penakluk dalam Islam (Part 1)

Khalid bin Walid

Nama lengkapnya Khalid bin Walid bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum Al-Qurasyi, biasa dipanggil Abu Sulaiman, dan digelari Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Ia lebih muda 13 tahun dari Nabi. Ibunya Asma, adalah saudara perempuan Ummu Fadhl, istri Abbas, paman Nabi.

Ia menikmati kekayaan ayahnya yang sangat berlimpah. Ia tidak pernah menggeluti pekerjaan tertentu di masa jahiliyah. Ia hidup foya-foya dan menggemari pekerjaan seperti latihan menunggang kuda, lomba pacuan kuda, dan berburu. Ia adalah seorang panglima perang yang terkenal pemberani dan penyabar, dan juga terkenal sebagai seorang orator ulung yang fasih.

Tampuk pimpinan perang ditumpukan di pundaknya oleh kaum Quraisy hingga akhirnya ia menjabat sebagai pemimpin pasukan berkuda dan kepala gudang persenjataan Quraisy.

Ia berperang melawan kaum muslimin dalam perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq.

Dalam perang Uhud, ia menyerang pasukan kaum muslimin dari arah belakang di saat ia melihat pasukan pemanah muslim turun ke bawah bukit untuk menghimpun harta rampasan perang. Ia berhasil mengubah kekalahan pasukan orang-orang musyrik menjadi sebuah kemenangan yang gemilang.

Dalam perang khadaq (parit), ia menyusun strategi untuk melintasi parit dan hampir saja ia berhasil melintasinya. Namun, Allah mengirimkan badai kencang sehingga pasukan yang dipimpinnya mundur dan menderita kekalahan.

Saudaranya, Walid pernah mengirimnya sepucuk surat dalam rangka untuk mengajaknya masuk Islam. Dalam surat tersebut, Walid menuliskan, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du. Sesungguhnya aku belum pernah melihat sesuatu hal yang paling aneh dari keenggananmu masuk Islam. Saudaraku, gunakanlah akal sehatmu! Pantaskah orang seperti Anda tidak mengerti tentang Islam?! Rasulullah pernah bertanya kepadaku, “Di mana Khalid?” Aku menjawab, “Mudah-mudahan Allah mendatangkannya.” Nabi mengatakan, “Pantaskah orang seperti dia tidak mengerti tentang Islam? Seandainya dia menjadikan dendamnya dan kesungguhannya bersama pasukan kaum muslimin , niscaya hal itu lebih baik baginya, dan kami akan mendahulukannya sebagai panglima perang daripada yang lainnya.” Pikirkanlah, wahai saudaraku! Sebab kamu telah kehilangan banyak peluang untuk meraih amal shaleh.” Sepucuk surat inilah yang menjadi faktor penyebab Khalid masuk Islam pada tahun 7 H.

Setelah masuk Islam, ia meminta kepada Rasul untuk memohon ampunan kepada Allah bagi dirinya. Rasul pun memohon ampunan kepada Allah untuk Khalid dalam rangka untuk memenuhi keinginannya.

Setelah tiga panglima perang yang ditentukan oleh Rasul gugur dalam perang Mu’tah, Khalid berinisiatif memimpin pasukan kaum muslimin. Ia mengubah strategi perang secara total. Pasukan Romawi mengira bahwa kemenangan akan mereka raih setelah melihat perbedaan kostum perang pasukan kaum muslimin. Khalid dan pasukannya akhirnya berhasil masuk menerobos sebuah benteng pertahanan pasukan Romawi. Lewat benteng inilah pasukan kaum muslimin dapat keluar dari kepungan pasukan Romawi dengan selamat. Pada saat pembebasan kota Makkah, ia menghancurkan patung Al-Uzza sambil bersyair :

Hai Uzza, aku mengkufurimu, bukan untuk memohon ampunanmu. Aku melihat bahwa Allah telah menghinakanmu.

