Sa’id Nursi (1877 – 1960)

Kemunduran kekuatan politik dan otoritas Dinasti Usmaniyah akibat serangan Eropa terhadap wilayah-wilayahnya di Eropa dan Timur Tengah – plus kemunculan Turki Muda dalam Negara Usmaniyah – telah mendorong kemunculan Mustafa Kemal (seorang komandan militer Turki yang ambisius) untuk mempertahankan Turki dari ancaman Eropa. Setelah Dinasti Usmaniyah berkuasa selama enam ratus tahun, Mustafa Kemal mengirim khalifah Usmaniyah terakhir, Abdul Al-Majid, ke Pengasingan di Swiss dan mendirikan Republik Turki pada 1924.

Dianggap sebagai penyelamat Turki, gelar terhormat “Ataturk” (Bapak Turki) disematkan kepada Mustafa Kemal atas kepahlawanan dan prestasi militernya. Sebagai pendiri dan pemimpin Turki modern, dia melakukan reformasi terhadap lembaga politik, pendidikan, dan kultural di Turki. Terilhami pemikiran-pemikiran dan nilai-nilai Eropa Zaman Pencerahan, dia berupaya mengubah dan mereformasi kebudayaan dan masyarakat Turki berdasarkan nilai-nilai dan etos Eropa modern.

Dengan menjauhkan Turki dari keterkaitan sejarah, budaya, dan bahasa dengan Islam Timur, Mustafa Kemal berharap dpaat menjadikan Turki sebagai bagian integral Eropa modern. Menurutnya, Turki adalah bagian dari Eropa. Oleh karena itu, ia coba melakukan modernisasi dan sekularisasi terhadap Turki, walaupun mayoritas rakyatnya tidak memiliki visi masa depan yang sama dengannya.

Ketika warna sejati reformasi sosial-budaya Mustafa Kemal kian jelas di mata semua orang, seorang pemikir dan pembaru Muslim Turki muncul untuk menentang upaya sekuler Mustafa Kemal. Ulama dan pembaru Islam besar ini tidak lain adalah Sa’id Nursi.

Bediuzzaman Sa’id Nursi dilahirkan di desa Nurs, provinsi Bitlis sebelah timur Turki. Berdarah asli Kurdi, kedua orang tuanya merupakan pemeluk Islam yang taat dan menjalani gaya hidup yang saleh dan bersahaja. Sa’id memulai pendidikannya di rumah dan mempelajari dasar-dasar keislaman dari ibunya yang menginspirasinya untuk menekuni persoalan-persoalan keagamaan.

Saat kanak-kanak, Sa’id tertarik pada sufisme, serta kehidupan dan ajaran-ajaran pendiri tarekat sufi Qadiriyyah yang berpengaruh, Abdul Al-Qadir Al-Jilani. Faktanya, hubungan spiritual dan kasih sayangnya terhadap Syaikh Al-Jilani terus tumbuh dari hari ke hari. Dia mengklaim telah dibimbing syaikh sufi yang mulia ini ketika melakoni masa-masa paling bergolak dalam kehidupannya.

Didorong oleh abangnya, Abdullah, Sa’id memasuki sekolah di desanya ketika berusia sekitar sembilan tahun. Diberkati ingatan kuat dan otak yang tajam, dia berhasil menghafalkan Al-Quran tanpa susah-payah. Keunggulan intelektualnya yang melebihi teman-temannya membuatnya merasa bangga dan percaya diri. Kegemarannya dalam berdebat dan berdiskusi mengenai soal-soal keagamaan, serta perilaku sombongnya karena keunggulan intelektualnya, sering membuatnya terlibat masalah.

Setelah meraih gelar diploma dalam ilmu-ilmu keislaman pada usia empat belas tahun, Sa’id mempertimbangkan untuk meninggalkan pendidikan formal. Namun setelah itu, dia mengaku bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW, yang mendorongnya untuk kembali melanjutkan studinya. Dia menguasai ilmu-ilmu keislaman tradisional di bawah bimbingan para guru terkemuka, seperti Syaikh Mehmed Celali dan Syaikh Mehmed Emin Efendi.

