Tokoh-Tokoh Terkemuka dari Kalangan Syuhada (Part 5)

Ayyasy bin Abi Rubai’ah

Nama lengkapnya Ayyasy bin Abi Rubai’ah bin Mughirah Al-Qurasyi Al-Makhzumi, biasa dipanggil Abu Abdurrahman.

Ia adalah saudara seibu dengan Abu Jahal. Ia termasuk orang yang mula-mula masuk Islam sebelum Rasulullah SAW masuk ke Darul Arqam. Ia dan istrinya ikut hijrah ke Habasyah.

Sebelum hijrah ke Madinah, ia sepakat akan berangkat bersama Umar bin Khattab dan Hisyam bin Ash. Setelah ketiganya bertemu, Abu Jahal mengikuti jejak mereka dari belakang. Abu Jahal menyampaikan kepada Ayyasy bahwa ibunya bersumpah tidak akan menyisir rambutnya dan tidak akan berteduh dari terik matahri sebelum melihat Ayyasy. Ayyasy meminta pendapat Umar dan Umar menasehatinya untuk tidak pergi ke Mekkah bersama Abu Jahal. Di tengah jalan, Abu Jahal berusaha memprovokasi Ayyasy agar mau murtad dari agama Islam.

Ia termasuk salah satu di antara orang yang membai’at Rasulullah di bawah sebuah pohon dalam Bai’at Ar-Ridhwan. Ia ikut dalam perang Hunain dan perang menumpas orang-orang murtad pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ia pernah membawa bekal dan senjatanya untuk menyiarkan agama Islam di wilayah Persia.

Ia bersama Khalid bin Walid pernah pindah ke pinggiran kota Romawi dan menunggu datangnya pertolongan dari Allah. Mereka tetap tinggal disana sampai meletus perang Yarmuk, di mana bala tentara Romawi dalam perang ini memobilisasi pasukan dalam jumlah yang sangat banyak, sampai-sampai ia mengatakan kepada Khalid, “Betapa banyaknya pasukan Romawi dan betapa minimnya pasukan kaum muslimin.” Khalid membantah, “Betapa banyaknya pasukan kaum muslim dan betapa minimnya pasukan Romawi. Pasukan dianggap banyak dengan kemenangan (pertolongan) dan dianggap minim kalau melakukan desersi.”

Ia ikut dalam perang Al-Yarmuk. Setelah luka yang menimpanya dalam perang tersebut semakin kritis, ia kembali ke Mekkah dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tercatat beberapa orang yang meriwayatkan hadits darinya, di antaranya kedua putranya, Abdullah dan Harits, dan Nafi’ maula bin Umar.

Ia meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Umat Islam akan tetap dalam keadaan baik selama mereka tetap mengagungkan Ka’bah dan Masjidil Haram dengan pengagungan yang semestinya. Jika mereka menelantarkannya, maka mereka akan binasa.” (HR. Ibnu Majah)

Khubaib bin Adi

Nama lengkapnya Khubaib bin Adi bin Malik bin Amir bin Majda’ah Al-Anshari Al-Ausi.

Ia ikut dalam perang Badar.

Rasulullah pernah mengutusnya bersama sepuluh orang sahabat dalam Bi’tsah Ar-Rujai’ untuk mengajari kaum ‘Adhal dan Qarah tentang agama Islam. Ketika rombongan sampai di daerah perbatasan antara Asfan dan Mekkah, keberadaan mereka diketahui oleh Bani Hayyan dari kabilah Hudzail. Bani Hayyan mengikuti jejak mereka dan membunuh 8 orang dari enggota rombongan. Mereka tidak membunuh Khubaib dan Zaid bin Ditsannih, lalu menjual mereka berdua ke orang-orang kafir Quraisy. Orang-orang kafir Quraisy menyiksa Zaid sampai tewas. Kemudian Khubaib memohon kepada mereka – sebelum dibunuh – untuk shalat dua rakaat. Mereka membiarkan Khubaib Shalat dengan harapan dia mau murtad dari Islam. Seusai shalat, Khubaib mengatakan kepada mereka, “Demi Allah, seandainya kalian mengiraku takut mati, niscaya aku akan menambah raka’at shalatku.” Lalu ia bermunajat kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, berilah balasan yang setimpal kepada mereka dan jangan biarkan satu orang pun di antara mereka yang hidup.” Setelah itu, ia melantunkan sya’ir :

Aku tidak peduli kala aku dibunuh dalam keadaan tertawan. Aku tidak pedulu dimana tempat matiku.

