Tokoh-Tokoh Terkemuka dari Kalangan Syuhada (Part 3)

Abad bin Bisyir

Nama lengkapnya Abad bin Bisyr bin Waqsy Al-Asyhali Al-Khazraji, lahir tahun 33 sebelum hijrah. Ia masuk Islam di tangan duta besar Islam, Mush’ab bin Umair, di Madinah. Ia mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah dan termasuk salah satu pahlawan besar sahabat Nabi.

Dalam perang Dzat Ar-Riqa’, ia bertugas menjaga benteng pertahanan kaum muslimin secara bergantian dengan Ammar bin Yasir. Suatu malam, ia meminta Ammar untuk tidur lebih dahulu dan ia berjaga. Melihat suasana benteng aman, ia menunaikan shalat. Tidak lama kemudian, seorang pasukan musuh menyusup dan langsung membidiknya dengan anak panah. Ibad mencabut anak panah tersebut dan meneruskan shalatnya. Kemudian orang itu membidiknya lagi dengan anak panah, lalu ia mencabutnya dan meneruskan bacaan shalatnya. Saat sujud, ia membangunkan Ammar. Seusai shalat, Ammar bertanya, “Mengapa Anda tidak membangunkanku di saat musuh pertama kali membidik Anda dengan anak panah?” Ibad menjawab, “Saat itu aku sedang membaca ayat yang membuatku terharu dan aku enggan berhenti membacanya sampai selesai.”

Rasulullah SAW pernah mendelegasikannya ke seluruh kabilah dalam rangka untuk memungut zakat. Ia termasuk salah seorang yang pernah diutus Nabi untuk memerangi Ka’ab bin Asyraf, warga Yahudi, yang pernah menyakiti Nabi dan kaum muslimin.

Tentang Abad, Aisyah berkata, “Ada tiga orang dari kaum Anshar yang tidak ada seorang pun yang dapat mengungguli mereka – dalam hal keutamaan – yakni Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abad bin Bisyir.”

Pada malam perang Al-Yamamah melawan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab, ia bermimpi seolah langit terbuka untuknya. Pada akhirnya ia mengerti bahwa mimpinya itu pertanda bahwa ia akan gugur dalam perang tersebut sebagai pahlawan syahid. Tatkala perang berkecamuk, ia menyerukan agar orang-orang Anshar mengenakan kostum perang yang berbeda dengan pasukan muslim lainnya. seruan ini diamini 400 orang Anshar. Ia bersama Abu Dujanah dan Al-Barra’ bin Malik memimpin pasukan ini dan menerobos masuk ke benteng pertahanan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab. Ibad berhasil membunuh Musailamah dan ia pun gugur dalam pertempuran tersebut sebagai pahlawan syahid.

Salim Maula Abi Hudzaifah

Nama lengkapnya Salim bin Ma’qil, biasa dipanggil Abu Abdillah. Dahulu ia adalah budak milik Hudzaifah bin Utbah. Kemudian Hudzaifah memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak (adopsi). Setelah larangan adopsi turun, Salim menjadi maula (budak) Abu Hudzaifah.

Ia berasal dari keturunan Persia dan termasuk salah satu panglima besar di kalangan sahabat. Ia mengimami orang-orang muhajirin ketika shalat di Masjid Quba. Ia ikut dalam perang Badar.

Suatu hari, Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Hendaklah kalian mengambil (mempelajari) Al-Quran dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.”

Tentang Salim, Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya Salim adalah orang yang sangat mencintai Allah.”

Aisyah pernah berkata, “Aku pernah mengurung diri di rumah, lalu Nabi SAW bertanya, “Mengapa kamu mengurung Diri?” Aku menjawab, “Aku sedang mendengar bacaan orang yang sedang membaca Al-Quran dan bacaannya sangat bagus sekali.” Setelah itu, Nabi mengambil sorbannya dan keluar. Ternyata orang yang sedang membaca Al-Quran itu adalah Salim maula Abi Hudzaifah. Beliau mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dalam umatku orang seperti Anda.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Diantara orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Tsabit bin Qais, Abdullah bin Umar, dan lainnya.

Ia adalah orang yang membawa panji kaum muslimin dalam perang Al-Yamamah. Saat itu, Salim mengatakan, “Sungguh malang nasibku sebagai seorang penghafal Al-Quran bila lari dari medan tempur.” Dalam pertempuran itu, ia berperang dengan penuh semangat. Ketika pasukan musuh berhasil mendekati posisi pasukan muslim, ia menggali lobang untuk kuburannya. Ia berperang sambil membawa panji. Tangan kanannya putus, lalu ia membawa panji dengan tangan kirinya. Tangan kirinya pun putus, lalu ia membawa panji dengan lengannya, hingga akhirnya ia gugur sebagai pahlawan syahid.

