Para Panglima Perang dan Penakluk dalam Islam (Part 2)

Qa’qa’ Ibnu Amr

Nama lengkapnya Qa’qa’ bin Amr At-Taimi, seorang penyair Arab terkemuka. Ia termasuk pemimpin pasukan berkuda dan pahlawan Arab di masa jahiliyah dan masa Islam.

Ia adalah saudara Ashim bin Amr At-Taimi, seorang penyair dan penunggang kuda yang handal. Ia pernah mengatakan, “Rasulullah pernah bertanya kepada saya, “Apa yang telah kamu siapkan untuk berjihad?” “Taat kepada Allah dan RasulNya serta seekor kuda”, jawab saya. “Itu merupakan persiapan yang paling maksimal”, kata Beliau.

Abu Bakar pernah mengatakan, “Orasi Qa’qa’ di hadapan para prajurit lebih baik dari 1000 prajurit.”

Khalid bin Walid pernah meminta bala bantuan kepada Abu Bakar saat mengepung kota Al-Hirah. Kemudian Abu Bakar mengutus Qa’qa’ bin Amr sambil berkata, “Tidak ada satu pasukan musuh pun yang akan dapat mengalahkan orang seperti dia.”

Ia bergabung bersama pasukan Ali bin Abi Thalib dalam perang Shiffin dan perang Al-Jamal. Ia berdomisili di Kuffah dan ikut dalam perang Yarmuk dan perang Al-Qadisiyah. Ia pernah berhasil membebaskan Damaskus. Mesir, dan sebagian besar wilayah Persia. Dalam perang Yarmuk, Khalid bin Walid menyruh Qa’qa dan Ikrimah untuk mengobarkan api perang untuk memulai pertempuran.

Ia adalah salah satu di antara empat orang yang diutus Umar bin Khattab untuk membantu pasukan yang dipimpin Amr bin Ash di Mesir. Saat itu, Amr bin Ash meminta bala bantuan untuk membebaskan wilayah Mesir. Dalam surat yang ditulis Umar kepada Amr bin Ash tertulis, “Aku utus kepadamu beberapa orang prajurit, di mana satu prajurit di antara mereka sebanding dengan 1000 prajurit.” Di tangan mereka, wilayah Mesir akhirnya berhasil dibebaskan.

Dalam perang Al-Qadisiyah, iring-iringan gajah Persia mengganggu pasukan berkuda kaum muslimin. Kuda yang ditunggangi lari karena takut dengan gajah. Qa’qa’ menyusun taktik untuk menghadapinya. Ia mendatangkan beberapa ekor unta dan menghiasinya dengan kain wool tebal dan kulit, lalu dipasang berguk, sehingga satu ekor unta dapat menutupi satu prajurit dan seekor unta. Unta yang dihiasi itu mirip dengan gajah. Prajurit yang menunggangi unta itu meloncat ke pasukan berkuda musuh, lalu membunuhnya. Kuda yang ditunggangi musuh takut terhadap unta yang dihiasi tersebut. pasukan muslim yang lain juga mengikuti taktik yang digunakan Qa’qa’ dan akhirnya taktik inilah yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pasukan kaum muslimin meraih kemenangan dalam pertempuran ini. Dalam perang ini, Qa’qa’ berhasil membunuh Rustam, panglima perang tentara Persia.

Umar bin Khattab pernah menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Dalam surat itu, Umar bertanya, “siapa pasukan berkuda yang paling hebat dalam perang Al-Qadisiyah?” sa’ad membalas surat tersebut dan berkata, “Aku tidak melihat prajurit yang sehebat Qa’qa’ bin Amr. Dalam satu hari, ia menyerang musuh sebanyak tiga puluh kali. Dalam setiap serangan, ia berhasil membunuh satu prajurit musuh.”

Ia juga berhasil merampas pedang milik Herculee, raja Romawi; perisai milik Bahram, raja Persia’ perisai milik Khaqan; perisai dan pedang milik Na’mam. Dalam berbagai momentum, ia seringkali memakai pedang milik Herculee dan perisai milik Kisra sebagai perhiasan.

Dalam pembebasan Al-Madain, Sa’ad bin Abi Waqqash berdo’a memohon keselamatan dan pertolongan dari Allah. Sa’ad adalah salah satu sahabat Nabi yang do’anya dikabulkan Allah. Dalam perang ini, tidak ada satu pasukan muslim pun yang gugur. Hanya ada satu pasukan yang terjatuh dari kuda tunggangannya, yaitu Qa’qa’ bin Amr.

