Para Syuhada Palestina (Part 1)

Izzuddin Al Qassam

Nama lengkapnya adalah Muhammad Izzuddin Abdul Qadir Al-Qassam. Ia lahir pada tahun 1882 M di Jibillah, Suria. Ia pernah belajar di Al-Azhar dari tahun 1906-1986. Di sana dia belajar kepada syaikh Muhammad Abduh. Dia adalah seorang syekh Tarekat Asy-Syadzaliyah di Jilah Al-Adhamiyah sebuah wilayah di Suria bagian Utara.

Dia ikut dalam revolusi Suria. Revolusi tersebut berakhir dengan adanya pertempuran Melson pada tahun 1920. Setelah penjajah Perancis menjatuhkan hukuman mati kepadanya, dia pindah ke Haifa di Palestina. Alasan lain kepindahannya ke kota Haifa adalah karena keberadaan Yahudi sudah semakin bertambah besar. Di sana ia tinggal di rumahnya Haji Amin Nurruddin. Disana, ia mengajar dan berceramah di masjid Al-Istiqlal.

Pada tahun 1928 dia mendirikan kantor cabang Jam’iyah Asy-Syubban Al Muslimin di kota Haifa dan dia sebagai pemimpinnya. Perjuangannya adalah selalu menitikberatkan pada tiga hal, Pertama, selalu waspada akan ancaman Yahudi. Kedua, ajakan untuk berjihad. Ketiga, memilih orang-orang yang berkualitas dan dibekali dengan pemikiran yang benar serta keahlian militer.

Pada tahun 1931, pasukan yang dia bentuk menyerang perkampungan Yahudi di Yagur. Dalam penyerangan tersebut tiga tentara Yahudi terbunuh. Pasukan Izzuddin Al-Qassam meneruskan penyerangannya dan menyebar ke seluruh wilayah pegunungan.

Setelah pasukan Inggris mempersempit ruang geraknya di Haifa, maka pada tahun 1935 bersama enam temannya, dia pindah ke daerah pegunungan. Pasukan yang dia bentuk jumlahnya mencapai 200 orang. Dari jumlah tersebut dia membaginya ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari lima orang dan salah seorang diangkat sebagai pemimpin dan pemberi arahan. Tidak lama dia berjuang, pasukannya bertambah banyak dan mencapai 800 prajurit. Tiap kelompok yang tadinya terdiri dari lima orang sekarang menjadi sembilan orang.

Pada tahun 1935, pasukan Inggris dengan persenjataan yang lengkap dan dibantu dengan pesawat tempur menyerang pasukan Izzuddin Al-Qassam di Ya’bad. Dalam pertempuran tersebut Izzuddin Al-Qassam gugur sebagai syahid bersama dua orang mujahid lainnya. Semua orang Palestina melakukan shalat ghaib. Jenazah syahid dengan bajunya yang berlumuran darah dibawa oleh ribuan orang ke pemakaman yang ada di kampungnya. Setelah terbunuhnya tiga syahid itu banyak sekali terjadi pergolakan dan pemogokan.

Sebuah sayap kelompok HAMAS (Harakah Muqawamah Islamiyah), menulis namanya dalam bendera mereka.

Farhan As-Sa’di

Lahir di desa Mizar sebuah wilayah di Junain yang termasuk distrik Nabil. Masa mudanya dia gemar mengajar ilmu agama di masjid-masjid dan berkumpul dengan para ulama. Perkembangannya dalam bidang ilmu agama dan umum menjadikannya berwibawa dan dihormati oleh lingkungannya. Setelah Inggris menjajah Palestina, orang-orang mengenalnya dengan nama Syaikh Farhan.

Dia sering mengikuti Konferensi Nasional dan beberapa demonstrasi melawan pasukan Inggris. Ketika berkobar revolusi pada tahun 1929, dia membentuk pasukan gerilyawan mujahidin untuk menguasai Junain. Penjajah Inggris memenjarakannya selama tiga tahun. Sekeluarganya dari penjara dia pindah ke kota Haifa. Di sana dia bertemu Syaikh Izzuddin Al-Qassam dan bergabung dengan pasukan yang ia pimpin.