Ia ikut dalam perang menumpas orang-orang murtad, orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi, dan orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Ia juga pernah memimpin pasukan kaum muslimin untuk membebaskan beberapa wilayah baru.

Ketika melihat ada kelemahan dalam barisan pasukan kaum muslimin dalam perang Al-Yamamah melawan Musailamah Al-Kadzdzab, ia menyerukan untuk memisahkan barisan pasukan kaum muslimin. Ia memisahkan pasukan setiap kabilah. Dengan strategi ini, pasukan kaum muslimin meraih kemenangan gemilang yang belum pernah mereka raih sebelumnya. Ketika pemimpin pasukan tentara Romawi bertekad untuk memerangi kaum muslimin, Abu Bakar mengatakan di hadapan kaum muslimin, “Demi Allah, aku menumpas mereka dengan Khalid.”

Mahan, panglima pasukan Romawi, pernah mengatakan kepada Khalid, “Kami telah mengetahui bahwa kalian tidak akan keluar dari wilayah kalian kecuali karena kelaparan dan dengan susah payah. Jika kalian mau, aku akan memberi setiap prajurit di antara kalian 10 dinar, pakaian, dan makanan, dengan kompensasi kalian meninggalkan wilayah kami dan pulang ke wilayah kalian. Tahun berikutnya, aku akan mengirimkan sebanyak ini kepada kalian.” Khalid dengan tegas menjawab, “Bukan kelaparan yang mendorong kami keluar dari wilayah kami, sebagaimana yang telah Anda sebutkan tadi. Tapi kami adalah kaum yang meminum darah. Kami telah mengetahui bahwa tidak ada darah yang paling segar dan paling baik kecuali darah orang-orang Romawi. Karena itulah kami datang ke wilayah Anda!”.

Khalid bin Walid adalah panglima yang sangat lihai dan cerdik menghadapi musuh. Ia dapat menangkis setiap manuver militer musuh dan menghalau pasukan yang ingin melakukan desersi dari pasukannya. Dalam perang Yarmuk, Khalid menugaskan pasukan wanita di garis belakang pasukan dengan tujuan untuk membunuh prajurit yang berusaha melarikan diri dari medan tempur.

Ia pernah berhasil membebaskan seluruh wilayah Syam. Dalam pertempuran seringkali ia menyerukan di hadapan pasukannya, “Siapa di antara kalian yang berjanji akan berperang sampai titik darah penghabisan? Berhembuslah engkau, wahai angin surgawi! Allahuakbar! Sesungguhnya hari ini adalah hari Allah dan di hari ini tidak pantas berlaku sombong. Ikhlaskanlah perjuangan kalian! Allah akan melihat setiap amal usaha kalian.”

Umar bin Khattab pernah mencopot jabatan Khalid sebagai panglima perang agar orang tidak menjadikan Khalid sebagai fitnah bagi dirinya. Kemudian Umar bermaksud mengangkatnya kembali, tetapi Khalid menolak. Tentang Khalid, Abu Bakar pernah berkata, “Kaum perempuan lemah untuk melahirkan orang seperti Khalid.”

Al-Hafizh bin Katsir pernah mensifati Khalid sebagai orang yang tidak pernah tidur dan tidak membiarkan seorang pun di antara pasukannya yang tertidur.

Ia pernah mengatakan, “Tiada malam yang dihadiahkan kepadaku seorang pengantin wanita atau dikabari berita kelahiran seorang putraku lebih aku sukai dari malam yang sangat dingin dalam sebuah misi perang dan pagi harinya aku menyerbu pasukan musuh.”

Ketika akan meninggal, ia mengatakan, “Aku telah menyaksikan sekian banyak serdadu. Aku telah menghadapi sekian banyak serdadu dan ditubuhku tidak ada tempat melainkan di sana ada bekas tikaman pedang, tombak, dan anak panah. Dan inilah aku, yang akan mati di atas pembaringanku sebagaimana matinya seekor onta.”