Dalam pertempuran Jalula, Sa’ad bin Abi Waqqash menugaskan Qa’qa’ di garis depan pasukan atas instruksi dari khalifah Umar bin Khattab.

Dalam pertempuran di Nahrawand, pasukan Persia berhasil mengepung pasukan garis belakang kaum muslimin. Saat itu, Nu’man bin Muqrin menyuruh Qa’qa’ untuk menerapkan strategi bersama beberapa personil pasukan berkuda. Strategi ini diterapkan Qa’qa’ dengan cermat. Ia memanah pasukan Persia, lalu mundur ke belakang. Pasukan Persia mengejarnya, lalu ia mundur. Pasukan Persia terus mengejarnya. Ia menampakkan bahwa dirinya lari karena kejaran mereka sampai akhirnya seluruh pasukan Persia turut mengejarnya. Setelah itu, baru pasukan kaum muslimin menyerang mereka.

Pada akhir perang Nahrawand, Qa’qa’ melihat Fairuzan, panglima pasukan Persia, lari ke puncak bukit. Qa’qa’ membuntutinya dari belakang. Karena jalan di bukit sulit dilalui, Fairuzan turun dari hewan tunggangannya. Qa’qa’ pun turun dari kuda tunggangannya dan mengejar Fairuzan hingga akhirnya ia berhasil membunuhnya.

Ali bin Abi Thalib pernah mengutusnya untuk menemui Thalhah dan Zubair dalam perang Al-Jamal. Mereka akhirnya berdamai setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Qa’qa’.

Ia meninggal tahun 40 H.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Nama lengkapnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams bin Abd Manaf, biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Ia masyur dengan nama Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia lahir di Makkah tahun 20 sebelum hijrah. Ayahnya adalah Abu Sufyan, dan ibunya adalah Hindun binti Utbah. Ia adalah sosok yang terkenal fasih, penyabar, berwibawa, cerdas, cerdik, badannya tinggi besar, dan kulitnya putih.

Ia masuk Islam bersama ayah, ibu, dan saudaranya, Yazid, pada saat pembebasan kota Makkah tahun 8 H. Tentang keislamannya, ia pernah mengatakan, “Aku telah masuk Islam pada saat penandatanganan perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H, tapi aku menyembunyikan keislamanku.”

Ia ikut dalam perang Hunain bersama Rasulullah. Beliau memberinya 100 ekor unta dan 40 uqiyah (1 uqiyah = 29,75 gram emas) dari hasil rampasan perang. Rasulullah pernah mendo’akannya dan berkata, “Ya Allah, jadikanlah ia orang yang tampil ke depan memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.” Ia adalah salah seorang juru tulis Al-Quran. Ia selalu berada di garis depan pada saat pertempuran. Ia pernah berhasil membebaskan kota ‘Arqah, Jubail, dan Beirut.

Umar bin Khattab pernah menugaskannya sebagai gubernur Jordania, kemudian menjadi gubernur Damaskus setelah saudaranya, Yazid, meninggal. Ia juga pernah ditugaskan Utsman bin Affan sebagai gubernur seluruh wilayah Syam.

Pasca terbunuhnya Utsman bin Affan, ia menuntut balas atas pembunuhan tersebut. ia menuduh Ali bin Abi Thalib berada di balik pembunuhan Utsman. Setelah itu, Ali mencopot jabatannya sebagai gubernur. Tapi Mu’awiyah menolak. Ia tetap mempertahankan kekuasaannya dan menolak membai’at Ali sebagai khalifah. Ia memerangi Ali di Shiffin. Pada akhirnya, Mu’awiyah menjalankan pemerintahannya di Syam dan Ali di Irak.

Setelah Ali terbunuh, Hasan bin Ali dibai’at menjadi khalifah. Namun Hasan menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah. Karenanya, tahun 41 H disebut sebagai tahun al-jama’ah (tahun rekonsiliasi umat Islam). Mu’awiyah tinggal di Syam sebagai gubernur selama 20 tahun.

Tentang Mu’awiyah, Ibnu Abbas berkata, “Ia adalah orang yang benar-benar dalam pemahamannya terhadap ajaran agama (faqih).” Wilayah-wilayah yang berhasil dibebaskannya terbentang sampai Samudra Atlantik, benua Afrika, pulai-pulau Yunani, dan Dardanil. Ia juga pernah berhasil mengepung Konstantinopel, baik dari arah darat maupun laut.