Ia gugur sebagai syahid di Al-Yamamah tahun 11 H. Jasadnya dimakamkan bersama jasad Abu Hudzaifah, yang juga gugur sebagai pahlawan syahid dalam pertempuran tersebut.

Ketika Salim gugur dalam perang Al-Yamamah, Umar bin Al-Khattab mengatakan, “Seandainya Salim masih hidup, niscaya aku akan menugaskannya untuk mengemban sebuah urusan.”

Al-Bara’ bin Malik

Nama lengkapnya Al-Bara’ bin Malik bin Nadhar bin Dhamdham Al-Kahzraji Al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pembantu Rasulullah.

Ia pernah bercita-cita gugur sebagai pahlawan syahid dalam perjuangan di jalan Allah. Ia selalu mengumandangkan slogan “Allah dan surga.”

Ia memiliki suara yang sangat bagus dan selalu menyertai setiap perjalanan Nabi. Ia adalah orang yang menyewakan kendaraan onta. Ia berhasil membunuh 100 orang musuh dengan berhadapan secara langsung.

Dalam perang Al-Yamamah melawan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab, Khalid bin Walid menyuruh Bara’ untuk berbicara di hadapan pasukan kaum muslimin. Di hadapan mereka, Bara’ mengatakan, “Wahai penduduk kota Madinah, hari ini tidak ada kota untuk kalian. Yang ada Allah dan surga.” Ketika Musailamah dan pasukannya bertahan (bersembunyi) di dalam sebidang kebun yang dikelilingi benteng, Bara’ menembakkan anak panah ke dalam kebuh tersebut yang di dalamnya terdapat 100.000 pasukan Musailamah, dengan maksud untuk membuka pintu gerbang benteng tersebut, sehingga pasukan kaum muslimin dapat menerobos masuk ke dalamnya. Saat itu, Bara’ terkena lebih dari 80 luka-luka akibat tikaman pedang setelah ia berhasil membunuh lebih dari 10 pasukan musuh.

Ia pernah menyelamatkan nyawa saudaranya, Anas bin Malik, dari sergapan seekor anjing. Ia adalah orang yang menyalakan api pada saat berkecamuknya perang melawan pasukan Persia, sehingga kedua tangannya mengalami luka bakar.

Umar bin Khattab pernah menuliskan sepucuk surat kepada para pembantunya, “Janganlah kalian menugaskan Bara’ sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin. Sebab, ia akan menerjang pasukan musuh dan akan mendahului mereka (maksudnya berada di garis depan pasukan).”

Dalam perang melawan pasukan Persia, ia menjadi wakil panglima perang setelah Suhail bin ‘Ady. Saat itu, pasukan kaum muslimin meminta agar Bara’ berdoa untuk kemenangan kaum muslimin. Sebab, Rasulullah pernah mengatakan, “Sesungguhnya Bara’ termasuk salah satu di antara orang yang bila ia memohon kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doanya.” Bara’ pun berdoa agar pasukan kaum muslimin memperoleh kemenangan dalam pertempuran tersebut. pasukan kaum muslimin pun akhirnya memperoleh kemenangan gemilang. Ia juga berdoa agar memperoleh kesyahidan. Doa dan cita-citanya pun terkabul dan jasadnya dimakamkan disana.

Abu Dujanah

Nama lengkapnya Sammak bin Kharsyah Al-Khazraji Al-Bayadhi Al-Anshari. Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan Utbah bin Ghazawan.

Ia ikut dalam perang Badar dan perang Uhud. Ia termasuk orang yang bertahan melindungi Nabi dalam perang Uhud, sehingga ia terkena banyak luka. Ia lebih dikenal dengan nama Abu Dujanah. Ia digelari Dzu Al-Masyharah (pemilik perisai perang). Al-Masyharah adalah perisai yang dikenakan dalam perang. Ia juga digelari dengan Dzu As-Saifain (pemilik dua pedang), karena dalam perang Uhud, ia berperang dengan pedang miliknya dan pedang milik Rasulullah. Ia juga dikenal dengan julukan Dzu Al-Ishabah Al-Hamra (pemilik ikat kepala merah)

Pada perang Uhud, Rasulullah SAW memegang sebilah pedang, lalu bertanya kepada para sahabatnya, “Siapakah di antara kalian yang sanggup memenuhi fungsi pedang ini?” Tidak ada seorangpun diantara sahabat yang maju kecuali Abu Dujanah. Ia menjawab, “Aku sanggup memenuhi fungsi pedang ini, wahai Rasulullah.” Ia kemudian menerima pedang tersebut dari tangan Beliau, lalu maju menerjang pasukan orang-orang musyrik sambil bersyair :

Aku telah berjanji kepada kekasihku (Nabi), ketika aku berada di bawah pohon kurma.