Aku mati demi dzat Allah. Jika Dia berkehendak, Dia akan memberkahi jasadku yang tercabik-cabik.

Kemudian orang-orang musyrik Quraisy memasungnya di tiang salib sambil mengatakan, “Mana yang Anda sukai, tetap mencintai Muhammad atau Anda hidup tenang di tengah-tengah keluargamu?” Khubaib menjawab, “Demi Allah, aku tidak suka hidup di tengah-tengah keluarga dan anak-anakku dalam keadaan sehat dan memperoleh kesenangan duniawi sementara Rasulullah tertusuk duri.” Mendengar ucapan Khubaib ini, orang-orang musyrik Quraisy semakin beringas dan menghujami tubuhnya dengan anak panah. Kemudian Rasulullah mengutus Miqdad bin Amr dan Zubair untuk mengurus pemakaman jenazah Kubaib. Sampai saat ini, letak makam Khubaib tidak diketahui.

Ia adalah orang pertama yang disalib karena perjuangan di jalan Allah dan orang pertama yang menunaikan shalat sebelum dibunuh.

Tentang Khubaib, penyair Islam, Hassan bin Tsabit, bertutur dalam bait syairnya :

Ia laksana seekor elang yang terbang di tengah orang-orang Anshar, budi pekertinya bagus, dan tidak suka mengadu domba.

Ia meninggal pada bulan Shafar tahun 4 H.

Thufail bin Amr Ad-Dusi

Nama lengkapnya Thufail bin Amr bin Tharif bin Ash Ad-Dusi Al-Azdi. Ia adalah orang terpandang di masa jahiliyah dan di masa Islam dan seorang penyair Arab terkemuka.

Ia lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpandang di wilayah Ad-Dus, Yaman. Ia gemar menjamu para tamu dan termasuk orang yang ditaati di kaumnya.

Tatkala para penyair dan sastra Arab berkumpul di pasar Ukazh, Makkah, orang-orang Quraisy mewanti-wanti Thufail untuk tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Ia pun menyumbat telinganya dengan kapas. Tetapi kehendak Allah berkata lain. ia akhirnya mendengarkan dan kagum terhadap Al-Quran, lalu mengikrarkan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Ia juga memohon kepada beliau agar dijadikan baginya bukti di tengah-tengah kaumnya sampai Allah memberi petunjuk kepada mereka. Nabi pun berdoa untuknya dan untuk kaumnya.

Ia mengajak ayah, ibu, dan istrinya masuk Islam, dan semua pun masuk Islam. Abu Hurairah termasuk salah seorang di antara kabilahnya yang masuk sementara yang lainnya menolak ajakannya.

Ia pun kembali menemui Rasulullah dan memohon agar Beliau mendo’akan mereka. Beliau pun mendo’akan mereka dan berkata, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Dus.” Rasulullah juga berpesan kepada Thufail agar mengajak mereka dengan lemah lembut.

Tidak lama kemudian seluruh kabilah Dus telah masuk Islam. Jumlah mereka terdiri dari 80 keluarga. Pasca perang Khaibar, mereka semua datang menemui Rasulullah.

Dalam pembebasan kota Makkah disebutkan bahwa Amr bin Hamamah adalah orang yang rumahnya disinggahi oleh Thufail. Amr bin Hamamah memiliki sebuah patung yang disebut dengan Dzu Al-Kaffain (pemilik dua tangan). Thufail meminta izin kepada Nabi untuk membakar patung tersebut. beliau pun memberi izin. Lalu Thufail membakar patung tersebut sambil bersya’ir :

Hai Dzu Al-Kaffain, aku tidak termasuk orang yang menyembahmu dan kami lebih dulu lahir dibanding kamu. Dan aku akan menyulutkan api tepat di jantungmu. Thufail gugur dalam perang Al-Yamamah sebagai pahlawan syahid. Anaknya, Amr, juga terkena luka dalam perang tersebut, tapi akhirnya lukanya sembuh. Amr akhirnya gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Al-Yarmuk.

Thufail gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Al-Yamamah tahun 11 H.

Sumber  : Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s