Para Panglima Perang dan Penakluk dalam Islam (Part 3)

Salamah bin Al-Akra’

Nama lengkapnya Salamah bin Amr bin Sinan Al-Akra’. Putranya, Iyas, merangkum semua keutamaan ayahnya, Salamah, dalam satu kalimat ringkas,” Ayahku tidak pernah berbohong.”

Ia termasuk salah satu di antara sahabat yang ikut dalam Bai’ah Ar-Ridhwan.

Salamah adalah orang terhebat di antara pasukan pejalan kaki. Pasukan pejalan kaki biasanya menyerang pasukan musuh dengan tombak dan anak panah. Jika ia lari, ia dapat mengungguli pasukan berkuda.

Ia dapat mengusir sendirian pasukan yang menyerbu kaum wanita Madinah yang dipimpin ‘Uyainah bin Hishn Al-Fazari dalam pertempuran Dzat Qird. Pada waktu itu, Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya, “Sebaik-baik pasukan pejalan kaki adalah Salamah bin Al-Akra’.”

Ia adalah sosok yang terkenal dermawan. Ia mendermakan hartanya dengan tulus ikhlas. Jika ada orang yang meminta sesuatu padanya, ia mengatakan, “Siapa yang memberi tanpa ikhlas, lantas karena apa ia memberi?” ia pernah menyerang Afrika pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ia meriwayatkan 77 hadits dari Nabi. Ia meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang makan dengan tangan kirinya, lalu Rasulullah mengingatkannya agar makan dengn tangan kanannya. “Makanlah dengan tangan kananmu!” kata Beliau.” Aku tidak bisa”, jawab orang itu. Beliau lalu berkata, “Kamu katakan tidak bisa. Tiada yang membuatmu enggan makan dengan tangan kananmu kecuali kesombongan.” (HR. Muslim)

Pada hari terbunuhnya Utsman bin Affan, Salamah meninggalkan Madinah dan pergi ke Ar-Rubadah, tempat yang pernah dipilih oleh Abu Dzar Al-Ghifari sebagai tempat hijrah. Ia menghabiskan sisa umurnya di Ar-Rubadah, tempat yang pernah dipilih oleh Abu Dzar Al-Ghifari sebagai tempat hijrah.

Ia menghabiskan sisa umurnya di Ar-Rabadah. Pada tahun 74 H, ia berkunjung ke Madinah dalam rangka untuk menziarahi makam Rasulullah. Ia berkunjung selama dua hari, dan pada hari ketiga ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Mughirah bin Syu’bah

Nama lengkapnya Mughirah bin Syu’bah bin Abi Amir bin Mas’ud Ats-Tsaqafi, biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Mughirah Ar-Ra’y. Ia lahir di Thaif tahun 20 sebelum hijrah.

Pada masa jahiliyah, ia pernah meninggalkan Thaif dan merantau ke Iskandaria, Mesir. Saat itu, ia mengunjungi Al-Muqauqis, gubernur pemerintahan Romawi di Iskandaria. Kemudian ia kembali ke tanah Hijaz. Ia masuk Islam tahun 5 H dan mengikuti perjanjian Hudaibiyah. Ia juga mengikuti perang Yamamah, pembebasan Syam, Al-Qadisiyah, Nahrawand, Hamadan, dan wilayah lainnya. ia kehilangan penglihatan pada perang Yarmuk.

Sebelum perang Al-Qadisiyah meletus, Rustam, panglima pasukan Persia, meminta kepada Sa’ad bin Abi Waqqash untuk mengutus menemuinya salah satu di antara pasukannya yang cerdas dan intelek dalam rangka untuk menjawab beberapa pertanyaannya. Sa’ad lalu mengutus  Mughirah bin Syu’bah. Setelah bertemu, Rustam bertanya, “Kalian adalah tetangga kami dan kami selalu berlaku baik terhadap kalian serta mencegah gangguan yang mengancam keselamatan kalian. Karena itu, hendaklah kalian pulang ke wilayah kalian dan kami berjanji tidak akan menghalangi ekspedisi dagang kalian untuk masuk ke wilayah kami”. Mughirah menjawab, “Kami tidak mencari keuntungan duniawi. Tujuan kami semata-mta untuk mencari keuntungan ukhrawi. Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul”. Selanjutnya Mughirah mengatakan, “Aku akan menguasai golongan yang enggan menganut agama yang kuanut dan akan memerangi mereka. Tetapi kalau mereka mengakui agamaku, maka aku akan memberikan kemanangan kepada mereka. Agama tersebut adalah agama kebenaran. Tidak ada seorangpun yang membencinya melainkan ia akan menjadi hina, dan tidak ada seorang pun yang berpegang teguh kepadanya melainkan ia akan menjadi mulia”. “Apa agamamu itu?” tanya Rustam. “Pondasinya adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah serta pengakuan terhadap apa yang datang dari-Nya”, jawab Mughirah. “Alangkah baiknya hal itu! Lantas apa lagi?” tanya Rustam. “Semua manusia adalah anak cucu Adam. Karenanya, mereka semua adalah bersaudara dan berasal dari seorang ayah dan seorang ibu.”, kata Mughirah. “Semua manusia adalah anak cucu Adam. Karenanya, mereka semua adalah bersaudara dan berasal dari seorang ayah dan seorang ibu”, kata Mughirah. “Hal ini juga baik, lantas apa lagi?” tanya Rustam sambil berujar, “Jika kami memeluk agama kalian, apakah kalian akan hengkang dari wilayah kami?” “Tentu! Kami tidak akan mendatangi wilayah kalian kecuali ada kepentingan atau urusan dagang”, jawab Mughirah. “Hal ini juga baik”, kata Rustam. Setelah Mughirah pergi, Rustam langsung mengajak para pemimpin kaumnya untuk masuk Islam. Tetapi mereka menolak.