Ia adalah muslim pertama yang mengarungi laut Romawi untuk tujuan perang. Ia juga khalifah pertama yang menjadikan kota Damaskus sebagai pusat pemerintahan, mendirikan istana-istana khalifah, mengangkat pengawal khalifah dan istana, dan membuat mihrab (tempat imam) di dalam masjid. Ia adalah khalifah pertama yang berkhutbah di Makkah di atas mimbar. Mimbar tersebut terbuat dari kayu dan terdiri dari tiga tingkat. Mimbar tersebut tetap difungsikan sampai masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid. Pada waktu itu, Mu’awiyah berkhutbah sambil duduk.

Mu’awiyah adalah seorang khalifah yang sangat menghormati para ulama, penyair, dan sahabat nabi.

Pada masa pemerintahannya, mata uang dinar dicetak dengan cap orang Badui yang sedang menghunus pedangnya. Sebelum meninggal, ia mewasiatkan khilafah kepada putranya, Yazid. Karenanya, ia adalah orang pertama yang menjadikan khilafah berdasarkan keturunan (secara turun temurun).

Suatu hari, ia pernah menggenggam sebuah gulungan rambut yang saat ini dikenal dengan nama wig. Ia berpidato di Madinah dan mengatakan kepada para penduduk Madinah, “Di mana ulama kalian, wahai penduduk Madinah? Aku pernah mendengar Rasulullah melarang hal semacam ini dan bersabda, “Bani Israil binasa tidak lain karena kaum wanita mereka menggunakan benda semacam ini.” (HR. Al-Bukhari)

Ia meriwayatkan 130 hadits dari Nabi, 13 di antaranya tercantum dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Ia pernah mengatakan, “Aku telah berambisi menjadi khalifah sejak Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, “Jika kamu memerintah, maka jalankanlah dengan baik.”

Sebelum meninggal, ia berwasiat agar jenazahnya dikafani dengan gamis yang pernah diberikan oleh Rasulullah kepadanya.

Ia meninggal di Damaskus tahun 60 H.

Mutsanna bin Haritsah

Nama lengkapnya Mutsanna bin Haritsah bin Salamah Asy-Syaibani, seorang pejuang yang dikenal pemberani dan tidak pernah takut menghadapi petualangan. Ia masuk Islam tahun 9 H. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah, Mutsana datang menemuinya dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, anggota kaumku banyak yang telah memeluk Islam. Kalau Anda berkenan, tunjuklah aku sebagai pemimpin mereka agar aku dapat berjuang memerangi orang-orang Persia. Aku cukup memimpin wilayahku saja”. Pemukiman Bani Syaiban memang berbatasan dengan wilayah Irak, tempat orang-orang Persia mengembalakan ternak mereka. Abu Bakar lalu menyerahkan panji untuk memimpin kabilahnya. Setelah itu, Mutsanna melancarkan serangan-serangan terhadap orang-orang Persia sampai akhirnya Abu Bakar memintanya untuk bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Khalid bin Walid menugaskan Mutsanna untuk mengusir pasukan Persia setelah mereka dapat dikalahkan dan melarikan diri ke wilayah Ablah. Mutsanna akhirnya dapat mengusir mereka.

Ia adalah orang pertama yang menyerang wilayah Persia pada masa pemerintahan Abu Bakar Asy-Syiddiq. Saat itu, orang-orang mempertanyakan jati diri Mutsanna. Salah seorang bertanya kepada Abu Bakar, “Siapa orang yang Anda utus ini? Padahal Anda belum mengetahui betul tentang nasabnya.” Abu Bakar menjawab, “Dia bukanlah orang yang tidak populer, bukan orang yang tidak diketahui nasabnya, tidak sedikit anggota kabilahnya, dan tidak lemah serangannya. Dia adalah Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani.” Kemudian Mutsanna mengunjungi Abu Bakar, dan Abu Bakar pun menyambut kunjungannya dengan baik.

Abu Bakar pernah memperkuat pasukan yang dipimpin Mutsanna dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash untuk membebaskan wilayah Persia.

Ia terkena luka dalam perang Al-Jisr. Dalam perang ini pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan musuh. Ia meninggal tahun 14 H akibat luka-luka yang dideritanya dalam perang Al-Jisr.

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s