Tokoh-Tokoh Terkemuka dari Kalangan Syuhada (Part 1)

Hamzah bin Abdul Muthalib

Nama lengkapnya Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abd Manaf Al-Qurasyi, biasa dipanggil Abu Imarah dan digelari Sayyid Asy-Syuhada’ (penghulu para syuhada). Ia juga digelari sebagai Asadullah (singa Allah) dan Asad Ar-Rasul (singa Rasulullah). Ia dilahirkan di Makkah dua tahun sebelum kelahiran Rasulullah. Ia adalah paman Nabi sekaligus saudara Beliau sepersusuan. Ibunya, Hamzah, adalah putri bibi Aminah, ibunda Rasulullah.

Ia adalah pemuda Quraisy yang paling mulia dan paling kuat kesadarannya akan harga diri. Ia juga seorang pemanah ulung, cerdas, dan akhlaknya mulia. Ia termasuk orang yang melamar Khadijah dari ayahnya untuk Rasulullah sebelum Beliau diangkat menjadi Nabi.

Hamzah pernah menjumpai Abu Jahal mencela Nabi dan ia langsung memukul Abu Jahal sambil mengatakan, “Anda berani menghina Beliau sedang aku mengikuti agamanya dan kuucapkan apa yang dikatakannya.” Kemudian ia membawa Abu Jahal dan menyerahkannya di hadapan Nabi.

Ia keluar dari Darul Arqam saat kaum muslimin telah menampakkan agama mereka secara terang-terangan sebagai salah satu pemimpin diantara dua barisan kaum muslimin untuk melaksanakan tawaf di Ka’bah dan umar bin Khattab bertindak sebagai pemimpin barisan yang lain. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Zaid bin Haritsah. Ia menikah dengan Salma binti Umais, saudara perempuan sahabat besar, Asma binti Umais. Dari hasil perkawinannya dengan Asma, ia dikaruniai seorang putri yang bernama Imarah.

Rasulullah SAW menugasinya sebagai orang pertama yang membawa panji dalam Islam. Beliau menunjuknya sebagai komandan 30 pasukan berkuda dari kalangan muhajirin dalam perang Saiful Bahar. Dalam setiap pertempuran, biasanya ia meletakkan bulu halus di dadanya.

Dalam perang Badar, ia berperang dengan bersenjatakan dua pedang. Dalam perang ini, ia berhasil membunuh Syaibah bin Rubai’ah, pahlawan tentara kafir Quraisy, Thuma’ah bin Ady, dan lainnya. Tentang Hamzah, Umayyah bin Khalaf mengatakan, “Itulah yang dilakukan Hamzah terhadap kita.”

Ia meriwayatkan dari Nabi, bahwa Beliau pernah bersabda, “Hendaklah kalian selalu bermunajat dengan do’a ini, “Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan namaMu yang paling agung dan dengan ridhaMu yang paling besar, karena nama ini adalah salah satu di antara asma Allah.” (HR. Ath-Thabarani)

Hamzah gugur sebagai syahid karena tikaman tombak. Wahsy bin Harb, budak milik Jubair bin Muth’im. Lalu Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, membedah perut Hamzah dan mengunyah hatinya. Tidak hanya sampai disitu, tentara orang-orang musyrik juga memotong hidung dan kedua telinga Hamzah, lalu mencincang jasadnya. Rasulullah SAW sangat bersedih atas kejadian ini. Saat itu Beliau mengatakan, “Tidak akan ada lagi orang yang mengalami sepertimu, wahai Hamzah. Aku belum pernah mengalami kondisi sesedih ini. Jibril datang dan memberitahu bahwa nama Hamzah termaktub di penghuni langit yang tujuh dengan nama Hamzah bin Abdul Muthalib, Asad Allah (singa Allah) dan Asad Rasulih (singa RasulNya).” Selanjutnya Beliau mengatakan, “Demi Allah, jika suatu hari nanti Allah menganugerahkan kemenangan kepada kita atas mereka, maka kita akan mencincang jasad-jasad mereka, dimana seorang arab pun belum pernah melakukan yang sepertinya.” Lalu turunlah firman Allah, “Dan jika kamu memberi balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl : 126)