Umar pernah mengangkat Mughirah sebagai gubernur Bashrah. Pada masa kepemimpinannya, ia berhasil membebaskan beberapa wilayah baru. Setelah itu Umar mencopot jabatannya. Kemudian Utsman mengangkatnya menjadi gubernur Kufah. Tidak lama kemudian Utsman mencopot jabatannya.

Ia menghindar saat terjadi konflik antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia hadir bersama dua juru runding yang ditunjuk kedua belah pihak yang bertikai dalam proses tahkim (arbitrase) di Shiffin.

Mu’awiyah pernah menugaskannya sebagai gubernur Kufah. Ia adalah orang pertama yang menyusun administrasi pemerintahan di kota Bashrah. Ia juga gubernur pertama yang diberi penghormatan dalam Islam.

Asy-Sya’bi pernah mengatakan, “Ada empat orang cerdik Arab, yaitu Mu’awiyah karena kesabarannya, Amr bin Ash terhadap masalah-masalah yang problematik, Mughirah bin Syu’bah dalam hal ide spontanitasnya, dan Ziyad bin Abih terhadap kalangan tua dan muda.”

Ia meriwayatkan 136 hadits dari Nabi. Di antaranya, Nabi bersabda, “Allah telah mengharamkan kepada kalian menyakiti ibu-ibumu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menarik dan menahan harta yang bukan miliknya. Dan Allah membenci kalian menceritakan kejelekan orang lain, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ia meninggal di Kufah tahun 50 H.

Abdullah bin Amir

Nama lengkapnya Abdullah bin Amir bin Kuraiz bin Ruba’ah Al-Quraisy, biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Ia dilahirkan di Makkah tahun 4 H. Ia adalah putra paman Utsman bin Affan. Ayahnya, Amir, adalah putra bibi Rasulullah, Baidha’ binti Abdul Muthalib.

Ia adalah suami Hindun binti Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Bashrah pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ia pernah berhasil membebaskan wilayah Sajistan, Marwaruz, Syarkhas, Thus, Takhristan, Baikh, Taliqan, Nisafur, Kabul, dan lainnya.

Mu’awiyah juga pernah mengangkatnya sebagai gubernur Bashrah selama tiga tahun. Kemudian Mu’awiyah memutasikannya ke wilayah lain. ia adalah sosok pemimpin yang terkenal pemberani, mengayomi rakyat, dan gemar membangun. Ia pernah membeli beberapa bangunan di Bashrah, lalu meruntuhkannya dan menjadikannya sebagai jalan umum dan ruang terbuka untuk publik.

Ia adalah orang pertama yang membuat kolam-kolam air di padang Arafah. Ia mengalirkan air ke kolam-kolam tersebut dan memberi minum orang yang sedang wukuf. Tentang Abdullah bin Amir, Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ibnu Amir adalah pemimpin pemuda kaum Quraisy.”

Ketika mertuanya, Mu’awiyah, mendapat berita kematian Abdullah bin Amir, ia mengatakan, “Semoga Allah mengasihi Abu Abdurrahman. Dengan kematiannya, terhadap siapa lagi kita berbangga?”

Ia meninggal di Makkah tahun 59 H.

Utbah bin Ghazawan

Nama lengkapnya Utbah bin Ghazawan bin Jabir Wuhaib Al-Haritsi Al-Mazini, biasa dipanggil Abu Abdillah. Ia lahir tahun 40 sebelum hijrah dan termasuk orang yang mula-mula masuk Islam. Orang-orang kafir Quraisy pernah menyiksanya, tapi ia tabah, lalu hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Setelah kembali dari Habasyah, ia hijrah ke Madinah.

Rasulullah mempersaudarakannya dengan Abu Dujanah. Ia ikut dalam perang Badar. Ia termasuk seorang pemanah ulung. Ia berwajah tampan dan berpostur tubuh tinggi. Umar bin Khattab pernah mengutusnya ke Ablah, Persia, dalam rangka untuk membebaskan kota tersebut. saat itu, ia memimpin pasukan dalam jumlah yang cukup besar. Setelah dibebaskan, ia mengubah namanya menjadi kota Bashrah dan mendirikan sebuah bangunan masjid di kota tersebut. umar menginstruksikan agar ia tetap tinggal di kota Bashrah dalam rangka untuk mengajarkan Islam kepada penduduk setempat.

Kemudian ia menggerakkan pasukannya menuju kota Maisan dan Abdzaqubadz. Kedua kota ini akhirnya dapat dibebaskan.

Ia ikut dalm perang Al-Qadisiyah bersama Sa’ad bin Abi Waqqash. Banyak orang yang berusaha membelokkan sikap hidup zuhudnya menuju kehidupan mewah dan hidup foya-foya. Tapi ia menolak dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah menjadi orang besar dalam kehidupan duniawi kalian dan menjadi orang kerdil di hadapan Allah.”

Ia pernah mengajukan untuk mengundurkan diri menjadi gubernur Bashrah, tetapi khalifah Umar menolak. Kemudian Utbah berdoa kepada Allah agar ia tidak dikembalikan ke Bashrah dan menjadikannya sebagai gubernur untuk selama-lamanya. Allah mengabulkan doanya. Ia meninggal di tengah perjalanan sebelum sampai ke wilayah Bashrah.

Ia meriwayatkan 4 hadits dari Nabi. Ia meninggal tahun 17 H.

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

 

Advertisements

One thought on “Para Panglima Perang dan Penakluk dalam Islam (Part 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s