Tokoh-Tokoh Terkemuka dari Kalangan Syuhada (Part 2)

Husein bin Ali bin Abi Thalib

Nama lengkapnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, biasa dipanggil Abu Abdillah. Ia lahir di Madinah tahun 4 H. Nabi menamainya Husein dan ia adalah orang pertama yang dinamai dengan Husein. Ia adalah penghulu pemuda penghuni surga.

Husein mirip dengan Nabi dari dada sampai ujung kaki. Ia dididik di rumah kenabian. Rasulullah sering mengajaknya bermain dengan menunggangkannya di atas punggung Beliau, lalu Beliau berjalan di atas kedua kaki dan tangan Beliau.

Ia adalah sosok yang terkenal banyak menunaikan shalat, puasa, haji, sedekah, dan pelbagai amal kebajikan lainnya.

Ia pernah dua puluh lima kali menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Hadits-hadits riwayatnya banyak dihimpun dalam Kutub As-Sittah (enam kitab hadits). Anak-anaknya ialah Ali Al-Akbar, Ali Al-Ashghar, Fatimah, dan Sakinah.

Ia berangkat bersama ayahnya ke Kufah dan ikut bersamanya dalam perang Al-Jamal (perang onta), perang Shiffin, dan perang melawan Khawarij. Pasca Am Al-Jama’ah (tahun persatuan/rekonsiliasi) tahun 41 H, ia menetap di Madinah bersama saudaranya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Ia menolak membai’at Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah sepeninggal ayahnya, Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia lalu bersembunyi di Makkah selama beberapa bulan.

Penduduk Irak membai’atnya sebagai khalifah. Setelah memperoleh bai’at, ia berniat memerangi Yazid bin Mu’awiyah. Ia akhirnya keluar untuk menemui Yazid dan bertemu dengan bala tentara Dinasti Umawiyah yang dipimpin oleh Ziyad bin Abih di Karbala. Ketika perang berkecamuk, para pendukung Husein melarikan diri dari medan tempur, sehingga ia terkena tembakan anak panah dan terjatuh dari kuda tunggangannya, lalu dibunuh. Kepalanya dipenggal, lalu dibawa bersama para istri dan anak-anaknya ke Damaskus. Yazid sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Husein ini, karena ia menginstruksikan para prajurit untuk menekan Husein, bukan membunuh dan memeranginya. Kemudian keluarga Husein dipulangkan ke Madinah atas permintaan mereka sendiri. Terdapat perbedaan informasi tentang tempat kuburan kepala Husein. Ada sejarawan yang berpendapat bahwa kepala dan jasadnya dimakamkan di Karbala. Ada yang berpendapat, kepalanya dimakamkan di Damaskus atau di tempat lain.

Ia meninggal sebagai syahid di Karbala tahun 61 H.

Sa’ad bin Muadz

Nama lengkapnya Sa’ad bin Mu’adz bin Nu’man bin Imri’ul Qais Al-Ausi Al-Anshari, pemimpin kabilah Aus dan pembawa panji mereka dalam perang Badar. Postur tubuhnya tinggi besar.

Ia masuk Islam di Madinah di tangan duta besar Islam, Mush’ab bin Umair. Ketika Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam perang Badar, Sa’ad berbicara atas nama orang-orang Anshar. Kepada Rasulullah, Sa’ad mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan membenarkan kenabianmu. Kami juga menjadi saksi bahwa apa yang Anda bawa adalah kebenaran. Atas dasar itu, kami telah menyatakan janji setia kepada Anda. Jalankanlah apa yang Anda kehendaki, wahai Rasulullah, kami akan tetap bersama Anda. Demi dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, seandainya Anda mengarungi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, niscaya kami akan terjun bersama Anda dan tidak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami tidak akan benci bila Anda menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan bertempur bila bertemu dengan musuh. Semoga Allah memperlihatkan kepada Anda apa yang menyenangkan mata Anda dan kami. Marilah kita berangkat ke medan tempur dengan berkah Allah.”

Ia ikut dalam perang Uhud dan tidak lari dari medan tempur. Pada perang Al-Ahzab, Rasulullah mendelegasikannya bersama Sa’ad bin Ubadah untuk menemui Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, dalam rangka untuk meminta keterangan tentang sikap mereka terhadap perjanjian lama yang pernah mereka tanda tangani bersama Nabi. Akan tetapi mereka ingkar janji.