Rasulullah SAW menshalati jenazah Hamzah sebanyak 72 kali, karena sewaktu Beliau menshalati para syuhada Uhud, Beliau menyuruh meletakkan jenazah seorang syahid di samping Hamzah dipindah dan diganti dengan jenazah syahid di samping jenazah Hamzah, lalu keduanya dishalati. Kemudian jenazah yang disamping Hamzah dipindah dan diganti dengan jenazah syahid yang lain sementara jenazah Hamzah tidak dipindah (HR. Ath-Thabarani)

Mush’ab bin Umair

Nama lengkapnya Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf Al-Abdari Al-Qurasyi. Ia digelari dengan Safir Al-Islam (duta besar Islam), Mush’ab Al-Khair (orang baik), dan Mush’ab Al-Qari (penghafal Al-Quran).

Ia adalah sosok sahabat yang terkenal pemberani. Ia lahir di tengah-tengah keluarga yang kaya raya dan bergelimang harta. Ibunya, Khannas binti Malik adalah seorang wanita Quraisy yang memiliki kekayaan yang berlimpah. Ia juga termasuk pemuda Makkah yang paling berwibawa, paling tampan, paling lembut, paling teguh pendiriannya, dan paling harum aroma parfumnya.

Ia termasuk orang yang mula-mula masuk Islam. Ibunya menangis agar Mush’ab merasa iba dan mau murtad dari agama Islam, tapi ia menolak. Rasulullah memuji Mush’ab di saat orang-orang Islam bersedih melihat kondisi Mush’ab yang berubah menjadi miskin, mengenakan pakaian yang compang-camping, dan makan seadanya. Ia adalah duta besar Islam pertama dalam Islam. Rasulullah pernah mengutusnya bersama 12 orang laki-laki dari Yatsrib (Madinah) yang telah masuk Islam pada Bai’at Aqabah I dalam rangka untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah.

Tercatat banyak orang yang masuk Islam melalui tangan Mush’ab. Diantaranya Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz, keduanya adalah pemimpin kabilah mereka. Setelah bermukim selama enam bulan di Madinah, ia kembali ke Makkah bersama 72 orang penduduk Madinah yang telah masuk Islam.

Ia adalah orang pertama yang mendirikan shalat jum’at dalam Islam. Ia meninggalkan kota Madinah dan di kota itu tidak ada satu rumah melainkan di dalamnya telah disebut nama Allah (dzikir) dan nama Rasul-Nya. Kaum muslimin menggelarinya dengan Mush’ab Al-Khair (orang baik) dan Rasulullah juga pernah mendo’akannya.

Rasulullah mempersaudarakannya dengan Abu Ayyub Al-Anshari. Ia adalah pembawa panji Nabi dalam perang Badar dan perang Uhud. Dalam perang Uhud, Ibnu Qumai’ah memotong tangan kanan Mush’ab, lalu Mush’ab membawa panji dengan tangan kirinya. Kemudian Ibnu Qunai’ah memotong tangan kirinya, lalu kedua lengan atasnya menarik panji dan meletakkannya di dadanya. Kemudian Ibnu Qumai’ah menembak dada Mush’ab dengan anak panah dan Mush’ab pun gugur sebagai pahlawan syahid.

Ia sangat mirip dengan Rasulullah, sampai-sampai Ibnu Qumai’ah mengira bahwa dia telah berhasil membunuh Rasulullah dan memaklumkannya kepada orang lain. Setelah Mush’ab gugur, para sahabat tidak mendapati harta miliknya kecuali sehelai kain yang jika kepalanya ditutup, maka kakinya terbuka; dan jika kakinya ditutup, maka kepala terbuka. Rasulullah lalu menyuruh para sahabat untuk menutup kepala Mush’ab dengan kain tersebut dan menyuruh untuk menutup kakinya dengan daun.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ayat berikut turun berkaitan dengannya. Allah SWT berfirman, “Di antara orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (Al Ahzab : 23)

Ia meninggal sebagai pahlawan syahid tahun 3 H dalam usia 40an tahun.

