Tokoh-Tokoh Terkemuka dari Kalangan Syuhada (Part 4)

Abu Ayyub Al-Anshari

Nama lengkapnya Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah, biasa dipanggil Abu Ayyub. Ia termasuk salah satu diantara 70 orang Anshar yang ikut dalam Bai’at Aqabah II.

Tatkala Rasulullah sampai di Madinah, unta milik Abu Ayyub menderum di depan rumahnya. Rumahnya adalah rumah pertama yang disinggahi Nabi setelah hijrah. Rasulullah pertama kali tinggal di lantai dasar dan Abu Ayyub di lantai atas. Abu Ayyub terus mendesak Nabi agar Beliau yang tinggal di lantai atas, dan akhirnya Beliau menuruti keinginan Abu Ayyub.

Rasulullah mempersaudarakannya dengan Mush’ab bin Umair. Ia adalah orang yang mengambil dan menyimpan sebagian jenggot Nabi, lalu Beliau mengatakan, “Kemalangan tidak akan menimpamu, wahai Abu Ayyub.”

Ia suka makan dalam satu wadah dengan Nabi. Ia ikut dalam perang Badar dan mengikuti semua peperangan bersama Nabi. Ia adalah sosok sahabat yang terkenal pemberani, penyabar, takwa, dan menyukai perang di jalan Allah.

Ia bergabung di pihak Ali bin Abi Thalib ketika terjadi suhu politik yang memanas antara Ali dengan Mu’awiyah. Setelah Ali meninggal, ia bersama pasukan kaum muslimin bergerak menuju Konstantinopel dan akhirnya ia gugur sebagai syahid di sana. Ia pernah berpesan kepada Yazid bin Mu’awiyah agar jasadnya dimakamkan di daerah Romawi, Konstantinopel. Pasukan kaum muslimin terus melanjutkan pertempuran hingga akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang gemilang.

Di saat sedang sakit, ia berpesan agar pasukan kaum muslimin bergerak ke wilayah pasukan musuh. Jasadnya dimakamkan di depan benteng Konstantinopel.

Dikisahkan bahwa orang-orang Romawi sering mendatangi makamnya ketika terjadi musim kemarau panjang dan memohon agar hujan turun kepadanya.

Ia meriwayatkan 155 hadits dari Nabi. Ia meninggal tahun 52 H.

Anas bin Nadhar

Saudara perempuannya adalah Ummu Haritsah binti Saraqah, syahid yang diberitakan Nabi akan menempati surga firdaus. Putra saudara perempuannya adalah Anas bin Malik, orang yang pernah didoakan oleh Rasulullah, “Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak dan berkahilah untuknya.”

Ia absen dalam perang Badar. Karena itu, ia sangat bersedih dan menyampaikan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku absen dalam perang Badar. Demi Allah, semiranya Allah menjadikanku sebagai saksi untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah akan melihat apa yang aku perbuat.”

Ketika tersiar desas-desus dalam perang Uhud bahwa Rasulullah telah gugur, ia mengatakan kepada para sahabatnya, “Untuk apa lagi kalian hidup setelah Beliau gugur? Marilah kita mati menyusul Beliau!” Selanjutnya ia mengatakan, “Wahai para sahabatku, sekiranya Muhammad telah mati terbunuh (gugur), maka Tuhannya Muhammad tidak akan mati terbunuh.”

Tatkala sebagian kaum muslimin melarikan diri dalam perang Uhud, ia mengatakan, “Ya Allah, aku membebaskan diriku kepadaMu atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik dan aku memohon maaf kepadaMu atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik dan aku memohon maaf kepadaMu atas apa yang telah dilakukan oleh pasukan kaum muslimin (yang melarikan diri dari medan tempur).” Setelah itu, ia berjalan sambil menghunus pedangnya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz. Kepada Sa’ad, ia mengatakan, “Hai Sa’ad, demi jiwa aku yang berada dalam genggamanNya, sungguh aku telah mencium aroma surgawi…oh betapa indahnya aroma surgawi itu!!”

Ia gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Uhud dan ditubuhnya terdapat lebih dari 80 luka berupa tikaman pedang, tusukan tombak, dan anak panah. Setelah gugur, jasadnya dicindang oleh orang-orang musyrik, sampai-sampai jasadnya hampir tidak dikenali oleh saudara perempuannya, kecuali dengan tanda yang ada di ujung jarinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Firman Allah berikut ini turun berkenaan dengannya. Allah berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu waktu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Al-Ahzab : 23)

Abu Thalhah

Nama lengkapnya Zaid bin Sahl bin Aswad Al-Anshari. Ia dilahirkan di Madinah tahun 36 sebelum hijrah. Ia ikut dalam Bai’at Aqabah II, perang Badar, dan semua peperangan bersama Rasulullah.

Istrinya, Ummu Sulaim binti Malhan, adalah seorang sahabat besar yang dikenal dengan Ar-Rumaisha. Ia dikaruniai dua orang putra, Abdullah dan Abu Umair. Ia termasuk seorang pemanah ulang yang pemberani di masa jahiliyah dan di masa Islam. Ia juga termasuk orang Anshar yang paling banyak harta kekayaannya.