Setelah lulus sebagai sarjana Islam, Sa’id pindah ke dekat Siirt di mana seorang ulama lokal terkemuka bernama Syaikh Fetullah Efendi menjulukinya “Bediuzzaman” (Keajaiban Zaman) karena keluasan ilmu dan pengetahuannya. Ketika popularitasnya menyebar ke seluruh penjuru Siirt, para ulama lokal dikabarkan menjadi sangat iri kepadanya.

Dipaksa meninggalkan Siirt, Sa’id kemudian melakukan perjalanan ke Bitlis, Sirvan, Tillo, dan Mardin. Namun, dia menghadapi perlawanan yang sama dari para ulama lokal akibat pengetahuannya yang luas dan kemampuan debatnya yang tak terkalahkan. Dalam perjalanannya itu, dia mengukuhkan reputasinya sebagai ulama berbakat, ahli debat, atlet, dan prajurit yang ulung. Berkat kekuatan dan ketahanan fisiknya yang luar biasa, Sa’id mampu bergerak lebih cepat daripada musuh-musuhnya dan berkali-kali meloloskan diri dari bahaya.

Kala Sa’id sibuk dengan studinya, Negara Usmaniyah tengah menghadapi periode ketidakpastian politik dan kekacauan budaya. Pernah menjadi sebuah negara adidaya Islam. Negara Usmaniyah kini menghadapi kebangkrutan ekonomi dan politik sambil harus menghadapi serangan Rusia – dan kemudian Inggris, Perancis – ke wilayah-wilayahnya.

Meski Sultan Abdul Al-Hamid II telah berupaya menghentikan kerusakan ini, usahanya terbukti sia-sia karena ketidakpuasan massa terus menyebar ke seluruh penjuru negeri. Situasi ini memunculkan gerakan “Turki Muda” yang kemudian mengarah pada pelengseran Sultan dari singgasana Usmaniyah. Revolusi pada tahun 1908 ini mungkin sangat melegakan massa, tetapi kaum Turki Muda juga gagal mengonsolidasikan cengkeraman mereka terhadap kekuasaan.

Di tengah merebaknya kekacauan, Mustafa Kemal muncul menyelamatkan negaranya dari ancaman Eropa. Kemenangan pada tahun 1922 mengukuhkan posisinya sebagai pendiri dan penguasa sejati Republik Turki yang baru.

Pada periode yang penuh dengan ketidakpastian politik, kekacauan sosial, dan kesulitan ekonomi ini, Sa’id memberi dukungan terbuka kepada kaum reformis. Karena dia ingin kondisi sosial-ekonomi rakyatnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Meski begitu, Sa’id menentang upaya-upaya Turki Muda untuk merekonsiliasi teori politik Islam dengan konstitusionalisme Eropa.

Bahkan Sa’id menganggap upaya mereka membagi-bagi pendidikan dalam tiga kategori berbeda – agama (Islam), mistis (sufi), dan sekuler (modern) – sebagai bentuk kegagalan dan ketidak konsistenan dari sudut pandang Islam. Pendekatan Sa’id terhadap Islam merupakan sebuah pendekatan universal dan holistik. Sehingga dia merasa pembagian pengetahuan semacam itu adalah sebuah langkah yang tidak Islami, tidak beralasan, dan kontra-produktif.

Setelah menguasai ilmu-ilmu keislaman tradisional, Sa’id mengejar pendidikan lanjutan dalam bidang filsafat, mistisme, sejarah, serta matematika dan fisika. Pendekatannya terhadap ilmu pengetahuan modern membuka pikirannya atas bahaya ide dan pemikiran sekuler barat. Ini mendorong Sa’id untuk tak hanya menentang pembagian sistem pendidikan Turki, tetapi juga menghimbau para pemimpin politik dan religius Turki untuk mereformasi kurikulum pendidikan agama tradisional Turki. Dengan begitu, sebuah generasi ulama Islam baru dapat dididik untuk menghadapi tantangan-tantangan yang dimunculkan filsafat dan ideologi Barat yang tidak mengenal Tuhan.