Zaid bin Haritsah

Nama lengkapnya Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kilabi. Pada waktu Bani Mi’an menyerang kabilahnya, ia masih kecil. Mereka menawan Zaid dan menjualnya di Makkah kepada Hakim bin Hizam. Hakim lalu memberikannya kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid. Kemudian Khadijah memberikannya kepada Rasulullah, lalu Beliau memerdekakannya. Ia berpostur tubuh pendek, warna kulitnya coklat, dan hidungnya pesek. Ayahnya, Haritsah, pernah mencarinya hingga akhirnya ia menemukannya di Makkah. Kemudian ayahnya menyuruhnya memilih antara ikut bersamanya atau tetap tinggal di Makkah. Zaid memutuskan untuk tetap tinggal di Makkah dan hidup bersama Rasulullah. Pada waktu itu, Nabi gembiranya, Beliau menyerukan di Makkah, “Hai penduduk Makkah, saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Ia berhak mewarisiku dan aku berhak mewarisinya.” Setelah itu, ia dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Ia adalah orang yang berada di urutan kedua yang mula-mula masuk Islam sesudah Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah.

Rasulullah menikahkan Zaid dengan putri paman Beliau, Zainab binti Jahsyin. Akan tetapi, ikatan perkawinan mereka tidak berlangsung lama. Mereka akhirnya memilih bercerai. Kemudian Rasulullah menikahi Zainab binti Jahsyin berdasarkan wahyu dari Allah. Orang-orang munafik di Madinah mengejek Beliau sambil mengatakan, “Bagaimana bisa orang ini menikahi istri anaknya sendiri.” Lalu turunlah firman Allah, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah (utusan Allah)…” (HR. Al-Ahzab : 40)

Kemudian Zaid menikah dengan Barkah, biasa dipanggil Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah salah satu di antara wanita yang menyusui anak-anak Rasulullah. Dari hasil perkawinan ini, ia dikaruniai seorang anak yang bernama Usamah.

Ia meriwayatkan 4 hadits dari Nabi. Tentang Zaid, Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah mengutusnya ke medan perang, melainkan Beliau mengangkatnya sebagai panglimanya.” Peperangan terakhir yang diikutinya adalah perang Mu’tah. Ia gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang ini tahun 8 H. Menyusul kemudian Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah; keduanya menjabat sebagai panglima perang sepeninggal Zaid.”

Ja’far bin Abi Thalib

Nama lengkapnya Ja’far bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, biasa dipanggil Abu Al-Masakin (bapaknya orang-orang miskin) dan digelari Dzu Al-Janahain (pemilik dua sayap) dan Ja’far Ath-Thayyar (orang yang dapat terbang). Ibunya adalah Fatimah binti Asad. Ia adalah putra paman Nabi, Abu Thalib. Istrinya adalah Asma binti Umais. Putranya adalah Abdullah, Muhammad, dan Aun. Ia lebih tua 20 tahun dari adiknya, Ali bin Abi Thalib. Ia adalah orang yang paling mirip dengan Nabi dan termasuk orang yang mula-mula masuk Islam. Ia ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia), gelombang pertama dan kedua.