Ia meriwayatkan 18 hadits dari Nabi. Di antaranya, Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling pedih siksanya pada hari kiamat kelak adalah orang yang paling pedih siksanya kepada manusia di dunia.” (HR. Ahmad)

Ia meninggal di Himsh / Madinah tahun 21 H.

Di era modern sekarang ini, strategi-strategi perang Khalid bin Walid masih dipelajari di berbagai universitas di Jerman dan Inggris.

Amr bin Ash

Nama lengkapnya Amr bin Ash Wail bin Hasyim, biasa dipanggil Abu Abdillah, dan digelari Fatih Mishr (pembebasan wilayah Mesir). Ia lahir di Makkah 50 tahun sebelum hijrah. Ia adalah sosok yang terkenal sebagai orator yang fasih, memiliki kemauan keras, cerdik dan cerdas.

Sebelum masuk Islam, ia termasuk orang yang sangat memusuhi Islam. Ia masuk Islam bersama Utsman bin Thalhah dan Khalid bin Walid pada tahun 7 H, bersamaan dengan meletusnya perang Khaibar.

Tentang Amr bin Ash, Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya Amr bin Ash adalah salah satu di antara orang terbaik Quraisy.”

Rasulullah pernah menugasinya sebagai panglima pasukan dalam pertempuran Dzat As-Sulasil. Kemudian beliau memperkuat pasukan yang dipimpin Amr dengan beberapa personil pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubadah.

Rasulullah juga pernah menugaskannya sebagai gubernur wilayah Amman. Jabatan ini tetap diembannya sampai Rasulullah wafat.

Abu Bakar pernah mengangkatnya menjadi panglima perang yang ditugaskan ke wilayah Syam. Wilayah ini baru dapat dibebaskan pada masa pemerintahan Umar Bin Khattab. Ia juga pernah berhasil membebaskan wilayah Qinnasrin dan melakukan perdamaian dengan penduduk wilayah Halb dan Anatokia. Umar juga pernah mengangkatnya sebagai gubernur wilayah Palestina. Amr menjadi pemimpin sayap kanan pasukan kaum muslimin dalam perang Yarmuk dan dalam pembebasan wilayah Damaskus.

Amr bin Ash menjadi panglima pasukan kaum muslimin dalam perang Ajnadin. Dalam perang ini, ia pernah menyamar sebagai delegasi dan menemui langsung Arteban, panglima pasukan Ajnadin. Amr menyampaikan kepada Arteban apa yang dikehendakinya dan mendengar langsung pembicaraan Arteban. Arteban curiga. Saat Amr bin Ash mau pulang, Arteban langsung menginstruksikan kepada salah seorang pasukannya untuk membunuh Amr. Amr tahu rencana Arteban, lalu ia menyampaikan bahwa ia adalah salah satu diantara 10 delegasi yang diutus Umar bin Khattab untuk menyaksikan langsung masalah kepemimpinan pasukan kaum muslimin dan untuk mendengarkan pendapat Arteban. Amr berjanji akan membawa 10 delegasi tersebut untuk menemuinya. Arteban sangat senang mendengar apa yang disampaikan Amr dan membiarkannya pulang. Ketika Arteban tahu kalau Amr telah memperdayainya, ia mengatakan, “Demi Tuhan, sungguh dia adalah orang Arab yang palig cerdik.”

Amr bin Ash juga berhasil membebaskan wilayah Mesir. Kemudian Umar bin Khattab mengangkatnya menjadi gubernur wilayah tersebut. ia menjabat selama empat tahun. Pada masa kepemimpinannya, ia berhasil mendirikan kota Fusthath (Kairo). Ia tetap menjabat sebagai gubernur Mesir sampai masa pemerintahan Utsman bin Affan, lalu Utsman mencopot jabatannya.

Ia bergabung bersama Mu’awiyah dalam perang Shiffin. Ia menjadi salah satu juru runding dalam perjanjian Tahkim (arbitrase) antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Sementara juru runding dari pihak Ali adalah Abu Musa Al-Asy’ari.