Selama periode ini, Sa’id aktif terlibat dalam urusan-urusan sosial-politik Negara Usmaniyah. Dia bahkan ikut serta dalam perang melawan Rusia di garis depan Kaukasia. Tertangkap oleh pasukan Rusia, Sa’id menghabiskan waktu selama dua tahun sebagai tawanan perang di Rusia. Pada 1918, Sa’id berhasil dua tahun sebagai tawanan perang di Rusia. Pada 1918 Sa’id berhasil melarikan diri dan kembali ke Istanbul melalui Wina. Di pinggiran kota Istanbul, dia berziarah ke makam Abu Ayub Al-Anshari, seorang sahabat terkenal Rasulullah.

Pengasingan spiritualnya di dekat makam Abu Ayub mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Sa’id kemudian melakukan sebuah studi mendetail terhadap Al-Quran, Futuh al-Ghaib (Menyingkap alam Ghaib) karya Syaikh Abdul Al-Qadir Al-Jilani, dan Maktubat (Surat-surat) karangan Imam Rabbani Syaikh Ahmad Sirhindi. Alhasil, Sa’id mengklaim telah mencapai spiritualitas Islam tertinggi sehingga “Sa’id lama” berubah menjadi Sa’id baru”. Sesudah ini, Al-Quran menjadi sumber utama bimbingan dan pencerahan spiritual Sa’id.

Dengan latar belakangnya sebagai prajurit yang dengan gagah berani melawan Rusia dalam mempertahankan tanah air Turki, ditambah pengetahuannya tentang Islam dan aspek-aspek ilmu pengetahuan modern, Sa’id tidak dapat digolongkan sebagai pemeluk agama fanatik. Sebaliknya, dia menjadi seorang ulama yang dihormati.

Pada 1923, Mustafa Kemal mengundangnya ke ibukota Republik Turki, Ankara, untuk secara resmi mengakui kontribusinya dalam Perang Kemerdekaan Turki. Namun setibanya di Ankara, Sa’id merasa terkejut dan kecewa dengan kesurutan budaya yang mencengkeram ibukota itu pada masa kekuasaan Attaturk. Dengan tidak bijaksana, rendah hati dan berterimakasih, Mustafa Kemal dan para anak buahnya secara aktif menjalankan program Westernisasi. Sa’id merasa tak sesuai dengan sejarah, budaya, etos dan akidah masyarakat Turki.

Dari Ankara, Sa’id pulang ke Van untuk bermeditasi dan melakukan praktik-praktik spiritual. Kunjungan singkatnya ke Ankara membenarkan ketakutan terburuknya bahwa penguasa baru Turki tidak lebih baik daripada para pendahulunya. Faktanya, dia menganggap ngototnya Mustafa Kemal untuk mende-Islamisasi masyarakat Turki dengan memperkenalkan reformasi-reformasi ala Barat sebagai sesuatu yang berbahaya dan patut diwaspadai.

Dengan menghapus sistem kekhalifahan, melarang pakaian tradisional Turki, mengganti kalender hijriah dengan kalender Georgia, dan mengganti sistem pendidikan tradisional Turki dengan pendidikan sekuler Barat, Mustafa Kemal berharap dapat menyingkirkan seluruh simbol Islam masa lalu. Namun, para ulama dan sufi memimpin pemberontakan terhadap reformasi-reformasinya. Mustafa secara brutal merespons para penentangnya. Sa’id menjadi terlibat dalam konflik ini, meski dia tidak berperan langsung dalam pemberontakan ini.

Meski begitu, karena otoritas Turki mencurigai semua ulama dan sufi terkenal, Sa’id terpaksa melarikan diri ke Anatolia Barat. Di sana dia tinggal dalam pengasingan selama dua puluh lima tahun, dia melakukan perjalanan dari Burdur ke Isparta, dan berlanjut ke Barla, Kastamonu, dan Afyon. Selama periode ini, dia punya waktu untuk mengajar dan melatih ratusan murid. Nantinya, para muridnya ini menjadi anggota “Nurculuk” (Gerakan Nur) yang didirikan Sa’id guna menyelamatkan sejarah, budaya, dan warisan Islam di Turki.