Di Habasyah, ia pernah berbicara atas nama kaum muslimin yang berhijrah ke sana di hadapan An-Najasyi, raja Habasyah. Saat itu, An-Najasyi bertanya kepada mereka tentang agama Islam, lalu Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Wahai raja Habasyah, dahulu kami adalah kaum yang menyembah berhala; memakan bangkai; melakukan kejahatan; memutus hubungan silaturrahim; dan mempergauli tetangga dengan tidak baik. Orang-orang kuat menindas orang-orang lemah diantara kami. Kami tetap dalam kondisi seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari golongan kami sendiri. Kami mengetahui betul tentang asal usul nasabnya, kejujuran, amanah, dan kesucian dirinya. Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembahNya dan meninggalkan apa yang kami sembah dan yang disembah oleh nenek moyang kami seperti batu dan berhala. Ia menyuruh kami untuk berkata jujur, menunaikan amanat, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, dan memelihara kehormatan dan darah. Ia melarang kami berbuat kejahatan, bersumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita-wanita yang menjaga kehormatan dirinya. Ia menyuruh kami untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Ia menyuruh kami untuk menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa. Kami membenarkannya dan beriman kepadanya, lalu kami menyembah Allah Yang Maha Esa dan kami tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Kami mengharamkan apa-apa yang Dia haramkan bagi kami dan menghalalkan apa-apa yang Dia halalkan bagi kami. Karena itu, kaum kami memusuhi, menyiksa, dan mengintimidasi kami agar kami kembali menyembah berhala, menghalalkan apa-apa yang dahulu kami halalkan dari hal-hal keji. Tatkala mereka memaksa kami, bertindak sewenang-wenang, mengintimidasi, dan berupaya memisahkan antara kami dengan kaum kami, maka kami berhijrah (bermigrasi) ke wilayah kekuasaan Anda. Kami memilih Anda ketimbang yang lain. wahai Raja Habasyah, kami senang hidup dengan Anda dan kami berharap Anda tidak memperlakukan kami dengan sewenang-wenang.” Selanjutnya Ja’far membaca beberapa ayat pertama dari surat Maryam. Mendengar bacaan Al-Quran itu, Raja An-Najasyi menangis dan menangis pula para uskup yang berada disampingnya. Kemudian An-Najasyi mengatakan, “Sesungguhnya ini (ajaran yang dibawa Muhammad) dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa benar-benar bersumber dari satu lentera.”

Ia pulang dari Habasyah dan menemui Nabi pada waktu perang Khaibar tahun 7 H. Nabi mengatakan saat menyambut kedatangan Ja’far, “Aku tidak tahu atas apa aku merasa gembira, karena kedatangan Ja’far atau karena kemenangan perang Khaibar.”

Ja’far adalah sosok sahabat yang sangat mencintai orang-orang miskin. Ia senang duduk dan mengobrol dengan mereka. Karenanya, Rasulullah menjulukinya dengan Abu Al-Masakin (bapaknya orang-orang miskin).

Rasulullah mengangkatnya sebagai wakil panglima perang dalam perang Mu’tah. Ketika Zaid gugur di medan perang, Ja’far mengganti posisinya sebagai panglima perang. Dalam perang ini, ia terkena 70 luka. Ia membawa panji dengan tangan kanannya, lalu tangan kanannya putus karena sabetan pedang tentara musuh. Lalu ia membawanya dengan tangan kirinya dan tangan kirinya juga mengalami hal yang sama. Kemudian ia membawanya dengan lengannya hingga akhirnya ia gugur sebagai pahlawan syahid.

Ia gugur sebagai syahid pada tahun 8 H. Rasulullah SAW menyiarkan berita kematiannya sambil meneteskan air mata.

Tentang Ja’far, Rasulullah SAW mengatakan, “Aku masuk ke dalam surga dan kulihat Ja’far terbang bersama para malaikat sedang kedua sayapnya penuh dengan lumuran darah.”

Rasulullah SAW memberitakan bahwa Allah memberinya ganti dengan dua sayap sehingga ia dapat terbang dengan keduanya di surga. Karenanya, Ja’far dijuluki sebagai Asy-Syahid Ath Thayyar (pahlawan syahid yang dapat terbang)

Ketika datang berita tentang kematian Ja’far, Rasulullah menemui Asma binti Umais, Istri Ja’far, dan Beliau menyatakan turut berbelasungkawa atas kematian Ja’far. Kemudian Beliau menemui Fatimah yang saat itu sedang menangis, lalu Beliau mengatakan, “Orang-orang pantas menangis atas kematian orang seperti dia.”

Jika Umar bertemu dengan Abdullah bin Ja’far, ia mengucapkan, “Semoga Allah menganugerahkan keselamatan kepadamu, wahai putra Dzu Al-Janahain (pemilik dua sayap).”

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s