Setelah gugurnya Izzuddin Al-Qasam sebagai syahid, Farhan As-Sa’di diangkat sebagai pimpinan pasukannya. Walaupun usianya sudah hampir mencapai delapan puluh tahun, dia tetap memimpin pertempuran. Setelah revolusi tahun 1936, Syaikh Farhan menugaskan beberapa anggota pasukannya agar bersembunyi di samping jalan-jalan. Tujuannya adalah agar mereka bisa menyerang rombongan orang Yahudi yang lewat. Ketika rombongan orang Yahudi yang membawa lima belas mobil berada di jalan Thulkarm yang terletak antara Ambara dan penjara Nur Sams, pasukan yang ia tempatkan langsung menyerang mereka. Penyerang tersebut menyebabkan terbunuhnya dua tentara Yahudi dan seorang lagi menderita luka-luka.

Ketika penjajah Inggris tidak berhasil memadamkan api revolusi yang terjadi pada tahun 1936, mengasingkan para pimpinan Dewan Arab Tertinggi ke pulau Sisyal. Pasukan bentukkan Al-Qassam sangat menolak rencana tersebut. Pada tanggal 26 Juli 1937, mereka berhasil membunuh Andros, seorang komandan pasukan Inggris. Andros merupakan Komandan Inggris yang paling kejam dan sangat belas kasihan terhadap Yahudi. Dia sangat mensupport Yahudi dalam upayanya menguasai wilayah Palestina dan merampasnya dari orang Arab. Dia adalah orang yang mengambil daerah Wadi Al-Hawadits dan memberikannya dengan Cuma-Cuma kepada orang Yahudi serta mengusir orang Arab dari wilayah tersebut.

Pasukan Inggris melakukan pengejaran terhadap para anggota pasukan yang dibentuk Syaikh Izzuddin Al-Qassam. Dalam pengejaran tersebut, pasukan Inggris berhasil menangkap Syaikh Farhan bersama ketiga temannya. Pasukan Inggris mengadili syaikh Farhan di Pengadilan Militer yang direkayasa. Pengadilan menuduhnya telah membunuh Jenderal Andros setelah ditemukan sepucuk senjata model lama di rumahnya.

Pengadilan Militer menjatuhkan hukuman mati kepada Syaikh Farhan hanya berselang dua hari setelah penangkapannya. Pengadilan terhadapnya berlangsung selama tiga jam. Syaikh Farhan As-Sa’di menolak untuk berbicara saat persidangan berlangsung. Pembawaannya sangat tenang dan jarang berbicara. Ketika para hakim mengajukan pertanyaan kepadanya, “Apakah Anda telah melakukan sebuah kesalahan?” Dia menjawab, “Saya berlindung kepada Allah untuk melakukan sebuah kesalahan.”

Dewan tertinggi Arab Palestina menghimbau kepada utusan Yahudi agar mau memberi amnesti kepada Syaikh Farhan atau mengundurkan pelaksanaan hukuman mati sampai selesai bulan Ramadhan. Mereka tidak menghiraukan himbauan tersebut dan tetap melaksanakan hukuman mati.

Hukuman gantung terhadapnya dilaksanakan pada tanggal 13 Ramadhan 1356 H yang bertepatan pada tanggal 22 November 1937 M. Penjajah Inggris sedikit pun tidak mempedulikan keadaan syaikh Farhan yang sudah berusia delapan puluh tahun dan dia juga sedang berpuasa.

Setelah kematian Syaikh Farhan, Inggris berharap agar para pengikutnya tidak berani lagi untuk melawan penjajah. Harapan mereka ini sangatlah sia-sia, bahkan kematiannya menjadi malapetaka yang besar bagi mereka. Sosok syaikh Farhan berubah menjadi sebuah simbol perjuangan dan pemicu berkobarnya api revolusi. Hal yang sama juga terjadi pada gurunya syaikh Izzuddin yang menjadi simbol perjuangan api revolusi bagi para pengikutnya.

Abdul Qadir Al-Husaini

Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir Musa Kazhim Al-Husaini. Lahir pada tahun 1908 di kota Quds. Kuliahnya ia tempuh di Universitas Amerika, Kairo. Saudara kandungnya yang bernama Haji Amin Al-Ghazali adalah seorang Mufti Palestina.

Dia mengikuti peperangan melawan penjajahan Inggris di Palestina. Pada tahun 1937, dia mengalami luka-luka yang sangat parah. Kemudian dia dibawa ke Damaskus untuk mendapatkan perawatan. Karena di Damaskus lukanya tidak kunjung sembuh, akhirnya dia dibawa ke Baghdad. Di sana, ia masuk Fakultas Militer. Revolusi yang dilakukan oleh Rasyid Ali Al-Kilani sangat membekas pada dirinya. Pengaruh dari revolusi tersebut dia selalu mengadakan penyerangan terhadap penjajah Inggris di Irak. Akibat perjuangannya itu, dia pernah dipenjara selama dua tahun lalu dia dibebaskan.