Dalam perang Al-Ahzab, Nabi bermusyawarah dengan Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah tentang pemberian sepertiga dari hasil panen buah-buahan Madinah kepada Bani Ghathafan agar mereka tidak bersekutu dengan orang-orang kafir Quraisy. Kepada Nabi, mereka berdua mengatakan, “Jika itu yang diperintahkan Allah kepada Anda, maka jalankanlah perintah itu. Tapi kalau itu bukan perintah dariNya, maka demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada mereka kecuali pedang (memerangi mereka).” Nabi menjawab, “Aku tidak diperintahkan dengan sesuatu. Sekiranya aku diperintahkan dengan sesuatu, maka aku tidak akan mengajak kalian berdua untuk musyawarah. Itu adalah pendapat yang aku paparkan kepada kalian berdua.” Mereka berdua mengatakan, “Wahai Rasulullah, demi Allah, pada masa jahiliyah, mereka tidak memakan sedikitpun dari buah-buahan itu dari kami (tidak mendapatkan bagian). Lantas bagaimana dengan sekarang, di mana Allah telah memberi kami petunjuk melalui Anda, memuliakan, dan mengokohkan kami. Demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada Bani Ghathafan, kecuali pedang,” Nabi sangat gembira mendengar pendapat mereka berdua ini. Beliau akhirnya memutuskan untuk tidak berdamai dengan Bani Ghathafan. Setelah itu Sa’as memutuskan untuk tidak berdamai dengan Bani Ghathafan.

Dalam perang Khandaq (parit), lehernya terkena tembakan anak panah. Luka-lukanya pun diobati. Ketika sakit, ia berdoa kepada Allah agar Dia menjadikan luka-lukanya sebagai jalan baginya untuk memperoleh kesyahidan dan berkata, “Ya Allah, jangan Engkau matikan aku sebelum mataku senang melihat keputusan terhadap Bani Quraizhah.”

Allah mengabulkan do’anya. Bani Qraizhah memohon kepada Rasulullah – setelah mereka menyerah – agar Sa’ad yang bertindak sebagai hakim untuk memutuskan hukuman terhadap mereka. Sa’ad akhirnya memutuskan agar kaum laki-laki mereka dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, dan harta mereka diambil. Keputusan Sa’ad ini sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah.

Ia meninggal akibat luka-luka yang dideritanya dalam perang Khandaq tahun 5 H dalam usia 37 tahun. Para malaikat turut mengantar jenazahnya dan Ary berguncang karena kematiannya. Jasadnya dimakamkan di Baqi.

Orang-orang yang mengusung keranda jenazahnya pernah mengatakan, “Alangkah ringannya keranda jenazah ini!” Kepada mereka, Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat ikut mengusung kerandanya.”

Beliau juga mengatakan, “Telah turun 70.000 malaikat untuk mengantarkan jenazah Sa’ad bin Mu’adz dan mereka tidak menginjak tanah.”

Suatu hari, Nabi mendapat hadiah berupa kain sutra. Para sahabat sangat kagum melihat kelembutan kain sutra tersebut. Nabi mengatakan kepada mereka, “Sapu tangan Sa’ad bin Mu’adz di surga lebih utama atau lebih lebih baik dari ini.”

Beliau pernah mengatakan, “Singgasana Tuhan Yang Maha Pengasih berguncang atas kematian Sa’ad bin Mu’adz.” Beliau juga mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kuburan itu memiliki himpitan. Sekiranya ada seseorang yang selamat dari himpitan itu, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat darinya.”

Abu Salamah

Nama lengkapnya Abdullah bin Abd Al-Asad bin Hilal Al-Makhzumi Al-Quraisy, niasa dipanggil Abu Salamah. Ibunya, Barrah binti Abdul Muthalib, adalah bibi Rasulullah. Ia adalah saudara Rasulullah dan saudara Hamzah bin Abdul Muthalib sepersusuan.

Ia termasuk orang yang mula-mula masuk Islam dan berada di urutan ke-11 dari orang yang paling dini masuk Islam. Abu salamah dan istrinya, Ummu Salamah, ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia), gelombang pertama dan kedua. Ia pernah lari dari penyiksaan orang-orang kafir Quraisy ke pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib pun melindungi kemenakannya dari mereka sembari berujar, “Aku akan melindungi putra saudara perempuanku sebagaimana aku melindungi anak saudara laki-lakiku (maksudnya Rasulullah).”

Ia termasuk orang yang mula-mula hijrah ke Habasyah dan ke Madinah.

Ia ikut dalam perang Badar. Ia pernah ditugaskan Rasul untuk menggantikan Beliau di Madinah ketika Beliau keluar untuk memimpin perang Al-‘Usya’irah tahun 2 H.

Dalam perang Uhud, ia terkena luka dan luka-luka itupun diobati selama satu bulan. Rasulullah SAW pernah mengutusnya untuk memimpin sebuah perang yang tidak diikuti oleh Beliau. Setelah kembali dari medan perang. Ia jatuh sakit akibat luka yang menimpanya dalam perang Uhud. Kemudian ia menhembuskan nafas terakhir tahun 3 H. Rasulullah ikut melayat kematiannya dan memejamkan matanya dengan tangan Beliau.