Pada tahun 38 H, Mu’awiyah mengangkatnya kembali menjadi gubernur Mesir. Jabatan ini tetap dipangkunya sampai meninggal. Putranya, Abdullah bin Amr, adalah salah satu di antara empat serangkai yang dijuluki dengan Al-Abadalah dan salah seorang sahabt besar. Di antara perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah putranya, Abdullah. Dan di antara perawi yang meriwayatkan hadits dari Abdullah adalah An-Nahdi dan Qubaishah bin Dzu’aib.

Ia meriwayatkan 39 hadits dari Nabi. Di antaranya, Nabi bersabda, “Apabila seorang hakim melakukan ijtihad dan ia benar, maka ia mendapat dua pahala; jika salah, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Al-Bukhari)

Ketika akan meninggal, ia menangis dan menghadapkan wajahnya ke tembok. Putranya, Abdullah, bertanya, “Wahai ayahku, bukankah Rasulullah telah memberitakan kabar gembira kepadamu dengan hal ini.” Amr membalik wajahnya dan menjawab, “Sesungguhnya hal yang paling utama untuk kita sebut adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad dalah utusan Allah (syahadatain). Sesungguhnya aku berada pada tingkatan yang ketiga. Kamu sendiri telah menyaksikan bahwa aku – sebelum masuk Islam – adalah orang yang paling membenci Rasulullah. Pada saat itu, aku belum bahagia sebelum aku dapat membunuh Beliau. Jika aku meninggal saat itu, maka aku akan menajdi penghuni neraka. Ketika Allah menancapkan Islam di hatiku, aku langsung menemui Nabi sembari mengatakan, “Wahai Nabi, julurkanlah tangan kananmu, aku akan membai’atmu.” Nabi pun menjulurkan tangan kanan Beliau dan menggenggam tanganku. Beliau bertanya, “Ada apa lagi, wahai Amr?” “Aku ingin mengajukan syarat”, jawabku.” “Apa yang kamu syaratkan?” tanya Nabi. “Syaratnya adalah, Allah memberiku ampunan”, kataku. Kemudian Beliau mengatakan, “Apakah kamu belum mengetahui bahwa Islam menggugurkan apa-apa yang sebelumnya, dan haji menggugurkan apa-apa yang sebelumnya.” Setelah itu, tidak ada seorang pun yang paling kucintai selain Rasulullah, dan tidak ada yang paling agung menurut pandanganku selain Beliau. Aku tidak sanggup memenuhi kedua mataku dengan air mata sebagai wujud pengagungan terhadap Beliau. Jika kamu menanyakanku, untuk mensifati keagungan Beliau, maka aku tidak sanggup melakukannya, karena mataku belum puas melihat Beliau. Jika kau meninggal dalam kondisi semacam ini, aku akan mengharap menjadi penghuni surga. Jika aku meninggal nanti, maka janganlah kamu ratapi jenazahku dan janganlah kamu iringi jenazahku dengan dupa. Jika kalian telah selesai menguburkan jenazahku, maka hendaklah kalian menaburkan tanah di atas makamku.”

Ia meninggal di Mesir tahun 43 H dan jasadnya dimakamkan di Jabal Al-Muqaththam.

Hudzaifah Ibnul Yaman

Nama lengkapnya Hudzaifah bin Hasil ibnu Jabir bin Al-Abasi, biasa dipanggil Abu Abdillah. Al-Yaman adalah nama julukan yang diberikan kepadanya. Hudzaifah pernah mengatakan, “Orang-orang bertanya kepda Nabi tentang hal-hal yang baik, sedang aku bertanya kepada Beliau mengenai hal-hal yang buruk, karena aku khawatir terjerumus ke dalamnya.”

Suatu hari, ia mengatakan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, dahulu seringkali aku bertutur kasar kepada keluargaku, dan aku takut hal itu menyebabkan aku masuk neraka.” Nabi menjawab, “Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah? Ketahuilah, sesungguhnya aku memohon ampunan Allah (istighfar) seratus kali dalam sehari semalam.”