Walaupun berada dalam pengasingan, penguasa Turki terus mengganggu Sa’id. Mereka tetap melecehkan, mengintimidasi, dan menyerang Sa’id. Kemudian karena dituduh melakukan “kejahatan” (seperti menulis buku yang bersifat menghasut, serta membantu dan melakukan persengkokolan politik terhadap junta penguasa), dia dibawa ke meja hijau lebih dari sekali. Namun, Sa’id menolak semua tuduhan itu.

Selama periode ini, Sa’id menulis Risala-I Nur (Risalah Cahaya), sebuah ulasan monumental mengenai Al-Quran yang berisi enam ribu halaman lebih. Meskipun karya ini tidak mirip dengan kitab tafsir pada umumnya, Risala dianggap sebagai salah satu ulasan Al-Quran paling berpengaruh di abad ke-20, bersama Fi Zilal al Quran (Dalam Naungan Al Quran) karya Sayyid Quthb dan Tafhim Al Quran (Memahami Al Quran) karangan Abul A’la Mawdudi.

Dalam buku itu, Sa’id memberikan penjelasan sistematis mengenai akidah dan konsep fundamental Islam dengan cara yang logis, rasional, dan ilmiah. Seiring mulai digandrunginya ide-ide sekuler Barat di Turki, dia merasa pendekatan terhadap wahyu Ilahi semacam itu sangat dibutuhkan pada masa itu.

Karena menganggap filsafat Barat sangat rasionalistis dan pengetahuan modern sama sekali tidak mengenal Tuhan, Sa’id menggunakan pendekatan logis, rasional, dan ilmiah terhadap Al-Quran demi melindungi rakyat Turki dari ancaman pemikiran dan ideologi Barat yang tak bertuhan. Jika Mustafa Kemal dan para penerusnya sangat bersemangat mendukung ide dan pemikiran sekuler dengan selubung modernisme dan kemajuan, Sa’id bertekad membuktikan bahwa Al-Quran jauh dari kesan ketinggalan zaman dan kemunduran.

Di sisi sebaliknya, menurut Sa’id, kekayaan pemikiran, budaya, dan spiritual Islam jauh lebih unggul ketimbang pemikiran dan kebudayaan Barat. Alasannya adalah karena tidak seperti pandangan dunia barat, pandangan dunia Islam berbasis pada pemahaman holistik dari seluruh makhluk – di mana manusia dan alam dianggap sebagai rekanan kerja (yang berupaya menunjukkan ekspresi tertinggi dari kebijakan, keindahan, dan kekuatan langit) – dan bukannya saling berkompetisi.

Seperti yang diperkirakan, serangan intelektualnya terhadap berhala sekuler kaum Kemalis membuatnya menjadi target empuk junta yang berkuasa. Mereka merasa Sa’id berusaha merusak program sekulerisasi dan westernisasi di Turki. Namun, perlakuan keras mereka terhadap Sa’id justru malah memperkuat perjuangan dan popularitasnya ke seluruh penjuru Turki.

Ketika mengembuskan napas terakhirnya pada usia delapan puluh tiga tahun, Sa’id memiliki puluhan ribu pengikut di seluruh Turki. Begitu pula gerakan Nurculuk yang menjadi sebuah kekuatan dahsyat dalam masyarakat Turki. Tidak heran ide dan pemikiran religiusnya – seperti yang tertuang dalam Risala-I Nur masih sangat populer di Turki sampai saat ini. Para ulama dan pemikir ternama, seperti Fethullah Gulen, Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Necmetin Serbakan, dan Harun Yahya juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran religius wacana Al-Quran yang dicetuskan Sa’id.

Sumber : 100 Tokoh Muslim Dunia oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s