Aku tidak akan memilih di barisan belakang. Aku akan menerjang pasukan musuh dengan pedang Allah dan pedang RasulNya.

Dalam perang Uhud, Nabi melihatnya berjalan dengan angkuh di antara dua barisan pasukan musuh. Nabi mengatakan, “Ini adalah gaya berjalan yang dibenci oleh Allah, kecuali di tempat ini.”

Ketika ia menderita sakit, para sahabat menjenguknya dan melihat wajahnya diselimuti rasa takut. “Mengapa wajah Anda tampak sangat ketakutan,” tanya mereka. Ia menjawab, “Tidak ada amalanku yangaku yakini dapat menolongku kecuali dua amalan, pertama, aku tidak pernah membicarakan hal-hal yang tidak berguna bagiku, kedua, hatiku selalu berbaik sangka kepada kaum muslimin.”

Ia gugur sebagai syahid dalam perang Al-Yamamah tahun 11 H.

Amr bin Jamuh

Nama lengkapnya Amr bin Jamuh bin Zaid bin Haram Al-Anshari As-Salami, pemimpin dan orang terpandang Bani Salamah.

Ia adalah ipar laki-laki Abdullah bin Amr bin Haram, karena ia adalah suami saudara perempuannya, Hindun binti Amr. Anaknya, Mu’adz bin Amr, lebih dulu masuk Islam dan termasuk salah satu diantara 70 orang Anshar yang ikut dalam Bai’at Aqabah II.

Ia pernah mengukir sebuah patung dan meletakkannya di dalam rumahnya. Ia sangat mengagungkan dan memuliakan patung ukirannya tersebut dan menamainya Manaf. Suatu hari anaknya, Muadz bersama temannya Muadz bin Jabal, sepakat untuk menjadikan patung Manaf milik Amr bin Jamuh menjadi bahan ejekan orang lain. pada malam hari, mereka berdua masuk ke rumah Amr dan membawa patung tersebut, lalu membuangnya di tempat pembuangan sampah umum. Pagi harinya, Amr bangun dan terkejut melihat patung sembahannya raib. Amr mencarinya kemana-mana, hingga akhirnya ia menemukannya di tempat pembuangan sampah. Setelah itu ia membersihkan dan mengharuminya. Ketika malam tiba, Muadz bin Amr dan Muadz bin Jabal kembali beraksi seperti malam sebelumnya. Pagi harinya, Amr melakukan hal yang sama seperti pagi sebelumnya. Akhirnya Amr bosan, lalu meletakkan sebilah pedang di leher Manaf sembari berkata, “Hai Manaf, kalau kamu memang sanggup mendatangkan kebaikan, maka belahlah dirimu sendiri.” Pada malam harinya, ia tidak mendapati Manaf di tempat biasanya, tapi justru mendapatinya di tempat pembuangan sampah dan dilehernya digantung bangkai seekor anjing. Setelah itu, anaknya, Muadz, dan Muadz bin Jabal datang menemuinya dan menyampaikan kepadanya tentang Islam dan tentang Nabi Muhammad SAW. Saat itu juga, ia menyatakan diri masuk Islam.

Rasulullah pernah bertanya kepada sekelompok Bani Salamah, kabilah Amr bin Jamuh, “Siapa pemimpin kabilah kalian, wahai Bani salamah?” “Jadd bin Qais,” jawab mereka. Kepada mereka, Beliau mengatakan, “Bukan, pemimpin kalian adalah si keriting yang telah beruban, yakni, Amr bin Jamuh.”

Pada perang Uhud, Amr bin Jamuh menemui Nabi dan memohon agar ia diizinkan untuk ikut perang, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, anak-anakku melarangku turut berperang bersamamu. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini.” Akhirnya Rasulullah mengizinkannya turut berperang. Setelah itu, ia mengambil senjatanya dan berangkat ke medan tempur, lalu ia berdoa dengan khusyuk, “Ya Allah, anugerahi aku kesyahidan dan janganlah Engkau kembalikan aku kepada keluargaku.” Ia gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Uhud tahun 3 H.

Tatkala kaum muslimin menguburkan jenazah para syuhada Uhud, Rasulullah SAW mengatakan, “Perhatikanlah! Hendaklah kalian mengubur jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan jasad Amr bin Jamuh dalam satu makam, karena semasa hidup mereka berdua saling mencintai dan mengasihi.”

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s