Dalam perang Al-Ahzab, Rasulullah SAW menunjuknya sebagai inteligen (mata-mata) untuk memata-matai pasukan kafir Quraisy. Ia menyusup ke barak-barak pasukan Quraisy di tengah penerangan mendadak padam. Abu Sufyan, panglima pasukan Quraisy, menginstruksikan kepada para pasukannya agar masing-masing pasukan mencermati siapa yang berada di sampingnya. Saat itu, Hudzaifah adalah orang yang paling pertama menanyakan orang yang berada di sampingnya. Akhirnya misinya berhasil dan merasa lega karena pasukan Quraisy akan segera hengkang. Ketika itu, ia tidak membunuh Abu Sufyan, karena ia sedang menjalankan instruksi dari Rasulullah.

Hudzaifah sangat membenci sifat kemunafikan (hipokrit). Sampai-sampai tema pidato politik pertamanya ketika ditugaskan menjadi gubernur wilayah Al-Madain adalah tentang sifat munafik. Ia menyampaikan di hadapan penduduk Al-Madain, “Hendaklah kalian menjauhi mauqif al-fitan?” “Apa yang dimaksud dengan mauqif al-fitan, wahai Hudzaifah?” tanya mereka. Hudzaifah menjawab, “Mauqif al-fitan adalah pintu-pintu istana para penguasa. Boleh jadi salah seorang di antara kalian menemui gubernur atau penguasa, lalu ia membisikkan berita bohong ke telinga penguasa dan memujinya secara tidak proporsional (berlebihan).”

Umar bin Khattab pernah menugaskannya menjadi gubernur wilayah Al-Madain. Setiap kali Umar menugaskan seseorang menjadi gubernur, ia biasa menuliskan surat tugas dengan bunyi, “Aku tugaskan si Fulan dan aku perintahkan ia begini dan begitu.” Tetapi ketika Umar menugaskan Hudzaifah sebagai gubernur, ia menulis surat tugas dengan bunyi, “Hendaklah kalian dengarkan apa yang disampaikannya; patuhilah perintahnya; dan berikanlah apa yang dimintanya.”

Hudzaifah adalah inteligen Nabi yang ditugaskan untuk memata-matai perihal orang-orang munafik. Tugas ini tidak diketahui oleh seorang pun selain Beliau. Ketika Umar akan menugaskan seseorang menjadi gubernur, ia pasti bertanya terlebih dahulu kepada Hudzaifah, apakah orang yang ditunjuknya termasuk orang munafik atau tidak. “Tidak”, jawab Hudzaifah. “Apakah di antara para pembantuku adalah dari kalangan munafik?” tanya Umar. “Ya, satu orang”, jawab Hudzaifah. Setelah sekian lama berlalu, Umar menanyakan hal ini kepada Hudzaifah. Hudzaifah menjawab, “Anda telah mencopot jabatannya.”

Ketika ada seseorang yang meninggal, Umar selalu menanyakan Hudzaifah. Bila Hudzaifah. Bila Hudzaifah menghadiri shalat jenazahnya, maka Umar langsung menshalatkan jenazah tersebut. jika tidak, Umar tidak menshalatkannya.

Ia pernah menjabat sebagai wakil panglima Nu’man bin Muqrin dalam perang Nahrawand. Ia mengambil panji setelah Nu’man gugur sampai akhirnya kemenangan dapat diraih tahun 22 H.  Ia juga berhasil membebaskan kota Sanadan, Hamadan, dan Ray. Ia memilih Kufah sebagai ibu kota baru bagi kaum muslimin yang berada di wilayah Persia dan Irak. Ketika akan meninggal, ia mengatakan, “Selamat datang maut, kekasih yang datang karena rindu. Aku tidak menyesali kedatanganmu.” Ia meninggal tahun 36 H.

Ia meriwayatkan 225 hadits dari Nabi.

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s