Kemudian Rasulullah menikahi Ummu Salamah pasca kematian Abu Salamah, sehingga Ummu Salamah menjadi salah satu dari Ummu Mukminin (ibu-ibu orang yang beriman). Beliau juga mengasuh semua anak-anak Abu Salamah, yakni Umar, Salamah, Zainab, dan Durrah.

Ammar bin Yasir

Nama lengkapnya Ammar bin Yasir bin Amir Al-Kinani, biasa dipanggil Abu Yaqzhan, dan digelari Ath-Thayyib Al-Muthayyib (orang baik). Ia dilahirkan tahun 57 sebelum hijrah. Ayahnya, Yasir, adalah orang yang berimigrasi ke Makkah, lalu menetap di sana. Yasir lalu menikah dengan Sumayyah binti Khayyath, ibunda Ammar. Sumayyah, ibu Ammar, adalah syahid pertama dalam Islam. Ammar memiliki postur tubuh tinggi, kurus, kepala bagian depannya berambut lebat dan kedua bola matanya hitam kemerah-merahan.

Ia adalah salah satu di antara tujuh orang yang menampakkan keislamannya. Orang-orang kafir Quraisy seringkali menyiksanya dengan kejam. Mereka pernah menenggelamkan kepalanya di air, memukulinya, dan tidak memberinya makan dan minum, sampai-sampai ia tidak bisa duduk dengan sempurna dan tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dalam kondisi seperti itu, terkadang ia mencaci maki Rasulullah, tetapi Rasulullah berusaha menenangkannya sembari berkata, “Jika mereka kembali menyiksamu, maka lakukanlah seperti itu.” Lalu turunlah firman Allah SWT, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (An-Nahl : 106)

Suatu hari, Rasulullah bertemu dengan Ammar bersama ayah dan ibunya yang sedang disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy. Kepada mereka, Beliau mengatakan, “Bersabarlah kalian, wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat kalian kelak adalah surga.” (HR. Al-Baghawi dan Abu Na’im)

Rasulullah mempersaudarakannya dengan Hudzaifah Al-Yaman.

Tentang Ammar, Rasulullah SAW berkata, “Iman telah merasuk ke dalam diri Ammar sampai ke tulang sumsumnya.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Suatu ketika, terjadi kesalahpahaman antara Ammar dengan Khalid bin Walid. Lalu Rasulullah mengatakan, “Siapa yang memusuhi Ammar bin Yasir, dia memusuhi Allah. Dan siapa yang membenci Ammar bin Yasir berarti dia juga dibenci Allah.” (HR. Ahmad)

Beliau juga mengatakan, “Bila Ammar disuruh memilih di antara dua hal, maka dia akan memilih yang paling memberi petunjuk di antara keduanya.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah pernah memerintahkan kaum muslimin – sepeninggal Beliau untuk meneladani Abu Bakar dan Umar, mengikuti petunjuk Ammar, dan berpegang teguh dengan janji Ibn Ummu Abd. (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah pernah mengatakan kepada Ammar, “Selamat datang, wahai Ath-Tayyib Al-Muthayyib.” (HR. At-Tirmidzi)

Ia mengikuti perang Badar dan semua peperangan bersama Rasulullah. Ia juga mengikuti perang melawan orang-orang murtad, perang melawan pasukan Persia, dan perang melawan pasukan Romawi.

Umar bin Al-Khattab pernah mengangkatnya menjadi gubernur Kufah. Meski menjabat sebagai gubernur, Ammar malah semakin hidup zuhud dan rendah hati.

Pada perang Al-Yamamah, orang-orang murtad memotong telinganya. Suatu ketika ada orang yang mengejeknya dengan memanggilnya, “Hai orang yang terpotong telinganya!” ia menjawab, “Aku malah beruntung hanya kedua telingaku yang tertawan.” (HR. Ath-Thabrani)

Tercatat banyak orang yang meriwayatkan hadits dari Ammar. Di antaranya Ali, Ibnu Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari, Sa’id bin Musayyab, Alqamah, dan lainnya.

Ia meriwayatkan 62 hadits dari Nabi. Di antaranya, Nabi bersabda, “Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui pertamanya lebih baik atau akhirnya.” (HR. Al-Bukhari)

Ammar gugur dalam perang Shiffin sebagai pahlawan syahid. Ketika itu ia bergabung bersama pasukan Ali bin Abi Thalib melawan pasukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ketika Ammar gugur, orang-orang teringat dengan sabda Nabi, “Celaka dia, Ammar, ia dibunuh oleh kelompok yang lalim…”Muawiyah lalu berujar, “Apakah kami yang membunuh Ammar?! Sesungguhnya dia dibunuh oleh orang-orang yang menyerangnya.”

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s