Harta yang paling disukainya adalah sebidang kebun yang terletak di depan Masjid Nabawi. Nabi sering masuk ke kebun tersebut dan minum dari sebuah sumber air minum yang terdapat di dalamnya. Tatkala firman Allah turun, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran : 92), Abu Thalhah langsung berniat untuk menyedekahkannya dan meminta pendapat kepada Nabi. Beliau lalu menyuruhnya untuk menyedekahkannya kepada kaum kerabatnya. Kemudian Abu Thalhah membagikan sebidang kebun itu kepada kerabatnya dan kepada anak-anak pamannya.

Pada saat perang berkecamuk, ia selalu berada di depan Nabi untuk melindungi Beliau dari tembakan anak panah pasukan musuh. Kepada Nabi SAW, ia mengatakan, “Ya Rasulullah, aku rela kehilangan leherku demi melindungi lehermu.”

Ia adalah orang yang pernah dibonceng Nabi saat berangkat menuju perang Khaibar. Tentang Abu Thalhah, Rasulullah berkata, “Orasi Abu Thalhah di hadapan pasukan lebih baik daripada 1000 prajurit.”

Dalam perang Hunain, Rasulullah mengatakan kepada para pasukannya, “Siapa yang berhasil membunuh tentara musuh, maka miliknya semua harta rampasannya.” Dalam perang tersebut, Abu Thalhah berhasil membunuh 20 tentara musuh dan mengambil semua harta rampasan mereka.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Salah seorang anak Abu Thalhah dari hasil perkawinannya dengan Ummu Sulaim meninggal dunia. Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya, “Janganlah kalian memberitahu Abu Thalhah tentang kematian anaknya sampai aku sendiri yang memberitahukannya kepadanya.” Tidak lama kemudian, Abu Thalhah datang. Istrinya menyuguhkan makan malam, lalu Abu Thalhah makan malam. Malam itu, istrinya berpura-pura bersikap manja, hingga akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri. Setelah itu, istrinya mengatakan, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu kalau sekiranya ada sekelompok orang yang menitipkan barang kepada satu keluarga, lalu orang yang menitip itu hendak mengambil barang yang mereka titipkan, apakah orang yang dititipi barang itu berhak menghalangi mereka?” “Tidak boleh,” jawab Abu Thalhah. “Kalau begitu, hendaklah Anda bersabar atas kematian putramu,” kata istrinya. Mendengar hal itu, Abu Thalhah marah, kemudian berkata, “Kamu biarkan aku sampai aku menggaulimu baru kamu memberitahu aku tentang kematian putraku.” Setelah itu, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Kepada Thalhah, Rasulullah mengatakan, “Semoga Allah memberkahi hubungan suami istri kalian tadi malam!”

Pada saat haji wada’ (haji terakhir Nabi SAW), Rasulullah memberinya separuh potongan rambut Beliau pasca tahallul, lalu Beliau memberikan yang separuhnya lagi kepada sahabat yang lain.

Ia adalah orang yang menggali kuburan Nabi sendirian. Sepeninggal Beliau, ia selalu mengerjakan puasa dan tidak berbuka kecuali di saat sakit atau dalam perjalanan.

Diantara hadits yang diriwayatkannya, ia berkata, “Nabi pernah berkurban dengan dua ekor domba. Ketika menyembelih domba yang pertama, Beliau mengatakan, “Atas nama Muhammad dan keluarganya.” Ketika menyembelih domba yang kedua, Beliau mengatakan, “Atas nama orang yang beriman kepadaku dan yang bersedekah dari umatku.”

Ia meninggal saat berada di tengah lautan pada saat beangkat menuju sebuah perang di masa pemerintahan Utsman bin Affan. Saat itu, tidak ditemukan satu pulau pun untuk mengebumikan jasadnya. Jasadnya tidak dikubur sampai tujuh hari dan selama itu jasadnya tetap seperti saat ia meninggal.

Ia meriwayatkan 25 hadits dari Nabi. Ia meninggal tahun 34 H dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dishalati oleh Utsman dan dimakamkan di Madinah.

Abdullah bin Jahsy

Nama lengkapnya Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mur Al-Asadi, biasa dipanggil Abu Muhammad. Ia termasuk kerabat Rasulullah. Ibunya adalah Umaimah binti Abdul Muthalib bin Hasyim, bibi Rasulullah. Pamannya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Saudara perempuannya adalah Zainab binti Jahsy, ummul mukminin, istri Nabi.

Ia termasuk orang yang mula-mula masuk Islam sebelum Rasulullah masuk ke Darul Arqam. Ia ikut hijrah ke Habasyah, gelombang pertama dan kedua. Ia termasuk pemimpin dalam berbagai peperangan yang tidak disertai Nabi. Dalam perang Nakhlah (perang yang tidak disertai Nabi), ia dijuluki sebagai Amirul Mukminin dan ia adalah orang pertama yang dipanggil dengan julukan ini.

Sehari sebelum meletus perang Uhud, ia bermunajat kepada Allah dengan berkata, “Ya Allah, esok hari kami akan menghadapi musuh. Aku bersumpah kepadaMu, biarlah mereka membunuhku, membedah perutku, memotong telinga dan hidungku. Jika kelak Engkau bertanya kepadaku, “Siapa yang berbuat demikian terhadapmu?” Aku akan menjawab, “Ya Allah, aku berperang demi Engkau”. Tatkala perang berkecamuk, pasukan musuh melakukan seperti apa yang tertera dalam do’anya. Ia gugur sebagai pahlawan syahid di tangan Abu Al-Hakam bin Akhnas bin Syuraiq. Jasadnya dikuburkan dalam satu makam dengan jasad pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Ia meninggal pada tahun 3 H dalam usia lebih dari 40 tahun.

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s