Dia pernah menetap di Hijaz selama delapan belas bulan, tetapi kemudian dia pindah ke Mesir. Dia adalah Ketua Partai Arab Palestina cabang Quds. Dia juga pernah mengorganisir masyarakat Palestina untuk melakukan mogok besar-besaran selama enam bulan. Pemogokkan yang pernah dia organisir itu tercatat sebagai peristiwa yang terbesar dalam sejarah. Bersama organisasi-organisasi Palestina yang bergerak di bawah tanah, dia membentuk brigade-brigade pasukan gerilyawan yang siap berkorban. Dia menamakan pasukan yang dibentuk dengan nama Pasukan Jihad Suci.

Dia sering bertempur melawan pasukan Yahudi di Palestina. Dia merupakan komandan pasukan Palestina wilayah bagian selatan yang meliputi distrik Quds dan sekitarnya. Dia pernah melakukan beberapa pengeboman di perkampungan Quds. Dia melakukan penyerangan tersebut dengan sangat cerdik dan rapih. Oleh karena itu, orang-orang Inggris dan Yahudi berkeyakinan bahwa yang melakukan serangan itu bukanlah orang-orang Arab tetapi sukarelawan dari Jerman dan Yugoslavia. Dia pernah melakukan pengeboman terhadap pasukan Yahudi yang dilengkapi dengan tank. Dengan senjata yang ia miliki, dia menyerang pasukan Israel sampai menyerah. Pertempuran tersebut terkenal dengan pertempuran Kafar Isyun.

Dewan Militer negara Arab sangat tidak menghargai perjuangan Abdul Qadir Al-Husaini dan teman-temannya. Dewan tersebut hanya memberikan 370 poundsterling untuk dibagikan kepada 3000 pasukan Abdul Qadir Al-Husaini. Oleh karena itu, dia menuduh dewan tersebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas lepasnya negeri Palestina. Pada tahun 1948, dia mengikuti pertempuran Qistil. Setelah dua hari dia bertempur dan ketika pasukannya sedang mengepung wilayah tersebut, dia gugur sebagai syahid. Kawan-kawannya melihat Abdul Qadir merangkul senjata sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok, sementara darah mengalir dari tubuhnya dengan begitu deras. Abdul Qadir bertanya kepada kawan-kawannya, “Apakah kalian telah berhasil menguasai desa Qistil?” kawan-kawannya menjawab, “Ya, kami telah berhasil menguasainya.” Abdul Qadir berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membantu kekurangan kami.” Setelah dia mengatakan seperti itu, tubuhnya jatuh ke tanah tanpa gerak. Jenazahnya dikuburkan di samping Masjid Al-Aqsha.

Ahmad Yasin

Nama lengkapnya adalah Ahmad Ismail Yasin. Ia lahir pada tahun 1938 di desa Jurah yang terletak di sebelah selatan kota Ghaza, Palestina. Dia adalah seorang guru bahasa Arab dan Pendidikan Islam. Seluruhnya tubuhnya mengalami kelumpuhan disebabkan karena mengalami kecelakaan ketika sedang melakukan suatu olahraga. Dia adalah Ketua Dewan Urusan Islam di Ghaza. Setelah negara Arab mengalami kekalahan dari pasukan Israel tahun 1967, dia selalu berceramah di masjid-masjid untuk mengajak umat Islam bersama-sama mengusir penjajah Israel. Di samping itu, dalam ceramah-ceramahnya dia juga selalu mengajak umat Islam untuk melakukan jihad.

Ide-idenya selalu mempunyai peranan yang besar dalam pendirian beberapa lembaga kemasyarakatan di Palestina, seperti, Lembaga Pengumpul Zakat, Lembaga Perdamaian untuk menyelesaikan persengketaan yang terjadi antar warga, Sekolah Islam, Lembaga Sosial dan lain-lain.

Pada tahun 1983, pasukan Israel menangkap Syaikh Ahmad Yasin dengan tuduhan pemilikan senjata ilegal dan menghasut masyarakat untuk mengusir ornag-orang Yahudi. Selain dua tuduhan tadi dia juga dituduh sebagai pemimpin kelompok Hamas dan melakukan serangkaian serangan terhadap kepentingan-kepentingan Israel. Israel menjatuhkan kepadanya hukuman penjara selama tiga belas tahun.

Pada tahun 1985, dia dibebaskan dalam rangka pertukaran tawanan antara Israel dan P.L.O. (Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina). Saat dibebaskan, dia baru dipenjara selama sebelas bulan. Disebabkan adanya serangkaian tindak kekerasan yang sering terjadi, maka pada tahun 1989 Syaikh Ahmad Yasin ditangkap lagi.

Di dalam penjara Israel dia menerima berbagai siksaan yang sangat keji dan kejam. Dengan segala siksaan yang ia terima, dia tetap tabah walaupun kondisinya lumpuh. Dia rela mengalami demikian karena ingin membela agamaNya, memperjuangkan negara Palestina dan demi kembalinya negeri yang dijajah.

Pada tahun 1991, dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan militer. Pada tahun 1997, dia dibebaskan oleh pemerintah Israel. Dia dibebaskan oleh pemerintah Israel karena adanya pertukaran tawanan antara pemerintah Israel dengan kelompok Hamas. Pemerintah Israel bersedia membebaskan Ahmad Yasin dengan syarat kelompok Hamas juga bersedia membebaskan dua anggota Mosad. Dua anggota Mosad tersebut adalah yang melakukan usaha pembunuhan terhadap Khalid May’al yang menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Politik Hamas di Yordania. Dengan izin Allah usaha tersebut gagal. Sesampainya Ahmad Yasin di jalur Ghaza orang-orang menyambutnya dengan suka cita.

Di antara ucapannya yang terkenal adalah, “Tanah Palestina merupakan waqaf milik umat Islam. Tidak ada seorangpun yang boleh membiarkannya lepas walaupun hanya sejengkal tanah.” Dia menolak semua kesepakatan dan perundingan damai antara Israel dengan Palestina. Kesepakatan dan perundingan damai yang ia tolak seperti, kesepakatan Sholtez, Baker, Rencana perdamaian Shamir, perundingan damai Madrid dan Washington serta kesepakatan Jalur Ghaza dan Yericho.

Amerika Serikat menempatkan kelompok Hamas pimpinan Ahmad Yasin sebagai kelompok teroris. Amerika Serikat menganggap perjuangan Hamas di Palestina melawan Israel adalah suatu kejahatan. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat meminta kepada Sharon untuk menghancurkan kelompok Hamas dengan cara apapun.

Israel telah beberapa kali melakukan usaha pembunuhan terhadap Ahmad Yasin. Pada tanggal 6 September 2003, pesawat tempur Israel menyerang sebuah rumah yang ditempati oleh Ahmad Yasin. Dalam penyerangan tersebut Ahmad Yasin selamat dari usaha pembunuhan. Dalam suatu usaha pembunuhan yang terjadi pagi hari tanggal 22 Maret 2004, Israel baru mampu berhasil membunuhnya. Usaha pembunuhan terhadap syaikh Ahmad Yasin adalah ketika dia baru keluar dari masjid Al-Mujama’ Al-Islami yang ia dirikan di kota Ghaza. Setelah selesai melakukan sholat Shubuh, pasukan Israel melepaskan tiga roket yang salah satunya mengenai langsung tubuh Ahmad Yasin.

Tidak jauh dari kejadian tersebut, darah Ahmad Yasin berceceran di sebuah jalan yang terletak antara rumah dan masjid. Dagingnya hampir berceceran di semua bagian-bagian tembok rumahnya yang terdiri dari dua lantai yang terletak di sebelah timur jalan. Pecahan-pecahan kursi rodanya berubah menjadi abu yang dipenuhi dengan darah. Sebuah mobil jeep warna hijau yang diparkir di depan pintu salah satu penduduk juga hancur. Potongan daging dan darah syaikh Ahmad Yasin juga berceceran di mobil tersebut. beberapa keluarga dan pegawai ambulance mengumpulkan daging-daging yang berceceran di atas rumah-rumah yang berdekatan.

Gugur bersama syaikh Ahmad Yasin sembilan orang Palestina dan lima belas yang lain mengalami luka-luka. Dua putranya juga mengalami luka-luka dalam tragedi tersebut. di palestina diadakan acara berkabung Nasional atas kematian syaikh Ahmad Yasin.

Sumber : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s